Jalanan berliku yang membelah perbukitan Val d’Orcia menjelang sore hari itu bak seperti lukisan cat minyak yang belum sepenuhnya kering. Hamparan rumput gandum sewarna emas bergelombang lembut disapu angin, diselingi deretan pohon siprus yang berdiri tegak, menjulang seperti penjaga-penjaga sunyi di sepanjang cakrawala Tuscany. Cahaya matahari musim panas yang mulai melunak, menyepuh puncak-puncak bukit dengan warna aprikot dan madu. Keindahan yang begitu magis, hamparan pemandangan yang seharusnya melahirkan decak kagum serta pujian-pujian berkumandang tentang bagaimana seseorang bisa seberuntung itu bisa berada di surga dunia.
Namun kenyataanya, yang terjadi sejak beberapa menit yang lalu di dalam mobil Range Roover hitam milik Hero yang ia sewa sejak mendarat di Florence justru berbanding sangat terbalik. Hero bersumpah lebih baik ia mengiris lehernya saja saat ini daripada harus berdiam diri seperti orang bodoh di sebelah seorang wanita yang sudah lima tahun ini tidak pernah lagi ia jumpai keberadaannya.
Hero menggenggam erat setir kemudi. Buku-buku jarinya sedikit memutih, sebuah gestur kecil yang begitu kontras dengan ketenangan wajahnya yang terpahat dengan rahang tegas dan sepasang mata hijau kebiruan yang sejak kecil terkenal tajam. Sesekali, di sela fokusnya menyetir membelah jalanan menuju Tuscany, Hero melirik ke samping kanan. Ke arah gadis yang sejak tadi duduk merapat ke dekat pintu mobil, seolah begitu sengaja menciptakan jarak sejauh mungkin di antara mereka.
Fay menatap keluar jendela, pura-pura terpesona oleh barisan kebun anggur yang membentang luas memenuhi kedua matanya. Gaun musim panas bercorak bunga berwarna biru cerah dan berukuran pendek berbahan katun ringan yang dikenakannya tampak kontras dengan warna kulitnya yang sehangat matahari. Rambutnya sengaja ia biarkan tergerai, tersampir lembut melewati bahunya, bergerak-gerak kecil ditiup angin dari ventilasi AC. Seolah waktu lima tahun telah menghapus sebagian memorinya tentang bagaimana Hero selalu menyukai cara Fay yang menggerai rambutnya yang indah hingga Fay sejak tadi tidak sadar bahwa penampilannya yang tidak dimaksudkan untuk menarik perhatian Hero, membuat pria itu sangat sulit sekali untuk mengendalikan diri agar tidak sering melirik kearah Fay.
Lima tahun. Lima tahun lebih sejak terakhir kali mereka saling menatap dalam jarak sedekat ini.
Jarak lima tahun yang telah membentang sangat luas, seharusnya mampu membakar habis setiap kenangan yang pernah mereka lalui sebagai sepasang kekasih. Dan seharusnya juga, di detik ini, mereka bisa duduk menjadi dua orang yang sama-sama bisa melepas apapun kenangan yang pernah mereka ukir bersama seolah semua itu sudah tidak tersimpan lagi di bagian inti ingatan mereka.
Namun nyatanya, bersisian seperti saat ini, seolah waktu lima tahun hanya mereka lewati seperti baru beberapa hari kemarin.
Semuanya masih terasa nyata. Masih terasa pekat. Membuat udara di dalam kabin mobil seolah menipis menuju titik terendah.
"Fay," panggil Hero akhirnya. Suaranya terdengar berat, khas aksen British yang selalu Fay ingat bahkan sejak mereka masih kecil, memecah kesunyian yang sudah bertahan selama hampir satu jam sejak mereka meninggalkan perbatasan Siena.
Fay tidak langsung menoleh. Ia sengaja mengulur waktu dua detik sebelum memutar kepalanya, memberikan tatapan datar yang paling netral yang bisa ia tunjukkan.
"Yeah?"
"Are you alright? You've been staring at those hills like you’re trying to memorise every single blade of grass."
Fay mengulas senyum tipis, jenis senyum formal yang biasa diberikan kepada orang asing di dalam lift.
"I'm fine. Just admiring the view. Tuscany is beautiful, isn't it?"
"It is," sahut Hero pendek. Pandangannya kembali lurus ke jalan raya yang lengang. "Though I reckon it’s a bit too quiet inside this car. Kalau kamu mau nyalakan musik, nyalakan saja. Apa sekarang kamu sudah tidak hobi mendengarkan musik selama perjalanan jauh?”
"I don't mind the silence, Hero," balas Fay lembut, namun ada nada membatasi yang jelas di sana. "It’s better than making forced small talk."
Kalimat itu seperti hantaman telak ke ulu hati Hero. Ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering.
Forced small talk. For small talk my ass.
Jadi, semua usahanya untuk memulai percakapan sejak mereka mendarat di Italia beberapa hari terakhir ini hanya dianggap sebagai obrolan basa-basi yang dipaksakan?
Walaupun ingin sekali menjerit, jauh di lubuk hatinya, Hero tahu ia tidak berhak protes. Ia yang bersikeras ikut dalam perjalanan ini.
Ketika ibunya, Martha, menelepon dan mengatakan bahwa barang pesanannya di sebuah workshop seni di daerah pedalaman Tuscany tidak dapat dikirim oleh kurir dan harus diambil secara manual, Fay langsung sigap menawarkan diri.
Sebagai Maid of Honor untuk pernikahan Martha dan Simon yang akan digelar dua hari lagi, Fay merasa ini sudah jadi tugasnya, mengurus segala keperluan pernikahan Martha. Apalagi Martha adalah sahabat karib mendiang ibunya, Marianna. Fay ingin memastikan segalanya sempurna untuk wanita yang sudah begitu mencintainya sejak ia lahir dan sudah Fay anggap seperti ibunya sendiri setelah kepergian Marianna.
Fay bahkan sudah meyakinkan Martha bahwa ia dapat pergi sendiri dengan kereta atau menyewa mobil kecil di kota Florence. Namun begitu Hero mendengar kesulitan Ibunya—yang Demi Tuhan, sangat Hero syukuri ini— langsung mengintervensi. Sebagai seorang Best Man yang di tunjuk calon ayah tirinya sendiri, Hero dengan cepat mengajukan diri untuk menyetir dan menemani Fay, dengan dalih bahwa perjalanan antarprovinsi di Italia akan terlalu berisiko jika dilakukan seorang diri oleh seorang wanita yang baru pertama kali mengunjungi wilayah bagian pedesaan Italia.
Tentu saja alasan itu hanya kedok Hero semata. Kebohongan demi kebohongan yang sudah Hero susun rapi demi menutupi satu kebenaran egois yang tersimpan rapat di dadanya sejak lima tahun hidupnya tidak ia jalani bersama orang yang sudah Hero kenal bahkan dari sejak ia belum mampu berdiri di kedua kakinya sendiri.
Hero bersedia melakukan apa saja, sekalipun ibunya menyuruh Hero untuk berjalan diatas api dan berenang membelah lautan, asalkan ia bisa menghabiskan waktu bersama Fay. Sahabat masa kecilnya. Cinta pertamanya. Dan mantan kekasihnya yang paling sulit ia lupakan. Sampai sekarang.
"So," Hero mencoba lagi, menolak untuk menyerah pada keheningan. "My mum didn't tell you at all what this package actually is?"
Fay menggeleng, mengembuskan napas pendek dengan malas.
"No. I asked her three times on the phone, and she only sent me the coordinates of the workshop and the name of the artisan. Signor Rossi. Have you ever heard that name in your life? She said it’s a surprise, but it needs to be handled with extreme care because it's 'vital for the ceremony'. I thought it was a wedding dress at first, but according to what i’ve Googled, Signor Rossi’s place is an art studio, not a boutique."
"Right. Knowing my mum, it could be anything from a baroque chandelier to a Renaissance-style portrait of her and Simon, i guess." gumam Hero dengan dengusan geli yang tertahan.
"We’ll find out soon. The GPS says we are only five minutes away from the address." Fay kembali menatap layar dasbor mobil, menghindari kontak mata terlalu lama dengan sepasang mata hijau kebiruan Hero yang sejak dulu selalu sukses membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan, lebih tepatnya, terlalu nyaman hingga membuat setiap bulu kuduk di tubuh Fay meremang.
Mobil Range Roover yang dikendarai Hero melambat saat memasuki sebuah jalan setapak berbatu yang membelah perkebunan zaitun. Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan tua khas Tuscany yang dindingnya terbuat dari batu bata terakota yang tampak telah mengelupas secara estetis, ditumbuhi tanaman merambat dengan bunga-bunga liar berwarna ungu. Sebuah papan kayu kecil bertuliskan “Studio d’Arte Rossi” bergoyang pelan ditiup angin.
Seorang pria tua berambut putih keperakan dengan apron kulit penuh noda cat dan debu semen menyambut mereka dengan senyum lebar khas Italia.
"Ah, i ragazzi di Martha! (Ini dia anak-anak Martha!)" seru Signor Rossi dengan suara menggelegar, langsung menjabat tangan Hero dengan erat dan mengecup punggung tangan Fay dengan manis dan sopan.
"Good afternoon, Signor Rossi. We are here to pick up Martha’s order," ujar Fay dengan bahasa Inggris yang santun, berharap pria tua itu mengerti.
"Yes, yes! Martha! La bella sposa! (Pengantin yang cantik!) Come, come. It is ready. I put the final wax this morning," sahut Signor Rossi dalam bahasa Inggris beraksen tebal, lalu berbalik memimpin mereka masuk ke dalam studionya yang beraroma kayu pinus, minyak rami, dan tanah liat basah.
Di tengah ruangan, di atas sebuah meja kayu besar, terletak sebuah objek yang langsung membuat Fay dan Hero mengernyitkan dahi. Objek tersebut berukuran cukup besar, berbentuk persegi panjang datar, dengan tinggi sekitar satu meter dan lebar delapan puluh sentimeter. Seluruh permukaannya telah dibungkus dengan sangat rapi menggunakan kain rami tebal, diikat dengan tali tambang rami berdesain rustik, dan disegel dengan lilin merah berstempel inisial 'M & S'.
"Here it is. Very heavy, very precious. Tell Martha I put my heart into this," kata Signor Rossi sambil menepuk permukaan paket itu dengan bangga.
Hero melangkah mendekat, mengitari meja tersebut sambil mengamati bentuknya. "Signor Rossi, if you don't mind me asking... what exactly is inside this? It looks like... a massive picture frame?"
Signor Rossi langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menggelengkan kepala dengan ekspresi dramatis.
"Ah, no, signore! Se-cret! Martha made me swear on my grandmother’s grave. No one opens it until it reaches to Martha’s hand. Not even for her own son, the very best man himself.”
Pria tua itu terkekeh, mengedipkan sebelah matanya ke arah Fay. "Nor the beautiful maid of honor."
Fay menatap paket besar tersebut dengan kening berkerut begitu dalam yang tidak mampu ia sembunyikan.
"Is it fragile?" tanya Fay, memastikan.
"Very. Do not drop it. Do not leave it under the sun. Keep it flat, or standing straight but secure. Understand?"
"Understood," kali ini Hero yang menyahut. Ia kemudian melangkah maju, merengkuh paket besar itu ke dalam pelukannya. Otot-otot lengannya menegang di balik kemeja linen birunya yang lengannya digulung hingga sikut.
"I've got it. Fay, can you open the boot of the car?"
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Signor Rossi, mereka berdua kembali ke mobil. Dengan sangat hati-hati, Hero memiringkan kursi belakang mobil karena paket itu terlalu besar jika dipaksakan masuk ke dalam bagasi.
Akhirnya, bingkai misterius berlapis kain rami tersebut diletakkan membujur di kursi belakang, menyita hampir seluruh ruang penumpang belakang dan ujungnya menyembul di antara celah kursi depan.
Hero menutup pintu belakang, lalu masuk ke kursi kemudi dengan napas yang sedikit terengah. Fay menyusul di sisi penumpang, mengenakan sabuk pengamannya kembali.
"So," Fay memulai, matanya melirik paket besar di belakang mereka melalui spion tengah. "A giant, mysterious frame that cannot be opened, cannot be heated, and must be chauffeured across Italy. Your mother is officially a bridezilla, Hero."
Hero terkekeh pelan sembari menyalakan mesin mobil. "You have no idea. Last week she had a meltdown because the shade of white for the napkins didn't match the limestone of the villa in Florence. Simon had to buy her three different tubs of gelato just to stop her from crying."
Fay tersenyum kecil. Ada kehangatan sesaat yang tercipta dari tawa itu, mengingatkan mereka pada masa lalu ketika mereka sering menertawakan tingkah laku Martha yang eksentrik.
Namun, kehangatan itu menguap secepat embun pagi saat mobil kembali melaju membelah jalanan sore Tuscany, meninggalkan studio seni Signor Rossi di belakang mereka.
Perjalanan pulang melalui jalur utama terasa jauh lebih berat. Kehadiran paket besar di belakang mereka seolah menambah beban psikologis di dalam kabin mobil yang Hero kendarai.
Hero melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul empat sore. Sinar matahari mulai berganti warna menjadi semburat jingga kemerahan, menyinari ladang-ladang gandum di sepanjang jalan San Quirico d’Orcia dengan pendaran yang tampak sedikit dramatis.
Hero berdehem, mencoba sekuat tenaga mengarahkan pembicaraan ke bagian yang sudah lama sekali ingin ia selidiki, namun selalu ia tunda karena takut akan respons Fay.
"So, Fay," suara Hero terdengar kasual, terlalu kasual hingga terdengar tidak alami. "How's life in New York as an Orthopedic Surgeon? Aku dengan dari Mum kepindahan kamu ke London ini untuk menjalani Fellowship di Rumah Sakit Universitas College London, ya?"
"Yeah. It's actually going well," jawab Fay pendek, pandangannya tetap tertuju pada bukit-bukit batu di luar. "Dan ya, rencananya program Fellowship ku akan dimulai setelah kembali dari Palermo minggu depan."
"Wow, that sounds… great. Really great, actually, Doctor. Congratulations. It's always been your dream since we were five, isn't it?" ujar Hero dengan kagum dan bangga.
Setelah kegembiraan diantara mereka tercipta, mereka kembali terdiam sejenak. Hero mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas setir.
Lalu dengan napas agak berat, Hero meloloskan seluruh pusat kejanggalan didalam hatinya, "And... how’s Benedict"
Gerakan tubuh Fay seketika menegang. Ia memutar kepalanya dengan cepat, menatap wajah Hero dengan mata menyipit.
"How do you know about Benedict?"
Hero mengangkat bahu ringan, matanya tetap lurus ke depan.
"My mum mention things. You know how she is. She speaks to Simon, Simon speaks to me. She said you've been seeing him for... what, a year and a half now? Your former professor while you were in Harvard, wasn't he?"
Ada nada getir yang tersembunyi dengan sangat rapi dalam intonasi Hero, namun Fay, yang telah mengenali pria itu sejak mereka berusia tujuh tahun, bisa menangkapnya dengan jelas.
"Dia dosen filsuf. Kebetulan pada mata kuliah tambahan di semester awal, aku mengambil mata kuliah filsafat untuk memenuhi kreditku." koreksi Fay dengan suara yang mulai mendingin. "And we are doing great, thank you for asking. He's very supportive of my work."
Hero mengangguk-angguk kecil, mengulum senyum tipis yang tampak sedikit sinis di mata Fay.
"A philosophy lecturer. Interesting. Speaking of which, I remember when we were seventeen... you used to say something about your ideal type. Waktu itu sebelum kita resmi berpacaran, kamu bilang tipe pria yang harus kamu nikahi nanti adalah pria yang usianya jauh lebih tua di atasmu. Well, berarti sekarang mimpi kamu yang ini juga tercapai, ya. Memiliki figur laki-laki dewasa yang bisa kamu jadikan sandaran untuk mengatasi mood swing kamu yang sering muncul tak terduga.”
Kepala Fay tersentak menoleh kearah Hero dengan kening berkerut, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Kemudian Fay menarik napas dalam-dalam. Fay pikir awalnya ucapan Hero hanya terdengar seperti candaan. Namun, sisipan nada getir dan sarkastik dalam ucapan Hero dalam mengungkit pembicara di masa lalu mereka, membuat Fay sadar, ini sudah bukan lagi Hero yang sedang melempar candaan.
Sialnya, Fay terlanjur begitu mengenal Hero sehingga ia tahu bahwa sikap Hero seperti ini sudah bukan lagi akan berakhir jadi pembicaraan ringan jika Fay teruskan.
"It was a joke, Hero. A very lame joke that you shouldn't have to bring about. I was seventeen. People intend say stupid things when they are teenagers," balas Fay dengan nada suara tenang, yang kali ini berhasil membuat Hero ikut menoleh sepenuhnya kearah Fay.
"Was it really a joke, though? It used to doesn't sound like a joke to me." Hero melirik Fay sekilas, sepasang mata hijaunya berkilat menantang. "Because a year and a half with a bloke who’s probably pushing forty seems like you took your teenage fantasy quite seriously."
"He is thirty-four, For God Sake! Does Martha ever told about that part to you either?" kali ini suara Fay mulai meninggi, "dan tunggu, apa pedulimu dengan siapa aku berkencan dan punya pacar? Mau dia berusia 40 atau 50, sepertinya sudah bukan ranah kamu sampai harus berkomentar tentang kehidupan percintaanku seperti itu."
"Oh, trust me, i don't fucking care," dusta Hero cepat, rahangnya mengetat. "I just find it fascinating how quickly you moved from someone your own age to a father figure like him."
Kalimat itu melampaui batas. Dada Fay naik turun karena amarah yang mendadak menyulut seluruh tubuhnya. Rasa canggung yang sejak pagi ia tahan kini meledak menjadi kemarahan yang murni.
"A father figure? Are you out of your mind?! Have you even met him yet?" Fay memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Hero, mengabaikan sabuk pengaman yang menahan dadanya. "Benedict is an adult, intelligent, respectful man. Dan yang harus dan PERLU kamu catat adalah, aku tidak langsung menjalin hubungan dengan Benedict begitu selesai denganmu! Kamu sama sekali tidak tahu, butuh waktu tiga tahun lebih bagiku bisa menerima orang lain, sampai Benedict datang! Kami bahkan tetap menjaga jarak kami selama status kami masih sebagai mahasiswa dan dosen!"
Dada Fay naik turun dengan berat. Tatapannya yang menajam mulai terlempar ke pemandangan indah Tuscany dari luar kaca jendela yang bergerak begitu cepat melewati pandangan Fay.
"Wait a damn minute. What do i have to explain all of this to you? But you know what, if you really wanna know why i ended up being with him after all this time, is because he doesn't act like a petulant child who thinks the world revolves around him. Which, ironically, reminds me exactly of you five years ago."
Hero mencengkeram setir semakin kuat, membelokkan mobil dengan agak kasar di tikungan tajam.
"So we bringing up five years ago, now? Okay, my sweet beautiful ex-girlfriend, whom i used to proposed and got my rejection at the same time. Let’s talk about five years ago, Fay. Mari kita bicarakan bagaimana kamu yang selalu takut ketika aku menunjukkan keseriusan lebih jauh dan kamu memilih untuk melangkah mundur sejauh mungkin supaya kamu tidak perlu menghadapi aku yang ingin menjadikan kamu istri aku!"
"Because you proposed me when we were completely over, Hero!" teriak Fay, beralih menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya, karena emosi ini terlalu besar jika harus diterjemahkan ke dalam bahasa lain. "You proposed me in front of my mom's graveyard. Kamu melamarku ketika tanah kuburan Mama masih basah dan aku bahkan belum mampu sepenuhnya mengatasi kesedihanku yang baru saja ditinggalkan Mama! Back then we were so toxic if i may add up! Kamu terlalu posesif jadi laki-laki, menganggap semua hal dalam hidupku bisa kamu atur tanpa peduli aku mau menjalani seperti yang kamu inginkan atau tidak. Kamu hanya tahu kamu menginginkan kehidupan A, tanpa mau tahu apakah aku ingin menjalani kehidupan A juga seperti itu atau tidak tanpa adanya diskusi."
"I was trying to find a best way to live a life with you, Fay!" Hero balas berteriak dalam aksen british-nya yang begitu kental dan sarat akan frustasi, "We were 21! I was trying to get into a new career to be Executive Producer along with my mother, on my very first big project, trying to prove myself to the world that i can make you the happiest women alive! And all I did, everything for you! For our better future!"
"Our future? Really? Or your own future?!" sindir Fay dengan tawa sarkastik yang menusuk. "You never asked what I wanted! Sesederhana kamu tidak pernah sedikitpun mau buka diskusi lagi tentang masa depan-masa depan yang sudah jauh kita rencana sejak lama. Kamu berasumsi sendiri bahwa dengan cintaku saja sudah cukup untuk membuatku setuju dengan semua keputusnmu tanpa harus berunding dulu! Hero, hubungan yang sehat tidak berjalan seperti itu! Setidaknya dengan Benedict, dia selalu menyempatkan diri untuk menanyakan apa yang kupikirkan meskipun itu hanya tentang debu yang menempel di jendela kamar!"
"Benedict this, Benedict that! If he’s so bloody perfect, Fay Alexandrea, why does the thought of him make you so defensive?!" Hero menoleh sepenuhnya ke arah Fay selama satu detik penuh, matanya berkilat penuh amarah dan kecemburuan yang selama ini ia pendam dalam-dalam di sudut tergelap hatinya. "You’re trying to convince yourself you’re happy with this old man because you’re too proud to admit that you miss what we had!"
"I don't miss a single thing about you, Hero! You are an arrogant, self-centred—"
BANG!
Sebuah suara letupan keras memotong kalimat Fay dengan brutal. Mobil Range Roover mereka menyentak hebat ke arah kanan. Setir di tangan Hero bergetar berisik, berbelok liar di luar kendali.
"Shit!" umpat Hero. Dengan refleks cepat seorang pria yang terbiasa menyetir dengan kecepatan tinggi, ia menginjak pedal rem secara bertahap, berusaha menstabilkan posisi mobil agar tidak terbalik atau masuk ke dalam parit di sisi jalan. Ban mobil berdecit keras di atas aspal kering, meninggalkan jejak hitam sebelum akhirnya mobil itu berhenti dengan sentakan kasar, condong ke satu sisi.
Mesin mobil mati. Keheningan mendadak kembali merajai ruang mobil, menyisakan suara napas mereka berdua yang memburu, berat, dan penuh emosi yang belum tuntas.
Hero memejamkan matanya selama dua detik, mengembuskan napas panjang lewat mulut untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melepaskan sabuk pengamannya, membuka pintu mobil, dan keluar sambil membanting pintu dengan sangat keras.
BRAAK!
Fay tersentak di kursinya. Wajahnya memerah karena marah sekaligus terkejut.
"Unbelievable," desisnya geram. Ia ikut melepas sabuk pengamannya dengan sentakan kasar, mendorong pintu penumpang, dan keluar dari mobil sebelum membanting pintunya dengan kekuatan yang tidak kalah keras.
BRAAK!
Hero yang sedang berjalan menuju bagian depan mobil, seketika berhenti dan menoleh dengan tatapan tidak percaya.
"What? Are you trying to break my rental car?!"
"You slammed it first, you hypocrite!" balas Fay, berjalan cepat mendekati Hero untuk berdiri mendongak menantang mata tajam mantan kekasihnya.
Mereka berdua kemudian menunduk, melihat ke arah ban depan sebelah kanan. Ban karet mobil Hero telah robek parah, mengempis sepenuhnya hingga pelek roda menyentuh tanah berbatu.
"Perfect. Just bloody perfect," cetus Hero, menjambak rambut pirang gelapnya dengan frustrasi. "A blown tyre. In the middle of nowhere."
"Siapa suruh mengemudi sambil mengamuk?!" tuduh Fay langsung, jarinya menunjuk tepat ke dada Hero. "You were driving like a manic formula driver because you couldn't control your pathetic temper!"
"My temper?! You were the one screaming in my ear about your brilliant university lover!" Hero berbalik menghadap Fay.
Mereka berdiri di tepi jalan setapak yang dikelilingi oleh padang rumput ilalang yang membentang luas. Angin sore bertiup, menerbangkan beberapa helai rambut Fay, menerpa wajahnya yang merona merah karena amarah.
Untuk sesaat, Hero begitu terpana menatap sosok Fay yang begitu memesona tanpa gadis itu sadari di depannya. Di bawah siraman cahaya golden hour Tuscany, di mana langit mulai berubah warna menjadi perpaduan ungu koral dan jingga yang luar biasa megah, Fay tampak begitu memukau. Sinar matahari sore itu menerpa kulitnya, membuat matanya berkilau jernih, dan gaun bercorak bunga yang pendeknya hanya menutupi setengah pahanya yang mulus dan jenjang melambai lembut ditiup angin.
Kontras yang luar biasa dengan suasana hati mereka berdua yang sedang begitu membara, penuh dengan dendam masa lalu yang meledak-ledak, namun ironisnya alam di sekitar mereka justru menyajikan ketenangan paling romantis.
Hero harus mengakuinya dalam hati, bahkan dalam keadaan marah seperti ini, ketika Fay sedang memakinya dengan mata berapi-api, gadis itu tetap menjadi pemandangan terindah yang pernah dilihatnya sepanjang hidup. Kemarahan Fay tidak membuat Hero terganggung sedikitpun. Pemandangan mata Fay menyala justru membuat Hero merasa Fay kembali 'hidup' di depannya. Persis seperti figur Fay yang selama lima tahun ini selalu menghiasi bunga tidur Hero.
"Why are you looking at me like that?!" ketus Fay, merasa risih dengan tatapan intens mata hijau kebiruan Hero yang mendadak melunak.
"Nothing," sahut Hero datar, berusaha menyembunyikan badai rasa yang berkecamuk di dadanya. "I’m going to get the spare tyre from the boot. Go sit in the car. It’s getting cold."
"I don't want to sit in the car with your attitude," balas Fay keras kepala. Ia berbalik, berniat membuka pintu penumpang depan untuk setidaknya mengambil tasnya.
Namun, saat Fay menarik gagang pintu mobil... tidak terjadi apa-apa. Pintu mobilnya terkunci.
Fay mengernyit, mencoba menariknya lagi dengan lebih kuat. Tetap tidak bisa. Ia beralih ke pintu belakang. Sama saja. Terkunci rapat.
"Hero," panggil Fay, nadanya berubah dari marah menjadi panik. "Kamu mengunci pintunya, ya?"
"No, of course not." jawab Hero dari berbalik ke bagasi. Ia berjalan memutari mobil dan mencoba membuka pintu kemudi.
Hero membeku ketika ia menaeik gagang pintu mobil dengan keras tanpa mau membuka.
Terkunci.
"What the hell? The automatic door lock must have triggered when we both slammed the doors so hard."
Fay membelalakkan matanya. Sebuah kesadaran mengerikan mendadak menghantam kepalanya. Ia melongokkan kepalanya ke kaca jendela mobil yang gelap. Di sana, di atas kursi penumpang depan, tergeletak tas tangannya. Dan di dalam tasnya sendiri... ada ponsel beserta keperluan lain yang selalu Fay bawa.
"Hero... di mana ponselmu?" tanya Fay, suaranya mendadak melorot kembali ke bahasa Indonesia karena panik.
Hero meraba saku celananya. Kosong. Saku kemejanya. Kosong. Ia melihat ke dalam kaca mobil lewat jendela pengemudi. Ponselnya tergeletak manis di konsol tengah, tepat di samping tuas transmisi. Kunci mobilnya? Masih menggantung di lubang kontak.
"Oh, you've got to be joking," bisik Hero, menatap nanar ke dalam kabin mobil yang kini terasa seperti benteng tak tertembus.
Mereka berdua berdiri mematung di samping Range Roover hitam yang terparkir dalam posisi agak miring. Skenarionya kini telah berubah menjadi bencana mutlak, di tenpat yang bahkan sudah dalam beberapa menit terakhir, tidak terlihat satupun dilalui kendaraan.
Mereka berada di jalan pintas pedesaan Tuscany yang sangat sepi, tanpa ponsel, tanpa kunci mobil, dengan satu ban kempes, dan membawa sebuah paket raksasa misterius yang terjebak di dalam kabin mobil yang terkunci.
"This is great. Truly spectacular," sindir Fay, berjalan mondar-mandir di atas rumput kering sambil memegangi kepalanya. "We are stranded. In the middle of an Italian field. With no communication. Because someone forgot how modern car tech works."
"Don't start with me, My Love. You slammed your door just as hard! It was the impact that triggered the safety system!" Hero membela diri, meskipun ia sendiri merasa sangat bodoh.
"Kalau kamu memilih untuk tutup mulut saja daripada menginterogasi kehidupan percintaanku, semua ini tidak perlu terjadi! Apa aku juga harus memukul bagian belakang kepalamu dengan balok kayu disana itu supaya ingatanmu terbuka pada apa yang kamu lakukan saat keluar mobil tadi sebelum aku ikut membanting pintunya!?"
Fay berteriak frustrasi, lalu berjalan menjauh sekitar lima meter, berdiri memunggungi Hero sambil menatap hamparan padang ilalang yang bergoyang seirama angin sore.
Hero mengembuskan napas kasar, memilih untuk tidak membalas. Perdebatan ini telah menemui titik buntu. Saling menyalahkan tidak akan membuat pintu mobilnya terbuka dengan sendirinya secara ajaib. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke bodi mobil yang dingin, melipat lengannya di depan dada, dan menengadah menatap langit.
Langit Tuscany perlahan telah sepenuhnya berubah menjadi kanvas berwarna jingga menyala dengan semburat ungu tua di tepi-tepinya. Matahari hampir tenggelam di balik perbukitan jauh, menyisakan siluet pohon-pohon siprus yang tampak misterius. Suasana begitu sunyi, hanya ada suara jangkrik mulai bersahutan dan deru angin malam yang mulai membawa hawa dingin khas pegunungan.
Selama hampir setengah jam, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Keheningan kali ini bukan lagi karena canggung, melainkan karena mereka berdua sama-sama lelah dan bingung.
Fay mulai menggigil kecil. Gaun katun pendeknya sama sekali tidak dirancang untuk menahan angin malam Tuscany. Ia menggosok-gosok lengan atasnya dengan telapak tangan.
Hero memperhatikan itu. Ia mengutuk dirinya sendiri karena jaketnya juga tertinggal di dalam mobil. Ia melangkah mendekati Fay, memotong jarak di antara mereka.
"Fay," panggil Hero, suaranya kini jauh lebih tenang, kembali ke nada lembut yang biasa ia gunakan dulu.
Fay menoleh sedikit, matanya yang besar tampak agak sayu dalam keremangan sore. "What again?"
"Look, we can't stay here until morning. It’s getting freezing, and this road is completely dead. No cars are going to pass by at this hour." Hero menunjuk ke arah jalan setapak yang semakin gelap. "Before the sun completely sets, I think we should walk. About two miles back, I remember passing a small sign pointing towards a piazza, exacyly on a town square. There must be a village center or a busier area there where we can find help."
Fay melihat ke sekelilingnya. Tempat mereka berhenti saat ini seperti benar-benar terisolasi. Hanya ada hamparan padang rumput bergelombang sejauh mata memandang, tanpa ada tanda-tanda kehidupan atau lampu rumah penduduk.
Mau tidak mau, Fay harus mengakui bahwa rencana Hero kali ini adalah satu-satunya pilihan rasional yang mereka miliki.
"Fine," jawab Fay ketus, berusaha menjaga harga dirinya. "Let's walk."
Fay melangkah maju memimpin jalan dengan langkah-langkah besar, namun baru berjalan sekitar lima langkah, ia mendadak menghentikan kakinya. Sebuah pikiran buruk melintas di kepalanya. Ia berbalik dengan cepat, meraih pergelangan tangan Hero sebelum pria itu sempat menyusulnya.
"Wait," tahan Fay.
Hero terkejut merasakan sentuhan tangan Fay yang dingin di kulit pergelangan tangannya. Ia menatap tangan gadis itu, lalu beralih ke wajah Fay. "What's wrong?"
"Hero... how are we going to ask for help?" tanya Fay dengan mata melebar panik. "Neither of us speaks Italian."
Hero mengernyitkan dahi, menatap Fay dengan ekspresi bingung yang kentara. "What do you mean? You speak Italian."
Fay menggeram kesal, melepaskan cengkeramannya dari tangan Hero dengan sentakan sebal. "Sejak kapan kamu pernah dengar aku bisa bicara bahasa Italia!?"
"But you’re a genius with languages! You speak French, Spanish, and God knows what else! Mum told me you even learned German for your research!"
"Just because I speak a few languages, it doesn't mean Italian is one of them, you bloody brilliant!" Fay menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. "I’ve never taken a single class in Italian! I only know ciao and grazie!"
Hero terdiam sejenak, lalu sebuah senyum geli tak tertahankan mulai terukir di sudut bibirnya. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tawa, namun bahunya yang berguncang mengkhianati usahanya.
"Oh, yeah sure," kekeh Hero dalam bahasa Inggris. "The greatest Fay Alexandrea, stranded in the middle of Italy, and she can’t even ask for a pair of pliers in the local language."
"Stop laughing, Hero! It's not funny!" Fay memukul lengan Hero dengan kesal, membuat pria itu semakin tertawa lepas. Suara tawa Hero yang renyah dan lepas terdengar begitu akrab di telinga Fay, mengikis sisa-sisa kemarahan yang sejak tadi membatu di antara mereka.
"Alright, alright, sorry," ujar Hero, mencoba meredakan tawanya sambil menghapus sudut matanya yang sedikit berair. "Let’s just start walking. We’ll figure it out. Human sign language works everywhere."
Mereka akhirnya mulai menyusuri jalan berbatu yang gelap. Beruntung bagi Fay, saat ia tidak sengaja meraba saku gaun katun pendeknya, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan tipis.
Matanya lalu sedikit menyala saat didapatinya selembar uang kertas sepuluh Euro sempat ia jejalkan di sana saat turun dari pesawat tadi pagi.
"Look!" seru Fay dengan bangga, memamerkan lembaran Euro itu di depan wajah Hero. "We’re not completely penniless."
Keberuntungan tampaknya mulai sedikit berpihak pada mereka. Setelah berjalan kaki selama lima belas menit di bawah terpaan angin malam, mereka menemukan sebuah kios kayu kecil di tepi jalan yang tampaknya berfungsi sebagai pos informasi wisata lokal pada siang hari. Kios tersebut sudah tutup, namun di sampingnya terdapat sebuah mesin otomatis berusia lumayan tua yang menjual peta fisik pedesaan Tuscany dan beberapa botol air mineral.
Dengan antusias, Fay memasukkan uangnya dan membeli sebuah peta kertas berukuran besar.
"I’ve got this," cetus Fay dengan nada sok tahu yang sangat khas dirinya, membuat Hero diam-diam tersenyum di belakangnya.
Fay membuka lembaran peta ditangannya dengan lebar, menutupi hampir seluruh tubuh bagian atasnya, bersusah payah mencoba mencocokkan siluet bukit yang tersisa dengan gambar di kertas.
"Okay, according to this very detailed topographic chart," ujar Fay, menunjuk sebuah titik dengan yakin. "The nearest gas station with a public telephone is... that way. Left. Yes, i think it's left."
Hero mengerutkan kening, pura-pura bingung dengan sikap Fay yang menurutnya menggemaskan.
"Are you sure? You doesn't seem sure."
Fay menghembuskan napas kesal dan memincingkan mata dengan tajam kearah Hero, membuat Hero kembali menahan sekuat tenaga untuk tidak menyembur tawa lagi.
Fay berbalik dramatis dan melangkah ke jalur kiri dengan kepala tegak penuh percaya diri, memberi isyarat agar Hero mengikutinya. Hero hanya menghela napas panjang, menaruh kedua tangannya di dalam saku celana, dan berjalan pasrah di belakang Fay.
Namun baru berjalan tiga langkah, Fay mendadak berhenti. Ia memandang peta itu lagi, memicingkan matanya dalam kegelapan malam yang kian pekat. Kemudian, dengan perlahan dan ekspresi wajah yang sangat lucu, ia memutar peta kertas itu seratus delapan puluh derajat.
Peta itu ternyata terbalik sejak tadi.
Fay berdehem kecil, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berbalik menghadap Hero dengan senyum polos yang dipaksakan.
"Change of plans. It’s actually... right. Yeah, we need to go right."
Hero tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menggeleng-gelengkan kepala, sebuah tawa geli tertahan penuh kepasrahan menghiasi wajah yang tampan. Demi cintanya yang teramat besar dan tak terbendung untuk gadis ini, Hero rela membiarkan Fay memimpin jalan sekalipun menuju jurang. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling egois, Hero diam-diam berdoa agar mereka bisa tersesat lebih lama lagi. Karena dengan tersesat, ia memiliki alasan untuk tetap berada di samping Fay, menghirup aroma vanilla dari rambutnya yang selalu Hero sukai dari dulu, dan mendengarkan suaranya tanpa perlu berbagi dengan dunia luar,atau dengan pria sialan bernama Benedict itu.
Setelah hampir setengah jam berjalan ke arah 'kanan' yang ditunjukkan oleh peta Fay yang meragukan, sebuah cahaya lampu kekuningan muncul dari tikungan jalan.
Sebuah mobil pick-up tua bermesin diesel melaju pelan, mengeluarkan suara berisik yang memecah keheningan malam.
Hero langsung melangkah ke tengah jalan, melambaikan kedua lengannya dengan panik agar mobil itu berhenti.
Mobil pick-up tersebut mengerem dengan suara berdecit keras. Si pengemudi merupakan seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan topi pet rajut dan kumis tebal, khas seorang petani lokal. Ia menurunkan kaca jendelanya, menatap Hero dan Fay dengan pandangan penuh selidik secara bergantian.
"Buonasera. Serve aiuto? (Selamat malam. Butuh bantuan?)" tanya si petani dalam bahasa Italia yang cepat.
Fay langsung merangsek maju, membuka petanya lebar-lebar dan menunjuk-nunjuk gambar ikon telepon dan hotel di peta dengan heboh. "Sir! Telefono! Mobil... boom!" Fay menirukan suara ledakan dengan tangannya, lalu menunjuk ke arah belakang mereka. "Auto... broken! We need... hotel. Hotel near here. Comprendo?"
Si supir mengernyitkan dahi sedalam-dalamnya, menatap Fay yang berbicara dengan campuran bahasa Inggris, isyarat tangan yang heboh, dan ekspresi wajah yang sangat ekspresif. Pria tua tersebut memandang Hero, yang hanya bisa memberikan senyum pasrah dan angkat tangan, mengonfirmasi betapa putus asanya mereka.
Setelah beberapa detik yang membingungkan, wajah si petani mendadak cerah. "Ah! Auto rotta! Hotel! Si, si! Pasco! (Ah! Mobil rusak! Hotel! Ya, ya!)" Ia melambaikan tangannya, menunjuk ke arah bak terbuka di bagian belakang mobil pick-up-nya. "Salite! Vi porto io! (Naiklah! Aku antar kalian!)"
Fay dan Hero melihat ke arah bak terbuka mobil tersebut. Bak itu dipenuhi oleh tumpukan jerami kering yang tinggi dan tebal, tampaknya baru saja dipanen untuk pakan ternak. Tidak ada kursi, tidak ada pelindung, hanya gunungan jerami beraroma tanah dan rumput kering.
"Well," ujar Hero, menoleh ke arah Fay dengan sebelah alis terangkat. "It’s either the straw bed or walking another five miles in the dark. What’s your pick, Princess?"
Fay mendengus, namun hawa dingin yang menusuk kulitnya membuat seluruh gengisinya runtuh. "Fine. Straw it is."
Hero membantu Fay naik terlebih dahulu, memegang pinggang gadis itu dengan hati-hati untuk mendorongnya melewati pembatas bak, sebelum ia sendiri melompat naik dengan lincah. Mereka berdua duduk tenggelam di antara tumpukan jerami kering yang empuk namun berdebu.
Begitu pintu bak ditutup, si petani tua langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Membuat mobil pick-up tuanya menyentak maju dengan kecepatan yang luar biasa gila untuk ukuran mobil setua itu.
Jalanan pedesaan yang berliku-liku dan tidak rata membuat bak belakang bergoyang hebat, melempar tubuh Fay dan Hero ke sana kemari.
"Whoa!" teriak Fay saat mobil berbelok tajam ke kiri, membuat tubuhnya hampir terlempar ke dinding besi bak.
Fay berusaha merangkak menjauh untuk menjaga jarak dari Hero, namun sentakan berikutnya yang lebih keras melemparkannya kembali ke tubuh Hero.
Melihat Fay begitu kesulitan menjaga keseimbangan, Hero tidak tinggal diam. Ia menggeser tubuhnya mendekat, lalu dengan satu gerakan cepat dan protektif, ia melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling pinggang Fay, menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapannya.
"Hero, let me go—" Fay berusaha protes, tangannya mendorong dada Hero.
"Stay still, Fay!" perintah Hero dengan suara baritonnya yang tegas, menahan kepala Fay agar bersandar di dadanya yang bidang. "The driver is driving like a bloody maniac! If you don't hold on, you're going to crack your head against the metal. Just let me hold you. For your own safety."
Alasan yang sangat logis, namun mereka berdua tahu ada motif lain di sana. Fay akhirnya berhenti melawan. Tubuhnya yang kedinginan perlahan-lahan mulai merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh Hero. Ia bisa mendengar detak jantung Hero berdegup kencang di bawah telinganya, berirama selaras dengan suara mesin diesel mobil. Aroma parfum maskulin Hero yang bercampur dengan aroma angin malam dan jerami kering mendadak membangkitkan ribuan memori yang selama lima tahun ini sudah coba Fay kubur dalam-dalam.
Tiba-tiba, mobil melewati sebuah lubang besar di jalan tanpa sedikitpun ada peringatan.
BUMP!
Bak mobil melambung tinggi, membuat tubuh mereka berdua terangkat ke udara sebelum jatuh kembali bergedebuk keras di atas tumpukan jerami yang empuk. Pada saat yang sama, seikat besar jerami kering dari bagian atas longsor, menimbun kepala dan wajah mereka berdua sepenuhnya.
Mobil terus melaju kencang, tanpa peduli sekacau apa keadaan Hero dan Fay di bagian belakang mobil yang sudah tertumpuk begitu banyak jerami.
