Disukai
0
Dilihat
7
Toba Samo
Sejarah
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Walaupun berlumuran darah, Bago sang werewolf coklat akhirnya sampai di rumah. Ia masih sempat untuk mengetuk pintu.

Sang pemilik rumah membuka pintu dan ia dikejutkan dengan kehadiran sang sepupu dalam keadaan sekarat.

"Siapa yang melakukan ini, Bago?" tanyanya dengan penuh amarah.

"Samo si minotaur. Ia berada di kebun Nila si duyung," ucapan terakhir Bago sebelum tak sadarkan diri.

Toba sang werewolf yang berwarna coklat itu berlari menuju ke tempat yang disebutkan Bago. Namun, dia tak tahu dimana kebun Nila dan siapa Nila. Lelaki itu bertanya kepada siapa saja yang ditemukan.

Setelah mendapatkan informasi, Toba langsung pergi ke sana. Di cekungan dan subur, terdapat banyak lahan pertanian. Ia berfokus pada pemiliknya. Hanya ada satu duyung yang di sana, tetapi bukan perempuan. Toba langsung menemuinya.

"Apa gerangan saudara kemari?" tanya sang duyung.

"Aku mencari Nila si duyung putih," jawab Toba.

"Dia tadi dibawa pergi Samo sang minotaur. Rumahnya ada di lereng bukit Todi .

Sesampainya di lereng itu, Toba menjumpai rumah satu-satunya di sana. Kedua cakar digoreskan pada dinding rumah tersebut hingga berlubang.

Sang pemilik rumah yang tidak terima keluar dari tempat tersebut dalam keadaan marah besar. "Siapa yang mengganggu?"

"Kau namanya Samo?" tanya Toba sedikit pelan.

"Iya," jawab sang minotaur.

Toba langsung mengamuk. Kedua bola matanya memerah. Cakar kanan dan kiri mencabik lawannya.

Samo terkejut atas serangan. Beberapa kali ia mengelak dan juga menahan dengan benda apapun di sana. "Kau sedang apa?"

Perkelahian itu tak terhindarkan lagi. Samo yang kesal menyerang balik dengan mengandalkan tenaga yang kuat. Untuk Toba sendiri mengandalkan kecepatan serangan tinggi. Kedua orang itu pun seimbang.

Di saat yang genting itulah muncul sesosok duyung dari dalam sebuah sungai. Ia nekad berdiri di tengah lelaki yang bertikai untuk meleraikan keduanya. Serangan berhenti seketika.

"Kau sedang apa, saudara?" tanya si gadis duyung.

"Dia membuat Bago saudaraku sekarat. Izinkan aku membalasnya," kata Toba menggebu-gebu.

"Itu karena Bago mengganggu Nila," sahut Samo.

"Kau bohong." Toba menuding dengan cakar tangan kanan.

"Samo tidak bohong, akulah korbannya. Dia menggangguku sejak pagi sehingga aku tidak bisa bekerja," kata Nila sang duyung.

Karena malu, Toba meminta maaf sebelum pergi meninggalkan mereka.

Lelaki muda itu langsung menuju ke rumah. Toba menambah kecepatan untuk bisa sampai ke rumah lebih cepat agar bisa mencari kebenaran tersebut. Orang yang biasanya disapa saat berpapasan dibiarkan saja.

Sesampainya ia menemukan sang paman dan keluarga kecil hadir. Luka pada tubuh Bago juga sudah diobati dan sang sepupu dalam keadaan sadar. Bahkan lelaki itu bisa makan dan minum.

“Apa kau benar menggoda Nila?” tanya Toba.

“AKu tidak menggoda Nila, hanya saja Nila menolakku hanya karena aku….” Bago belum selesai bicara tetapi sudah kena tamparan sepupu.

“Toba!” teriak sang paman alias ayah Bago yang menghadang Toba. Cakar kana dan kiri serta taring sudah keluar. Bola mata juga memerah.

“Bago sudah berbuat hina. Tidak boleh ada pemaksaan,” alasan Toba.

“Ini cinta pertama Bago. Mengertilah kau, Toba.” Bibi sang ibu Bago ikut mendukung tindakan anaknya.

“Salah tetap salah. Tidak boleh ada yang membela orang perbuat hina.” Bago sangat teguh dengan keyakinannya.

Kerabat lain ikut mengerumuni Toba. Karena masih ada hubungan darah dan Toba kalah dalam segal hal, ia memilih.

Akibat kejadian itu, Toba tak mendapatkan dukungan dari kaumnya. Alhasil, ia diusir dari desa dan dilarang masuk untuk waktu yang lama. Bahkan ia tak diizinkan untuk mengharap tanah peninggalan orang tua.

Toba tak tahu berjalan ke mana. Tiada lagi tempat untuk pulang. Sahabat sesama werewolf malah menjadi musuh sejak saat itu. Ia berjalan ke cekungan dekat sungai, tempat Nila bercocok tanam. Di tempat itu ia menemukan werewolf yang semena-semena mengusik Nila.

Di saat itu ada pertarungan antara werewolf dan makhluk lain. Minotaur yang dulu menjadi lawan kini terlihat dikeroyok beberapa werewolf, termasuk Bago. Toba bersembunyi dulu untuk melihat kondisi dahulu.

Ternyata yang dikatakan Samo benar. Bago memang mengganggu Nila. Salah satu bukti yang masih tampak adalah Bago memaksa Nila untuk berbuat semaunya. Sedangkan werewolf lain sedang sibuk mengeroyok Samo sang minotaur.

Sebelum Nila dikerjai Bago, Toba langsung memegang tangan sang sepupu. Dalam sekali pergerakan, ia melemparkan lelaki itu menjauh dari sang duyung. Kedua cakarnya dicabikkan beberapa kali ke tubuh Bago.

Berkah bantuan dari Toba, keadaan berbalik. Samo yang semula terdesak kini menghajar para werewolf hingga sang lawan memilih untuk kabur karena terluka. Hanya Toba sendiri werewolf yang masih berada di sana.

“Samo, Nila, aku minta maaf akan semua kejadian ini. Ini semua salah kaumku. Aku berjanji tidak akan mengganggu cinta kalian.” Toba berlutut memaohon ampunan.

“Bangunlah, Toba. Ini bukan salahmu atau werewolf yang lain. Setiap kaum ada makhluk jahatnya. Dan kami juga bukan hubungan kekasih. Samo hanya membelaku karena kasihan saja. Aku….” Nila berhenti dan menundukkan kepala. Air matanya mengalir sehingga ia tak sanggup meneruskan perkataan itu.

Toba pun bangun.

“Nila itu anak yang dibuang orang tuanya. Karena tidak orang yang melindunginya, ia kerap diganggu, bahkan diancam dan mau diperkosa. Aku melindungi semampuku saja,” ucap Samo.

“Jika itu yang terjadi maka izinkan aku melindungimu beberapa saat. Anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maaf dariku,” pinta Toba.

Ucapan itu tak digubris sama sekali. Memang hal itu menyiksa hati Toba, tetapi tak membuatnya berpaling. Ia yang kehilangan kerabat kerap datang melihat Nila bekerja dari jauh. Selain itu, ia juga menepati janji menghalau semua orang yang ingin mengganggu sang duyung. Terkadang juga Nila tidak ada, tapi Toba masih datang.

Dirasa jasa penebusan dosa juga usai, Toba berjalan kembali ke rumah. Namun, ia dikejutkan dengan kaumnya sendiri. Werewolf satu desa berjalan menuju ke temapt Nila bercocok tanam. Mereka bersorak dengan penuh semangat untuk mendesak Nila.

Toba yang tahu hal itu langsung berlari secepat mungkin. Untung saja kecepatannya melebihi yang lain sehingga ia bisa sampai di sana lebih cepat.

DI cekungan itu tidak ada orang yang dimaksud. Hanya ada Samo yang kebetulan lahannya tak jauh dari sana.

“Samo, dimana Nila?” tanya Toba.

“Ada apa, Toba?” tanya balik Samo.

“Kaumku mau merebut Nila serta lahannya ini. Kau harus ungsikan Nila. Sementara aku akan menahan mereka selama mungkin.”

“Nila kebetulan sedang pergi. Kau tidak boleh sendirian di sini. Kau nanti akan mati. Aku punya sebuah ide.”

Sebelum rombongan werewol datang, Toba dan Samo membendung sungai terdekat dengan tujuan agar lahan Nila tak bisa dimiliki siapapun. Batu besar ditelakkan pada tengah aliran sungai sehingga lahan di sana tergenang air, termasuk milik Nila.

Namun, masalah lain muncul. Beberapa pemilik lahan melakukan protes pada mereka berdua karena bahan tamanan yang tenggelam. Bendungan pun di bongkar.

Aliran air kembali tenang. Di saat itulah para werewolf datang. Awalnya jumlah mereka satu desa. Karena kebencian para pemilik lahan meningkat, mereka pun mendapatkan bala bantuan.

“Samo, jumlah kita tak seimbangan. Kau lari saja dan biar aku yang ada di sini,” kata Toba.

“Tidak kawanku, kau saja yang lari. Aku akan punya cara untuk menenggelamkan mereka semua,” tolak Samo.

Tiba-tiba hujan tiba. Toba dan Samo memandangi bekas jembatan. Mereka pun punya ide lain. Kayu yang terhanyut digunakan sebagai perahu.

Sesampainya di tengah dua tebing, kayu tersangkut pada tepi tebing. Samo dengan sekuat tenaga mengbongkar bebatuan di sana. Strukturnya tidak stabil, bongkahan tebing runtuh menutup sungai. Para pengejar Toba dan Samo ikut tertimbun tanah, sedangkan yang lain membatalkan pengejaran. Beruntung, kedua orang itu bisa keluar dari sungai di tengah tebing.

Hujan telah berhenti, Toba menepi dari sungai. Begitu juga Samo. Sungai yang berada di tengah tebing sudah tertutup sempurna. Kedua orang itu naik ke atas tebing. Pemandangan luar biasa pun dilihatnya. Cekungan tempat bercocok tanam berubah menjadi genangan air yang sangat luas.

Di saat itu juga Nila keluar dari genangan. Gadis itu langsung menemui Toba dan Samo. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.

Toba dan Samo menjelaskan kejadian dari awal rombongan werewolf datang sampai cekungan tenggelam.

Mendengar cerita itu Nila sangatlah marah. Emosinya begitu meluap hingga ia siap untuk melayangkan tamparan. Namun, ia menahan karena teringat jasa Samo. “Kalian bodoh. Apa kalian tidak pikir kalau lahan tenggelam tidak bisa ditanami?” tanyanya dengan marah.

“Nila, tunggu dulu penjelasanku. Aku melakukan ini biar mereka tak menyiksamu dan mengambil hakmu. Toh kamu masih bisa menggarap di dalam air.” Samo merayu Nila.

“Bagaimana dengan yang lain? Kau pikir aku senang melihat yang lain kehilangan lahan? Kau anggap aku apa?” NIla memalingkan wajah.

Setelah beberapa saat, Nila berbalik arah melangkah meninggalkan kedua lelaki itu. Toba dan Samo mengikutinya, tetapi gadis itu masih tak mau melihat mereka. Kemarahan di dalam hati masih belum bisa dipadamkan. Malah gadis itu menambah kecepatan berlari.

Toba yang cepat menghadang Nila dari depan, sedangkan Samo menghadang dari belakang. Gadis yang masih marah tersebut tak bisa lari lagi.

“Mau kalian apa sih, cepat katakan!” teriak Nila sekencang mungkin.

“Baiklah, aku yang salah. Aku tak akan mengikutimu. Tolong maafkan aku dan beritahu aku kau mau kemana,” kata Samo.

“Aku mau ke laut selatan. Dan jangan lagi memanggilku Nila.” Gadis itu kembali berjalan.

Toba bisa saja mengejar Nila. Namun, ia melepaskan gadis itu agar bisa pergi ke tempat yang diinginkan. Bahkan, Samo yang ingin mengejar Nila dihalangi dengan tangan kanan.

“Kawan,” kata Samo.

“Biarkan Nila pergi sendirian ke tampat yang dia mau. Kita tunggu saja di sini.”

Toba dan Samo berjalan ke arah yang berlawanan dengan Nila. Mereka tiba di tepi genangan yang luas sambil menantikan kedatangan Nila.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)