Hidup ini bukanlah pilihan kita, bukan kemauan kita. Kita tak tahu kapan itu terjadi dan apa tujuannya. Bahkan berpikir untuk itu saja tidak. Inilah takdir yang diberikan sang Illahi bagi makhluk yang terlah diciptakan di dunia ini.
Menjadi sempurna, kalangan atas dengan harta yang bergelimang, serta relasi orang penting tak pernah di bayangkan. Itu juga baru disadari setelah beberapa tahun dari kelahiran di dunia. Sungguh sebuah kemudahan menjadi hidup yang tak tahu kemana arah perjalanan ini berlanjut.
Namun, tak semua anak mendapatkan semua itu. Hidup dengan harta bergelimang, apa-apa keinginan terpenuhi, kesempurnaan serta koneksi ke segala macam pemegang keberlangsungan hidup hanya sebuah angan-angan saja. Bahkan, di dalam mimpi pun hal itu tidak berlaku.
Itulah yang kualami selama ini. Lahir dari kalangan bawah, keturunan rusak, tiada kesempurnaan materi serta hal buruk lainnya ditimpakan pada diri ini sejak tercipta di dunia. Jangankan mendapatkan apa yang dimau, melakukan hal seperti anak lain saja tidak mampu.
Di saat itu aku masih mungil dan imut. Biasa aku bermain dengan teman-teman. Tentu Ibu atau Ayah selalu mengawasiku. Katanya untuk menjaga tubuh sekecil ini.
Kal itu ada layang-layang terputus dari benang. Itulah kesempatan emas untuk mendapatkan sebuah mainan secara gratis. Aku? Belum mengenal apa itu perasaan dan hukum. Tentu saja mengikuti teman-teman untuk mengejar benda melayang itu. Arah angin menjadi petunjuk kemana benda itu turun.
Apa yang terjadi? Ibu yang menyayangiku sepenuh hati langsung menghadap dan menggendongku.
“Sayang, jangan kau ikut temanmu. Lihatlah dirimu sendiri, kamu tidak seperti mereka,” ucapnya.
Argh, kesal sekali diri ini. Ingin sekali aku merasakan apa yang mereka rasakan. Namun, sang ibu tak memberikan akses melakukan itu. Memberontak pun percuma. Tubuh ini tak bisa melakukan perlawanan.
Memang kuakui aku tak seperti yang lain. Punya tubuh sempurna, bebas melakukan apa saja. Sedangkan aku hanya anak lumpuh yang bisa berdiri saja sudah beruntung. Belum lagi kulit ini bisa terbakar akibat paparan cahaya matahari.
Baiklah, mungkin layangan cuma benda tak berguna dan bisa dibuat sendiri oleh Ayah. Bagaimana dengan yang lain?
Di kala itu Ibu mengajakku ke hutan. Ya, bagaimana lagi. Di rumah tidak ada siapa-siapa, bahkan tetangga pun tidak ada. Dengan tubuh tak sesempurna yang lain, aku dipaksa diajak ke dalam area penuh kehidupan liar.
Di dalam sana mereka sedang mencari sesuatu dengan sesuap nasi. Ingin sekali aku membantu Ibu tetapi tidak tahu apa itu. Bahkan diizinkan turun saja tidak. Diri ini berada di dalam gubuk yang terkunci dari luar. Bu, aku harus bagaimana? Aku ini bukan boneka kehidupan.
Kesal, sedih, bercampur menjadi satu. Kumerasa seolah orang yang paling menyayangiku tidak bisa mengerti anaknya sendiri. Perasaan ini seolah tidak bisa terkoneksi dari hati ke hati.
Jalan ibu tidak bisa memuaskan hati, jalan ayah menjadi pilihan alternatif. Di saat itu hari sedang gelap. Aku mendekat ke Ayah yang sedang beristirahat seusai seharian bekerja.
“Ayah, apakah aku boleh?” tanyaku dengan penuh keraguan.
“Kamu mau apa?”
“Ayah, mengapa aku tak sama dengan yang lain? Aku ingin seperti mereka. Main bersama, lari bersama. Mengapa Ibu tak mengizinkanku?”
“Sayang, kamu diciptakan istimewa oleh Tuhan. Sebab itu Ibu tak membiarkanmu main seperti anak lain. Ibu tahu semua itu.”
“Mengapa aku diciptakan seperti ini? Mengapa Tuhan tidak adil? Apakah aku makhluk produk gagal?”
“Tuhan tak pernah gagal dalam menciptakan. Kamu diciptakan seperti itu karena kamu diciptakan spesial untuk Ayah dan Ibu. Percayalah pada Ayah, kamu akan menjadi orang hebat jika bisa melewati semua ini.”
Jawaban Ayah tak seperti yang kumau. Bukannya aku mendapatkan dukungan, malah harus menerima keadaan ini. Lalu aku harus apa?
Di bawah sinar rembulan, kuberserah diri. Ketidakperdayaan tubuh ini membuatku tak bisa melakukan hal yang anak lain lakukan. Namun, aku inginkan semua itu. Tuhan, apakah tidak ada jalan lain? Kapan aku bisa melakukan itu?
Namun, di balik itu semua masih ada kenikmatan yang tak dimiliki anak lain. Setidaknya aku anak tunggal. Segala perhatian tercurahkan sepenuhnya kepadaku. Bahkan, orang lain yang kasihan melihatku juga menjadi sayang padaku.
Salah satu bukti yang pernah mata ini memandang sendiri adalah saat ada pesta di tetangga. Walaupun aku tak duduk di kursi roda dan berjalan seperti mungkin seperti yang lain, aku tetap mendapatkan kasih sayang lebih. Termasuk juga kasih sayang sang tuan rumah terhadap tamu yang lebih padaku.
Kala itu aku sedang digandeng Ibu untuk menghadiri undangan. Sebuah kursi disiapkan untuk, hanya aku saja. Sedangkan yang lain harus mencari kursi sendiri. Ya, walaupun aku sih sebenarnya juga iri pada mereka yang bisa bermain bebas tanpa ada beban di tubuh.
Karena kesibukan Ibu, aku ditinggalkan sendiri. Entah mengapa Ibu tak khawatir lagi tentang diri ini. Mungkin saja di sana ada banyak kerabat dan orang kepercayaan. Jadi, aku ditinggalkan dengan kerelaan.
Kursi yang kududuki dimiringkan dari belakang. Aku pun terperosok ke depan. Kepala terasa pusing setelah menghantam kursi lain dengan keras.
“Hahaha,” tawa anak-anak.
Malu, kesal, marah, bercampur menjadi satu. Hati ini ingin membalas perbuatan mereka. Namun, apa daya. Untuk berdiri saja aku kesulitan jika tidak dibantu orang lain.
Aku tak tahu apa yang terjadi di belakang, yang dialami para teman-teman yang jahat padaku. Inti yang kuterima, mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Tak sedikit dari mereka yang menangis akibat terkena marah dan hukuman lain. Yah, aku tak bisa menyaksikannya sendiri.
Sabar, hanya itu yang bisa kulakukan sambil terus berharap Ibu segera datang memberikan bantuan seperti biasa. Aku juga berusaha untuk bangkit guna menutup malu di dalam diri ini.
Seseorang mengulurkan tangan kanan. Kulitnya mulus menandakan sebuah kelembutan hati. Kuraih tangan itu agar bisa bangkit dan duduk seperti semula.
Pandangan mengarah ke orang tersebut. Kukira Ibu, ternyata bukan. Malu terasa di dalam hati ini tak bisa dibendung lagi.
“Maafkan anakku, Nak. Memang orangnya seperti itu. Kamu jangan lapor, ya. Anggap saja cuma main-main saja,” kata orang itu.
Duh, aku jadi salah tingkat.Aku harus apa? Ibu dari anak yang mendorongku malah membantuku. Namun, aku tolak untuk menyentuh bagian yang sakit.
“Tidak usah, Tante. Aku tidak sakit,” ucapku.
Mau bagaimana lagi, kening terdapat luka memar. Aku tak bisa menyembunyikan itu dari orang di sana dan menjadi pusat perhatian beberapa orang. Mereka membantu mengobati luka ini walaupun tanpa dimintai bantuan.
Itulah yang aku alami di hari itu. Menjadi anak istimewa tidak selalu buruk. Kasih sayang orang sekitar membuatku terkadang melupakan keadaan diri ini. Kumerasakan sebuah kesenangan tanpa mempedulikan para teman cemburu padaku.