Petang hari adalah waktu yang terlarang untuk keluar rumah. Itulah yang selalu didongengkan oleh Ayah. Entah mengapa aku menurut saja. Mungkin saja waktu itu aku masih kecil dan belum tahu apa-apa. Segala perintah Ayah tentu saja aku turuti.
Namun, kini telah berbeda. Aku loh sudah dewasa, tahu akan segalanya. Bahkan, apa yang Ayah tak tahu, aku tahu. Ayah sendiri kadang bertanya padaku dan aku siap untuk membantu kapan saja.
Setiap kali bertanya tentang mengapa tidak boleh keluar rumah di petang hari, Ayah selalu menjawab itu waktu yang berbahaya. Apanya yang bahaya? Kalau masalah setan, kan mereka makhluk gaib dan aku tidak bisa melihat mereka. Untuk sesama manusia, aku kan cerdas dan memiliki basis bela diri. Eh, tidak punya sama sekali. Aku malas untuk berlatih bela diri.
Di sore seperti biasa, aku menuangkan segelas teh hangat kesukaan Ayah. Roti khas buatanku dari resep peninggalan ibu telah kusajikan. Selesai sudah tugasku melayani Ayah, sebagai pengganti ibuku yang telah pergi meninggalkannya.
“Yah, aku boleh tidak izin keluar? Sebentar saja, ya,” pintaku dengan wajah memelas.
“Kamu mau suap Ayah seperti ini? Tidak akan bisa. Ayah tidak izinkan,” tolak Ayah.
“Mengapa, Yah? Mengapa nggak boleh?” Aku memberontak karena penolakan itu.
“Sudah ribuan kali Ayah bilang kalau keluar sore bahaya. Ingat itu, Cantik.”
Walaupun Ayah dengan lembut membelai rambutku, namun hati ini menjadi kesal. Tidak terima penolakan itu hanya karena adat dan adat, sesuatu yang tak jelas dan tidak sesuai dengan sains. Alasan itu tidak masuk akal.
Mengapa Ayah selalu menolakku? Padahal temanku semua perempuan dan tak ada yang laki-laki. Aku juga tidak pernah janjian pada laki-laki manapun. Dasar Ayah kolot.
Karena sesuatu, Ayah tidak ada di rumah. Hmmm, inilah kesempatanku untuk keluar rumah. Tidak apa-apalah sesekali melanggar aturan Ayah. Bukan sekali sih sebenarnya, tapi ke sekian kali.
Ayah selalu mencadangkan satu skuter matic untuk keadaan darurat, maksudku ya seperti ini. Sepeda motor milik Ayah berada di bengkel dan menggunakan sepeda motorku yang berwarna ungu. Terima kasih ayahku yang paling pintar dan tersayang. Dengan demikian, aku bisa keluar untuk menemui para sahabatku.
Di sebuah kafe, tempat kami berkumpul. Itu awal aku ke sana karena tempat itu buka petang hingga tengah malam. Rasa canggung karena tak kenal orang di sana kualami saat itu. Tas kecil kugunakan untuk menutupi wajah.
Ah, aku harus bisa mengatasi itu semua. Niatku di sini kan tidak buruk, bukan untuk mencuri. Mengapa harus malu. Aku di sini sebagai pembeli seperti yang lain.
“Hai Vani, apa kabar?”
Sheila, itu salah satu dari temanku. Ia orangnya sangat baik dan mau membantu sesama, terutama pada perempuan lain yang lagi membutuhkan.
“Baik, Sheila. Mana yang lain?” tanyaku pada gadis yang mengenakan pakaian serba minim.
Tak kusangka, ada beberapa teman ikut datang di sana, termasuk Chika yang dulu menjadi saingan perebutan lelaki. Jumlahnya ada delapan kalau aku dihitung. Kami pun memesan beberapa minuman favorit di sana.
Seperti biasa, kami bergosip. Kabar tentang teman lelaki selalu kami bicarakan walaupun banyak dari kami yang tidak memiliki pacar. Itu lebih asyik daripada membicarakan drama pendek yang mana selera antara kami tak ada yang sama. Apalagi, ayah mengawasi apa yang kutonton sepanjang waktu, bahkan saat aku tidur.
Seperti biasa, kami suka pamer handphone. Walaupun punyaku yang paling jelek dan tua, aku tak minder. Tas kecil dibuka, ponsel lawas kucari. Beruntung, masih bagus dan bisa digunakan. Namun, ada yang kurang, dimana dompetku?
Ya Tuhan, aku lupa bawa itu. Tiada selembar pun uang yang kubawa. Bagaimana ini? Harga minuman di sini juga tidak murah. Aku harus apa? Aku bingung setengah matang.
“Sheila, boleh nggak aku pinjam duit. Aku lupa bawa,” pintaku pada teman terdekat.
“Tidak perlu hutang. Pesananmu aku yang bayar,” sela Chika.
Wow, tumben gadis itu baik padaku. Biasanya kami saling perang opini memperebutkan lelaki miskin baik hati bernama Malik. Ada apa ini? Jangan berpikiran buruk. Mungkin saja Chika sudah taubat.
Malam telah menjelang. Pertemuan kami pun telah usai. Semua teman telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya aku dan Chika yang berada di sana. Itu juga karena aku manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
Saat itu datanglah dua wanita. Terlihat dari wajah dan torso, mereka setidaknya sudah menikah. Chika menyambut dengan sentuhan pipi kiri dan kanan. Ah, itu sudah biasa dilakukan mereka dengan penuh kehangatan. Kutahu itu sejak lama, bahkan sejak kami belum kenal Malik.
Namun, aku curiga mengapa mereka melakukan itu sangat lama. Mungkin cuma pikiranku saja. Sesama wanita kan sering lakukan itu. Mungkin saja mereka sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Atau mungkin juga masih ada hubungan kekerabatan.
Ayolah Vani, jangan berpikiran buruk. Tak ada yang aneh dari mereka. Yang aneh justru kamu yang tidak cepat pulang. Nanti Ayah khawatir sama kamu.
“Chik, aku pamit pulang.” Aku mau berdiri tetapi tertahan tangan Chika.
“Mau kemana, Sayang? Kita baru bertemu. Bagaimana kalau kita minum dulu sambil berkenalan. Aku Alice dan dia Margareth,” kata wanita yang tak kukenal itu.
“Aku Stephanie, atau biasa dipanggil Vani.”
Awalnya kami saling berjabat tangan, namun Alice dan Margareth meminta lebih dari itu. Kami pun saling sentuhan pipi kiri dan kanan, selayaknya sahabat sejati.
Tunggu, rasa itu berbeda. Sentuhan bibir mereka pada pipi ini terasa memiliki nafsu syahwat selayaknya lelaki menyayangi pada wanita yang dicintainya. Ah, ini cuma perasaanku saja. Lagipula, Ibu juga menciumku seperti itu, sebagai tanda kasih sayang. Aku hanya berlebihan saja.
“Sebagai tanda perkenalan, kamu boleh minta apa saja. Akan aku traktir.”
Baik sekali Margareth ini. Ingin sekali memiliki saudari seperti ini. Alangkah enaknya bisa bersama dengannya sebagai saudari.
“Vani, kamu melamun ya?” tangan kanan Chika berada di depanku.
Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Membayangkan kebaikan Margareth seolah membuatku lupa akan realita dunia ini.
“Nggak apa-apa, makasih sudah mau traktir aku. Kalau boleh sih aku pesan teh susu premium segelas.”
Apa? Aku tanpa sadar memesan minuman yang paling mahal pada teman baru. Ini namanya bukan minta tapi perampokan secara halus. Duh, malu sekali rasanya.
Tiada lagi keberanian untuk berkata-kata. Pesanan sudah ditulis. Kumohon, jangan jadi pesanan itu. Aku tadi tak sadarkan diri.
Ternyata minuman itu benar-benar datang. Bukan cuma satu, tetapi empat, sesuai dengan jumlah kami. Aku pun bertambah malu. Tak tahu mau taruh di mana muka ini.
“Kita dapat teman baru. Untuk merayakannya, mari kita bersulang,” ajak Alice.
Aku pun mengikuti mereka melakukan itu.
Harum minuman mahal baru kali ini aku cium. Tak sama rasanya ingin segera minum. Mulut kubuka, cairan itu sedikit demi sedikit masuk ke dalam tubuh ini.
Rasanya ada yang aneh. Di tegukan pertama kumerasakan dunia ini bergerak tak karuhan. Kursi, meja, tiang bergoyang seperti mendengar musik dangdut. Padahal waktu itu yang diputar musik keroncong. Teman-teman juga melakukan hal yang sama. Ada apa ini?
Rasa kantuk mendera tubuh ini. Aku ingin bisa berbaring di kasur dan memejamkan mata guna menyambut alam mimpi. Tidak, ini bukan lokasi untuk tidur. Kesadaran harus dijaga hingga aku pulang nanti. Namun, diri ini tak kuat menahan itu. Kelopak mata terasa lebih berat daripada dunia ini. Tiada lagi kuasa untuk menahan itu, aku pun tak sadarkan diri.
Entahlah, berapa lama aku mengalami itu. Saat kubangun, kepala terasa sakit. Yang terakhir kuingat saat berada di kafe.
Yang kulihat keadaan sekitar berbeda. Ini bukan kamarku, entah kamar siapa. Gambar yang tertera hanya perempuan semua. Tiada satupun laki-laki. Kemungkinan ini kamar Chika karena gambarnya yang paling banyak. Oh, baik sekali dia mau membawaku ke tempat tinggalkan.
