Disukai
0
Dilihat
369
MISTERI CEMPEDAK KAKEK
Aksi

Semilir angin lembut bertiup. Kulit yang terterpa, merasakan dingin hingga membuat merinding. Pepohonan berbahagia dengan cuaca yang membantu mereka makan dengan nikmat. Proses fotosintesi yang sempurna menghasilkan oksigen yang memanjakan rongga pernapasan. Alyasa selalu menikmati masa-masa seperti itu.  

Tahun ini sama seperti tahun-tahun biasanya. Pohon cempedak yang tubuh paling besar dari di antara pohon-pohon lainnya di sana berbuah sangat banyak. Dari pangkal hingga ujung pohon, aroma buah yang masak memenuhi ruang terbuka.  

Hidung menangkap aroma familiar itu dengan girang. Terbayang rasanya segar dan ramum dari buah cempedak yang telah matang. Kaki kokoh Alyasa bergerak cepat menjangkau pohon yang memiliki lingkar bantang lebih dari pelukan tiga orang dewasa.  

“Mungkin ini jadi tahun terakhir kita menikmati manisnya cempedak,” ujar Zakaria dengan seraya menarik satu buah cempedak menempel batang yang dekat dengan tanah.  

Alyasa menurunkan tangannya yang berada memegang buah yang berada tepat di depan wajah. Dengan sinis dia menatap tajam kearah sang ayah. “Bagaimana mungkin ayah bisa sesantai itu bicara, huh?” Ada amarah yang coba ditahan oleh Alyasa.  

Sang Ayah tidak menanggapi putranya. Dia malah memilih bersiul-siul sambil memilih-milah buah cempedak mana yang siap untuk dia ambil. 

Jelas semakin membuat emosi Alyasa jadi tidak stabil. Namun dia juga tak berani meledakkan amarah pada sang Ayah. Kekesalan membawanya menarik diri dan bergerak mundur menjauhi pohon cempedak yang paling besar di sana.  

Zakaria tersenyum seraya memperhatikan tingkah putranya sejenak. “Kadang ada hal yang tidak kita pahami, makanya kita kesal dan marah. Tapi ketika menemukan kebenarannya, kita akan menyadari bahwa betapa jauhnya kita dari kebijaksanaan itu,” gumamnya seraya terus fokus pada buah-buah cempedak. 

Alyasa menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya menatap pria paruh baya yang tampak pura-pura tak memperhatikannya. “Apa maksud ayah?” 

“Jangan dipikirkan apa maksud ucapan orang tua ini,” lagi-lagi sanga ayah menyahut tanpa melihat kearah Alyasa. 

“Satu satunya ketidak benaran itu, ketika manusia memilih serakah dengan mengorbankan alam yang harusnya bisa tumbuh dengan tenang dan tanpa gangguan.” 

Zakaria berhenti dia melangkah mundur beberapa centimeter dari pohon cempedak. “Apa kamu melihat ayahmu ini pernah mengorbankan alam?” 

Alyasa diam sejenak dan kemudian membuka mulutnya. “Yang ayah lakukan hari ini bentuk dari mengorbankan alam, ayah.” 

“Menurutmu apa yang harus ayahmu ini lakukan? Ada warga yang menyerah ikut saja. Ada warga yang melawan pun akhirnya terpaksa ikut setelah menghabiskan waktu di penjara. Kamu lihat apa yang ayahmu lakukan. Tanah kita menjadi tanah terakhir yang belum orang-orang itu kuasai, Alyasa.” 

Alyasa menggelengkan kepalanya. “Ayah hanya diam. Jadi pengamat yang kejam.” 

Zakaria tersenyum. “Bagus sekali kamu punya kepedulian itu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Biarkan ayah melakukan apa yang ayahmu ini anggap bijaksana. Jangan terlalu serius.” 

“Orang gila mana yang bisa bersikap tenang saat tanahnya dipaksa untuk dilepaskan?” 

