Disukai
0
Dilihat
4
I Love u Mister
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Perkenalkan nama Dian, “ D” itu panggilan dari seseorang yang sampai sekarang ini masih sangat membekas di hati. Diri mu seperti pelangi, hanya mampu aku kagumi dari sini tanpa bisa sedikitpun aku sentuh apalagi aku miliki. Dan dari sini kisahku bermula..... Jatuh cinta itu sebuah perasaan yang manusiawi, wajar-wajar saja. Perasaan itu datang secara tiba -tiba dan bukan kita yang bisa atur. Kita tidak bisa memilih harus jatuh cinta pada siapa dan kapan. Disini aku akan bercerita pengalaman sebagai seorang mahasiswa di sebuah sekolah tinggi di Jogja yang mayoritas siswanya adalah cewek. Dan kebetulan ada dosen mapel Ilmu Komputer yang boleh dibilang juga masih muda. Sebut saja tiga puluh lima tahun. Eh, kalau di drama Korea itu sudah ahjussi. Secara profesional pun, menurut ku juga sangat wajar mahasiswa jatuh cinta pada dosennya, ya mungkin mahasiswa jatuh cinta karena dosennya bisa menerangkan perkuliahan dengan baik. Tapi sebentar, sebelumnya aku pastikan perasaan ini bener jatuh cinta atau sekedar kagum. Entahlah, sampai saat ini aku juga belum mampu untuk memastikan hal itu. Aku takutnya itu hanya emosi sesaat.

Aku rayakan kelulusan SMU tahun ini seperti para pendahuluku, konvoi di jalanan dan corat –coret seragam putih abu –abu yang selama tiga tahun ini selalu melekat di tubuhku. Bahagia, tentu saja karena ini merupakan fase akhir sekaligus fase baru di dalam hidupku. Dan saat itu aku sama sekali belum bisa menentukan langkah selanjutnya. Terus terang saja aku bingung. Mau ikuti jejak Mira, kakak ku yang sekarang hampir menyelesaikan S1 nya mengejar titelnya sebagai Sarjana Ekonomi atau langsung berkerja? Lulusan SMU kerja dimana? Sebagai apa? Jika dipikir –pikir aku tidak akan sanggup kuliah berlama –lama seperti yang dilakukan kakak ku. Bagiku sekolah itu menjemukan dengan segala tugas –tugas yang seabrek, apalagi jika harus menempuh S1. Tugas akhir atau skripsi yang mendengar namanya saja serta mendengar penjelasan dari Mbak Mira tentang dosen pembimbingnya yang sangat sibuk atau mungkin sok sibuk sehingga sulit ditemui. Pernah suatu ketika aku melihat Mbak Mira mengeluhkan tentang dosen pembimbingnya itu.

“ Kau tahu tidak Dek? “

Aku yang masih tengkurap di atas karpet sembari sibuk membolak –balik halaman majalah Kawanku hanya menjawab pendek.

“ Tidak tahu Mbak “

Jawaban ku yang sekenanya itu ternyata membuat mbak Mira keki, sembari menggerundel dia melempar kutang bekas pakai ke arah kepalaku.

“ Ih, apaan sih? “

“ Makanya dengerin dulu, ini penting juga untuk kamu. Sebentar lagi kau lulus SMU dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi “

Penuh rasa malas, majalah aku tutup lalu aku letakkan di atas ranjang. Aku duduk di samping kakak perempuan ku itu. Aku lihat wajahnya sangat kusut, rambutnya yang ikal tampak acak –acakan.

“ Ada apa sih Mbak?”

“ Baru putus cinta? Segitunya kusut banget “

Mbak Mira menarik nafas panjang. Lalu ia menggaruk kepalanya dan aku sangat yakin itu tidak gatal sama sekali.

“ Menyusun skripsi itu sebenarnya mudah, hanya saja kalau dapat dosen pembimbing yang killer bikin pusing. Sulit ditemui lebih mudah ketemu hantu malah, udah gitu revisi mulu. Bikin pusing “

Mbak Mira melempar draft skripsi yang sekilas aku lihat banyak di coret-coret menggunakan tinta pulpen berwarna merah. Dan itu sepenggal keluh kesah Mbak Mira mengenai skripsinya. Dia curhat mengenai hal itu tidak hanya satu kali atau dua kali. Akan tetapi, berkali –kali sehingga aku sampai hafal karena tiap cerita ya hanya berputar – putar seputar itu saja. Dosen pembimbing yang sulit ditemui. Revisi terus –terusan yang sepertinya tidak ada ujung pangkal.

Senja itu cuaca cerah. Langit pun biru jernih dironai warna merah kekuningan sisa matahari di ufuk barat. Suasana kampung Bojong tampak adem, tenteram. Jalan raya yang membelah dua desa itu tenang pula tampaknya. Hanya satu dua kendaraan melaju di atas aspal yang berwarna kelabu karena dilapisi sedikit debu. Angin senja bertiup lembut membawa hawa sejuk segar, menimbulkan perasaan nyaman dan menyenangkan.

  Aku duduk di teras rumah, mama papa ku duduk tepat di depan ku diatas kursi rotan yang dipelitur dengan warna cokelat tua.

  “ Dek, kalau kau tidak mau seperti kakakmu terus bagaimana?”

  Mama ku bertanya dengan lembut. Aku tidak segera menjawab hanya tersenyum, sesaat mulutku akan terbuka.

  “ Kau boleh tidak kuliah seperti kakak mu, tapi perlu kau ingat ijazah SMU jaman sekarang itu tidak laku Dek?”

  Kali ini papa ku yang bersuara, meskipun suaranya masih lembut akan tetapi sudah cukup membuatku terintimidasi. Sesaat lamanya sunyi berlalu dengan kaku.

  “ Dian, sudah punya pilihan sendiri Pah “

  “ Apa itu?”

  “ Dian, ingin ikut diklat penerbangan saja. Sekolah sebentar dan selanjutnya sudah bisa kerja di bandara. Diklat enam bulan itu sangat cocok buat Dian “

Itu keinginan ku kemaren saat aku menerima brosur di sekolah usai pengumuman kelulusan, di situ tertera website dari sekolah pernerbangan itu. Tidak buang waktu aku kunjungi official websitenya dan dari situlah aku baca mengenai model pembelajaran dan materi –materi apa saja yang akan aku dapatkan selama mengikuti pelatihan disana. Dan hatiku mantap. Pelatihan ini yang akan aku ambil.

  “ Kau ingin jadi pramugari Dek?”

  Suara mama membuyarkan lamunan ku.

  “ Mmmmm... enggak juga, tetapi di bagian staffnya. Dian takut terbang Mah?”

  Aku menjawab dengan malu –malu.

Perlahan aku ambil brosur dari dalam saku kemeja ku. Brosur berwarna biru dengan gambar pesawat terbang lengkap dengan awak kabinnya. Papa ku terdiam, beliau lalu meraih cangkir berisi kopi yang tinggal separuh itu dan meminumnya. Nikmat sekali. Tangannya terulur mengambil brosur itu dari atas meja. Sejenak membetulkan letak kacamata dan mulai membaca brosur itu.

  “ Papa dan mama tidak akan melarang cita –cita mu itu, lakukan saja sesukamu. Tapi ingat, kau harus bertanggung jawab penuh atas pilihan mu itu. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan untuk kebaikan mu “

  “ Mama, ingin bertanya sekali lagi pada mu Dek”

  “ Sekolah ini kan di Jogja, dan ini pertama kalinya kamu jauh dari orang tua. Kau siap?”

  Aku tersenyum. Kekhawatiran orang tua ku bukan tanpa alasan, aku anak bungsu yang kadang –kadang masih suka manja dan tidak bisa mengatasi masalahku sendiri. Akan tetapi, aku juga ingin membuktikan ke mereka berdua bahwa aku mampu dan aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri.

  “ Aku sudah memikirkan itu masak –masak Mah, jadi mama dan papa tidak usah cemas. Dian bisa jaga diri “

  “ Baiklah kalau begitu, tetapi sebelumnya ada proses daftar ke sekolah itu dan tentu saja kamu musti cari kos. Mengenai hal itu mama yang akan menentukan kamu kos dimana. Mama khawatir lingkungannya tidak sehat “

Aku mengangguk. Mama berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk ku dengan erat. Aku balas pelukan hangatnya itu. Sekian lamanya kita berdua berpeluk –pelukan, detak jantung ku seperti membaur dengan detak jantung mama. Berada dalam dekapannya sangat nyaman dan tentram.

Dua minggu sudah aku berada di Yogyakarta, kota pelajar hampir sebagian besar penghuninya adalah para pelajar dari luar daerah, bahkan luar pulau. Satu kata untuk kota Jogja adalah romantisme. Sudut –sudut kotanya menghadirkan sesuatu yang berbeda dan mungkin akan membuatku rindu suatu saat nanti. Dan hari ini hari pertama aku mengikuti pelatihan di kampus penerbangan. Sudah sejak tadi jam empat aku bangun membuka mata, setelah sholat Subuh beres –beres kamar lalu beranjak pergi mandi. Hampir setengah jam aku berdiri tegak di depan cermin di kamar kos.

Suasana depan kampus tampak lengang, parkir motor telah terisi penuh. Aku melirik sekilas ke arah arloji ku, entah sudah berapa kali aku melihat ke arah arloji ku pagi ini. Tepat pukul 08.05 dan aku terlambat lima menit. Aku berlari –lari kecil di sepanjang koridor yang akan membawaku ke dalam kelas. Saat itulah tiba –tiba dari depan ku muncul sesosok tubuh. Jika saja orang itu tidak menghentikan langkahnya sudah barang tentu kita akan bertabrakan. Seorang lelaki muda, mungkin berumur dua puluh delapan tahun. Ia sangat rapi sekali, rambutnya tampak mengkilat di sisir ke belakang. Setelah blazer hitam dengan kemeja biru langit, celana panjang kain dipadu dengan sepasang sepatu hitam yang mengkilat. Cukup tampan, terlalu tampan malah menurut pandangan mata ku ini.

Lelaki itu mengangguk ke arah ku, lalu tersenyum untuk kemudian berlalu pergi masuk ke salah satu ruangan di sisi kanan koridor. Aku sejenak hanya bisa terpaku di tempatku berdiri. Setelah baru ingat kalau aku sudah terlambat buru –buru aku berlari lagi ke arah kelas yang tampaknya sudah terisi penuh. Terdengar dari suara berisiknya yang merembes keluar kelas. Tanpa permisi lagi, aku buka pintu lalu nyelonong masuk. Aman belum ada pengajarnya. Dan memang benar semua kursi telah terisi, hany a tinggal deretan depan yang beberapa masih kosong. Aku celingukan, bingung mau duduk dimana. Beberapa teman yang aku kenal saat acara pra kuliah tersenyum ke arahku. Aku balas senyuman itu dengan canggung. Suasana kelas yang tadinya riuh rendah tiba tiba tanpa dikomando berubah menjadi hening manakala dari balik pintu yang terdorong dari luar masuk sesosok tubuh. Dan aku setengah terkejut melongo..si tampan jeritku dalam hati. Si tampan yang baru saja hampir aku tabrak. Oh...jadi dia pengajar di kuliah perdana ini. Mungkin pipi ku bersemu merah jika aku bisa melihatnya sendiri. Entah mengapa jantungku jadi berdegup kencang.

 Sudah seminggu sejak pertemuanku dengan Mister Aditya, semakin lama sosoknya semakin tidak dapat aku lupakan. Seperti siang ini saat praktikum di lab. Mister Aditya sibuk mondar mandir dari satu kursi ke kursi lain mengecek hasil kerja anak –anak. Aku duduk di paling belakang bersebelahan dengan Berta. Tiga soal praktikum yang diberikan belum satupun yang aku kerjakan. Sementara Berta sibuk mencoba mencari formula dari materi excel logika If Ganda, berkali –kali terdengar ia ngedumel karena belum juga menemukan formula yang dimaksud.

Aku mencoba mengerjakan soal nomor satu dan nasibku tidak jauh berbeda dengan Berta. Mentok. Programnya sama sekali tidak mau jalan dan bahkan error.

“ Gimana ini Ber, aku nyerah pusing “

“ Padahal sudah aku kerjakan sesuai dengan penjelasan Mister Aditya, teteapi kenapa gagal terus ya?”

Aku hanya angkat bahu, “ Tanyakan saja langsung ke Mister Aditya “

“ Mister......”

Berta berteriak dari kursi paling belakang, Mister Aditya yang baru menjelaskan di kursi Aulia menengok ke belakang.

“ Iya, sebentar “

Tidak berapa lama, Mister Aditya datang ke kursi kami. Jantung ku kembali seperti dipacu. Berdetak -detak kencang.

“ Bagian mana yang masih sulit Ber? “

Mister Aditya bertanya dengan ramah dan simpatik.

“ Sebenarnya Dian yang mau tanya Mister, bukan saya “

Berta nyengir lalu kembali sibuk dengan komputernya tanpa peduli kepadaku yang saat itu debaran kencang di dada makin bergemuruh.

“ Soal mana yang tidak kau pahami D ?”

Aku terpaku, tidak mampu berucap kata sepatah pun.

“ Hei, D jangan diam saja. Soal mana yang tidak kau pahami ?”

“ Eh..eh..iii..iya Mister yang soal nomor dua. Saya masih bingung “

Mister Aditya menjelaskan kepadaku dengan sangat rinci dan detail. Pada saat ini mengambil mouse dari tangan ku tanpa sengaja jemari kami saling bersentuhan. Jantung ku kembali berdetak –detak tidak karuan. Dan inilah moment paling dekat antara aku dengan Mister Aditya. Ia berdiri tepat di belakangku hanya berjarak satu centi dari punggungku. Ya Tuhan, ampuni dosa ku! Aku mencintai suami orang!Jeritku dalam hati.

9 November 2019

Di tanggal itu Mr. Aditya merayakan ulang tahunnya yang ke 35. Kami sekelas sepakat memberikan beliau kejutan ulang tahun. Satu kelas yang berisi sekitar 35 siswa iuran sebesar 5ribu/anak. Sekedar membelikan kue ulang tahun yang sangat sederhana. Dan waktu itu aku berharap agar akulah yang memberikan kue itu. Namun, harapanku sia -sia. Ketua kelaslah yang berhak melakukan itu. Sebenarnya aku ingin sekali menawarkan diri. Tapi aku malu. Dua minggu setelah ulang tahun msiter Aditya yang kami rayakan satu kelas. Ini hari terakhir aku belajar di kelas dan dua bulan kedepan aku harus menempuh OJT di salah satu bandara besar di Jakarta meninggalkan Jogja dan meninggalkan Mister Aditya. Tiba –tiba ada perasaan sedih yang hinggap dan terasa mengiris hati.Tidak terasa kedua mataku berkaca –kaca.

Mister Aditya berdiri di depan kelas, hari ini hari Sabtu jadi kebijakan kampus jika hari Sabtu mulai dari siswa dan pengajar dress code nya baju bebas. Begitupun dengan Mister Aditya, hari ini ia memakai cardigan warna hitam depadu dengan kaos abu –abu. Celana hitamnya dipadu dengan sepatu kets converse berwarna biru donker. Melihat penampilannya kali ini, ia terlihat lebih muda lima tahun dari usia sebenarnya.

“ Terimakasih atas perhatiannya mengikuti pelajaran saya selama empat bulan ini. Saya mohon maaf jika ada kesalahan selama saya mengajar. Saya berharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu dan saya tunggu kabar sukses dari kalian semua. Ini bukan akhir tapi fase permulaan kalian melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Sampai jumpa dan terimakasih “

Itulah sepenggal kalimat perpisahan dari Mister Aditya yang diucapkan tadi siang di dalam kelas. Sejauh ini aku berfikir, cinta tidak salah, mencintai seseorang juga tidak salah. Tetapi, keadaan lah yang salah dan aku juga yang salah berani mencintai suami orang. Memang Mister Aditya baik terhadapku, tetapi aku tidak boleh besar kepala karena ia juga baik dengan semua teman –teman ku. Itu sudah jadi tugasnya sebagai seorang pengajar. Dan meskipun aku sangat mengaguminya, aku hanya bisa mengucapkan ini dalam hati saja, dirimu akan aku simpan di dalam hati meski aku tahu ini salah. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu.

  I love u mister




Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)