Tunggu dulu, ada yang aneh. Mengapa tubuh ini tidak bisa digerakkan? Kulirik ke bawah, kedua kaki terikat tali. Sedangkan saat melirik ke atas malah kedua tanganku diikat kuat. Pantas saja aku tidak bisa bergerak.
Aku tidak punya penyakit aneh yang perlu dirukiyah. Ini berarti aku sedang masa penculikan. Siapa yang melakukan itu? Apakah Chika? Apa motifnya?
Kuberteriak sekencang mungkin. Sayang, mulut ini sudah tersumbat sesuatu yang manis. Seberapa pun aku berteriak, tiada suara yang keluar. Argh, stres rasanya.
Ceklek!
Pintu dibuka, Chika dan Alice masuk. Dari raut wajah seperti mereka saling mengerti antara satu sama lain, mirip yang ada di foto. Itu berarti? Jangan biarkan pikiran ini membayangkan hal yang tidak perlu. Walaupun aku tak percaya mengapa Chika bisa berbuat seperti ini.
Chika mencabut menyumbat. Ternyata itu buiah apel merah berukuran sedang. Argh, mengapa aku tidak menggigitnya saja dan bisa berteriak.
“Aku beritahu kamu, Vani, berteriak di sini tak ada gunanya. Ini markas kami, jauh dari pemukiman,” kata Alice.
“Bukankah urusan kita sudah berakhir dengan aku meninggalkan Malik. Aku lakukan ini semua demi dirimu,” bujukku.
"Malik? Aku tidak ada hubungan dengannya. Dendamku adalah kamu dan inilah yang akan kulakukan untuk membalaskan dendamku."
Mengapa Chika begini? Apa yang terjadi padanya selama ditinggal Malik? Pikiranku mulai kacau memikirkan hal begituan. Hal yang tidak seharusnya terjadi.
"Sudahlah, jangan lama-lama, Sayang. Lakukan itu sekarang juga."
Entah mengapa tatapan mata Alice kepadaku begitu mesra. Apakah yang diinginkannya?
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku tak mau melakukan itu, seumur hidupku. Lebih baik aku hamil dikeroyok laki-laki daripada harus bersama mereka. Tolong aku!
Bruak!
Daun pintu ditendang. Walaupun tidak rusak, bunyi yang ditimbulkan membuat kami terkejut. Ada apa gerangan?
Itulah Ayah, lelaki yang melindungiku selama ini. Tangannya yang kekar membawa sebatang kayu. Aku kagum akan itu. Tanpa ragu, Ayah memukulkan batang itu ke Chika.
Selain itu, masih ada lelaki lain. Malik, lelaki yang dulu pernah ditaksir kini menolongku. Oh, sungguh pemandangan yang indah.
Kedua lelaki itu tak ragu untuk memukul orang yang tega membawaku ke sini. Tak peduli wanita atau lelaki, normal atau bukan, mereka terus melakukan itu meski darah mengalir di lantai. Baru serangan terhenti ketika target tak berdaya lagi.
Tali yang mengikat tubuhku beralih pada Chika dan Alice. Betapa senang hati ini bisa terbebas dari para perempuan yang menjebakku. Tanpa sadar, air mata ini menetes saat memeluk Ayah. Kutelah merasa selamat dari bahaya terlaknat di hari itu.
Tak lupa kuucapkan terima kasih pada Malik yang telah ikut menyelamatkanku. Namun, lelaki itu tidak mau kupeluk sebagai tanda terima kasih.
"Kamu jangan salah paham, Van. Aku ke sini murni demi rasa kemanusiaan, bukan berarti aku jatuh cinta padamu," alasan Malik.
"Apa karena kita beda agama? Tolong jawab aku," tanyaku sambil berjalan keluar dari tempat terkutuk itu.
"Ya, negara kita menganut pernikahan satu agama. Aku tak ingin kamu berpindah keyakinan karenaku. Carilah orang yang seiman denganmu."
Mestinya kata itu menyakitkan untuk didengar, namun itu kenyataan yang ada. Jika kami menikah, salah satu harus meninggalkan agamanya. Sungguh keputusan yang berat bagi kita. Aku pun harus kuat menjalani ini.
Sesampainya di rumah, aku bersimpu di hadapan Ayah. Segala isi hati kuucapkan. "Ayah, maafkan aku yang telah melanggar laranganmu. Sebagai hukumannya, aku serahkan kunci dan hp ini. Aku tak akan keluar rumah lagi," ucapku untuk memohon ampunan. Dua benda yang hampir membawaku ke lingkaran mungkar kuserahkan ke Ayah dengan ikhlas hati.
"Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kamu sudah mengerti saja sudah cukup bagi Ayah. Ambillah dan gunakan sebagaimana mestinya."
Walaupun Ayah telah mengampuniku dan aku bisa menggunakan handphone dan sepeda motor seperti dulu, tapi aku memilih untuk mengurungkan diri. Ini semua untuk menebus dosa yang pernah aku perbuat. Ya, memang aku masih trauma pada hal itu.