Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi rumah kontrakan Budiman yang sempit. Di meja kayu yang catnya sudah mengelupas, kepul uap dari cangkir kopi hitam menjadi satu-satunya kemewahan yang ia reguk sebelum berangkat mengajar.
"Bapak, beneran hari Minggu kita ke kebun binatang?"
Suara mungil itu memecah keheningan. Raka, bocah laki-laki berusia lima tahun dengan rambut jabrik yang belum sempat disisir, berdiri di ambang pintu kamar sambil memeluk boneka jerapah lusuh. Matanya berbinar penuh harap, sebuah binar yang membuat tenggorokan Budiman terasa tercekat. Budiman tersenyum, meski dalam hati ia sedang menghitung sisa saldo di rekeningnya yang hanya cukup untuk bensin motor dan uang makan hingga akhir bulan. Namun, melihat wajah putra semata wayangnya, logika itu ia singkirkan jauh-jauh.
"Iya, Jagoan. Bapak sudah janji, kan? Kita lihat gajah, harimau, sama monyet yang lucu-lucu itu," jawab Budiman sambil mengusap kepala Raka.
Bagi orang lain, tiket masuk kebun binatang mungkin hanya seharga satu kali makan siang di mal. Tapi bagi Budiman, seorang guru honorer di sekolah swasta dengan gaji "cukup"—cukup untuk menyambung napas dari tanggal satu ke tanggal berikutnya—perjalanan itu adalah sebuah perayaan besar. Ia sudah menyisihkan uang receh demi receh di dalam kaleng biskuit bekas selama tiga bulan terakhir hanya untuk hari itu.
"Hore! Nanti Raka mau kasih makan jerapah kayak di buku, Pak!" Raka melompat kegirangan, tawanya memenuhi ruangan sempit itu, memberi energi tambahan bagi Budiman untuk memacu motor tuanya menuju sekolah.
Suasana sekolah pagi itu tampak biasa saja. Budiman baru saja menyelesaikan jam pelajaran pertama dengan penuh semangat. Ia bahkan sempat memberikan pujian pada murid-muridnya karena hasil ulangan harian yang memuaskan. Sebagai guru yang tidak pernah sekalipun datang terlambat atau absen tanpa alasan yang mendesak, Budiman merasa posisinya aman. Ia mencintai pekerjaan ini, dan ia yakin sekolah pun mencintainya.
Saat sedang merapikan buku di ruang guru, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk.
Dari: Bu Eva (Kepala Sekolah)
Budiman tersenyum tipis. Mungkin instruksi untuk rapat kurikulum, pikirnya. Namun, begitu jempolnya menyentuh layar, dunianya seolah runtuh seketika.
“Selamat pagi, Pak Budiman. Melalui pesan ini, kami dari pihak Yayasan ingin menyampaikan bahwa terhitung mulai hari ini, masa bakti Bapak di sekolah ini telah berakhir (PHK). Keputusan ini diambil karena adanya kebijakan perampingan tenaga pendidik. Terima kasih atas dedikasi Bapak selama 5 tahun ini. Mengenai administrasi sisa gaji, silakan hubungi bagian keuangan.”
Budiman terpaku. Huruf-huruf di layar ponselnya seakan menari-nari mengejeknya. Lima tahun. Lima tahun ia mengabdi, berangkat saat fajar dan pulang saat senja, mengoreksi tugas hingga larut malam, dan semuanya diselesaikan hanya dengan beberapa baris kalimat di aplikasi percakapan. Tanpa surat resmi, tanpa tatap muka, tanpa peringatan.
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegup kencang karena amarah yang bercampur kesedihan, Budiman mencoba menelpon Bu Eva. Ia butuh penjelasan. Ia butuh tahu di mana letak kesalahannya hingga ia dibuang seperti sampah yang sudah tidak diperlukan.
Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua baru diangkat pada nada keenam.
"Halo, selamat siang Pak Budiman," suara Bu Eva terdengar sangat tenang, bahkan terlalu ramah, kontras dengan isi pesan yang baru saja ia kirim.
"Selamat siang, Bu... Saya... saya baru saja menerima pesan Ibu. Apa benar saya di-PHK? Apa ada kesalahan dalam kinerja saya, Bu? Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik..." Suara Budiman bergetar, ia berusaha keras menahan tangis agar tidak pecah di hadapan rekan guru lainnya yang mulai melirik ke arahnya.
"Oh, soal itu. Begini Pak Budiman," terdengar helaan napas di seberang sana. "Kinerja Bapak sangat baik. Kami dari yayasan sangat puas, sungguh. Pak Budiman adalah salah satu guru paling disiplin yang kami miliki."
"Lalu kenapa saya, Bu? Kenapa sekarang?"
"Hanya saja... situasi ekonomi yayasan sedang tidak kondusif. Kita harus melakukan perampingan. Ini murni keputusan manajemen, bukan karena masalah personal. Sewaktu-waktu kalau situasi sudah membaik, mungkin kami akan menghubungi Pak Budiman lagi. Saya harap Bapak mengerti."
"Tapi Bu, saya punya keluarga. Saya..."
"Maaf ya Pak Budiman, saya sedang ada rapat penting. Semua sudah jelas di pesan tadi. Sukses untuk Bapak di tempat lain."
Klik.
Sambungan terputus. Budiman menatap layar ponselnya yang kini gelap. Kalimat "kami puas dengan kinerja Bapak" terasa seperti racun yang manis. Jika mereka puas, mengapa ia yang harus pergi? Jika ia berprestasi, mengapa kepastian hidupnya diputus hanya lewat jempol di atas layar?
Budiman berjalan gontai menuju parkiran motor. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap langkah menguras seluruh tenaganya. Di gerbang sekolah, ia melihat anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, mengingatkannya pada Raka yang saat ini pasti sedang bercerita pada boneka jerapahnya tentang rencana hari Minggu nanti.
Ia duduk di atas motor, menundukkan kepala di atas kemudi. Di dalam hatinya, sebuah badai sedang mengamuk. Bagaimana ia akan menjelaskan pada istrinya? Bagaimana ia akan menatap mata Raka besok pagi saat ia tidak lagi mengenakan seragam gurunya?
Satu tetes air mata jatuh mengenai tangki motornya yang berdebu. Budiman merogoh sakunya, menyentuh beberapa lembar uang ribuan hasil tabungannya untuk ke kebun binatang. Uang itu sekarang bukan lagi uang untuk melihat gajah atau harimau, melainkan uang untuk menyambung hidup yang entah akan dibawa ke mana esok hari.
Matahari siang itu terasa sangat menyengat, namun di dalam dada Budiman, segalanya terasa beku dan sunyi. Janji yang ia buat pagi tadi kini terasa seperti belati yang siap menikam hatinya sendiri setiap kali ia mengingat tawa riang Raka.
Budiman tidak langsung pulang. Ia memarkirkan motornya di bawah pohon rindang di pinggir jalan, membiarkan kebisingan lalu lintas kota meredam jeritan di kepalanya. Pukul dua siang—biasanya ia masih di dalam kelas, semangat menjelaskan materi atau bercanda dengan rekan guru. Kini, ia hanya seorang pengangguran yang duduk di trotoar dengan debu yang menempel di kemeja rapinya.
Ia membuka kembali pesan WhatsApp itu. Membacanya berulang kali seolah berharap ada kata "Salah Kirim" yang muncul di bawahnya. Namun, tetap saja, nama "Pak Budiman" tertulis jelas di sana. Sosok Bu Eva yang biasanya tersenyum anggun saat menyapa di koridor sekolah, kini menjelma menjadi bayangan dingin yang tega memutus nasib seseorang tanpa keberanian untuk menatap mata.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia menghidupkan mesin motor. Ia harus pulang. Ia harus menghadapi kenyataan yang lebih keras daripada aspal jalanan: wajah Raka.
"Bapak pulang!"
Suara cempreng Raka menyambutnya bahkan sebelum Budiman melepas helm. Bocah itu berlari dari arah ruang tengah, membawa selembar kertas gambar yang penuh dengan coretan krayon berwarna-warni.
"Lihat, Pak! Raka gambar kita berdua di depan kandang singa. Ini Bapak, ini Raka, terus ini gajahnya gede banget!" Raka memamerkan gambarnya dengan mata berbinar-binar.
Budiman merasakan dadanya sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit paru-parunya. Ia berlutut, mencoba menyejajarkan tingginya dengan sang putra. Ia ingin menangis, ingin berteriak bahwa hari Minggu besok mereka mungkin tidak bisa pergi, bahwa uang di kaleng biskuit itu mungkin harus digunakan untuk membeli beras minggu depan.
Namun, yang keluar dari mulutnya justru sebuah kebohongan yang pahit.
"Bagus sekali gambarnya, Nak. Simpan ya, nanti kita bawa ke sana," bisik Budiman sambil memaksakan sebuah senyuman.
Istri Budiman, yang baru saja keluar dari dapur, menyadari ada yang berbeda. Ia mengenal suaminya lebih dari siapapun. Ia melihat bahu Budiman yang merosot, matanya yang merah, dan cara suaminya memeluk Raka yang terlalu erat—seolah sedang mencari pegangan agar tidak jatuh.
Malam itu, setelah Raka terlelap dengan mimpi-mimpi tentang jerapah dan es krim, Budiman duduk di ruang tamu yang temaram. Di hadapannya, istrinya duduk terdiam setelah mendengar seluruh cerita tentang pesan singkat dari Bu Eva.
"Lima tahun, Bu... Tanpa surat peringatan, tanpa bicara baik-baik. Hanya WA," suara Budiman pecah. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. "Besok aku harus ke mana? Mencari kerja di tengah bulan seperti ini bukan hal mudah. Dan Raka... aku sudah janji padanya."
Istrinya mendekat, menggenggam tangan Budiman yang kasar. "Kita akan cari jalan keluar, Pak. Soal kebun binatang... mungkin kita bisa beri pengertian ke Raka?"
Budiman menggeleng cepat. "Jangan. Jangan lukai harapannya. Dia sudah menanti ini berbulan-bulan. Biarlah aku yang menelan perihnya, asal jangan dia. Biarlah besok aku berkeliling kota mencari sekolah lain yang mungkin butuh guru pengganti, atau apa saja... apa saja asal ada uang masuk."
Malam itu, Budiman tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur. Keputusan PHK itu bukan hanya memutus pekerjaannya, tapi juga seolah menguji harga dirinya sebagai seorang ayah. Di luar, suara jangkrik bersahutan, seolah ikut meratapi nasib seorang guru yang kinerjanya "memuaskan" namun nasibnya dibuang lewat pesan singkat yang menggantung tanpa solusi.
Keesokan paginya, Budiman tetap bangun pagi-pagi sekali. Ia tetap mandi, memakai kemeja yang paling rapi, dan menyisir rambutnya dengan minyak rambut favoritnya.
"Bapak mau kerja?" tanya Raka sambil mengucek mata.
"Iya, Nak. Bapak berangkat dulu ya. Raka jadi anak pintar di rumah," jawab Budiman.
Ia berangkat seperti biasa, agar Raka tidak curiga. Namun, tujuannya bukan lagi sekolah swasta di ujung jalan itu. Budiman memacu motornya menuju pusat kota, membawa beberapa map berisi curriculum vitae yang ia cetak tadi malam di warnet dekat pasar.
Di dalam tasnya, masih ada kaleng biskuit berisi uang recehan. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, entah ia harus menjadi kuli panggul atau pengojek seharian ini, hari Minggu nanti ia harus tetap melihat Raka tertawa di depan kandang jerapah. Meskipun setelah itu, ia tidak tahu lagi bagaimana cara menyambung hari-hari berikutnya. Budiman terus melaju, melawan rasa pedih di hati demi satu-satunya alasan yang membuatnya tetap bertahan: senyum tulus anak lelakinya yang belum tahu betapa kejamnya dunia orang dewasa.