Fay perlahan menyembulkan kepalanya dari balik rumput kering, meluahkan beberapa helai jerami yang masuk ke dalam mulutnya. Ia menoleh dengan cepat ke arah Hero, yang juga baru saja muncul dari tumpukan jerami dengan beberapa batang rumput kering yang tersangkut secara acak di rambut pirang gelapnya yang biasanya tertata rapi. Satu batang jerami panjang bahkan menggantung lucu di atas telinga kanan Hero seperti sebuah hiasan kepala yang aneh.
Fay menatap penampilan berantakan pria disampingnya dalam hening sesaat. Sedetik, dua detik... keheningan canggung diantara mereka berdua kemudian pecah menjadi sebuah ledakan tawa.
Mereka berdua meledak dalam tawa yang teramat lepas, begitu lepas hingga paru-paru keduanya terasa sesak dipenuhi banyak udara dan tumpukan jerami di sekitar mereka.
Hero awalnya ingin mengeluh, mendadak terpaku melihat tawa Fay dan jadi ikut melebur bersama gadis itu. Tawa Fay yang setiap detik selalu Hero rindukan itu terlihat begitu tulus, tanpa beban. Tawa yang sampai kapanpun, tidak akan pernah Fay ketahui dapat menyembuhkan setiap kerinduan yang selama ini terukir di sudut-sudut hati Hero.
Setelah tawa hebat mereka mereda,Hero tersenyum. Ia lalu meraih batang jerami di atas telinganya dan melemparnya ke arah Fay.
"Oh, you think that’s funny? Look at yourself, love. You’ve got a whole ecosystem of grass in your hair right now."
Fay ikut membersihkan rambutnya sambil tetap terkekeh. Sisa perjalanan malam itu tidak lagi terasa dingin dan menakutkan. Di atas bak pick-up terbuka yang melaju membelah malam Tuscany yang begitu bertabur bintang, di antara tumpukan jerami yang berdebu, Hero dan Fay kembali memulai obrolan dengan hangat, tanpa sedikitpun saling menyulut emosi.
Mereka mulai menceritakan hal-hal konyol yang terjadi selama lima tahun perpisahan mereka, tentunya hal-hal netral yang tidak memicu pertengkaran, dan entah bagaimana, kenyamanan perbincangan tentang masa lalu mereka mengalir kembali dengan begitu alami, seolah-olah jarak lima tahun dan kehadiran orang lain dalam hidup mereka mendadak lenyap disapu angin malam Italia.
Malam telah larut ketika mobil pick-up tua itu akhirnya berhenti. Namun, si petani tua ternyata membawa mereka jauh lebih jauh dari yang mereka duga. Alih-alih menurunkan mereka di hotel kecil di Tuscany, si supir berusia paruh baya tersebut membawa mereka berkendara hingga ke kota pelabuhan besar, di mana mereka akhirnya bisa menggunakan telepon umum stasiun untuk menghubungi pihak asuransi mobil dan memesan taksi resmi menuju hotel utama keluarga mereka yang terletak di Florence.
Ketika taksi pesanan mereka tiba, perjalanan panjang melelahkan yang telah menyita lebih banyak waktu dari yang sudah mereka rencanakan akhirnya berakhir di depan lobi sebuah hotel bintang lima yang megah di pusat kota Florence.
Mobil taksi yang membawa mereka berhenti tepat di depan pintu masuk lobi yang benderang oleh cahaya lampu kristal.
Hero turun terlebih dahulu. Tubuhnya terasa pegal, dan kemeja linen birunya kini dipenuhi noda debu dan beberapa helai jerami yang masih menempel setia. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu di sisi Fay.
Fay melangkah keluar dengan perlahan, wajahnya tampak sangat lelah namun matanya terlihat lebih tenang dan bercahaya. Saat Fay hendak melangkah turun dari kabin taksi yang agak tinggi, tubuh Fay sempat oleng hingga membuatnya nyaris jatuh ke lantai lobi hotel.
Hero dengan sigap menangkap tubuh Fay. Tanpa meminta izin, ia melingkarkan kedua telapak tangan kokohnya di sekeliling pinggang ramping Fay, mengangkat tubuh gadis itu dengan ringan dan membantunya menapak kembali ke lantai marmer lobi.
Namun, setelah Fay benar-benar mampu menyeimbangkan kembali kondisi tubuhnya akibat terlalu kelelahan, Hero tidak langsung melepaskan dekapannya di tubuh Fay.
Kedua tangannya tetap bertahan di pinggang Fay, sementara tangan Fay secara refleks bertumpu pada kedua bahu tegap Hero untuk menjaga keseimbangan. Jarak di antara mereka kembali memendek, hanya menyisakan beberapa sentimeter.
Mereka saling bertatapan dalam diam. Mata hijau kebiruan Hero menatap lurus ke dalam manik mata jernih Fay, menyampaikan sebuah pesan tanpa suara yang teramat dalam, sarat akan kerinduan, penyesalan, dan cinta yang sejak dulu tidak akan pernah padam.
Fay terpaku. Jantungnya berdesir hebat, sebuah sensasi yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Untuk beberapa detik lamanya, tidak ada satu pun dari mereka yang menarik diri. Mereka hanya saling mengunci pandangan, membiarkan dunia di sekitar mereka berputar dalam senyap.
Sampai akhirnya, Fay yang pertama kali tersadar. Ia berdehem kecil, dengan perlahan menarik tubuhnya mundur dan melepaskan tangan Hero dari pinggangnya.
"Thanks," bisiknya hampir tak terdengar.
Hero mengangguk canggung, lalu berbalik ke arah supir taksi yang sejak tadi memperhatikan mereka sambil tersenyum dibalik kemudi.
Hero merogoh saku celananya, di mana ia sudah sempat mengambil dompetnya dari mobil yang kini sudah diurus oleh pihak asuransi, dan menyerahkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar ongkos sekaligus tip yang sangat besar kepada si supir taksi.
Supir taksi tersebut menerima uang Hero dengan gembira, lalu menatap Hero dan Fay bergantian.
Dengan bahasa Inggris yang patah-patah dan aksen Italia kental, ia berkata,
"You are a very lucky man, Signore. You have a very beautiful wife. Take good care of her."
Hero tertegun mendengar ucapan si supir. Ia tahu Fay tidak mendengar atau mungkin tidak terlalu memperhatikan kalimat tersebut karena gadis itu sedang sibuk menepuk-nepuk bagian belakang gaunnya yang kotor karena jerami.
Hero menatap sang supir taksi, lalu sebuah senyum tipis, senyum yang paling tulus yang ia miliki di sisa malam itu, mengembang di wajahnya. Alih-alih mengoreksi, Hero membiarkan si supir taksi menyangka bahwa Fay adalah istrinya. Sebuah kebohongan kecil yang Hero biarkan hidup di sisa hari itu demi memuaskan satu dari sekian banyak fantasinya akan Fay.
"Thank you, mate. I know I am," jawab Hero, membiarkan pria Italia itu tetap mengira Fay adalah istrinya.
Taksi tersebut kemudian berlalu. Hero berbalik mendekati Fay. Mereka saling memandang, lalu secara bersamaan menyadari bahwa mereka berdua masih dipenuhi oleh sisa-sisa jerami dari perjalanan konyol tadi.
"You’ve still got some here," ujar Fay sambil terkekeh pelan, melangkah mendekat dan menjumput sebatang jerami kecil yang terselip di kerah kemeja Hero.
"So do you," balas Hero, dengan lembut menyentuh puncak kepala Fay, membersihkan beberapa helai rumput kering yang tersangkut di rambut Fay yang sudah ia ikat asal-asalan.
Mereka berdua terkekeh bersama, sebuah tawa kecil hangat, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan ego yang sempat mereka bangun sejak pagi tadi.
Mereka kemudian berjalan berdampingan memasuki lobi hotel yang megah, menuju area lift penumpang. Kamar mereka berada di lantai yang berbeda, Fay berada di lantai empat bersama rombongan pengantin wanita, sementara Hero berada di lantai tujuh bersama Simon dan kerabat pria lainnya.
Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu lift. Suasana mendadak kembali terasa sedikit canggung, tanda bahwa petualangan konyol mereka telah resmi berakhir dan mereka harus kembali ke realitas masing-masing.
"Well," Fay memulai, memberikan senyum kecil yang manis. "I guess I’ll see you at the rehearsal tomorrow morning. Don't be late, Best Man."
"I won't. Sleep well, Fay," sahut Hero lembut.
Fay mengangguk, lalu berbalik dan melangkah menuju lift dengan pintunya baru saja terbuka.
Satu, dua, tiga, empat, lima langkah...
"Fay!"
Panggilan Hero yang secara tiba-tiba membuat langkah Fay terhenti. Ia berputar, menatap Hero yang masih berdiri di tempat yang sama, namun tubuh pria itu kini telah berbalik sepenuhnya menghadap ke arah Fay.
"Yeah? Ada apa?" tanya Fay, matanya menatap bingung ke arah Hero yang mendadak tampak sangat serius.
Hero terdiam selama beberapa detik. Ia menatap sepasang mata jernih gadis di depannya. Di bawah lampu lobi yang benderang, mata hijau kebiruan Hero tampak meredup, memancarkan sebuah kerapuhan yang selama lima tahun ini ia sembunyikan di balik wajahnya.
"Are you..." Hero menelan ludah, suaranya sedikit bergetar sebelum ia melanjutkan kalimatnya dalam bahasa Inggris yang teramat emosional. "Are you happy? These past five years... have you been truly happy?"
Pertanyaan Hero menghantam dada Fay dengan telak. Senyum jenaka yang baru saja menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia menatap mata Hero dari jarak lima langkah yang membentang diantara mereka, mencari tahu dari mana datangnya pertanyaan yang begitu mendalam dan tiba-tiba ini. Di dalam manik mata pria itu, Fay bisa melihat bayangan dirinya sendiri, dan sebuah luka lama yang ternyata belum sepenuhnya mengering.
Fay tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama, meresapi setiap detak waktu yang berlalu di antara mereka. Keheningan malam di lobi hotel itu terasa begitu magis.
Perlahan, sebuah senyum yang sangat lembut, sangat hangat, terukir di bibir Fay. Sebuah senyum yang jujur, tanpa ada kepura-puraan lagi.
"I am, Hero," jawab Fay dengan suara yang tenang dan tulus. "I've been quite happy. Truly."
Hero menatap senyum gadis yang teramat ia cintai itu. Ia bisa merasakan dadanya sesak, namun pada saat yang sama, sebuah kelegaan yang luar biasa besar menjalar di seluruh pembuluh darahnya. Mengetahui bahwa gadis yang setiap detiknya selalu ia rindukan, gadis yang namanya selalu ia sebut dalam setiap doa dan pencapaian hidupnya, bisa menemukan kebahagiaan di dunia ini, meskipun kebahagiaan itu tidak diciptakan oleh Hero sendiri, adalah sebuah berkah yang cukup untuk Hero ketahui.
Hero mengangguk pelan, seulas senyum kelegaan terbit di wajah tampannya. "Good. That’s... all I ever wanted to know."
Hero kemudian menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk berbalik dan mengakhiri percakapan mereka sebelum Hero tampak terlihat leih sentimentil.
Namun, baru saja Hero menggeser posisi kakinya dua langkah,
"Hero," giliran Fay yang memanggil,
Hero menghela napas panjang diam-diam, sebelum akhirnya menoleh kembali sambil tersenyum.
"What about you?" tanya Fay, matanya menatap lurus ke dalam iris hijau kebiruan Hero dengan binar rasa ingin tahu yang teramat besar. "Are you happy?"
Hero terpaku. Ia terdiam selama beberapa saat, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka berdua sekali lagi. Pertanyaan Fay adalah sebuah cermin yang mendadak berdiri tepat didepan wajah Hero, memaksanya untuk melihat ke dalam lubuk hati Hero sendiri yang paling dalam. Wilayah sepi yang selama lima tahun ini selalu ia tutup rapat-rapat.
Hero memalingkan wajahnya sekilas, mengembuskan napas pendek
Lalu ketika ia kembali menatap Fay, seulas senyum baru terukir di bibirnya.
Senyum yang kali ini tampak berbeda. Bukan senyum sinis, bukan senyum lega, melainkan sebuah senyum menenangkan, senyum yang sarat akan penerimaan tulus atas sebuah takdir yang tak bisa Hero ubah.
Hero menatap mata Fay untuk yang terakhir kalinya malam itu, dan dengan suara rendahnya terdengar lembut dan jujur, ia menjawab,
"I am happy, Fay. Eventually, I am."
Hero jeda satu detik, matanya berkedip pelan. "For the last four hours, to be exact. The last four hours that I spent getting lost in Tuscany with you."
Fay tertegun, napasnya seolah tertahan di tenggorokan mendengar pengakuan itu.
Hero tersenyum semakin lebar, sebuah senyum melankolis yang teramat tampan di mata Fay. "But other than that... to be completely honest with you, love... I had almost forgotten what happiness actually felt like, until those four hours I spent with you tonight."
Setelah mengucapkan kalimat yang begitu menelanjangi seluruh isi hatinya untuk Fay, Hero memberikan satu anggukan kecil, lalu berbalik sepenuhnya dan melangkah pergi menuju lift penumpang tanpa menoleh lagi kearah Fay.
Fay berdiri mematung di depan pintu lift yang terbuka, menatap punggung tegap Hero yang perlahan menjauh dan menghilang di balik lorong hotel.
Fay memegangi dadanya begitu ia sendiri masuk kedalam lift, merasakan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang.
Fay menyadari satu hal yang selama ini berusaha ia sangkal mati-matian.
Bahkan jika ia bisa mengakui pada dunia sekalipun, bahwa di balik keindahan Tuscany yang baru saja mereka lalui sepanjang hari ini, ada sebuah rasa yang ternyata tidak pernah benar-benar usai seperti yang selalu Fay yakini. Rasa yang butuh waktu lima tahun bagi Fay untuk ia kubur dalam-dalam, dan sialannya hanya butuh waktu beberapa jam saja bagi Fay untuk kembali merasakan jantungnya bergemuruh seperti lima tahun yang lalu.
Lima tahun sialan. Semua usaha Fay untuk melupakan cinta pertamanya ternyata sia-sia saja.