Disukai
0
Dilihat
13
SETELAH TUJUH TAHUN
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

 

SETELAH TUJUH TAHUN

 

Tujuh tahun berlalu tak terasa. Pria  itu masih memilih meja yang sama. Wajahnya juga masih sama. Tanpa sadar Miti memeriksa wajahnya di cermin. Oh, celaka, apakah aku sudah terlihat tujuh tahun lebih tua?

“Hai, Mit,” si pria  mendongak dari ponsel yang sejak tadi ditatapnya dan menyapanya. Miti membalasnya pelan.

“Sudah lama kamu?”

“Yah, lima belas menitan lah,” sang pria menengok arlojinya sekilas.

Miti duduk di depannya. Mereka berpandangan sekilas, tersenyum samar. Keduanya menambah lagi sedikit basa-basi yang kemudian cepat terasa basi.

“Jadi, gimana Mit? Pertemuan kita ini mau membahas apa?”

“Ehmmmm . . . “perempuan itu membiarkan gumamannya terhenti sejenak. “sebenarnya . . . sudah lama pingin aku sampaikan tetapi . . .” lalu ia menarik nafas panjang.

Sang pria menatapnya. Bibirnya rapat terkatup.

“Ak--aku nggak tahu harus bagaimana mengatakannya, Bil,” kembali Miti berbicara. “Aku hanya . . . ingin . . . menjajagi saja satu kemungkinan. Kemungkinan . . . kita bersama kembali.”

Pria itu, Bilyet namanya, memandangnya lekat. “Oh . . .” hanya itu yang terucap dari bibirnya. Lalu keduanya disergap sunyi.

“Boleh tahu kenapa, Mit?” akhirnya ia bertanya.

Miti menatap ujung jemarinya. “Yah . . . karena . . . sebenarnya aku tak bisa nyaman sepenuhnya meninggalkanmu. Memang, kita banyak konflik, tapi setelah berpisah lalu aku merasa sebegitu parahkah semua itu sampai kita memutuskan berpisah?”

Bilyet terdiam. Kembali ia menengok jam tangannya. Benda itu berdenyar sesaat. Jemarinya bergerak menyentuh permukaannya dan denyar itu pun hilang.

 

“Jadi kamu sudah menemukan istri baru?”

“Bukan istri.”

“Oh . . . lalu apa? Pacar?”

“Hm-mm.”

“Orang mana?”

“Taiwan.”

Seketika mata Miti membelalak. “Wow, wanita Taiwan . . . Tak kusangka kamu suka wanita Chinese. Ketemu dimana?"

"Teman ngegame kan bisa dari mana-mana?"

"Oh, jadi ini ceritanya cinta sesama gamer?"

Bilyet tersenyum tipis.

“Cantikkah?”

Senyum Bilyet berubah hambar. Bibirnya sedikit manyun.

“Nyari yang bikin hati nyaman aja.”

Pandangan Miti yang semula hangat menjadi dingin. Ingatannya terlempar seketika ke masa lalu. Ia masih ingat rentetan kata-kata tajamnya menyembur ke Bilyet ketika mendapati pria itu menghabiskan hampir empat juta hanya untuk aksesori game onlinenya. Semburan tajam dibalas dengan bantahan tak kalah sengit. Ujarannya menjadi makin menyayat bak silet sampai akhirnya menabrak dinding beku dari Bilyet.

“Kenapa kamu jadi diam saja?!” akhirnya Miti membentak. “Ngomong dong!”

“Untuk apa?” balas Bilyet. “Apapun yang aku katakan kamu punya cara untuk mendebatnya, kok! Percuma!”

Akhirnya Miti tidak lagi berbicara tajam. Namun ia tanpa ampun menyindir Bilyet kapanpun ia menemukan peluang.

“Ih, pintar lho teman sekantorku. Duitnya diinveskan ke FR. Bunganya bisa empat jutaan. Duit segitu lumayan tuh, asal ga habis buat ngegame aja!”

“Hari gini uang sulit. Harus pintar membelanjakannya. Tapi kalo beli barang ya asal bikin hati nyaman aja; kalau beli aksesori game bisa bikin nyaman kenapa ndak, ya toh?”

Bilyet tidak banyak membalas berkata-kata. Ia makin diam. Namun kehadirannya juga makin jarang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk lembur, atau berkumpul bersama teman-temannya. Ia pulang ketika malam sudah larut. Setelah makan seadanya, ia masuk ke kamar tidur, membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya yang selalu tenggelam ke dalam ponselnya, lalu tertidur.

Mereka kemudian berpisah ranjang. Kurang dari tiga bulan berikutnya, Bilyet pulang suatu petang dari acara touring dengan sebuah perkumpulan sepeda motor. Ia menjumpai istrinya sudah berkemas-kemas.

“Aku pindah ke rumah Sikak.”

“Ok, silakan.”

Beberapa jam setelah Miti berangkat ke rumah Sikak, kakaknya yang masih melajang, ia mengirim pesan Whatsapp ke Bilyet: “Ada rendang di lemari es, aku buatkan tadi.”

“Ok thanks.”

 

***

Miti mengaduk sup asparagusnya. “Istri barumu pintar masak?”

“Bukan istri,” Bilyet mengoreksi dengan suara lebih keras. “Aku tak bisa menikahinya.”

Miti menegakkan tubuhnya. Wajahnya sedikit tegang. “Emang kenapa?”

Bilyet mengedikkan bahunya. “Ya, gak bisa aja.”

“Emang dia istri orang? Atau karena kalian beda agama? Atau karena statusnya WNA?”

Bilyet memandang wajah Miti sekilas lalu mengalihkan tatapannya ke meja.

“Kamu tetap aja irit kata,” Miti berucap lagi. “Heran aja bagaimana pacarmu itu bisa betah dengan pria luar biasa pendiam kayak kamu.”

Bilyet tersenyum simpul. Mengangkat gelasnya dan menyesap kopi panasnya.

 

“Jadi, . . .” Miti memandang wajah pria di depannya sambil mengangkat kedua tangannya menghadap ke atas di depan pipinya. “Tentang permintaanku tadi. . . . bagaimana? Sudah tertutup kemungkinan rujuk?”

Bilyet mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi. “Emang apa yang membuat kamu masih berminat sama aku, Mit? Aku tetap suka ngegame kayak tujuh tahun yang lalu.”

“Ya . . . aku tahu, Bil, kamu masih suka main game. Tapi aku pikir, ya kita bisa ambil jalan tengah lah.”

“Seperti apa?”

“Ya, . . . kamu tetap bisa ngegame, tapi tetap lebih cermat dalam penggunaan uang. . . .”

Ucapannya menggantung di udara seperti adegan film dijeda.

“Kalau aku ingat-ingat lagi, dulu itu aku juga sudah memperhitungkan kondisi finansial kita,” Bilyet berujar. “Semua kebutuhan rumah tangga aku cukupi. Dana untuk tabungan dan investasi juga sudah aman . . .”

Ucapannya menggantung di ujung koma.

Suara pengunjung yang baru masuk meramaikan kafe itu, ditingkah suara pelayan mengucapkan salam. Seluruh sudut ruang seolah menjadi hidup. Bilyet melirik arlojinya. Bahkan waktu pun membeku di tempat duduknya. Miti menatap remah-remah roti terserak di piringnya.

 

“Kamu yakin kita bisa memulai lagi dari awal?” akhirnya Bilyet bertanya. “Dengan catatan ini itu di masa silam?”

“Ya, rasanya bisa,” Miti menjawab. “Tentu dengan beberapa penyesuaian. Ya intinya, masing-masing dari kita menyesuaikan diri lah.”

“Kalau kamu, penyesuaian apa yang kamu akan lakukan?”

Miti berkerut kening.

“Yah . . . apa yah? Rasanya aku sudah oke dari dulu. Aku perhatian ma kamu; aku masak ini itu buat kamu; aku rajin menjaga bentuk tubuhku . . . apalagi?”

Bilyet memandangnya lekat. Teruskan, batinnya.

