2026
09.15
Swan Cafe
Seorang pemuda yang menggunakan topi pelukis berwarna cokelat, dengan jas kotak-kotak berwarna biru yang dipadu padankan dengan celana panjang cokelat muda mengambil bangku di bagian pinggir cafe. Letaknya di pojok yang bersebelahan dengan jendela. Meja bundar di depannya menyediakan satu potong chiffon cake, satu kopi hitam dan satu gelas lemongrass tea.
"Yuma! Yuma!" nada riang dari wanita yang duduk di depannya selalu berhasil mengembalikan senyum yang mulai meredup.
"Ada apa, Yuka?" seperti biasa, nada bicaranya lembut, yang membuat semua orang merasa nyaman. Bahkan orang yang baru ditemui sekalipun.
"Kamu tau drama macan kumbang? Aku nangis kejer nonton itu!" Wanita berambut panjang dengan poni yang menutupi kening itu berpura-pura menyeka air mata. Dress floral selutut membuat siapa saja yang melihatnya ingin menjaga wanita itu.
Garpu kecil yang sebelumnya digunakan untuk memotong cake kembali Yuka letakkan, "Cara si Macam Kumbang berusaha deketin cewenya itu, apa, ya? lucu? unik? Seru tau liatin preman jadi bucin!" nada riang nan penuh antusias itu membuat senyum Yuma semakin melebar.
Yuma mengambil gelas putih kecil berisi kopi hitam pesanannya, satu sesapan ia ambil sebelum akhirnya ia letakkan kembali gelas itu ke tempatnya berada. "Bukannya..., kamu udah pernah cerita drama ini, ya?"
Kedua mata bulat Yuka menatap Yuma, berkedip beberapa kali. Ranumnya yang dilapisi oleh lilin kosmetik berwarna merah muda merekah lebar. Yuka mengangguk. Anggukan penuh semangat yang tidak kunjung berhenti.
"Iya!" anggukan kepala Yuka kini berhenti, ia menatap Yuma dengan serius. "Ini yang kelima!"
"Kelima..." Kedua bola mata Yuma membulat. Ia tidak habis pikir. Lima kali. Bahkan setelah lima kali liat film yang sama. Wanita di depannya ini masih saja menangis. Tawa yang tak dapat ditahan keluar begitu saja.
"Eh?" Yuka sedikit memiringkan kepala. Awalnya ia bingung, apa lucu dari perkataannya. Tapi perlahan, tawa dari pria di depannya itu menular. Yuma juga ikut tertawa. Perlahan, tawa mereka mulai selaras dengan ketukan yang sama.
Abai dengan pengunjung cafe lain yang memperhatikan mereka sambil tersenyum lembut.
---
Keluar dari cafe, Yuma berjalan sendirian ke menelusuri area pertokoan. Beberapa pemilik toko menyapanya, ada juga sapaan pelanggan tetap cafe milik Yuma. Swan Cafe bisa dibilang cukup populer di tempat ini berkat Yuka dengan lingkup pertemanannya yang sangat luas.
"Yuma!" panggil Arto, anak pemilik toko tangkapan laut yang kebetulan seumuran dengan Yuma.
"Iya, To," Yuma berjalan menghampiri toko Arto yang berada tepat di ujung perempatan jalan.
"Ini," Arto memberikan bungkusan hitam yang dapat dipastikan bena di dalamnya memiliki berat 1/2 kg. "Ada cumi. Makanan kesukaan, kan?"
Yuma terkekeh, ia ambil bungkusan hitam itu. Di dalamnya terdapat 4 ekor cumi segar. "Wihh, banyak banget ini."
"Santai. Katanya kemarin kamu traktir si Artha. Dari wujudnya, minuman mahal itu," jawab Arto, menotice adiknya yang kemarin saat pulang sekolah terlihat senang karena mendapat smoothie yang terlihat mewah.
"Ah, itu. Menu baru, masih promo juga," Yuma tersenyum simpul. Tangan kanannya kembali menyodorkan plastik hitam itu kepada Arto.
"Eh?! Ambil aja, anggap traktiran saya, dah," Arto menggeleng pelan, dengan halus ia mendorong tangan Yuma.
Senyum Yuma semakin melebar, bahkan matanya hanya terlihat segaris saja, "Bukan gitu. Saya nggak bisa masaknya, nanti malah ke buang. Kan, sayang."
Arto mematung sejanak, wajahnya berubah menjadi cemas. Helaan napas berat menandakan dirinya sangat menyesal. Ia melupakan sesuatu yang penting. Sudah kebiasaan tokonya selalu memisahkan cumi segar untuk Yuma tentu saja untuk dimasak oleh Yuka nantinya.
"Maaf-" cicit Arto.
Yuma seketika merasa canggung, dirinya juga jadi merasa tidak enak. Tapi, mau bagaimana lagi. Sehari-harinya semenjak Yuka pergi, ia lebih sering membeli makanan dari luar.
"Oh!" Arto kini memandang Yuma dengan mata berbinar, "Saya suruh Artha yang masakin aja. Gimana?"
"Dia bisa masak?" tanya Yuma penasaran. Seingatnya, ibu pemilik toko tangkapan laut ini pernah mengeluh pada Yuka kalau anak bungsunya itu hanya suka mengurung diri dengan komik-komik dalam kamar.
Tangan kanan Arto perlahan terangkat menuju tengkuk, ia sedikit mengusap tengkuk yang rasanya seperti sedang dilalui banyak tentara semut. Kekehan kecil meluncur terputus-putus, "Hehe- he, yaa, nggak bisa sih."
"Ya, kan!" Yuma tertawa lepas, "Mending jangan, deh. Nanti malah ganti dapur. Lebih repot urusannya."
Arto mendecak, "Iya, iya. Saya nyerah, deh. Tapi nanti malam, datangnya ke restonya Rama. Kita makan-makan di sana. Jangan lupa! Jangan ngurung diri terus di kamar, nanti Yuka sedih suaminya jadi NEET!"
Yuma kembali tertawa, "Sembarangan. Saya punya kerjaan."
Dengan cumi yang akhirnya tertolak, Yuma memutuskan untuk pamit segera pulang. Dari depan toko, Arto memperhatikan punggung Yuma yang perlahan menjauh dan menghilang di pertigaan depan.
Cumi yang masih ada di tangan kanannya ia angkat tinggi-tinggi, "Udah bisa ketawa lagi sekarang," Arto tersenyum kepada bungkusan cumi.
Seorang pria berambut panjang kuncir kuda yang kebetulan sedang lewat toko milik orang tua Arto itu berhenti, memperhatikan si sulung yang berbicara pada bungkusan plastik sampai tersenyum bahagia.
Beberapa decakkan terdengar, "Yang ditinggal Yuma, yang stress kok malah situ," sindir si pria kuncir kuda, Rama. Si pemilik resto yang baru saja disebutkan namanya. Panjang umur untuk Rama.
"Eh, ada cefff, cefff," Arto sedikit berjingkrak, mendekati Rama lalu merangkul sobatnya itu.
"Bau amis, To," keluh Rama sambil mendorong Arto.
"Dih, kejam amat sama teman seperjuangan. Oh, ya," Arto menyodorkan bungkusan cumi tadi kepada Rama.
Yang diberikan bungkusan hanya menatap penuh tanya tanpa mau menerima. Arto yang kesal pun berdecak. Ia harap bisa melakukan telepati pada teman masa kecilnya ini, seperti sahabat-sahabat lain yang ia liat di internet. Hanya dengan kedipan mata sudah saling memahami.
Ajaibnya, seperti paham apa isi pikiran Arto, Rama memukul pelan ubun-ubun Arto, "Gue bukan cenayang. Kenapa? cepet!"
"Dih itu bis- Ah, udah, lah," Arto menarik tangan Rama, memaksanya agar memegang bungkusan hitam yang belum Rama ketahui apa isinya.
Arto menatap Rama dengan pandangan dan senyum yang terlihat sombong, "Cumi asam-manis. Nanti malam Yuma gabung."
"Loh? lo paksa, ya?!" selidik Rama.
Kedua mata Arto terbuka lebar, "Enak, aja. Ini namanya keajaiban cumi-"
Dan mereka berdua pun lanjut berdebat di depan toko milik orang tua Arto. Sampai keduanya berakhir harus disebor dengan baskom berisi kotoran udang oleh Artha karena terlalu kesal oleh kebisingan yang dibuat sang kakak.
---
2026
08.00
Swan Cafe
Pagi ini, selesai mempersiapkan cafe buka Yuma memilih untuk beristirahat sebentar. Duduk di bangku yang tersedia di depan cafe sambil menikmati secangkir kecil kopi pahit.
Dikarenakan hujan yang mengguyur sejak malam hingga matahari terbit tadi, jalanan di arena pertokoan masih sedikit basah. Harum aroma khas tanah yang terguyur hujan membuat siapa saja yang dapat menciumnya merasakan ketenangan pagi hari. Begitu pula Yuma.
Sudah 6 bulan semenjak istrinya meninggal yang dikarenakan memang sudah menjadi takdir. Setiap datang ke cafe dan duduk di bangku pojok spot favorit sang istri, pasti Yuma selalu teringat percakapan mereka.
Yuma mengangkat cangkirnya, kembali menyesap kopi yang membantu menghangatkan tubuh. Menyesap kopi sambil memejamkan mata dan mencium aroma pagi hari sangat menenangkan. Ditambah suara merdu dari kicauan burung yang-
brak!
Suara hantaman dan benda jatuh di dekatnya membuat Yuma membuka mata dan kembali pada kenyataan. Di depannya saat ini, ada seorang pria muda yang baru saja terjatuh dari sepedanya. Dengan cepat Yuma segera membantu pria itu, memapahnya lalu duduk di samping bangku tempat Yuma menikmati pagi.
Syukur, tidak ada luka yang meninggalkan jejak dari kecelakaan tunggal karena jalanan licin ini.Yuma masuk kedalam cafe untuk mengambil handuk bersih dan meminta kepada sang barista untuk dibuatkan coklat hangat.
"Kamu ada alergi?" tanya Yuma sambil memberikan handuk kecil. Pria itu menggeleng, ia menerima handuk pemberian Yuma. Tapi, tangannya hanya diam di atas paha sambil meremat handuk putih yang baru saja ia terima. Kepalanya menunduk dalam.
"Kenapa? ada yang sakit?" perlahan Yuma duduk di tempatnya semula, di samping pria muda itu.
Pria itu menggeleng, membuat Yuma menghela napas lega, "Syukur kalau begitu."
"Aku pernah dengar," cicit si pria muda.
"Eh?" Yuma mendekatkan telinga karena pria di sampingnya hanya bergumam sambil menunduk.
"... mati karena kecelakaan sepeda. Aku pernah dengar ada peristiwa seperti itu."
Berhasil dapat sepenuhnya mendengar apa yang di katakan orang pria di sebelahnya, Yuma hanya mampu mengedipkan mata beberapa kali. Sambil matanya menelisik, otaknya memikirkan segala kemungkinan ada apa dengan pria muda di sampingnya itu. Lalu,
"Oh!" Yuma menjentikkan jari. Berhasil mengambil atensi pria muda yang sedari tadi hanya menunduk, "Kalau sepedanya tergelincir ke dalam jurang. Mungkin bisa saja."
Si pria muda menatap Yuma datar, kepalanya mengangguk perlahan, "Begitu, ya. Jurang, ya."
"Tapi belum tentu juga," kembali, Yuma berhasil mengambil atensi pemuda itu lagi, "Bisa jadi hanya luka-luka. Atau patah tulang... permanen?"
Mata pria muda itu terbelalak, terdengar tenggorokkannya menelan ludah dengan susah payah. Kalau diperhatikan seksama, kedua pupil pria itu sedikit bergetar.
Yuma tersenyum lembut lalu kembali menyesap kopi yang mulai mendingin, "Kalau bahas masalah kematian, itu tidak ada yang tau. Berusaha sekeras apapun juga kalau memang belum waktunya. Ya, cuma dapat sialnya."
Cangkir kecil itu kembali Yuma letakkan, "Istriku saja yang selalu ceria dan tidak pernah membahas hal yang 'horor', kau paham, kan, maksudku. Ia pergi lebih dulu. Dibanding aku yang suram ini."
Terdengar ringisan dari pria yang lebih muda. pasti tidak nyaman membahas kematian asli yang sesungguhnya. Tapi, tunggu, "Suram? anda?" heran pria yang lebih muda itu.
Yuma mengangguk dengan mantap. Pandangannya menatap jalanan tempat di mana sepeda pria di sampingnya itu tergelincir.
"Sebelum bertemu istriku. Sekitar..., 4 tahun lalu. Tapi, manusia itu dapat berubah. Tidak jauh berbeda dengan musim di negara ini."
Yang lebih muda menatap Yuma lekat, kedua tangannya kembali meremat handuk kecil yang masih ia genggam erat, "Anda..., tidak berpikir untuk menemui..., eum, itu...."
"Menyusul istriku?" tebak Yuma. Sepertinya tebakannya benar, karena pria di sampingnya kini mengangguk terbata-bata.
Kekehan kecil keluar dari ranum si pemilik cafe, "Pernah... pasti. Tapi saya takut."
"Takut?"
Yuma mengambil napas panjang sebelum mengatakan kalimat yang pernah ia baca dulu,"Bahkan disaat-saat terakhir, saat kau terlahir kembali. Aku akan selalu di dekatmu."
"Eh?"
"Itu tulisan yang ada di halaman diary trakhir istri saya."
"Saya dulu orang yang selalu benci sama perjalanan hidup saya. Benci sama pilihan saya di masa lalu yang akhirnya ngebuat saya benci setiap ambil keputusan kedepannya. Tapi, setelah itu saya bersyukur,"
Tangan kiri Yuma bertengger di kepala yang lebih muda sembari memberikan elusan ringan, "Dari banyaknya jatuh bangun itu, saya bisa bertemu sama Yuka. Istri saya yang... Aneh?" Yuma terkekeh "Yang jadi kanvas hidup saya. Buat saya nggak takut lagi untuk memegang warna baru."
"Masa depan itu nggak ada yang tau. Tapi, ngubah masa lalu juga sulit, nggak mungkin. Jadi, fokus berjuang buat saat sekarang aja. Jadi lebih baik, siapin tenaga buat lukisan masa depan baru. Cari kanvas tak terbatasnya."
"Tapi...," Yuma menatap pemuda di sampingnya, sambil bertanya-tanya dalam hati apa sekiranya pernyataan atau sanggahan yang akan Yuma terima.
"Saya nggak ada minat buat jadi pelukis. Gambar legend sawah sama matahari senyum saya aja dibilang mirip telur dadar pakai nasi goreng."
Selama mendengar perkataan yang lebih muda, mata Yuma hanya mampu berkedip beberapa kali. Lalu, setelah otaknya memproses semua hal yang terjadi, tawa Yuma menggelegar. Sampai barista yang baru saja membuka pintu terkejut. Ini pertama kalinya si bos kembali tertawa semenjak 6 bulan terakhir.
"Oh, maaf-maaf. Sudah jadi, ya," Yuma mengambil segelas coklat hangat yang sebelumnya ia pesan. Lalu sang barista segera izin pamit masuk.
