Disukai
2
Dilihat
64
Dear, Millie...
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

I never hated you.

I’ve just never been good at being as delightful as you are.

You enlightened our house. You always cherish every person around you.

Including me.

Particularly me.

Keep being you.

And I’m sorry.

I never wanted to hurt you.

****

Charlie suka sekali mengotak-atik mesin mobil. Atau kendaraan apapun yang bisa ia reparasi untuk menghabiskan waktu luangnya.

Padahal saat itu usianya baru tujuh belas tahun, hanya terpaut satu tahun lebih tua daripada Millie.

Namun bagi Millie, sejak ia masih berusia empat belas tahun, sudut garasi tua rumah Charlie itu sudah menjadi suaka tersendiri untuk cowok itu.

Millie bisa dibilang sering mengintip dari jendela kamarnya yang menghadap langsung ke garasi tua Charlie. Tepatnya, sejak ibu Millie dan ayah Charlie memutuskan untuk menikah, yang memaksa Millie mengemas seluruh hidupnya untuk Millie boyong ke Texas.

"Charlie is pretty quiet, but he’s actually a really kind-hearted kid." Begitu kalimat yang diucapkan Josh, ayah Charlie, saat mengenalkan mereka berdua untuk pertama kalinya.

Kala itu, ada letupan antusiasme yang membuncah di dada Millie. Menjadi anak tunggal sejak dulu membuatnya selalu mendambakan sosok kakak laki-laki.

Namun realitas sering kali tidak sejalan dengan ekspektasi.

Berbeda dengan antusiasme Millie, Charlie sepertinya sama sekali tidak berpikiran demikian.

Cowok berperawakan sangat jangkung dengan sepasang mata sehangat puppy eyes namun dibarengi senyum yang sedingin es itu nyaris tidak pernah mengajak Millie bicara. Dunianya seolah hanya berporos di dalam garasi, tempat ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama mesin kendaraan apa saja. Teman-teman Charlie bahkan sering datang berkunjung dan meramaikan tempat itu hingga larut.

Hal itu perlahan mengikis harapan Millie, menumbuhkan kesadaran diri yang pahit bahwa kehadirannya di rumah ini memang tidak pernah diinginkan sebagai seorang adik.

Namun, ada satu hal kecil nan janggal yang gagal Millie pahami.

Setiap pagi, saat ia terbangun dan membuka tirai jendela, Millie sering kali mendapati Charlie sudah duduk menongkrong di atas kap mobilnya. Dengan sebatang rokok yang tengah diisap di sela jemari, sepasang mata cowok itu kerap menatap lurus ke arah jendela kamar Millie. Menurut cerita ayahnya, Charlie sudah terang-terangan merokok sejak usia tiga belas tahun—satu dari sekian daftar kenakalan remaja yang membuat ayahnya angkat tangan.

Bukan hanya di waktu pagi. Millie kerap kali merasakan pasang mata itu diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Entah sudah berapa kali Millie menangkap basah Charlie yang mendadak melamun panjang saat memperhatikannya dari kejauhan.

Hingga pada suatu sore yang berlumur cahaya oranye hangat dari lampu garasi, Millie melihat Charlie sedang menyeka tangannya yang berlumuran oli. Cowok itu mendongak, menatap langsung ke arah jendela kamarnya.

Mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki, Millie akhirnya membuka jendela dan melongokkan tubuhnya ke luar, bersiap menyapa Charlie dengan agak kikuk. Namun, belum sempat satu patah kata pun lolos dari bibirnya, Charlie sudah berbalik badan dengan gestur canggung, berniat pergi.

"Whose car are you fixing?"

Teriakan Millie membelah keheningan sore, sukses menghentikan langkah kaki Charlie. Namun, cowok itu tidak berbalik. Menoleh pun tidak.

Charlie mendadak terlihat sangat sibuk membereskan perkakas mekaniknya. Bunyi gelontangan besi yang beradu sengaja dibuat keras, bergema kasar hingga terdengar jelas ke jendela kamar Millie.

"I think that light blue car looks really cool. Has it been here since last year? Is it yours or Uncle Josh's? What kind of car is it, if you don't mind me asking?"

Rentetan pertanyaan bertubi-tubi itu seketika menghentikan kegaduhan alat-alat mekanik di bawah sana.

Millie refleks menggigit bagian dalam pipinya. Kecanggungan di antara mereka mendadak menebal, menciptakan atmosfer yang menyesakkan saat Charlie akhirnya memutar tubuh dan mendongak, menatapnya lurus-lurus. Namun yang membuat nyali Millie agak menciut, Charlie terlihat sama sekali tidak senang.

Charlie melangkah maju beberapa tindak, keluar dari kegelapan garasi agar sosoknya tertangkap jelas di depan halaman.

"I thought Indonesian were known for being polite. But I guess you're an exception."

Mata Millie langsung membulat sempurna. "Wh... what?"

Charlie mendengus kesal. "Do you really think shouting from up there is how a polite person starts a conversation?"

Millie langsung bungkam, merasa tertampar. "I... I'm sorry. Fine, I'll come down."

Karena begitu kikuk dan salah tingkah, Millie bergegas turun tangga. Saking terburu-burunya, ia bahkan nyaris terjerembab akibat tersandung sepatu boots-nya sendiri. Persetan dengan harga diri; Millie hanya tidak ingin kehilangan kesempatan berharga ini untuk bisa membuka percakapan dengan saudara tirinya.

Namun, begitu kakinya menginjak lantai beton garasi, Millie tidak menemukan siapa pun di sana.

Garasinya tetap terbuka lebar, namun lampunya sudah dipadamkan. Dan Charlie telah lenyap dari sana.

Napas Millie masih memburu, namun bukan karena lelah berlari, melainkan karena ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ia berdecak kesal, bersiap untuk pergi dari sana ketika matanya menangkap secarik Post-It yang tertempel di badan mobil.

Subaru Forester 2

Don't ask again.

Mengetahui bahwa dirinya baru saja di-ghosting begitu saja oleh kakak tirinya sendiri, membuat Millie menghela napas pasrah. Gagal lagi upayanya untuk mendekatkan diri pada Charlie.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi minggu yang melelahkan.

Millie masih sering mendengar bunyi gelontangan alat-alat dari garasi. Ia masih sering mendengar tawa lepas Charlie bersama teman-temannya, atau suara menggelegar cowok itu saat terlibat pertengkaran hebat dengan ayahnya.

Namun dari semua gelombang suara yang dihasilkan Charlie, tidak ada satu pun vibrasi yang ditujukan untuk membangun komunikasi dengannya.

Sampai pada satu titik, Millie berada di fase lelah. Ia memilih menyerah, membiarkan eksistensi Charlie membeku tanpa perlu melemparkan satu kata pun di rumah mereka.

"Salah gue apa, sih? Udah setahun lebih tinggal bareng, tapi dia bencinya benci banget sama gue!" omel Millie berapi-api setiap kali ia sedang berbicara dengan temannya di Jakarta melalui Face Time, yaitu Tia.

"Ya karena kemarin lo ngajak ngobrolnya lewat jendela sambil teriak-teriak kali, Mil. Apalagi cowok, gengsinya tinggi banget kalau mau mulai obrolan duluan, sama cewek yang bener-bener belum pernah dia temuin lagi sebelum akhirnya bokapnya nikah sama Tante Mardiana."

Millie berdecak sinis, "Ti, masalahnya dia udah begitu jauh sebelum gue teriak-teriak di jendela kemarin. Dia kalau sama temen-temennya asyik banget. Banyak ngobrol, banyak ketawa. Tapi kalau sama gue, bener-bener bisu total! Sebelum kemarin itu, jumlah kata yang pernah dia ucapin ke gue selama gue tinggal di sini bisa dihitung pakai jari satu tangan gue. Iya, satu tangan, Ti! Gila nggak, lo!"

Bukannya ikut kesal, tawa Tia malah pecah di ujung telepon. "Lo mulai deh, semenjak pindah ke Texas jadi suka mendramatisir."

Millie bersedekap, merengut kesal. "Lo juga ya, bukannya ngebelain gue, malah ngakak melulu tiap kali gue gondok soal si Charlie Charlie itu."

Untung Millie masih punya Tia. Walaupun kini mereka sudah terhalang jarak antarbenua dengan perbedaan zona waktu yang sungguh jomplang, tapi Tia selalu bisa meluangkan sedikit waktu untuk bisa saling berkomunikasi. Kalau tidak, Millie yakin, dirinya pasti sudah gila.

Karena mengomel dalam bahasa ibunya sendiri jauh lebih lega dibandingkan dengan mengomel dalam bahasa Inggris bersama teman-temannya di Texas—yang bahkan sampai saat ini belum pernah Millie bawa ke rumah, bahkan tidak ada yang tahu bahwa Charlie adalah kakak tirinya.

Beberapa hari kemudian, kesabaran Millie dalam upaya mendekatkan diri pada Charlie menemui titik jenuh. Atau lebih tepatnya, titik gondok yang sudah menyentil sisa harga diri Millie.

Charlie sedang menikmati sarapan serealnya di suatu pagi ketika Millie mendatangi meja makan tanpa aba-aba, dan juga dengan wajah kemerahan tanpa keramahan sedikit pun. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Millie sengaja duduk berhadapan dengan Charlie, dengan kedua tangan terlipat di atas meja dan dagu sedikit mendongak.

Gerakan tangan Charlie yang hendak menyendok serealnya seketika terhenti di udara.

"I've been here for a year trying my ass off to get close to you, but apparently all my efforts mean absolutely nothing. Oh, sorry, let me correct that—I'm just an invisible particle who clearly has no self-respect here. Even the dust in your shoes might seems to get more of your attention than me."

Millie tidak yakin dari mana datangnya pasokan keberanian pada setiap rentetan kekesalannya, hingga membuat bibir Charlie yang sudah terbuka tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun.

Millie lantas berdiri, karena tidak kunjung mendapat jawaban. Secepat kilat hingga Charlie sendiri belum sempat mengerjapkan mata untuk mencerna keadaan yang sedang terjadi.

"I've always wanted an older brother, and I thought both you and I would accept each other as family. But I don't know what mistake I ever made to make you reject me like this. You always hate me with those damn beautiful eyes of yours. You always look at me like every single word that coming out of my mouth is stupid. And you always ghost me every single time I try to talk to you. Oh, Charlie. I thought a guy like you would at least stop believing in fairy fucking tales like Cinderella, thinking every step-sibling in this house must be the bad person. I am not a bad person! And I am not stupid at all!"

Napas Millie tidak beraturan setelah itu. Dadanya naik turun dengan ritme berat. Matanya tidak lepas menatap Charlie yang sejak tadi tidak mampu membalas satu pun makian Millie.

Keheningan yang begitu nyaring di antara mereka akhirnya terpecah dengan suara derak kursi yang Charlie duduki ketika cowok itu berdiri menjulang di depan Millie. Wajahnya masih terlihat cuek dan dingin. Hanya saja sudut bibirnya kini tertarik membentuk senyum masam yang aneh.

"You finished? I'm off to school."

Dan Charlie berlalu begitu saja, meninggalkan Millie dengan sisa kemarahan yang mendadak terasa hampa.

Itu kali terakhir Millie berupaya membuka komunikasi dengan Charlie. Setelahnya, Millie benar-benar menerapkan sugesti dalam kepalanya sendiri untuk menganggap Charlie hanyalah makhluk astral yang kebetulan menghuni rumah yang mereka tinggali.

Seminggu... Dua minggu... Sebulan...

Hingga akhirnya, sugesti Millie untuk menganggap segala sesuatu yang berkaitan dengan Charlie di rumah mereka lama-lama menguap, bersamaan dengan kemarahannya pada Charlie sebulan yang lalu.

Digantikan dengan pertanyaan yang akhir-akhir ini mengusik pikiran Millie.

Charlie pergi kemana?

Sudah beberapa hari terakhir Millie tidak lagi pernah melihat Charlie.

Bahkan suara bising dari alat-alat mekanik di garasinya sudah tidak lagi Millie dengar.

Beberapa pagi terakhir pun Millie tidak pernah melihat Charlie duduk diatas kap mobil bekas yang terparkir mengarah ke jendela kamar Millie.

Millie memberanikan diri beberapa kali ke garasi belakang rumah

Garasi Charlie pun tertutup rapat.

Sampai beberapa hari setelahnya, tepat di hari ulang tahun Millie, pintu kamarnya diketuk perlahan.

Josh berdiri di ambang pintu dengan senyuman cerah yang hangat. "Happy birthday, sweetheart," ucapnya lembut sambil mengecup puncak kepala Millie dan memeluknya erat.

"Uncle Josh, why are you up so early? Is Mama awake yet?"

Josh tersenyum misterius. "I woke up earlier than your mom on purpose, because I wanted to give you something that I'd rather she didn't know about just yet. Can you come with me for a second?"

Langkah kaki Josh membawa Millie keluar dari rumah. Hanya beberapa langkah melewati pintu belakang, mengarah lurus ke sebuah tempat yang sangat Millie kenal akhir-akhir ini.

Garasi milik Charlie.

Millie sempat berhenti melangkah, diliputi keraguan. Tidak yakin kenapa mereka harus ke tempat itu.

"Uncle, what are we doing here..."

Tanpa menjawab, Josh meraih bagian bawah pintu besi geser, lalu mendorongnya ke atas. Cahaya pagi langsung menerobos masuk, menampilkan sebuah mobil biru yang sudah setahun lebih berada di sana. Mobil biru yang keberadaannya sudah ada di sini tepat sebulan setelah Millie pindah ke Texas. Mobil yang pernah ingin Millie jadikan bahan obrolan agar Charlie mau bicara dengannya. Mobil biru yang sebenarnya telah menarik perhatian Millie sejak pertama kali ia melihatnya.

Josh tersenyum lebar, menatap takjub ke arah mobil tersebut dan Millie bergantian.

"I told him from the very beginning, you love blue."

Millie mengerutkan kening, kebingungan mulai merayap. "You told who?"

"Charlie."

Mata Millie membulat sempurna. "Why did you tell him I like blue? He barely even cares about me at all."

Josh tergelak lepas sambil berkacak pinggang dengan raut jenaka. "He really cares about you, kiddo."

Seandainya Millie sedang meneguk sesuatu, ia pasti sekarang sudah tersedak parah.

"And he finally made it. He made it for you."

Ucapan ayah Charlie itu semakin membuat kening Millie berkerut dalam.

"Charlie bought this car a week after you moved here," jelas Josh, suaranya melunak dipenuhi kilat rasa bangga. "After I told him that you love blue, he immediately bought this used car with his own saving and fixed it up to make it look like brand new. He really wanted to give you this car as a welcome gift back then. But fixing a dead car back to life and making it look like this takes a long time."

Pasokan udara yang Millie hirup sejak tadi seketika menipis sampai ke titik nihil. Ia terpaku di tempatnya berdiri, tidak sanggup mencerna seluruh kalimat yang baru saja dikatakan ayah Charlie.

"This is your present, Millie. Not from me, but from Charlie."

Jemari tangan Millie terangkat untuk membungkam bibirnya yang mulai bergetar. Dadanya yang sesak kini menciptakan setitik air mata yang menggenang di pelupuk mata.

"But, why are you the one giving it to me? Where is Charlie?"

Millie tahu seharusnya pertanyaan itu sudah ia utarakan dari beberapa hari yang lalu, di detik ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari ketidakhadiran Charlie dirumah mereka.

Namun raut riang di wajah Josh langsung luruh begitu saja mendengar pertanyaan Millie.

Dengan nada suara yang melirih canggung, Millie mengulangnya, "Uncle? Where is Charlie?"

Josh mencoba tersenyum, walaupun kali ini senyumannya tampak getir.

"Charlie went back to Seattle, to his mom's place. He'll probably finish his senior year there and stay for good."

Darah di sekujur tubuh Millie seolah surut ke ujung ibu jari kaki. Millie tanpa sadar menitikkan setetes air mata, yang buru-buru diusapnya sebelum Josh menyadarinya.

Josh kemudian mengeluarkan secarik amplop putih dari dalam saku mantelnya, lalu menyerahkan sepucuk surat tersebut untuk Millie.

"Happy birthday, kiddo. Charlie isn't as cold as you think. Honestly, he's been completely fond of you since the very first day you moved into this house."

Tenggorokan Millie terasa seperti tercekat kuat. Tanpa berpikir lama, dengan jemari yang bergetar hebat, ia membuka secarik surat di tangannya. Dan untuk pertama kalinya, Millie tahu bagaimana rupa goresan tangan Charlie yang ditujukan khusus untuknya.

Dear, Millie...,"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi