Kata orang, persahabatan laki-laki dan perempuan itu layaknya bermain api dalam wadah es. Kelihatannya saja dingin dan aman, tapi di dalamnya ada sesuatu yang pelan-pelan membakar.
Semesta menciptakan laki-laki dan perempuan bukan untuk sekadar menjadi jeda tanpa arti. Laki-laki dan perempuam adalah dua entitas yang di lahirkan untuk saling melengkapi, sekaligus bisa jadi saling mematahkan dengan senjata yang sama, yaitu sebuah rasa yang tumbuh tanpa aba-aba.
Bagi siapapun yang telah menciptakan teori itu, Kiara mungkin akan jadi penganut setia di garda terdepan. Kiara mempercayainya dengan seluruh luka yang telah ia simpan, terutama untuk laki-laki yang dulu pernah Kiara beri label 'sahabat', yang berakhir dengan sebuah keputusan final paling telak dalam hidup Kiara, yaitu pergi meninggalkannya.
Perpisahan itu menjadi satu-satunya pilihan Kiara setelah laki-laki itu mengakui bahwa persahabatan yang sudah mereka jalin selama bertahun-tahun hanyalah sebuah tameng. Sebuah topeng yang laki-laki itu gunakan untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya untuk Kiara.
Dan mendengar pengakuan James akan cinta yang di sembunyikannya selama bertahun-tahun ini adalah hal yang paling Kiara takutkan untuk gadis itu dengar.
"Aku sudah menyaksikanmu menolak banyak sekali laki-laki di sekolah kita, dan aku tidak mau berakhir menjadi salah satu dari laki-laki menyedihkan itu. Aku ingin berada di dekatmu, Kiara. Aku ingin menunjukkan bahwa cinta tidak semuanya harus berakhir menyakitkan. Dan menjadi sahabatmu adalah satu-satunya jalan supaya aku tetap memiliki akses masuk dalam hidupmu."
James tidak pernah tahu bahwa di dalam lubuk hati Kiara yang paling terdalam, Kiara pun memendam rasa yang sama untuk James. Semakin mereka menumpuk waktu bersama, berbagi lembar-lembar cerita, menelan kesedihan bersama, dan merayakan tawa bersama-sama, mustahil bagi Kiara untuk tidak merasakan letupan asmara yang muncul setiap kali ia menatap James. Seberapa keras pun Kiara berusaha menyangkal, perasaan nya untuk James nyata, berdenyut di bawah permukaan.
Namun, semua itu tidak cukup kuat untuk meruntuhkan benteng yang Kiara bangun untuk mencegah 'cinta' masuk ke dalam hidup Kiara. Perceraian orang tua Kiara, keputusan mereka untuk meninggalkan Kiara saat usianya masih lima tahun demi mencari kebahagiaan mereka masing-masing tanpa sedikit pun melibatkan kehadiran Kiara, adalah bukti mentah sekaligus nyata bahwa tidak ada cinta dalam dunia ini yang benar-benar abadi.
Bagi Kiara, cinta saja tidak cukup untuk membuat orang-orang dalam hidup Kiara tetap tinggal. Dan seandainya Kiara membuka celah untuk membiarkan James masuk memiliki hatinya, Kiara yakin ia tidak akan pernah sanggup menghadapi kehancuran jika suatu saat James terbangun dari tidurnya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Kiara tanpa mau menoleh lagi, persis seperti yang dilakukan kedua orang tua Kiara dulu.
Hari ini, setelah enam tahun sejak Kiara memutuskan untuk menutup seluruh benang yang menghubungkannya dengan James, semesta mempertemukan mereka kembali. Mereka kini berdiri sebagai versi diri yang jauh lebih dewasa, lebih matang.
Namun sayangnya, saat Kiara berharap jarak dan waktu telah mengikis habis perasaannya pada James, pertemuan mereka ini justru membuktikan sebaliknya. Menatap James kembali membuat hati Kiara diliputi letupan tak terduga yang menyesakkan dada, persis seperti dulu setiap kali James berada di dekat Kiara.
"Memori yang paling kamu ingat dari pertemanan kita dulu di Jakarta apa?" tanya James memecah keheningan, saat mereka memutuskan untuk menepi sejenak dari keriuhan pesta pertunangan sahabat mereka yang berkilauan.
Kiara bergumam kecil, matanya menerawang seolah sedang menyisir tumpukan ingatan.
Lalu ia memekik ringan, tawa yang tak kuasa Kiara tahan akhirnya pecah.
"Aku masih ingat sekali, waktu kamu dengan penuh percaya diri datang ke rumahku untuk menjemput ke sekolah memakai mobil milik Ayahmu. Kamu bahkan belum punya surat izin mengemudi, tapi dengan sombongnya kamu bilang, 'Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi naik angkutan umum karena aku akan jemput kamu terus mulai besok'. Tapi besoknya, kamu malah kena tilang polisi sampai Ayahmu melarangmu membawa mobil lagi ke sekolah."
James dan Kiara meledak dalam tawa yang sama. Satu momen itu diakui mereka berdua sebagai puncak komedi dari persahabatan mereka dahulu yang terkesan konyol dan berantakan namun manis untuk dikenang saat ini.
"Untung posisi kemudi setir di Inggris dan Indonesia itu sama, ya. Sama-sama di kanan. Aku yakin kamu seberani itu karena kamu pikir aturan mengemudi di Indonesia tidak bakal seketat di London."
James tertawa, mengangguk-angguk kecil sembari menyesapWine ditangannya, menikmati cairan dingin yang ia teguk mengalir ke tenggorokan.
"Memang aku bodoh sekali ya dulu kalau diingat-ingat."
Tawa Kiara perlahan menyusut, meninggalkan sisa senyum yang mulai terasa getir. Ia kini balik melempar tanya.
"Kalau kamu, bagian apa yang paling kamu ingat dalam persahabatan kita waktu sekolah di Jakarta dulu?"
James tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada cakrawala Uluwatu yang kini berhias semburat jingga yang pekat. Begitu cantik, dengan sisa cahaya yang menyentuh garis wajah Kiara, membuatnya terlihat begitu menawan di depan mata James.
"Yang paling kuingat ya? Hmm..."
James menyesap kembali minumannya perlahan dengan tatapan sedikit menerawang, seolah ia telah berusaha menelan beban berat hanya dengan mengingat satu momen yang memenuhi kepala James saat ini.
James tersenyum getir, lalu berkata dengan suara rendah yang mampu menggetarkan udara di sekitar mereka.
"Saat kamu memutuskan untuk pergi sejauh mungkin ke California tepat setelah aku mengakui bahwa aku jatuh cinta sama kamu."
Senyum hangat yang baru saja merekah di bibir Kiara sirna tanpa sisa.