Seolah tahu isi benaknya, Miti melanjutkan. Menyinggung relasi intim, menyinggung rumah yang rapi, menyinggung dukungan sunyi yang tak pernah pergi dari hatinya untuk karir suaminya.

“Aku masih cantikkah?’

Bilyet melihat wajah Miti sekilas lalu tersenyum datar. Pandangannya kembali ke meja.

Miti masih menyebut beberapa hal lagi. Akhirnya ia sampai di ujung penjelasannya. Ia memandang Bilyet tepat ke matanya. Lelaki itu mengalihkan pandangannya.

“Beri aku waktu, Mit,” katanya pendek.

“Oh . . . sebanyak itu masih belum cukup kah?”

“Mmm . . bukan begitu, Mit. Tapi . . . “ ia menggaruk sedikit dahinya. “Yah, intinya beri aku waktu yah?”

Mereka berdua beranjak dari kafe itu.

***

Bilyet pulang dengan mobilnya. Tanpa ia ketahui, dari jauh Miti membuntutinya dengan mobil kecilnya. Ketika Bilyet sampai ke rumahnya, membuka pagar dan memasukkan kendaraannya, Miti menunggu beberapa saat di ujung kelokan. Ketika suasana sudah makin sepi, ia mendekat perlahan-lahan ke sebuah pohon agak jauh dari rumah mantan suaminya.

 

Miti mengendap-endap. Pagar rumah Bilyet masih sedikit terbuka. Ia menyelinap masuk. Jendela di ujung rumah itu menguakkan seberkas cahaya dari tirainya. Miti berjalan tanpa suara. Perlahan ia menjulurkan lehernya untuk melihat ke dalam.

Suara Bilyet terdengar jelas.

“Aku tuh ketemu mantan istriku,” ia bisa mendengar Bilyet berbicara. “Ceritanya dia ini ngajak balikan. Mungkin dia kangen sama aroma tubuhku, hehehe . . . Dia bilang gak papalah aku main game asal tetap jaga kondisi keuangan. Lah, kan juga selama ini aku pastikan kondisi keuangan aman? Terus kan aku tanya gimana dia akan menyesuaikan diri kalau nanti jadi kembali lagi? Eh, dia bilang kan aku udah masakin kamu; kan aku udah perhatikan kamu, kan urusan ranjang juga aku pintar dan bla bla bla. Wah, tujuh tahun sudah dan dia belum juga paham kenapa aku ndak nyaman sama dia.”

Bilyet tertawa. Sebuah suara wanita menyambut tawanya. Renyah, dan lembut wanita itu menanggapi ucapannya: “Iya, mas Bilyet. Wanita kadang sudah merasa memberikan segalanya namun kurang peka terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan pasangannya.”

“Emang kamu tahu?” suara Bilyet diakhiri sebuah tawa menggoda.

“Ya, tahulah, Mas. Masa udah dua tahun usia hubungan kita, aku belum tahu apa yang membuatmu nyaman? Ya, kayak gini kan, didengerin, dipahami, tidak diomelin . . .”

Miti tersentak. Oh, ternyata pacar Bilyet seorang TKW kah? Bahasa Indonesianya lancar sekali.

Ia tak tahan untuk tidak menjulurkan lehernya lebih panjang.

Bilyet menghadap ke dinding, merebahkan kepala dan pundaknya ke pangkuan sesosok tubuh feminin berlekuk apik dengan rok mini putih. Wanita itu menghadapkan wajahnya ke arah Bilyet. Rambutnya layered bob, hitam, sedikit bergelombang. Hidung bangirnya mencuat dari raut elok wajahnya.

“Kamu pintar,” suara Bilyet terdengar sekali lagi. “Dah, bobok dulu sana.”

Lengan kanan Bilyet yang melingkar di paha sang wanita menunjukkan arlojinya dengan cahaya biru lembut yang berdenyar-denyar sejak tadi. Cahaya itu menyala panjang lalu padam. Sang wanita menundukkan kepalanya lalu terdiam kaku.

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi