Langit Jakarta di bulan Oktober selalu tampak seperti perunggu yang berkarat—suram, berat, dan menyesakkan. Bagi Darman, udara yang ia hirup setiap pulang kerja bukan lagi oksigen, melainkan beban yang perlahan-lahan mengeras menjadi batu di dalam parunya. Di usianya yang genap empat puluh tahun, Darman merasa hidupnya hanyalah sebuah lingkaran setan yang tak berujung. Ia berdiri di depan pintu kontrakan sempitnya, memegang kunci yang sudah mulai aus. Dari dalam, sayup-sayup terdengar denting piring yang diletakkan dengan kasar. Darman memejamkan mata sejenak, merapalkan doa yang sama setiap hari: Tuhan, beri aku telinga yang tebal malam ini.
Saat pintu terbuka, bau tumis kangkung yang terlalu banyak garam menyambutnya. Ratih, istrinya, sedang berdiri di depan kompor gas satu tungku. Tanpa menoleh, Ratih berucap dingin, "Susu Arga habis. Listrik sisa dua kwh. Tadi orang koperasi datang lagi."
Darman meletakkan tas ranselnya yang kusam di atas kursi plastik. "Iya, besok gajian, Ratih. Sabar sebentar."
Ratih berbalik, matanya merah, bukan karena asap dapur, melainkan karena api yang sudah lama menyala di dadanya. "Sabar? Kata itu sudah basi, Mas! Sepuluh tahun menikah, 'sabar' itu tidak bisa dipakai bayar cicilan motor yang nunggak dua bulan. Kamu itu laki-laki, tapi kenapa rasanya aku seperti hidup sendiri?"
Darman terdiam. Kata-kata itu seperti sembilu yang menyayat luka lama. Ia merasa gagal. Sebagai anak, ia belum pernah sekalipun mengajak orang tuanya di kampung untuk sekadar makan di restoran enak, apalagi memberangkatkan mereka umrah seperti yang dilakukan tetangganya. Sebagai suami, ia hanyalah mesin penghasil uang yang seringkali macet. Dan sebagai ayah... hatinya menjerit.
Di sudut ruangan, di atas kasur tipis yang dialasi tikar, Arga duduk diam. Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu memegang sebuah mobil-mobilan plastik yang rodanya tinggal tiga. Matanya yang jernih menatap lurus ke arah kedua orang tuanya. Ia tidak menangis, ia tidak berteriak. Arga hanya diam, namun diamnya anak kecil itu jauh lebih menyakitkan bagi Darman daripada makian Ratih.
"Lihat anakmu!" seru Ratih lagi, suaranya naik satu oktaf. "Anak tetangga sudah punya sepeda baru. Arga? Untuk sekadar beli es krim di minimarket saja aku harus mikir sepuluh kali. Kamu itu kerjanya apa, Mas? Masa dari dulu staf begitu saja tidak ada kemajuan?"
"Cukup, Ratih! Aku sudah berusaha!" suara Darman akhirnya pecah, meski ia berusaha menekannya agar tidak menggelegar.
"Berusaha apa? Berusaha untuk tetap miskin?"
Pertengkaran itu berlanjut seperti kaset lama yang diputar ulang. Kata-kata kasar beterbangan di udara yang sempit itu. Darman merasa martabatnya dikuliti habis-habis. Setiap hinaan Ratih adalah pengingat betapa tidak bergunanya ia. Ia ingin membalas, ingin membela diri bahwa ia lembur sampai tengah malam, bahwa ia rela tidak makan siang demi menyisihkan uang bensin. Tapi untuk apa? Fakta di meja makan tetaplah sama: piring yang lebih sering kosong daripada terisi daging.
Darman menoleh ke arah Arga. Anak itu kini menunduk, memutar-mutar roda mobilannya yang tersisa. Bahu kecil itu tampak gemetar. Darman merasa seperti pengecut. Ia gagal melindungi dunia kecil anaknya dari polusi pertengkaran orang dewasa.
Malam semakin larut. Ratih sudah tertidur dengan punggung menghadap Darman—sebuah tembok dingin yang tak tertembus. Darman bangkit dari lantai, mendekati Arga yang belum juga terlelap. Bocah itu pura-pura memejamkan mata, namun napasnya yang tidak teratur mengkhianatinya.
Darman duduk di tepi kasur. Ia mengusap rambut Arga yang halus. Hatinya perih. Ia ingat bulan lalu Arga meminta diajak ke kebun binatang karena melihat teman sekolahnya bercerita tentang jerapah dan gajah. Darman hanya bisa menjanjikan "nanti kalau bapak punya uang lebih". Namun, "nanti" itu tidak pernah datang. Gaji yang masuk setiap tanggal satu habis menguap dalam hitungan jam untuk membayar hutang warung, kontrakan, dan bunga koperasi.
Arga membuka matanya sedikit. "Bapak belum tidur?" bisiknya lirih.
Darman tersenyum getir. Ia merebahkan tubuhnya di samping Arga, menggunakan lengannya sendiri sebagai bantal untuk anaknya. Ruangan itu hanya diterangi lampu jalan yang merayap masuk lewat celah ventilasi.
"Arga... maafkan Bapak, ya," suara Darman serak, tertahan oleh gumpalan emosi di tenggorokan.
Arga menatap ayahnya. "Kenapa Bapak minta maaf?"
Darman menarik napas panjang. Ia ingin menumpahkan segala sesak di dadanya, tapi ia tahu Arga masih terlalu kecil untuk memikul beban itu. Namun, ia merasa perlu mengatakan ini. Ia ingin Arga memiliki kompas yang berbeda dari yang ia miliki.
"Bapak ini orang yang tidak beruntung, Nak. Bapak sudah kepala empat, tapi belum bisa buat kakek-nenekmu senang. Belum bisa buat ibumu tersenyum. Dan bapak... bapak bahkan belum bisa ajak kamu jalan-jalan ke luar kota seperti teman-temanmu."
Air mata yang sejak tadi ditahan Darman akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang kasar.
"Dengarkan Bapak, Arga. Suatu saat nanti, jangan jadi seperti bapak. Kamu harus lebih hebat. Kamu harus belajar yang rajin, jadilah orang yang punya kedudukan, punya pangkat, jadi pegawai yang sukses. Supaya apa? Supaya kamu tidak perlu diinjak-injak orang. Supaya kamu tidak perlu dengar istri kamu menangis karena tidak ada uang belanja."
Arga mengulurkan tangan kecilnya, menghapus air mata di pipi ayahnya. "Bapak orang baik. Arga sayang Bapak."
Kata-kata sederhana itu justru membuat dada Darman semakin sesak. Kasih sayang tanpa syarat dari anaknya terasa seperti hukuman yang lebih berat daripada kemarahan istrinya. Bagaimana mungkin malaikat sekecil ini harus lahir dari rahim kemiskinan yang ia ciptakan?
"Kamu harus beruntung, Nak. Nasib itu seperti roda, tapi Bapak rasa roda Bapak tersangkut di lumpur. Kamu harus punya mesin yang kuat untuk keluar dari lumpur ini. Maafkan Bapak yang cuma bisa kasih kamu makan seadanya. Maafkan Bapak yang rumahnya selalu berisik karena bapak tidak becus jaga keadaan."
Darman memeluk Arga erat-erat. Ia mencium kening anaknya lama sekali.
"Yakinlah, Nak... setiap sujud Bapak, isinya cuma nama kamu. Bapak minta sama Tuhan agar semua kesialan Bapak berhenti di Bapak saja. Jangan sampai turun ke kamu. Doa Bapak akan selalu jadi tameng buat kamu, meski Bapak sendiri tidak punya apa-apa untuk diberikan."
Arga tidak menjawab lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dada ayahnya, mendengarkan detak jantung Darman yang berdegup kencang—detak jantung seorang pria yang merasa hancur, namun masih mencoba menjadi pilar bagi anaknya.
Malam itu, di bawah atap seng yang mulai bocor, Darman bersumpah pada dirinya sendiri. Meski ia merasa gagal sebagai manusia, ia tidak akan membiarkan Arga tumbuh dengan mentalitas kegagalan yang sama. Ia akan menjadi arang; membiarkan dirinya habis terbakar asalkan bisa memberi sedikit kehangatan dan cahaya bagi jalan yang akan ditempuh anaknya kelak.
Ia tahu, esok pagi ia akan kembali bangun pukul lima, menghadapi maki-makian istrinya, menghadapi tumpukan pekerjaan yang membosankan, dan menghadapi cibiran dunia. Namun, selama ia masih bisa melihat Arga bernapas, ia akan terus bertahan. Karena bagi Darman, satu-satunya keberhasilan yang tersisa di hidupnya adalah memastikan anaknya tidak berakhir menjadi dirinya. Darman memejamkan mata. Di dalam kegelapan, ia membayangkan Arga dewasa mengenakan seragam rapi, tersenyum lebar di depan sebuah rumah besar, memegang tangan seorang wanita yang tidak perlu menangis karena kurangnya uang belanja. Bayangan itu cukup untuk membuatnya tertidur sejenak, sebelum kenyataan pahit membangunkannya kembali besok pagi.