Perceraian orang tuaku terjadi saat duniaku masih seukuran ujung jari.
Orang tuaku berpisah ketika usiaku baru menginjak 5 tahun, meninggalkan luka yang menganga antara aku dan adikku yang usianya hanya terpaut dua tahun dariku. Berarti saat itu, usianya juga baru 3 tahun—terlalu dini untuk memahami pertengkaran yang tercipta di dalam rumah kami.
Kemudian, takdir seakan membelah kami.
Aku ikut Bapak, adikku ikut Mama.
Sejauh yang kutahu, Mama memboyong adikku ke tanah kelahirannya di Tegal. Sebuah tempat di mana si Mbah Kakung tinggal bersama istri ketiganya.
Sementara itu, aku menjalani hidup yang serba tidak pasti bersama Bapak.
Selama lebih dari tiga tahun, kami hidup nomaden, berpindah dari satu kota ke kota lain. Hidup serba pas-pasan, dengan sisa-sisa kasih sayang yang harus dibagi karena saat itu Bapak memutuskan untuk menikah lagi dan memiliki anak baru. Tidak jarang aku selalu merasa seperti tamu di hidupku sendiri.
Hingga suatu ketika, di tengah kepelikan hidupku yang mencekik bersama Bapak di Karawang, Mbah akhirnya datang dari Jakarta. Ia memboyongku untuk hidup bersamanya, dengan janji untuk memperbaiki masa kecilku serta memberikanku pendidikan yang layak di tempat yang lebih baik.
Sesampainya di Jakarta, Mama memang sesekali datang bertandang. Namun, kunjungan Mama tidak pernah terasa seperti "pulang" untuk sekadar menjengukku.
Setiap kedatangan Mama—yang durasinya tak pernah lebih dari tiga hari—Mama akan berakhir dengan pertengkaran hebat melawan si Mbah. Suara teriakan Mama dan Mbah seakan mampu meledakkan rumah, yang akan selalu ditutup oleh suara isak tangis Mama yang histeris dari dalam kamar.
“Mama kamu itu orangnya ngambekan! Baru Mbah nasehatin sedikit aja, langsung nangis nggak keruan! Kaya dia aja hidupnya yang paling merana di dunia ini!”
Selama 15 tahun aku hidup di bawah atap rumah si Mbah, kunjungan Mama ke Jakarta bisa dihitung dengan jari satu tangan.
Sangat jarang, bahkan nyaris tidak pernah saat usiaku semakin besar.
Dan selama 15 tahun itu pula, Mbah tidak pernah absen menyuntikkan doktrin tentang sifat sensitif Mama ke dalam benakku.
Katanya, Mama tidak bisa dibilangin. Katanya, Mama tidak bisa terima omongan. Katanya, Mama dikit-dikit menangis.
Selama belasan tahun doktrinan Mbah itu masuk ke telingaku, lambat laun aku tumbuh dengan bayangan sosok Mama dalam setiap perkataan Mbah.
Aku mulai percaya bahwa Mama memang seperti apa yang Mbah bilang.
Hubunganku dengan Mama pun makin lama kian merenggang, dan jauh. Sejauh jarak Jakarta-Tegal yang tak pernah terlipat.
Mama nyaris tidak pernah lagi mau berkunjung ke Jakarta.
Semakin kesini, keyakinanku semakin terbentuk dengan nyata, bahwa ucapan Mbah yang memang terkenal ganas ke siapa pun itu, telah ditelan dengan rasa getir oleh Mama. Hal itu menciptakan output yang membuat Mama sampai merelakan hubungan antara anak dan ibu terpisah, hanya demi menghindari sikap si Mbah yang terkenal sangat keras ini.
Hingga pada satu titik kehancuran, aku sampai pada satu kesimpulan.
Mama selama ini kurang sayang denganku.
Bahkan mungkin tidak sayang sama sekali.
Pikiran beracun ini terus menyeretku ke titik terjauh dari sosok Mama. Aku meyakinkan diriku bahwa alasan Mama tidak mau ke Jakarta lagi adalah karena aku memang tidak cukup berharga untuk ia kunjungi.
Sampai akhirnya, roda hidup berputar.
Aku menikah dan mempunyai anak.
Ajaibnya, hubunganku dengan Mama mulai membaik.
Mama ternyata menyimpan kasih sayang yang luar biasa besar untuk anakku, Kirana.
Wajah Kirana sangat mirip dengan Mama, seolah Tuhan mengirimkan refleksi masa lalu untuk memperbaiki masa depan.
Bahkan ketika Kirana belum bisa bicara dengan lancar seperti anak-anak lain pada umumnya, Mama tumbuh menjadi seorang nenek yang luar biasa. Ia tidak pernah mempermasalahkan sedikit pun tentang kekurangan anakku.
Mama mendukung seluruh keputusan yang kubuat tanpa sedikit pun menghakimi. Ia adalah garda terdepanku ketika aku mengeluh soal betapa rendahnya orang-orang menatapku karena keterlambatan bicara anakku.
Ironisnya, justru kalimat pedas, sindiran, serta detail kekurangan anakku selalu dijabarkan oleh si Mbah.
Selama ini, omongan tajam Mbah selalu berusaha kuanggap angin lalu. Walaupun di sudut hatiku yang paling dalam, aku juga selalu sadar, apa yang keluar dari mulut Mbah selalu sukses menorehkan luka.
Namun, aku juga mencoba maklum. Mbah sudah tua—walaupun 65 tahun sebenarnya belum cukup tua untuk kehilangan akal sehat. Pikirannya kembali seperti anak kecil, meski ia tidak akan pernah mengerti bagaimana ucapannya telah menjadi sembilu dalam batin dan jiwaku.
Lalu, suatu ketika, si Mbah jatuh sakit.
Dari semua anak-anaknya yang dulu sering Mbah banggakan, hanya Mama-ku yang bersedia menungguinya di ruang ICU.
Aku melihat Mama rela tidur di lantai rumah sakit yang dingin, berbaur dengan pengunjung lain di ruangan yang sangat sempit dan berjejal-jejalan.
Anak-anak yang lain sibuk bekerja, dan Mbah memaklumi mereka.
Sedangkan Mama?
Ia tetap menjadi sasaran empuk caci maki Mbah yang tak kunjung surut meski raganya sedang sakit parah.
Sampai satu kejadian tercipta di tengah malam, Mama meneleponku.
Dengan suara tersedu-sedu di seberang sana, aku menjadi saksi melalui telingaku sendiri, bagaimana kata-kata keji dan jauh dari adab meluncur dari bibir Mbah, untuk dilemparkan tepat ke arah Mama.
“Dasar kau anak biadab! Anak nggak tahu diri! Anak nggak pengertian! Anak setan! Sana kau minggat! Nggak usah kau urusin aku!”
Aku mendengar kalimat itu dari panggilan telepon Mama.
Hatiku mencelos.
Semua amarah itu meledak hanya karena Mama menolak perintah Mbah untuk mencuri sarung tangan silikon milik rumah sakit untuk di masukannya ke dalam tas milik Mbah.
Karena bagi Mama, tindakan suruhan Mbah ini sudah di luar etika dan nalar.
Padahal Mama cuma minta Mbah untuk istirahat. Supaya kondisi paru-paru dan jantungnya makin baik. Makin sembuh.
Tapi Mbah malah sibuk mengutuk sosok yang sejak beberapa hari yang lalu, rela tidak tidur agar ia jadi pihak yang siaga untuk berjaga didepan ICU.
Dan entah kenapa, teriakan itu menjadi pukulan telak bagi memori masa kecilku.
Bayangan-bayangan lama saat Mama bertandang ke Jakarta dulu mendadak terputar kembali dengan warna yang berbeda.
Sekarang aku tahu…
Kenapa selama 15 tahun itu Mama tidak pernah mau datang ke Jakarta.
Bukan karena dia tidak menyayangiku.
Justru sebaliknya.
Ia tidak mau membuatku membenci si Mbah jika aku melihat bagaimana ia diperlakukan.
Ia menjaga hatinya agar tidak hancur berkali-kali, sembari berupaya memastikan anak perempuannya tidak ikut terseret masuk ke dalam lingkaran setan yang sama.
Mama tidak lari dariku.
Mama hanya lari dari luka yang tak ingin ia wariskan padaku.