Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
23
Pacar Lima Ratus Langkah
Drama

"57 kali panggilan?"

"Ada apa Anya, ada yang mau lahiran, nelponnya sampai bertubi-tubi?"

"Kris, ada simpen Top Mie nggak, laper?"

"Gila, cuma gara-gara laper?"

Jawabannya cuma ketawa ngakak dari ujung telepon.

Telepon itu akhirnya dimatikan sepihak. Khrisna masih bengong, menatap layar ponselnya yang mendadak sunyi setelah drama 57 kali panggilan tak terjawab yang hampir bikin jantungnya copot.

 “Kurang ajar,” gumamnya sambil melempar ponsel ke kasur. “Gue kira ada kiamat kecil.”

Baru lima detik ponsel itu menyentuh kasur, bunyi ting muncul lagi. Pesan masuk.

Anya: Kris sumpah, laper banget. Top Mie satu doang juga jadi.

Khrisna mendengus. Dia bangkit dari kasur, menyeret kaki ke dapur kosannya yang ukurannya bahkan lebih kecil dari kamar mandi rumah orang tuanya. Dibuka lemari atas. Kosong. Lemari bawah. Kosong. Kulkas? Isinya cuma air putih dan satu potong jeruk nipis entah sisa masakan siapa.

“Ini anak kayak tuyul, minta Top Mie di kosan gue yang bahkan mie instan aja jarang nongol,” katanya sambil mengetik balasan.

Kris: Nggak ada. Kosan gue miskin.

Balasan datang super cepat.

Anya: Boong. Perasaan kemarin gue liat ada kardus Endomie.

Kris terdiam. Oh iya. Kardus itu. Kardus bekas. B E K A S.

Kris: Itu kardus doang. Isinya angin sama kenangan.

Tak sampai semenit, teleponnya berdering lagi. Kali ini Khrisna angkat.

“Apa lagi?” katanya datar.

“Nangis gue, Kris,” suara Anya terdengar dramatis. “Laper tapi gengsi turun ke warung. Dompet gue juga lagi diet.”

“Lu kenapa nggak masak?”

“Masak apa? Air?”

Kris memijat pelipis. “Lu di mana sih sekarang?”

“Di kosan. Rebahan. Udah satu jam debat sama tembok mau bangun apa enggak.”

Khrisna terdiam sejenak. Lalu muncul ide jahat yang sangat menggoda.

“Gini deh,” katanya. “Gue ada Top Mie.”

“Hah? Katanya nggak ada!”

“Baru inget,” jawab Khrisna santai. “Tapi ada syarat.”

Di seberang sana langsung hening. Lalu suara Anya mendekat ke mikrofon. “Syarat apa?”

“Lu ke kosan gue.”

“Hah? Jauh, Kris.”

“Cuma tiga gang.”

“Itu dua gang plus satu tanjakan neraka. Gila Kris, itu lebih dari lima ratus langkah, lue mau bunuh gue!”

Khrisna terkekeh. “Memangnya pernah ngitung ya? Ya udah, mau apa nggak?”

Anya menghela napas panjang. “Oke. Tapi kalo boong, gue sumpahin lu kehabisan kuota pas deadline.”

“Ke sini dulu baru ngomong.”

Telepon ditutup.

Khrisna langsung ngakak sendiri. Padahal sebenarnya dia benar-benar nggak punya Top Mie. Yang ada cuma mie cup rasa misterius hasil pemberian tetangga kos tiga bulan lalu. Itu pun sudah kadaluarsa seminggu.

“Ah, bodo amat,” katanya. “Yang penting lucu.”

Dua puluh menit kemudian, terdengar ketukan di pintu kos. Pelan, lalu makin keras.

“KRIS! BUKA! GUE LAPER DAN TERANIAYA!”

Khrisna membuka pintu. Di depan berdiri Anya dengan muka kusut, rambut berantakan, dan kaus oblong yang tulisannya sudah retak-retak.

“Lu drama banget,” kata Khrisna.

“Lu nggak ngerti penderitaan orang lapar,” balas Anya sambil langsung masuk tanpa izin. Matanya menyapu seluruh ruangan. “Top Mienya mana?”

Khrisna menunjuk rak kecil di pojok. “Itu.”

Anya mendekat. Mengambil satu cup. Dibacanya tanggal kadaluarsa. Alisnya langsung naik.

“KRIS.”

“Kenapa?”

“Ini mie cup lebih tua dari hubungan terakhir gue.”

Khrisna gantian ngakak sampai duduk di lantai. “Yaelah, masih bisa dimakan.”

“Lu gila? Ini mie bisa antar gue ke kubur.”

Anya meletakkan cup itu perlahan, seolah takut mie tersebut marah. “Gue nelpon lu 57 kali cuma buat ini?”

“Iya.”

Hening.

Lalu Anya tertawa. Ketawa yang awalnya kecil, lalu makin lama makin keras sampai akhirnya dia ikut duduk di lantai sambil megang perut.

“Gue benci banget sama hidup gue,” katanya di sela tawa.

Khrisna menyeka air mata karena kebanyakan ketawa. “Salah sendiri laper tapi gengsi.”

“Gengsi gue udah mati barusan,” balas Anya. “Sekarang gue cuma pengen makan.”

Khrisna bangkit. “Ya udah. Kita keluar.”

“Ke mana?”

“Warung Pak Ujo.”

Anya langsung berdiri. “Yang nasinya bisa nambah?”

“Iya.”

“Gue traktir,” kata Anya cepat.

Khrisna menatap curiga. “Katanya dompet diet?”

“Diet bisa ditunda. Laper itu darurat.”

Mereka keluar kosan sambil masih tertawa-tawa. Di jalan, Anya baru sadar.

“Eh, tapi sumpah ya, Kris. Gue nelpon lu tuh udah kayak nelpon dukun. Putus asa.”

“57 kali itu niat banget.”

“Gue sempat mikir, kalo lu nggak angkat, gue bakal telepon ibu kos lu.”

“Kurang ajar.”

Sesampainya di warung, mereka duduk. Anya pesan nasi, telur balado, tempe, dan tambahan kerupuk. Khrisna cuma pesan teh manis.

“Lu nggak makan?” tanya Anya.

“Gue kenyang nonton lu kelaparan.”

“Temen setan.”

Saat makanan datang, Anya makan dengan kecepatan yang menakjubkan untuk ukuran cewek seimut dirinya.

“Pelan dikit, napa,” kata Khrisna. “Itu nasi, bukan musuh.”

“Lu nggak tau rasanya laper yang bikin mata berkunang-kunang.”

Khrisna mengangguk sok paham. “Maaf ya, tadi gue boong.”

Anya berhenti makan. Menatap Khrisna. “Sebenernya gue juga lebay.”

“Deal. Sama-sama bego.”

Mereka saling tos.

Setelah makan, Anya bersandar di kursi, perut kenyang, wajah bahagia.

“Kris,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Makasih ya.”

“Buat?”

“Buat angkat telepon. Walaupun isinya cuma drama mie.”

Khrisna tersenyum kecil. “Lain kali jangan 57 kali.”

Anya nyengir. “Ya tapi nggak janji.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi