Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
3
Fearless
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Satya duduk bersandar ke pohon di sbelah jalur setapak. Matanya menatap kosong ke arah air terjun di ujung lembah.

"Mari ..."

Entah sadar atau tidak, Satya tidak menyahuti dua pendaki yang lewat di hadapannya. 

Asap rokok yang dihembuskannya buyar diterpa kabut dingin Gunung Salak yang menusuk hingga ke tulang, tapi bagi Satya, dingin itu tak seberapa dibanding kekosongan yang ia bawa dari kota.

Beban yang menggelayut di bahu dan punggungnya bukan sekadar tas berisi logistik, melainkan tumpukan kegagalan. Surat PHK, tagihan yang menunggak, dan pengkhianatan yang baru saja menghancurkan rencana pernikahannya yang mengakibatkan ibunya sakit.

Ia mendaki bukan untuk mencari pemandangan, tapi untuk mencari titik di mana ia bisa merasa lebih dekat ke singgasana Tuhan di langit.

Satya injak puntung rokok kretek yang tersisa setengah batang. Ia gamit batang kayu yang tergeletak di sampingnya, lalu melanjutkan pendakian.

Saat melewati jalur setapak sebelum Pos 2, telinganya menangkap suara gaduh. Di balik rimbun semak, sepasang pendaki asing, seorang pria dan wanita bule terdesak ke pohon besar. Di depan mereka, tiga pria dengan pakaian kumal sedang menodongkan belati kecil, menuntut tas, kamera dan dompet sang turis.

Satya melangkah pelan. Ia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar.

"Please, help!" jerit si wanita bule saat salah satu pemalak menarik paksa tali tasnya.

Satya tak acuh. Pikirannya berkata, "Dunia memang tempat yang brengsek." Ia terus melangkah pergi, membiarkan hukum rimba bekerja.

Jerit dan bentakan semakin menjadi. Hingga salah satu pemalak berteriak.

"Woi! Ngapain, lu?!"

Pendaki bule dan para pemalak juruskan pandangannya ke arah Satya yang sedang merekam dengan ponselnya.

Satya tidak bergeming. Ia terus merekam.

Salah satu pemalak menghampiri Satya. "Serahin hape lu. Atau nyawa lu ilang." Bentaknya sambil menodongkan pisau.

Mendengar kata "nyawa", sesuatu dalam diri Satya berdesir. Bukan rasa takut yang muncul, melainkan sebuah tawa getir yang tertahan di tenggorokan. Ia melihat ujung pisau itu, lalu teringat pada semua orang yang telah mengiris harga dirinya di kota.

Ia masukkan ponsel ke dalam tas, lalu melangkah maju. Pelan. Sangat tenang.

Setelah merampas dua tas milik pendaki bule, kedua teman pemalak itu ikut menghampiri Satya.

Satya terus melangkah pelan. Tangannya menenteng potongan dahan pohon sebesar lengan. Pemalak itu mulai panik melihat tatapan mata Satya yang bengis. "Heh! Berhenti! Gua tusuk lu!"

Jaraknya kini hanya dua langkah. Ia menatap mata si pemalak dengan intensitas yang mengerikan.

"Kalian...!"

BUKK!

Dahan pohon yang dijadikan tongkat oleh Satya, tanpa disadari dengan cepat membabat siku. Pisau di tangan mencelat ke semak-semak. Pemalak itu meringis menjauh, pegangi sikunya yang tak bisa digerakkan.

Kedua teman pemalak itu langsung menyerbu bersamaan.

Namun posisinya yang berada di atas membuatnya menang.

Semua kemarahan Satya meledak. Ia menerjang. Bukan dengan teknik bela diri, tapi dengan kebrutalan dari seseorang yang ingin melampiaskan setiap rasa sakit hatinya.

Satu pemalak terkena gebukan di perut. Satunya lagi menyusul terkena tebasan di leher.

Satya berteriak. Sebuah teriakan panjang yang membelah sunyi hutan, berisi semua kepedihan yang selama ini ia pendam sendiri.

Ketiga pemalak yang tergeletak menahan sakit ternganga memandangi Satya. Ketiganya menyadari bahwa mereka bukan sedang berhadapan dengan pendaki biasa, melainkan dengan badai yang sedang mencari tempat untuk mendarat.

Sunyi.

Satya berdiri terengah-engah. Sepasang bule itu mendekatinya dengan gemetar, mencoba mengucapkan terima kasih berkali-kali. Namun, Satya bahkan tidak menoleh pada mereka. Ia mengambil tasnya.

"You should not continue your hiking. Go back home!"

Kedua pendaki bule itu pun bergegas mengambil langkah menuruni jalan setapak.

"Aku akan serahkan video rekaman ke penjaga base camp," tegas Satya kepada tiga pemalak yang masih tergeletak. "Keputusan ada di tangan penjaga base camp."

Satya kemudian menyusul dua pendaki bule yang sudah lebih dulu menuruni gunung.

Bagi Satya, bukan pemalak itu yang ia kalahkan. Ia hanya baru saja membuang sedikit racun yang menyesakkan dadanya. Ketakutan memang sudah hilang, digantikan oleh mati rasa yang dalam. Namun di antara sisa napasnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia masih bisa merasakan aliran darah di nadinya.

Saking kejamnya dunia menyakitinya, rasa takut seakan sudah tak ada artinya lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi