Anak Perempuan berusia 5 tahun yang baru saja membuka mata itu langsung melompat dari atas tempat tidur. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang memantul - mantul kecil. Baju kaos lengan pendek yang terlihat seperti daster ketika ia pakai itu menari kesana kemari. Dengan cepat, ia berlari ke ruang tengah dan langsung membuka gorden putih panjang membuat sinar matahari secara langsung menerjang, menembakkan cahayanya tepat ke sofa besar. Tempat seorang wanita yang terbungkus oleh selimut, kini menggeliat bak cacing yang baru saja ditaburi garam.
“Pagii, pagiii. Alaram Chika aktif, Rina harus bangun!!” seru anak Chika berkali-kali, sambil berlarian kecil mengitari sofa. Tempat Dimana sang kakak Rina, tertidur.
Rina membenarkan posisi tubuh, yang tadinya membelakangi matahari kini ia berbaring. Kepompong ungu bergaris kuning yang awalnya sempurna kini mulai terkoyak. Menatap langit-langit yang semakin hari semakin dihiasi dengan banyaknya pola aneh berwarna cokelat kekuningan.
Satu decakkan kencang keluar dari mulut Rina, membuat Chika si alaram manual berhenti. Berdiri tepat di samping wajah Rina.
“Saaaa~ Raaaa~ paaaan~” teriak Chika tepat di samping telinga Rika.
Masing sambil berbaring menatap datar langit-langit yang rumah yang mulai ternodai itu, Rina berdehem. Satu deheman kencang membuat Chika menggembungkan kedua pipinya.
“Ihhh, dibilang. Saaaa~ Raa-”
“Berisik,” Rina bangun dari tempat tidurnya -sofa- tangan kanan terangkat, menggaruk kepala yang membuat rambutnya yang pendek semakin kusut.
Kemudian Rina berdiri, acuh pada kepompong yang bahkan baru saja ia injak-injak. Berjalan melangkah maju masuk ke dalam kamar mandi. Kelakuan kakaknya membuat Chika menghela napas. Senyum lebar kembali anak itu pertahankan, Chika mulai memungut kepompong Rina dan menatanya dengan rapih di atas sofa. Setelahnya, Chika berjalan menuju dapur. Menggunakan apron, mengocok lepas dua butir telur sebagai asupan energi bagi kakaknya untuk menjalani hari.
--
Toko Baju Serba 35
Tempat Rina bekerja. Seperti biasa menyapa dan melayani para pelanggan yang tidak pernah membeli dan hanya menjadikannya tempat pelampiasan emosi.
“Ini baju bekas, kan?”
“Kok modelnya jelek-jelek?”
“Mba nya ngapain ngikutin saya terus, emang saya maling?”
Dan masukan berbeda dari para pelanggan yang selalu ia terima setiap harinya. Ingin berhenti, tapi di era sekarang tidak mudah mendapat pekerjaan. Ada satu saja sudah bersyukur sampai menempelkan kening ke tanah, apa lagi punya 10 pekerjaan sekaligus. Kalau itu Rina, mungkin ia lebih memilih dengan ikhlas menyeberangi alam baka ketimbang mengikat diri sepenuhnya dengan dunia.
“Rina!” teriak ibu pemilik toko yang biasa datang tanpa aba-aba. Bak jelangkung yang juga sama-sama membawa hawa menakutkan.
Dengan sigap disertai helaan napas jengah, Rina yang sedang duduk di kasir belakang berlari menghampiri ibu pemilik yang sedang berdiri di Tengah toko.
“Itu, apaan itu?” dengan kedua tangan menyilang di bawah dada dengan dagu yang terangkat tinggi. Kaki kanan ibu pemilik menunjuk kearah bawah para pakaian yang sedang menggantung.
Ada satu. Ada satu pakaian yang terlepas dari gantungannya. Di sela-sela belasan pakaian dalam gawangan.
Kenapa mata ibu pemilik sangat jeli, mana sempat Rina memperhatikan setiap bagian bawah toko yang luas ini. Apa lagi ini hanya satu, hanya satu pakaian tapi kenapa getaran nyaring dari pita suara ibu bos bergetar seperti akan mendatangkan gempa pada toko yang baru saja ia bangun 4 bulan.
Rina perlahan menunduk, berusaha agar dirinya tidak limbung oleh getaran gempa yang sedang melanda toko tempatnya bekerja. Gempa aneh yang bisa membuat telinga Rina berdengung karena mengeluarkan suara melengking.
Rina mengambil baju bergaris-garis hitam putih itu lalu memasangkannya pada gantungan baju yang menganggur. Seketika itu juga gempa yang melanda toko menghilang. Terdengar decakan kencang dari ibu pemilik sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan toko dan pergi menggunakan sepeda Listrik yang baru saja ia beli dengan dalih untuk anak.
Dipastikan tidak akan ada gempa susulan.
22.00
Rina berdiri, memandang lurus peron tanpa batas yang selalu menambah rumor setiap tahunnya. Menunggu kereta terakhir menuju rumahnya tiba.
Tempat Rina bekerja dan rumahnya di selingi dua kota. Bisa saja ia mencari pekerjaan yang dekat. Tapi, dengan segala pertimbangan finansial, perkerjaannya saat ini menghasilkan rupiah yang cukup bagus untuk menunjang hidupnya dan juga sang alaram cilik di rumah. Walau jarak yang tidak bisa dibilang jauh, tapi menggunakan tranportasi besi ini cukup murah. Tidak sampai 10 ribu dua kali perjalanan. Jarak dari rumah ke stasiun ataupun jarak dari stasiun ke tempat kerja juga dapat ditempu dengan beberapa olahraga kaki.
Ulat besi besar dengan 6 bagian tubuh itu akhirnya tiba. Setelah mempersilakan para penumpang turun terlebih dahulu, barulah Rina masuk. Memang seperti itu seharusnya. Begitu adabnya.
Rina berdiri, berhadapan dengan pintu kereta yang perlahan menutup. Kaca jendela yang mulai menunjukan pantulan dirinya. Poni lepek yang telihat sangat tipis, rambut pendeknya terlihat sedikit mengembang di bagian bawah. Rina menghela napas. Menunduk secara spontan, memang begitu biasanya manusia, selalu mengalihkan pandang, enggan terlibat dari apa yang terlihat memuakkan.
Rina Kembali mengakat kepala, menunduk Ketika berdiri di kereta membuatnya jadi mual.
Matanya Kembali menatap pantulan diri pada jendela kereta yang dihiasi kegelapan malam. Dirinya tidak lagi memperdulikan penampilan berantakannya, melainkan, seorang wanita di belakangnya, wanita berambut Panjang dengan poni indah yang sepertinya telah direndam menggunakan dry-ice hingga tetap terlihat kokoh dengan banyak liukan Anggun itu.
Dari pantulan kegelapan malam, wanita dibelakang tersenyum kepala Rina dengan sangat ramah. Lagi. Lagi-lagi Rina menunduk dalam. Hanya mampu melihat ujung sepatu putihnya yang mulai dihinggapi noda kuning, sekeras apa ia sikat. Noda laknat itu tidak juga hilang.
‘Orang ini, kayaknya udah sekitar seminggu ini dia ada di gerbong yang sama.’
Perlahan Rina mengalihkan pandang ke kanan dan kiri. Banyak bangku yang kosong, bahkan hanya 5 orang di gerbong ini, termasuk dirinya dan Wanita yang berada di belakang dirinya.
‘Orang aneh, banyak bangku kosong kenapa malah berdiri?!’
Kesal Rina, yang sepertinya tidak berkaca dengan baik melalui kaca kereta yang menampakkan pemandangan gelap malam hari.
Dua stasiun terlewat, pemberhentian yang akan datang adalah milik Rina. Rina selamat. Ia akan segera terbebas dari perasaan tidak nyaman yang menyelimuti gerbong keretanya. Pintu kereta terbuka, dengan secepat kilat Rina segera melangkah keluar. Mengeluarkan ponsel yang masih terhubung dengan earphone. Kedua tangannya terburu-buru memasang eraphone, memasang lagu secara asal. Yang penting ia melupakan perasaan tidak enak di kereta tadi.
“Sial!” keluh Rina kala lagu yang terputar adalah lagu remix yang sangat tertolak dalam telingnya.
Masih dengan Langkah yang terlihat tidak teratur, beberapa kali ia limbung dan dengan cepat kembali menyeimbangkan diri. Sesekali matanya beralih pada layar ponsel mencari lagu yang ia inginkan.
Sampai tidak sadar, langkahnya saat keluar dari stasiun langsung bertegur sapa dengan ojek online yang sepertinya sedang ingin menjemput pesanan.
Tiinnn!!!
“Awas!”
Tubuh Rina di Tarik ke belakang. Oleh Wanita berambut Panjang dengan poni gelombang. Wanita yang menimbulkan rasa nyaman dalam diri Rina. Keduanya terjatuh, sempat ada lonjakan emosi dari pengemudi ojek, syukur ada bapak warteg yang menenangkan semuanya.
Saat ini, Rina duduk di bangku sebuah taman menuju rumahnya dengan Rika -wanita yang menyelamatkannya- Rina menunduk dalam kedua tangannya meremat erat celana yang ia pakai. Sudah lebih dari 5 menit ia terus menunduk. Entah, rasanya aneh di selamatkan oleh yang membuatmu hampir tidak selamat.
Rika menggoyang-goyang kecil badannya, sepertinya wanita itu juga mulai merasa tidak nyaman. “Um.. itu,”
Dengan cepat Rina mengangkat kepala, menatap Rika lekat. “Ah! Iya!” kedua tangan Rika dengan panik sibuk meraba tubuhnya, berakhir di kedua sisi kantung celana. Sibuk merogoh sesuatu yang membuat waniat berambut panjang di depannya menatap dengan penuh rasa tanya.
“Ini!” Rina menyodorkan 2 bungkus permen, “Aku hanya punya ini, terima kasih.”
Perlahan tangan Rika terulur, mengambil dua bungkus permen berwarna hijau kekuningan itu. Dengan detail membaca merek dan rasa dari permen yang baru saja ia dapatkan.
“Rasa… cuka apel? Cukup unik, ya,” Rika tersenyum. Lagi-lagi senyum yang sama dengan apa yang Rina lihat dari balik kaca kereta.
Rina menggeleng dengan cepat, “Itu rasa yang tidak pernah laku, jadi aku membelinya!” jawab Rina spontan.
“Wahh~” nada kekaguman dan mata berbinar Rika yang menatap dirinya membuat Rina terdiam, “Kamu orang baik, ya.”
Napas Rina seketika tersendat, ia Kembali menunduk. “Tidak juga.” Tangan kanannya mengelus belakang leher yang terasa seperti jelajahi ribuan semut.
Ini pertama kalinya. Pertama kalinya sejak ia lulus sekolah, sejak ia mengurus Chika. Akhirnya, selain bocah 5 tahun dan ibu pemilik toko. Rina Kembali memilih orang yang dapat ia ajak berbicara. Bahkan hal tidak penting sekali pun. Ya. Seorang teman.
----
"Bip! Bip! Bip! Alaram Chika aktif, alaram Chika aktif!"
Seperti biasa, pagi itu Chika membuka gordeng ruang tamu lalu berlarian mengitari Rina yang masih menjadi kepompong di atas sofa. Teriakan Chika yang diselingi dengan tawa bahagia itu menggema, bahkan, mungkin sampai menembs tembok tetangga. Membuat para tetangga iri terhadap Rina yang memiliki adik pengertian dan sangat mandiri.
"Alaram Chika aktif!! Alaram-"
"Berisik!" Bentak Rina dengan nada tinggi.
Saat itu juga, kedua kaki Chika berhenti tepat di samping sofa. Dari samping, bocah 5 tahun itu memandangi kakakknya penuh tanya. Biasanya Rina hanya melayangkan protes, bukan sampai membentaknya seperti ini.
"Kak..., nanti telat," cicit Chika hati-hati.
Rina berdecak dengan kencang, kedua matanya menatap tajam Chika. Membuat yang lebih kecil mengambil dua langkah ke belakang. Kedua tangan Chika yang kini berada dibelakang punggung tiak henti-hentinya saling menubrukkan kuku.
"Dasar berisik," Rina berdiri, melangkah menuju kamar mandi. Abai dengan kepompongnya yang terjatuh dan sempat ia jadikan bahan pijakan, "Masih mending aku mau biayain kamu hidup." gumam Rina.
Chika menunduk, mengambil napas dalam lalu kembali mengangkat kepala dan membuang napas dengan tegas. Senyum yang sebelumnya sempat memudar kini kembali. Senyum lebar yang bisa saja membuat kedua ujung bibir itu menyentuh telinganya.
Dengan senyum lebar dan mata nanarnya, Chika berjalan perlahan. Kedua tangan kecilnya meraih kepompong Rina. Ia lipat dan kembali ia letakan di atas sofa, lalu ia berjalan menuju dapur. Seperti biasa, mengocok telur untuk sarapan sang kakak.
Kuning telur yang mulai melebur dan menyatu dengan bagian putih warnanya perlahan memudar, sama seperti pandangan Chika saat ini. Rasanya seperti sedang melihat di dalam air.
"Lagian, salah kakak sendiri selalu pulang larut. Jadinya kesiangan, kan," terdengar beberapa isakan kecil dari ranum yang masih mencoba tersenyum walau mulai bergetar.
---
Malam ini, sepulang kerja Rina kembali bertemu dengan Rika. Sudah sekitar dua minggu sejak pertama kali mereka bertemu, setelah hari itu, mereka selalu bertemu setiap hari. Berbincang di taman, terkadang mereka sampai bermain kejar - kerjaran menangkap musang yang lewat. Ya, waupun tidak benar-benar menangkap musang itu karena keduanya tidak berani.
"Oh, ya," Rika merogoh tas yang ia pakai, "Ta-daaa!" satu buah roti isi keju menyapa pandangan Rina.
"Eh, ini dari swalayan dekat stasiun?" Rina mengambil roti itu dengan mata yang berbinar, "Wah, pasti harganya mahal!"
Rika tersenyum simpul, ia menggeleng pelan, "Tidak juga. Kamu bukannya selalu menatap toko itu. Ayo, dicoba."
Ranum Rina merekah, ia mengangguk dengan antusias. Dengan cekatan kedua tangannya membuka bungkus roti itu, memotong ujung roti lalu memakannya sekali suap.
"Eum!" wajah Rina mengkerut, terutama bagian alias dan mulutnya. Ia angkat bungkus roti itu tinggi-tinggi, membuat Rika yang di sampingnya kebingungan.
"Harganya tidak sebanding rasa," Rina menggeleng kencang, dengan cepat ia mengeluarkan botol minum lalu menenggaknya bagai orang yang sedang terjebak di gurun pasir. Lidah Rina terjulur, masih merasa tersiksa dengan rasa yang baru saja ia makan.
"Eh, apa kadaluarsa?!" panik Rika.
Rina membawa bungkus roti itu mendekat pada keduanya, mereka mengecek tanggal kadaluarsa roti yang tertera, masih sisa 4 hari lagi. Keduanya menghela napas lega. Karena rasa penasaran, Rika akhirnya ikut mencoba roti yang ia ambil untuk Rina
"Eh-" Rina mengunyah perlahan sambil menyesapi rasa keju pada roti, "Rasanya biasa kok. Enak malah.
Tanggapan Rika membuat Rina menatapnya dengan horor. Pasalnya, rasa dari roti itu bahkan hampir membunuh indra perasa Rina. Tapi, teman barunya itu bilang kalau roti ini enak.
Rina berdecak kecil, "Mungkin lidahku yang tidak cocok dengan makanan orang kaya." Rina menunduk, melihat kedua kakinya yang menggantung karena bangku taman yang agak tinggi, "Dasar rakyat jelata."
Rika terkekeh, "Jangan ambil jobdesk bos kamu."
Rina menoleh ke arah Rika, menuntut penjelasan tentang perkataan yang baru saja tertutur.
"Pemilik toko baju itu pembully nomor satu kamu, kan? jangan ambil tugas dia."
Masih memandangi Rika. Rina, matanya berkedip beberapa kali. Rika mengangkat kedua alisnya sambil menatap Rina. Lalu keduanya tertawa bersama. Semakin lama semakin kencang. Bahkan orang-orang sekitar yang sedang melewati taman pun saling berbisik membicarakan Rina.
02.30
Malam. Sudah hampir pagi lagi dan Rina baru saja pulang. Ia terlalu asik bersama Rika sampai lupa waktu untuk pulang dan beristirahat karena dirinya harus kembali bekerja pagi nanti.
Rina perlahan menutup pintu dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Baru saja menyalahkan dispesnser, suara langkah kecil terdengar di belakangnya.
"Kakak, kok baru pulang?"
"Kakak sakit?"
"Kakak, tadi ketiduran di stasiun, kah?"
Semua pertanyaan dari Chika, Rina abaikan. Lagu pula saat ini dirinya sedang menenggak air.
"Kakak kenapa pulang larut?"
"Kakak kena masalah?"
"Kakak, kan, besok harus kerja."
"Kakak besok kerja, kan?"
Prang!
Gelas si tangan Rina ia lempar, pecah berkeping-keping tepat di samping kaki mungil Chika.
Rina menunduk dalam. kedua tangannya mengepal erat di sisian tubuh, bahkan sampai bergetar.
"Berisik!" Bentaknya. Sama seperti pagi tadi, Rina kembali melangkah mundur. Tapi ia tidak kabur. Itu kakaknya, Rina kakaknya. Chika harus bisa menghadapi sang kakak.
Dengan kedua tangan yang saling bertaut guna meredakan gemetar diseluruth tubuh, pandangan Chika menatap Rina lekat.
'Pemilik toko baju itu pembully nomor satu kamu, kan? jangan ambil tugas dia.'
Perkataan Rika yang sebelumnya sampai membuat Rina bingung kini kembali berputar.
'Benar, pemilik toko. Chika sekarang sedang jadi ibu pemiliki toko,' isi pikiran Rina berisik tentang bagaimana cara Rina menghentikan Chika.
"Gantungan... setelah di gantung gempanya berhenti..." gumam Rina.
Perlahan, Rina pun mulai berjalan gontai. Berjalan menuju kamar Chika yang juga tempat mereka menyimpan jemuran yang baru saja kering.
---
Pagi itu seperti biasa ibu toko membuka toko baju miliknya sambil bersenandung ria.
"Pagi, bu," sapaan datar yang nyaris seperti bisikan membuat ibu pemilik berbalik.
"Hehh! Setann!!" Kaget ibu pemilik. Di hadapannya, Rina berdiri dengan badan terbungkuk dan kedua bahu yang tertekuk ke dalam, bagai tak memiliki tenaga. Wajah lelahnya ditambah mata memerah dan kantung mata tebal membuat Rina terlihat sangat menyeramkan.
"Ohh, karyawan nggak becus ini ternyata," ibu pemilik menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh, "Kamu mulai hari ini saya pecat. Keponakan saya bakal kerja di sini. Sudah, sana pergi."
Rina berkedip beberapa kali, lalu mengangguk dengan lemas. Membalik badan, langkah gontai Rina berjalan menuju stasiun. Rina mencari bangku kosong untuk beristirahat. Seharian tidak tidur rasanya sangat melelahkan. Bahkan, entah mengapa ia merasa kedua tangannya terus saja bergetar dengan pacu jantung yang membuatnya tidak nyaman.
--
Sudah waktunya kereta terakhir. Rina bersiap, membeli tiket dan menunggu di peron. Wajahnya kembali berwarna, tenaganya sudah kembali, sekarang ia bisa tersenyum untuk menyambut Rika.
Sayangnya, sudah 2 stasiun ia lalui. Tapi, dalam kaca pintu kereta yang gelap tidak juga ada pantulan teman barunya berdiri dibelakang Rina. Hembusan napas berat yang entah sudah ke berapa kali kembali keluar dari mulut Rina.
"Mungkin sudah di taman."
---
"Kami dari pihak kepolisian, meminta kerja sama semuanya untuk kejadian ini." Ujar bapak berseragam polisi di depan sebuah rumah yang sudah diberi garis kuning. Gerombolan warga saling berbisik, membicarakan berita menggemparkan yang baru saja mereka dengar.
"Saya, pak. Rumah saya sebelah dek Chika. Semalam saya dengar suara benda pecah!"
"Pak! Pak!" Seseorang wanita menerobos kerumunan, "Saya yakin itu kelakuan Kakaknya, Pak!"
Bapak polisi menghampiri wanita itu, "Jangan asal tuduh dulu, ini bisa jadi pencemaran nama baik."
"Tapi kakaknya emang nggak waras, Pak!" sulut warga lain.
Seorang ibu-ibu ikut menyahuti, "Oh, ya, bener itu. Anak itu pernah masuk ke toko roti tempat saya kerja. Abis ngambil roti bukannya bayar malah di bawa kabur."
"Dia juga suka bicara sendiri, Pak!"
"Iya, Pak. Saya pernah liat Rina ketawa-tawa kenceng banget sendirian. Di taman yang mau arah ke stasiun itu. Ihh, merinding."
Kerumunan masyarakat kembali memanas, pembicaraan tentang kedua Kakak beradik itu menjadi topik yang sangat panas si malam penuh bintang serta angin sejuk.
"Tapi gak sangka ya. Adiknya sampai digantung gitu."
"Iya, ih. Mana pakai 10 hanger lagi."
---
Di taman.
Rina duduk sambil menekuk kedua kakinya. Ia dekap kedua lututnya yang ia tidak tau kenapa masih saja bergetar. Jantungnya masih terus berpacu dengan tidak normal dan ia merasakan sesuatu mengganjal hatinya.
"Rika..." Lirih Rina. "Rika kok nggak ada," Rina menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut.
"Rika, Rika kok nggak ada di kereta. Rika, kok nggak datang. Jangan pergi... Chika-" Rina tiba-tiba terdiam. Ia kembali mengangkat kepalanya. Pandangannya kosong menatap lurus.
"Chika...CHIKAA!!" teriak Rina. saat itu juga air matanya mengalir deras.
Wajah dan mata Rina sama-sama memerah, mungkin bagian dalam tenggorokannya juga ikut memerah karena raungan dirinya terus menerus memanggil nama Chika. Raungan yang beradu dengan bunyi sirine dari mobil polisi.