“Bu, kenapa anjing itu terus menggonggong dari kemarin?” tanya Damar, menunjuk halaman rumah besar di ujung jalan.
“Mungkin belum dikasih makan sama tuannya,” jawab Ibu tenang, tanpa berpaling dari tali jemuran baju.
Memasuki minggu kedua, halaman itu senyap. Lengkingan bising, yang biasa memekakkan telinga tiap kali rombongan mobil mewah melintas, kini tak terdengar lagi. Damar melongok dari balik jendela.
Sisi pagar besi menyajikan pemandangan berbeda. Anjing itu tampak mendekam manis. Lehernya diikat kalung baru yang mengilat. Ekornya mengibas pelan, sementara moncongnya sibuk mengunyah sepotong daging premium yang dilemparkan dari balik pintu utama.
“Bu, anjingnya sudah tidak menyalak lagi. Sudah kenyang, ya?”
Ibu tersenyum tipis. “Bukan cuma kenyang, Nak. Dia sudah tahu rasanya jadi bagian dari dalam rumah.”