Aku ingin selalu memilikimu, tapi aku lebih ingin mencintaimu seumur hidupku--Aku
Aku tidak pernah merencanakan jatuh cinta padamu.
Awalnya, kamu hanya seperti percakapan yang singgah sebentar, datang tanpa janji, tinggal tanpa alasan. Lalu kita berbicara hal-hal sederhana tentang novel yang belum sempat kita selesaikan, tentang hidupmu yang terlalu pahit, tentang masa depan yang terasa seperti kabut.
Aku tidak tahu kapan semuanya berubah.
Mungkin saat kamu mulai mengingat hal-hal kecil tentangku.
Atau saat namamu tiba-tiba menjadi hal pertama yang ingin kutemui setiap pagi.
Dan yang paling menakutkan, saat aku menyadari kamu juga menyambutku, dengan sungguh-sungguh.
“Aku senang kamu ada,” katamu suatu malam.
Kalimat sederhana itu terasa seperti rumah. Hangat. Menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa seperti dibutuhkan.
Kita tidak pernah benar-benar dekat secara jarak.
Ada kota, waktu, dan kesibukan yang berdiri di antara kita seperti tembok yang tak terlihat. Kita hanya punya layar, suara, dan rindu yang kadang terlalu besar untuk ditampung kata-kata.
“Apa kamu capek?” tanyaku suatu hari.
“Kamu yang harusnya aku tanyain itu,” jawabmu, diselingi tawa kecil yang selalu berhasil membuatku lupa bahwa kita terpisah ribuan langkah.
Aku ingin mengatakan, iya, aku capek.
Capek merindukanmu tanpa bisa memelukmu.
Capek menahan ingin tanpa tahu kapan bisa benar-benar bertemu.
Tapi lebih dari itu, aku capek merasa bersalah.
Karena kamu berusaha mencintaiku dengan utuh.
Sedangkan aku, masih belajar untuk sampai ke sana.
Aku mencoba.
Sungguh.
Aku mencoba mencintaimu lebih dalam setiap hari.
Mencoba meyakinkan diri bahwa jarak bukan masalah.
Mencoba percaya bahwa kita bisa melewati semua ini.
Tapi setiap kali malam datang, dan sunyi mengambil alih, ada satu perasaan yang tidak pernah bisa aku bohongi.
Aku takut.
Takut tidak bisa menjadi apa yang kamu butuhkan, yang kamu inginkan.
Takut kamu menunggu terlalu lama untuk seseorang yang bahkan belum selesai dengan dirinya sendiri.
Takut suatu hari kamu menyadari bahwa kamu pantas mendapatkan cinta yang lebih dekat, lebih nyata dan lebih pasti.
Dan yang paling menyakitkan, aku takut menjadi alasan kamu terluka.
“Kamu pernah kepikiran kita bakal kayak gini?” tanyamu suatu malam.
Aku tersenyum kecil, meski kamu tidak bisa melihatnya.
“Enggak,” jawabku jujur.
“Aku juga,” katamu pelan. “Tapi aku nggak pernah nyesel.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu seharusnya membuatku bahagia.
Tapi justru terasa seperti pisau yang perlahan mengiris sesuatu di dalam dada.
Karena aku tahu, aku mulai menyesal bukan karena mencintaimu, tapi karena mungkin aku tidak akan bisa mempertahankan kita.
Hari-hari berikutnya terasa lebih berat.
Bukan karena kamu berubah.
Kamu tetap sama, hangat, tulus, dan selalu ada.
Justru itu yang membuat semuanya semakin sulit.
Setiap perhatianmu terasa seperti pengingat bahwa aku tidak cukup berani untuk mencintaimu sepenuhnya.
Setiap kata rindumu terasa seperti janji yang tidak yakin bisa kupenuhi.
Aku mulai diam lebih sering.
Bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena terlalu banyak yang ingin aku sembunyikan.
“Kamu lagi kenapa?” tanyamu suatu malam.
“Nggak apa-apa,” jawabku cepat.
“Kamu berubah.”
Aku terdiam lama.
Iya. Aku berubah.
Bukan karena perasaanku padamu berkurang, tapi justru karena perasaan itu semakin dalam, dan aku semakin sadar, aku mungkin tidak mampu menjaganya.
Malam itu, aku duduk sendirian lebih lama dari biasanya.
Layar ponsel menyala di depanku.
Namamu ada di sana.
Aku membaca ulang percakapan kita dari awal hingga sekarang.
Dari obrolan canggung hingga tawa yang terasa begitu dekat.
Dari “hai” sederhana hingga “aku kangen kamu.”
Dan tiba-tiba, semuanya terasa terlalu indah untuk diakhiri, tapi juga terlalu rapuh untuk dipertahankan.
Aku menarik napas panjang.
Kalau aku terus seperti ini, dia akan semakin dalam.
Dan kalau aku belum siap, dia yang akan paling terluka.
Tanganku gemetar saat mulai mengetik.
“Aku mau jujur sama kamu.”
Pesan itu terkirim.
Beberapa detik kemudian, kamu membalas.
“Iya? Kenapa?”
Aku menatap layar itu lama sekali.
Seakan berharap kata-kata yang tepat akan muncul dengan sendirinya, tapi tidak ada kata yang benar-benar tepat untuk mengucapkan perpisahan.
“Aku capek bohong ke diri sendiri.”
“Aku sayang kamu.”
“Aku beneran sayang.”
Balasanmu datang cepat.
“Aku juga.”
Dadaku terasa sesak. Seharusnya ini menjadi momen yang membahagiakan, tapi justru terasa seperti awal dari sesuatu yang akan hancur.
“Tapi aku belum bisa kasih kamu semuanya.”
Ada jeda menyela. Aku bisa membayangkan kamu membaca kalimat itu berulang kali, mencoba memahaminya.
“Maksud kamu?”
Aku menggigit bibir.
“Jarak ini, lebih berat dari yang aku kira.”
“Aku takut kamu nunggu terlalu lama.”
“Aku takut aku nggak bisa jadi apa yang kamu harapkan.”
Percakapan itu kembali sunyi.
Dalam keheningan itu, aku merasa sesuatu di antara kita perlahan runtuh.
“Kamu mau nyerah?”
Akhirnya kamu membalas.
Sederhana. Tapi menghantam.
Aku menutup mata.
Ini bukan tentang menyerah. Ini tentang memilih untuk tidak membuatmu terluka lebih dalam.
“Aku nggak mau nyakitin kamu.”
“Aku lebih takut itu daripada kehilangan kamu.”
Jawabanmu tidak langsung datang, setiap detik yang berlalu terasa seperti hukuman.
Hingga akhirnya.
“Kamu udah nyakitin aku sekarang. Jika memang mencintaiku, harusnya kamu berjuang karena aku menunggu dan mengharapkan semua itu. Kenapa harus mundur dan menyerah?"
Air mataku jatuh.
Aku tahu.
Aku tahu itu.
Dan itu yang paling tidak bisa aku hindari.
“Aku minta maaf.”
Kalimat itu terasa begitu kecil dibandingkan dengan apa yang kamu rasakan.
“Aku cuma nggak mau kamu berharap terlalu jauh, ke seseorang yang belum siap.”
“Kalau aku egois, aku bakal minta kamu tetap tinggal.”
“Tapi aku nggak sejahat itu.”
Aku berhenti mengetik.
Jari-jariku terasa kaku.
“Aku sayang kamu,” kutulis lagi, untuk terakhir kalinya.
“Makanya aku pamit.”
Kamu tidak langsung membalas.
Mungkin kamu menangis. Mungkin kamu marah, atau mungkin kamu hanya diam, mencoba menerima sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan akan terjadi.
Beberapa menit kemudian, pesanmu muncul melalui voice note.
“Kalau itu yang kamu pilih…”
Aku menahan napas.
“Aku harap kamu bahagia.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa seperti perpisahan yang paling menakutkan.
Aku tersenyum pahit.
Seharusnya aku yang mengatakan itu.
Malam itu, aku kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar kumiliki. Aku kehilangan seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Seseorang yang mungkin adalah rumah yang selama ini aku cari. Tapi aku juga tahu, rumah tidak seharusnya dibangun di atas ketidakpastian.
Sekarang, hari-hari kembali seperti dulu.
Tanpa pesan darimu.
Tanpa tawa yang tiba-tiba muncul di voice note.
Tanpa rasa hangat yang dulu selalu menemaniku.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi.
Perasaan ini.
Aku masih dan akan selalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
Mungkin kamu juga masih mencintaiku. Hanya saja, kita memilih jalan yang berbeda.
Jika suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang bisa menggenggam tanganmu tanpa terhalang jarak, yang bisa memelukmu saat kamu lelah, yang bisa mencintaimu tanpa ragu, aku harap kamu tidak mengingatku dengan luka.
Ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah singgah, yang pernah mencoba, yang pernah mencintaimu dengan cara yang tidak sempurna. Aku tidak akan pernah menyesal apalagi menyalahkanmu.
Dan jika dunia ini memang tidak memberi kita kesempatan, mungkin, di tempat lain, dalam waktu yang lebih baik, atau bahkan di kehidupan setelah ini, kita bisa bertemu lagi. Aku berharap bisa memiliki kesempatan untuk menunjukkan semua cintaku.
Tanpa jarak.
Tanpa takut.
Tanpa kata pamit.
Untuk sekarang, maaf karena telah menyakitimu. Maaf karena tidak bisa bertahan.
Dan diam-diam, dari jauh, aku akan selalu berharap kamu bahagia.
Aku pamit.