Dengan tergesa, barista itu membuka pramban dalam ponsel pintar. Mencari bacaan ayat untuk mengusir makhluk halus. Takut-takut bossnya diikuti makhluk asing karena terlalu sering berkunjung ke makam sang istri setiap pagi.
Kembali pada Yuma. Ia memberikan cangkir besar berisikan coklat hangat pada yang lebih muda.
"Suka coklat?" tanya Yuma dengan ramah. Ia kembali merasa diselimuti arua positif dan bersemangat karena jawaban dari yang lebih muda.
Sayangnya yang lebih muda menggeleng. "Saya biasa pesen strawberry," Tangan yang lebih muda mengambil cangkir besar itu dan menyesapnya.
Yuma mengangguk pelan, "Kalau begitu, besok saya traktir strawberry. Tapi, jangan pagi."
Yang lebih muda menatap Yuma keheranan.
"Besoknya lagi juga boleh, pilih yang murah aja, ya. Besok-besoknya lagi juga."
Yang lebih muda terkekeh. Pandangan Yuma sedikit meneduh ketika melihat pria yang lebih muda akhirnya tersenyum.
"Nanti malah bangkrut sama saya."
Sambil tertawa, Yuma memberikan tepukan ringan pada bahu yang lebih muda, "Nggak bakal. Datang setiap hari, ya. Sampai kamu lupa bahasan aneh tentang 'jatuh dari sepeda' tadi."
Pemuda di sebelahnya tersentak, benaknya berhasil mendapatkan benang merah. Ah, jadi itu maksudnya. Pikir yang lebih muda.
Pria yang lebih muda menggenggam gagang cangkir dengan tangan kiri. Tangan kanannya perlahan terulur, meminta sambutan dari tangan yang lebih tua.
"Ngajak kenalan, nih?" ejek Yuma yang dibalas dengan anggukan tegas. Yuma pun kembali tersenyum, tangan kanannya terangkat, memegang kuas yang di ujungnya memiliki warna baru yang baru saja ia temukan.
"Yuto. Saya lagi cari kerjaan, buka lowongan nggak, Kak? Pak?"
Perkataan yang lebih muda, Yuto, berhasil kembali membuat Yuma tertawa. "Bisa banget, ya, cara anak zaman sekarang. Panggil Kak aja, saya baru juga 30-an. Kalau buat part-time, bisa."
"Oh, oke. Maaf, Kak. Saya kira udah lanjut 40."
Rangkulan kencang Yuma sandarkan pada kuas barunya. Pulang nanti, sepertinya ia akan mengunjungi kanvasnya dan memberitau bahwa sang pelukis baik-baik saja. Ia tetap mencari warna dalam hidupnya. Tidak kembali seperti dulu yang hanya terpaku bada hitam dan kelabunya awan hujan.
---
1987
Seorang wanita berambut panjang sedang mempersiapkan sarapan untuk keluarga terkasihnya. Meja pendek yang berada di ruang tamu sudah dipenuhi oleh beberapa lauk. Di hadapannya sudah ada sang suami yang sedang memangku putra sulung merak ayang baru saja berusia 3 tahun.
"Tadi malam," sang istri, Yura membuka percakapan, "aku baca cerita putri caterpillar. Sedih banget, deh. Mata aku masih bengkak sampai sekarang."
Kedua laki-laki yang duduk di seberangnya kini fokus memperhatikan mata Yura. Yuga, si ayah sedikit menyipitkan mata.
"Bukannya kamu udah pernah baca itu? masih nangis juga?"
Sang istri terkekeh, "Ehehe, udah.... 3 kali?"
Terdengar suara nyaring dari Yugi, balita dalam pangkuan Yuga. Tawa riang khas anak kecil yang menggema mengisi seluruh penjuru rumah. Membuat tempat bernaung itu terasa hangat. Walau masih jadi misteri, entah yang ia tertawa karena mengerti percakapan orang tuanya. Atau hanya sekedar ingin tertawa karena suasana yang dirasa pas.