“Orang-orang itu. Para tetangga kita, tidakkah engkau membuka matamu melihat apa yang telah mereka lakukan, Alyasa?” 

Alyasa menganggukkan kepalanya. “Oh aku mengerti. Ayah sama saja seperti mereka. Pada akhirnya ayah pasti akan mengikuti mereka. Percuma kalau selama ini ayah bilang padaku untuk berjuang itu. Nyatanya dengan mudah ayah menyerah. Apa ayah tidak malu pada diri ayah sendiri? Sungguh bukan tindakan lelaki sejati.” 

Perdebatan ayah dan anak itu tampaknya membuat Alyasa tak mampu menahan emosinya. Dia kembali melangkah pergi. Yang tindakannya dibiarkan oleh sang ayah. Pria paruh baya itu mulai memasukkan cempedak yang tadi dia biarkan diatas tanah untuk membuang getah pada ujung tangkai buah.  

Getah-getah yang tampak berhenti mengalir menandakan cempedak sudah bisa dimasukkan ke dalam jarai dan juga karung-karung goni yang memang telah dibawa. Zakaria menghembuskan napasnya sejenak melihat buah yang harus dia bawa sendirian. Tanpa ada bantuan dari Alyasa yang sudah terlanjur ngambek padanya. Lelaki paruh baya itu memutuskan mengisi cempedak sesuai kemampuannya saja. Karung-karung yang tidak dia pakai dia kembali dia selip di antara ikat pingang yang terbuat dari kulit kayu kapuak, dimana dia melilitkan sarung dari parang miliknya.  

Pohon cempedak yang berdiri kokoh dengan buah yang lebat terkikih melihat apa yang Zakaria lakukan.  

“Jangan tertawa!” Zakaria yang menyadari reaksi pohon cempedak. “Lagian dia menumpahkan amarahnya padaku karena kalian,” ujar Zakaria lagi yang tampak bersungut-sungut. 

Tak mampu menahan dirinya, pohon cempedak kini malah tertawa terbahak-bahak. “Senang bukan kepalang diriku saat mengetahui masih ada manusia yang peduli akan nasib kami.” Ungkapnya disela tawa.  

“Jangan tertawa begitu. Nanti engkau akan menangis.” Zakaria mengingatkan. “Engkau kira semua manusia itu seperti Alyasa, ayahku atau pun kakek moyangku dulu yang menanammu? Tentu tidak.”  

“Eh, aku juga tahu tentang itu,” pohon cempedak menyahut cepat. “Setidaknya manusia-manusia muda seperti putramu dapat memberikan kami sedikit harapan.” 

“Harapan apa? Harapan itu nyaris nihil. Faktanya harapan untuk sirna itulah yang nyata.”  

“Huh? Ternyata benar ucapan Alyasa engkau terlalu memandang remeh, Zakaria.” Pohon cempedak memandang Zakaria yang memiliki tubuh yang lebih kecil darinya dengan memicingkan matanya. 

“Bukan meremehkan. Aku hanya melihat dari sudut pandang yang lebih logis saja. Karena itu aku telah mempersiapkan senjata itu untuk kalian melindungi diri kalian sendiri,” Zakaria memberikan pembelaannya. “Lagian kakekku sudah merancang engkau berbeda sebelum dia memasukkan bijimu ke tanah dan engkau tumbuh dengan normal.” 

“Terserah apa pun pembelaanmu, yang penting aku lebih menyukai Alyasa,” pohon cempedak telah memutuskan. “Engkau memang tidak pernah mau mengalah.” 

Kali ini Zakaria-lah yang tertawa terbahak-bahak.  

 

 

Alyasa melangkah lemah dia berhenti sejenak menatap rumah tetangganya. Di sana tampak kakek dan nenek menangis tersedu-sedu didekap oleh anak-anaknya yang memiliki raut wajah yang sedih juga. Beberapa hari telah terlewat sejak dia pergi dari ayahnya dan pohon cempedak. Namun mereka masih saja menangis. 

Siapa orang kampung yang tidak menyaksikan ketidakadilan itu menimpa keluarga itu? Rasanya tak ada. Tragedi yang sangat mengejutkan. Hingga membuat banyak dari mereka mulai diliputi rasa ketakutan. Keberanian untuk melawan hilang.  

Dengan tanpa belas kasihan binatang yang mengenakan seragam datang. Dada yang terbusung dikombinasikan dengan tatapan tajam. Tangan menarik paksa tanah leluhur yang dijaga. Rupiah bukan yang dibutuhkan untuk menukar hijaunya lahan. Nilai berapa pun tak dapat merayu. Tapi semua kekuatan diperlihatkan. Menyisakan tangis penuh kepedihan yang tersisa. 

Alyasa sendiri juga ikut meneteskan air mata. Hari itu dan juga sekarang, dia dengan cepat menyeka air mata yang telah membasahi kedua pipinya. Tidak tahu kapan giliran tanah milik nenek moyang yang kini dibawah tangan ayahnya akan juga berpindah kepemilikan. Dia takut akan kedatangan hari itu. Hari dimana hijau hilang berganti dengan bumbungan asap berwarna abu yang pekat. Dia lebih memilih untuk mati saja daripada menghadapi petaka.

Sementara masih jantung masih berdetak, Alyasa tahu dia masih bisa bergerak dalam rasa pesimis yang lebih kental. Selain itu sebagai manusia usaha itu harus dilakukan. Alyasa mengambil langkah berani. Dia telah menghubungi lembaga hukum di kota untuk datang dan membantunya. Dia telah mempersiapkan dirinya untuk melawan secara hukum dan juga fisik.  

Resiko tertinggi dari keputusannya juga telah Alyasa pertimbangkan. Kadang kehilangan nyawa bukanlah hal yang besar. Bila dibandingkan kehilangan kebebasan atas apa yang dimiliki. Pantas saja merdeka atau mati menjadi relevan dimana pun sebuah perjuangan dikibarkan.  

Kaki Alyasa kembali bergerak. Dia melangkah kembali menuju rumah yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Namun belum jauh dia bergerak, Alyasa kembali berhenti saat matanya melihat ada banyak mobil-mobil di halaman rumahnya. Detak jantungnya berdegup lebih cepat dari pada biasanya.  

Sosok perempuan paruh baya bersama perempuan muda yang kedunya turun dari rumah dengan membawa tas besar di masing-masing tangan mereka. Alyasa berlari dengan ketakutan yang membungkus isi kepalanya.  

“IBU...” teriak Alyasa yang berdiri di belakang mobil bersama anak perempuannya.  

Ibu dan anak itu sedang menyusun barang-barang yang dibawa. Keberadaan Alyasa yang datang tiba-tiba, tidak digubris. Keduanya fokus merapikan bagian belakang mobilnya.  

“Kalian mau kemana? Ini mobil siapa?” tanya Alyasa kebingungan. “Dan mobil-mobilnya yang lain milik siapa? Itukan mobil...?” 

“Bukankah kamu lari hari itu. Sudahlah, memang lebih baik pergi,” sahut perempuan muda tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Semuanya datar.  

“Sofiya.” Ibu menyenggol tangan anak perempuannya. “Masuk!” perintah sang ibu. 

Tanpa menjawab, saudara perempuan Alyasa mengikuti apa yang ibunya katanya. Dia membuka pintu mobil dan memilih duduk dibangku kemudi. 

Perempuan paruh baya itu menatap sejenak pada sang putra. Dengan perlahan dia meraih tangan Alyasa dan berkata dengan lembut. “Alyasa, kita pergi dari sini. Ayahmu akan menyelesaikan semuanya hari ini.”  

Dahi Alyasa berkerut dengan sangat ketara. Perginya yang sebentar menghantarkan banyak kebingungan. Perlahan Alyasa mengemgam tangan ibunya sambil membimbing ibunya untuk mendekati pintu mobil.  

“Ibu masuklah," pintu mobil itu dibukakan oleh Alyasa yang masih tak tau pemilik alat transportasi berkaki empat.  

“Kamu masuk duluan," Ibu mendorong Alyasa untuk masuk.  

Namun Alyasa menggelengkan kepalanya. Dia melepaskan tangan kanan ibu yang yang masih melingkar di lengan tangan kirinya. Pria muda itu memilih bergerak menuju rumahnya. Dimana dia melihat sang ayah keluar dengan tas yang menggantung di bahu dan juga ditentngnya di kedua tangan.  

Tak ada orang yang berada di rumah mereka. Alyasa semakin bertanya-tanya apa yang terjadi. Apa yang dia lewatkan setelah pergi beberapa hari.  

“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alyasa yang menyaksikan ayahnya mengunci rapat pintu utama rumahnya.  

Ayah tersenyum. “Kamu akan segera mengetahuinya,” kata ayah yang bergerak menuju mobil dimana ibu dan Sofiya telah menunggu.  

Kali ini Alyasa tidak membantah. Walau dia masih tak paham. Ayah mengarahkan Alyasa untuk duduk di samping ibunya di belakang. Ayah masuk dan duduk bersama Sofiya di depan.  

“Pakai selt belt kalian.” Sofiya tersenyum kecil kemudian dengan bertingkah ala pembalap F1, dia memundurkan mobil dan mulai menunjukkan aksinya berkendara melewati jalan tanah kuning yang setengah becek.  

Alyasa yang tidak siap, terpental. “Apa-apaan ini?” Alyasa kembali menggerutu. “Aku baru sebentar pergi, tapi kenapa kalian aneh begini.” 

Ayah terkekeh. “Jangan menyalahkan orang atas tindakan ketidakbijaksanaan yang kamu lakukan, Alyasa.” 

“Tolong, satu orang dari kalian jelaskan apa yang sedang terjadi?” Alyasa menunjukkan ekspresi frustasinya atas tindakan keluarganya.  

“Tidak perlu penjelasan begitu bang. Bahkan semua orang sekampung juga tahu apa yang sedang terjadi,” Sofiya yang sedang menyetir menjawab. “Jangan menyimpan batu di kepala dan hatimu. Hingga membuat mereka tidak berfungsi.” 

Mata Alyasa terbelalak. Dia menatap ibu yang juga tampak menertawainya. “Jadi kita juga diperlakukan seperti itu?” dengan lemas Alyasa bertanya.  

“Iya,” angguk ibunya. “Tidak ada yang istimewa pada kita, hingga mereka melewatkan kita. Tentu sama perlakuannya.” 

“Tapi bagaimana kalian begitu santai begini.” 

“Kita sudah membahas ini di depan pohon cempedak hari itu, Alyasa. Tapi bukankah engkau memenangkan kemarahan menguasaimu,” kata ayah lagi. 

“Setelah ayah pulang, mereka datang menghampiri ayah. Hanya saja kami punya cara beda untuk menghadapinya,” ujar Sofiya. 

Alyasa menganggukkan kepalanya, “iya, kalian memilih menyerah. Sudah kuduga. Mungkin aku memang dikuasai dengan emosi, tapi aku pergi untuk mencari bantuan hukum.” 

“Dapat?” tanya Sofiya yang tampak meremehkan cara Alyasa. 

“Tentu saja,” sahut Alyasa cepat.  

“Bagus!” Sofiya merespon singkat.  

Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. Alyasa yang tak setuju dengan pilihan untuk menyerah, hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia menyalahkan ketidakhadirannya di masa sulit yang dihadapi keluarganya. Rasanya sulit untuk diterima semuanya akan menghilang.  

Alyasa tidak kuat hidup dalam ketenangan semu yang sedang dipertunjukkan tiga orang yang dia sebut keluarga. Dia berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Matanya semakin melotot melihat banyaknya kendaraan besar yang mereka lewati. Bahkan traktor pun tampak gagah siap menerjang deretan pokok kayu yang berdiri tak berdaya.  

“STOP!” tiba-tiba saja Alyasa berteriak.  

“Lagi?” sekilas Sofiya menatap ayahnya.  

“Tenang Alyasa,”pinta ibunya dengan nada suara yang lembut. “Kalau kamu seperti ini, akan menganggu fokus adikmu,” Ibunya menepuk pundaknya perlahan. 

Alyasa menoleh pada ibunya. Bagai terhipnotis dia hanya menganggukkan kepalanya. Sebagai anak, dia tak berani membantah perempuan yang melahirkannya. Alyasa menarik napas panjang mencoba menenangkan hatinya yang enggan untuk tenang.  

Mobil yang dikendara oleh Sofiya masih melaju dengan cepat. Kali ini malah terasa semakin cepat. Entah apa yang ingin dia kejar. Namun layak untuk menyaingi kecepatan Hamilton di atas circuit.  

Kini mobil itu melewati kebun milik mereka. Kebun yang tumbuh pohon cempedak besar di dalamnya. Pohon yang mengeluarkan aroma ranum dari buahnya. Alyasa yang tak dapat melawan meneteskan air matanya. Terlebih dari balik jendela mobil dia menyaksikan orang-orang itu mulai bergerak meratakan segalanya.  

Mereka dengan alat-alat modern bekerja membunuh makhluk-makhluk itu tanpa ampun. Berpegang tanda tangan dan perintah semua dengan suka cita menuruti. Alyasa semakin menyumpah dalam hati. Tak terima.  

Beberapa kilometer dari kebun, Sofiya menghentikan mobilnya. Dengan cepat tangan Alyasa membuka pintu mobil dan keluar. Namun dengan cepat pula Sofiya ikut menyusulnya dan menarik tangan abangnya itu.  

“Lihatlah dari sini! Kamu akan paham segalanya,” ujar Sofiya yang sekuat tenaga mencengkram tangan abangnya yang memiliki tenaga yang jauh lebih kuat darinya.  

Pohon cempedak kakek yang memiliki tubuh yang lebih tinggi itu tampak bergerak tidak normal. Pohon yang masih banyak buat yang bergelantungan pada batangnya mulai menyergap para penyerang. Entah itu peralatan dan manusia, tak ada satu pun yang luput dari pandangannya.  

Rasa ketakutan menyerang mereka. Sosok yang diam kaku tak lagi berada di tempat yang sama. Menghampiri budak-budak penerima rupiah. Ular-ular yang bersembunyi dibalik damainya hidup di antara akar juga ikut keluar. Mempertahankan nyamannya rumah yang mereka punya.  

Alyasa yang tak mengerti apa yang sedang terjadi menatap Sofiya yang menatap pohon yang bergerak dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan suara yang tercekak Alyasa bertanya, “apa yang sebenarnya terjadi, Sofiya?” 

Sofiya mengangkat bahunya sambil tersenyum penuh arti, “ketika manusia dan alam bersinergi dalam teknologi, itulah yang disebut dengan kebijaksanaan,” sahut Sofiya seraya mengedipkan matanya menggoda Alyasa.  

“Bagaimana mungkin?” Alyasa mengerutkan dahinya tak percaya.  

Sofiya tidak menjawab kali ini dia hanya menepuk pundak Alyasa yang masih berdiri kaku dengan pandangan yang tak lepas dari pohon cempedak yang menyerang. Mobil mulai banyak bergerak melewati mobil mereka yang terparkir di tepi jalan.  

 

-the END-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi