Disukai
0
Dilihat
4
Tarub dan Alien Planet Sekarat
Aksi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Virus mematikan menyebar ke planet Aurus. Wabah tersebut sangat mematikan bagi kehidupan. Tak hanya makhluk bertubuh besar, makhluk sebesar semut saja terinfensi virus tersebut. Dampak yang ditimbulkan pun mengguncang kehidupan seluruh planet.

Lima tahun sudah berlalu, tetapi pandemi tersebut belum berakhir. Para peneliti sudah mengerahkan segala kemampuan. Hasil yang didapatkan pun nihil, seolah virus itu tidak bisa diatasi.

Vida bukanlah peneliti ataupun mahasiswa jurusan kehidupan virus dan penyebab penyakit. Wanita muda itu hanyalah seorang relawan dari kalangan bawah yang kehilangan seluruh anggota keluarga. Tiada yang spesial darinya. Hanya saja, ia berada di tempat yang tak seharusnya. Vida secara tak sengaja masuk ke dalam markas penelitian antar bintang.

Seragam luar angkasa yang sangat berat dikenakan. Vida berbaris menuju ke pesawat antar bintang. Ia dan teman-temannya berhenti dulu sebelum masuk ke dalam kendaraan tersebut. Di sana seorang instruktur berdiri.

“Ini bukanlah tamasya. Misi kalian sangatlah penting dan berbahaya. Keselamatan umat manusia di tangan kalian. Mengerti!” teriak sang instruktur.

“Dimengerti!” teriak para kandidat.

Pengecualian untuk Vida. Wanita itu tidak bersemangat seperti yang lain. Raut wajah menunjukkan sebuah keterpaksaan, mata yang begitu lelah seolah tidak tidur satu malah. Beruntung, ia mengenakan masker dan kacamata lihat sehingga tidak kelihatan dari luar.

Semua penumpang telah masuk ke pesawat luar angkasa. Segala peralatan yang dibutuhkan sudah masuk. Komunikasi juga berjalan lancar sebagaimana mestinya. Mesin pun telah dinyalakan. Pesawat dengan cepat melesat menuju koordinat yang diinginkan.

Setelah memepuh perjalanan selama tiga tahun, Pesawat sampai juga di stasiun antariksa terakhir. Di sana para kru berpindah dari pesawat menuju ke ruang di tengah stasiun yang sangat besar. Pakai luar angkasa dari planet mereka berada dilepaskan. Di sanalah mereka saling berdiskusi.

“Teman-teman semua, di tata surya ini terdapat dua planet dan tiga bulan layak huni. Namun yang berpenghuni hanya ada tiga. Untuk mempersingkat waktu, kita bagi menjadi empat tim penjelajah dan satu tim pelapor. Persiapkan diri kalian,” kata sang pemimpin.

Planet baru, berarti kehidupan baru bisa saja dimulai. Itulah yang dipikirkan Vida. Gadis itu menatap ke gambar sebuah planet biru dengan motif berwarna hijau sambil berjalan menuju ke pesawat antariksa yang lebih kecil.

Sesuai dengan pemikiran Vida, kapal itu melesat menuju ke sebuah planet nan cantik. Namun, kendaraan tersebut tak turun ke daratan, hanya sebatas di luar lapisan pelindung planet.

“Kapten, mengapa kita berhenti di sini?” Vida begitu penasaran.

“Planet ini belum ada yang menjamah. Otoritas telah mengunci planet ini demi keadaan kita semua. Jadi kita ke sana hanya bisa dengn satu cara yaitu terjun. Ambil sampel seperlunya, setelah itu kirimkan sinyal dan kita akan anggap ini sebagai sebuah kecelakaan,” kata sang kapten.

“Berarti aku tidak masuk. Aku paling bodoh di sini.” Vida berpaling wajah.

“Justru karena itu kau, Sadek, Luri, dan Ela yang turun ke sana.Tidak mungkinkan kita korbankan ahli khusus.”

“Apa?” Vida terkejut.

Vida kembali lemas dan tak berdaya. Namun, ia tak bisa menolak perintah sang kapten. Kapsul besar yang berisi peralatan yang diperlukan dimasuki dengan malas dan terpaksa. Bahkan, pakaian seragam antariksa tidak dikenakan.

Butuh waktu satu jam untuk kapsul peluncuran mendarat di permukaan planet dengan nyaman, di tangah hutan rimba. Kapsul terbuka, Vida langsung keluar tanpa pengaman sama sekali. Hanya sebuah senapan dan pisau kecil yang menjadi alat pengaman.

Tiba-tiba seekor ular besar menyerang. Vida yang terkejut melepaskan tembakan. Beberapa butir peluru menembus kulit hewan tersebut. Tak butuh waktu lama hewan itu mati.

“Hahaha,” para teman tertawa.

“Apanya yang lucu?” Vida yang semula menikmati udara segar menjadi waspada.

Sadek sang pemimpin yang melihat Vida bisa bernapas bebas melepaskan pakaian luar angkasa dan berganti ke pakaian biasa. Sampel yang berada di dalam tabung kaca dibawa dan dilepaskan ke alam liar. Namun, hewan tersebut tak bergerak seperti yang diharapkan.

“Apa yang kau harapkan dari hewan sakit?” sindir Luri.

“Kita amati dulu perilakunya. Vida, coba cari sungai dan ambilkan sampel air,” perintah Sadek.

“Biar aku temani. Aku juga butuh sampel hewan air di sini. Siapa tahu dapat sampel dna yang cocok dan sesuai yang kita butuhkan,” tawar Ella.

Kedua wanita itu masuk ke dalam hutan lebih jauh. Mereka membawa alat komunikasi sederhana yang bisa berhubungan tanpa jaringan seluler. Naik turun bukit dilalui. Hewan liar dan rerumputan asing dibasmi demi kelancaran perjalanan mereka berdua.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di sungai terdekat. Ella dan Vida mengeluarkan peralatan yang dibutuhkan. Sampel air diteliti dahulu untuk memastikan apakah berbahaya atau tidak.

Data yang tertera menunjukkan sesuatu hal yang positif. Vida yang sudah tak tahan lagi menelan setetes air dari planet asing. Rasanya begitu enak dan menyegarkan. Ia mengambil lagi dan minum sebanyak mungkin hingga kenyang.

“Sepertinya nikmat. Aku cari hewan air di sana saja,” kata Ella.

“Terserah kamu saja.” Vida merebahkan tubuh sambil memandang langit nan indah. Segenap peralatan dilepaskan. Kemudian ia berjalan sejenak sambil mengamati alam sekitar.

Tiba-tiba muncul makhluk berdiri dengan dua kaki. Benda yang ditinggalkan Vida diambil. Makhluk berpakaian itu membuka barang curian. Benda yang berbentuk asing tak ia mengerti. Makhluk tersebut memasukkan kembali apa yang telah ia keluarkan.

Vida mengira ada orang lain di sana yang menyusup. Senjata berupa senapan rakitan di arahkan ke kepala makhluk asing tersebut. “Siapa yang mengirimmu ke sini dan apa tujuanmu?” tanyanya dengan tegas.

Makhluk bersebut berbalik arah. Anatomi tubuh sangat mirip dengan manusia dari tempat Vida berasal. Wajah begitu ketakutan melihat senjata yang menyala dan siap untuk membunuhnya dalam waktu singkat.

Meskipun sangat mirip, Vida tahu persis jika makhluk tersebut bukanlah dari planet Aurus. Pakaian yang dikenakan begitu kuno dan bukan dari produk modern.

“Aku hanya mengambil.” Pribumi planet tersebut menyerahkan semua benda yang di curi tanpa berkurang sedikitpun.

“Kau bisa berbicara?” Vida sedikit terkejut.

“Tentu saja. Tolong lepaskan aku.”

Wanita itu menganalisa morfologi sang pribumi. Bentuknya sangat mirip, seolah memang ada manusia sebelum mereka sampai di planet asing tersebut. Sebuah ide pun muncul. Suntikan yang berisikan virus mematikan ditancapkan pada tangan kanan sang pribumi.

Sebenarnya sang pribumi merasa sakit akibat terinjeksi jarum yang sangat tajam. Namun, ia menahan itu karena takut berada di bawah todongan senjata.

“Wusss!”

Tiba-tiba angin kencang terjadi di sana. Bersamaan dengan itu muncullah pesawat antariksa yang sangat besar. Nyala mesin jet yang sangat panas memusnahkan makhluk kecil terdekat. Bahkan pepohonan terdekat hangus terbakar. Pesawat tersebut turun ke tanah dengan mengorbankan ratusan makhluk asing.

Vida segera mengikat mangsa dengan tali baja sangat kuat dan erat. Sebuah paksaan pun dilakukan dengan senjata terarah ke kepala mangsa. “Cepat jalan!”

Makhluk yang terancam tersebut menuruti apa yang diinginkan Vida.

Waktu yang dibutuhkan untuk kembali tak sesuai dengan perhitungan Vida. Beberapa makhluk liar sempat menghalangi perjalanan mereka. Beberapa tembakan dilepaskan untuk mengris hewan di sana. Tak sedikit hewan yang kehilangan nyawa akibat kebrutalan wanita itu.

Mereka telah sampai di tempat pesawat mendarat. Namun, semua itu terlambat. Mesin pesawat terlanjur menyala dan terbang secara perlahan.

“Hai, tunggu aku!” Vida berteriak sekencang mungkin.

Pesawat seperti tak merespon teriakan tersebut dan pergi ke langit begitu saja.

“Hai, jangan tinggalkan aku!”

Wanita itu begitu panik tertinggal di sana. Kapsul yang menjadi wanaha ke tempat tersebut dimasuki. Segala tombol ditekan. Ia baru sadar jika benda itu tidak akan mekanisme untuk bergerak, apalagi sampai ke luar angkasa. Benda itu dipuluh sekuat tenaga.

“Argh!”

Vida kembali frustasi dan merasa terjebak selamanya di dunia itu. Mata kiri melirik ke sebuah alat komunikasi. Wanita itu bangkit kembali menuju ke sana. Alat komunikasi dioperasikan, beberapa tombol ditekan. Tiada satupun yang menyambung karena sinyal sampai di sana. Alat tersebut dibanting.

Dalam keadaan murka, Vida berjalan ke tempat sang mangsa berdiri. Senapan yang telah kosong diarahkan sambil ia mengancam, “Cepat keluarkan semua barang curianmu sebelum perutmu bersih!”

“Ini semua yang aku ambil. Sumpah demi Tuhan, aku tak menyembunyikan sesuatu,” kata sang pribumi.

Vida teringat pada alat komunikasi terakhir dengan Ella. Apapaun yang ada di wadah peralatan tersebut diacak-acak. Ketemu, alat yang dimaksud masih berfungsi. Namun, tiada sinyal yang tertangkap. Ia kembali kesal.

Di dalam keterpurukan, Vida duduk di dekat kapsul. Air matanya mengalir begitu deras menyesal atas segala yang diperbuat selama ini. Ia merasa seperti terjebak di sebuah dunia yang berbeda dan tak bisa keluar.

Kesedihan hati wanita iotu sudah reda. Air mata yang ada di pipi dihapus dengan tangan kiri. Ia bangkit dan mendatangi pribumi si mangsa. Tali pengikat dilepaskan. “Kau boleh pergi sekarang,” ucapnya lirih.

Sang pribumi tak lari dari tempat itu meski tak tertodong senjata. “Aku tahu kamu sedih ditinggal temanmu. Hari aku gelap dan di sini hewan liar siap memangsamu. Demi keamanan, mari ikut aku ke desa,” tawarnya.

“Desa? Apakah ada penduduk lain di sini?”

“Kau kira manusia hanya di kalanganmu saja? Setidaknya aku tahu ada tiga desa di dekat sini. Yang lain aku belum tahu.”

Baru kali ini Vida tahu tentang pribumi di planet asing tersebut. Mungkin jumlahnya tidak sebanyak di planet yang lain, tetapi sudah cukup untuk memastikan jika planet tersebut layak huni dan cukup aman untuk makhluk seperti dirinya.

Tiada pilihan lagiu bagi Vida. Wanita itu mengikuti sang pribumi melewati pepohonan yang lebat. Jalan setapak mulai terlihat. Mereka keluar dari hutan menuju ke hamparan lahan pertanian yang luas.

“Kita belum berkenalan. Namaku Vida, aku harus memanggilmu siapa?” Hari yang semakin gelap membuat Vida semakin waspada.

“Panggil saja aku Tarub,” jawab sang pribumi.

Setelah melewati persawahan, mereka mulai memasuki desa. Di sana teramat gelap. Tiada penerangan untuk jalan utama di sana. Hanya ada beberapa pelita yang menerangi rumah teramat sederhana.

Di sana terdapat bangunan dari berbagai batang kayu dengan ukuran tak seragam. Kerapatan kayu juga tak sama satu sama lain sehingga menciptakan lubang yang tak diinginkan. Beberapa bagian juga sudah mulai dimakan rayap dan ada juga yang ditambal sulap. Namun, ukuran rumah tersebut sangat besar untuk ditempati satu keluarga kecil.

“Aku tinggal di sini sendirian. Maaf saja jika masih gelap.” Tarub menggosokkan dua batu.

Ida melihat kelakuan sang pribumi. Cara menyalakan api secara manual teramat sangat tidak terampil, bahkan untuk ukuran manusia modern yang meninggalkan cara tersebut. Ia merasakan kasihan terhadap lelaki itu. Sebuah senter dinyalakan hanya dalam sekali tekan. Cahaya terang pun keluar. “Mungkin kamu butuh ini?”

“Sihir cahaya, bagaimana kau bisa melakukan? Apa kau anak petir?” Tarub terkagum-kagum.

“Ini namanya teknologi.”

“Apa itu?”

Vida hendak meneruskan pembicaraan, tetapi ia mengurungkan karena dipikir bisa menambah bingung Tarub. Ia pun menyudahkan pembicaraan itu. “Sudahlah, yang penting kita tidak gelap-gelapan.”

Tidur di tempat asing itu membuat ida bisa rileks, tak seperti di pangkalan luar angkasa. Ia bisa bangun lebih pagi dan bugar. Peralatan dari kapsul diraba-ternyata lenyap. Wanita itu segera berlari mencari Tarub walaupun masih gelap.

Di belakang rumah, Vida melihat Tarub menggunakan alat tidak sesuai dengan fungsinya sehingga alat yang dikeluarkan itu rusak. Salah satu tabung kaca yang malah digosongkan pada batu sehingga pecah.

“Apa yang kau lakukan, Tarub? Mengapa kau rusakkan semua ini?” Wanita itu teramat kesal.

“Maafkan aku, aku tak tahu cara menggunakan ini. Aku sangat payah dalam membuat api dan memasak.” Tarub memberikan benda yang sudah tak berfungsi.

“Dasar manusia purba!” ida menerima itu lalu membantingnya sekuat tenaga.

Tujuan Tarub bisa diterima Vida. Mereka berdua kembali ke kapsul yang tertinggal. Beruntung, masih ada penanak nasi dan panel surya sehingga mereka bisa masak nasi saat kembali ke rumah.

Belum juga masakan matang, Tarub sudah menghancurkan benda lain. Hal itu membuat Vida menjadi marah sekaligus waspada. Nasi dan hasil masakan yang lain dibawakan ke hadapan sang pribumi. “Makan ini dan jangan sentuh barangku!” katanya sedikit emosi dan tegas.

“Kenapa?” tanya Tarub.

“Lihat yang kau perbuat, semuanya hancur. Mengerti!” Vida memukul meja.

Lelaki itu menurut saja.

Tak hanya memasak saja, Vida juga ikut ke sawah, tempat Tarub bekerja. Di sana serangga teramat banyak. Namun, itu tak seberbahaya jika ditinggal sendirian di rumah. Ia mengamati setiap tanaman dan mencari tahu apa penyebab mengapa buah yang dihasilkan tidak banyak. Salah satu semburnya ketemu, hama terlalu banyak ikut makan.

Ide pun tercetus. Alat berfrekuensi rendah diciptakan dari bahan seadanya. Saat benda itu menyala, serangga pergi karena tidak betah. Alhasil, apa yang ditanam Tarub bisa membuahkan hasil secara maksimal. Panen pun menghasilkan bahan makanan yang melimpah.

“Lihatlah Vida, aku pintarkan,” Tarub sedikit sombong dengan apa yang dihasilkan.

“Jangan besar kepala, aku yang membasmi hama.” Vida ikut membantu membereskan panen.

“Terserah kamu saja. Tapi, jangan bilang Pak Kades. Nanti beras kita diambil secara paksa.”

Hasil panen segera dimasukkan ke dalam lumbung dan ditutup dengan batu besar. Vida memberikan sebuah tanda agar muda dicari.

“Bruak!”

Tiba-tiba rumah dibuka paksa dari luar. Vida dan Tarub segera ke depan. Ternyata di sana para warga sudah berkumpul, beserta beberapa perangkat desa.

“Ada apa ini? Aku tak melakukan kesalahan apapun,” kata Tarub.

“Halah, jangan banyak alasan. Seminggu yang lalu kamu panen sendiri di saat kita gagal panen. Serahkan hasil panenmu,” kata kepala desa.

“Ini hasil jerih payah kami, mengapa kami serahkan pada kalian?” tanya Vida.

“Kau siapa?” tanya balik seorang warga.

“Dia istriku.”

Pernyataan Tarub mengejutkan semua orang di sana.

“Kau bohong!” teriak seorang warga yang tak percaya.

Kepercayaan warga langsung hilang begitu saja. Tarub dan Vida telah terkepung dari berbagai sisi. Mereka hanya bisa berjalan mundur di bawah todongan senjata tajam. Sampailah mereka di lumbung pangan. Salah satunya dibuka warga dan diambil hingga tersisa sedikit.

“Karena kalian sudah mengizinkan kami makan, kami berikan kalian kesempatan satu kali,” kata kepala desa.

Di tempat itu huruf belum ditemukan sehingga tidak ada catatan sipil. Vida juga tidak bisa menghadirkan saksi palsu dan membuat aliansi penipuan dalam waktu singkat. “Baiklah, aku mengaku jika kami belum menikah. Aku hanyalah orang tersesat. Bolehkah aku pergi dari sini,” akunya.

“Tidak bisa. Adat di sini tidak boleh ada perselingkuhan atau hubungan gelap. Kalian pilih menikah sekarang atau kami adili.” Sang kepala desa mengacungkan senjata tajam, begitu juga perangkat desa yang lain.

Tarub tahu hukuman sangat berat jika memiliki hukuman gelap. Karena itulah ia terpaksa menikahi Vida dalam kesederhaaan dan tekanan para warga.

Setelah menikah, Vida semakin serius membantu Tarub bekerja, baik di lahan pertanian maupun mangambil hasil hutan. Urusan dapur juga dikendalikan Vida sepenuhnya. Hasil panen melimpah dan efisiensi tinggi membuat panen dan buruan melimpah. Meskipun ditarik pajak tinggi, tetap saja masih banyak sisa. Hasil itu dijual sehingga Tarub bisa mendapatkan emas lebih banyak.

Dalam waktu singkat, Tarub menjadi orang paling kaya di beberapa desa. Hal itu membuat cemas para kepala desa. Mereka takut kehilangan kepercayaan para warga. Mereka bersepakat membuat Tarub bangkrut dengan berjudi.

Dalam tak curiga, Tarub menghadiri undangan judi tersebut,

“Tarub, kita sudah lama tak taruhan. Bagaimana kalau adu panahan?” tawar salah satu kepala desa. Sekantong keping emas dilemparkan di atas sebuah meja. Beberapa orang pun ikut taruhan.

“Mas, jangan diterima itu. Uang judi tidak berkah,” larang Vida.

“Tidak apa-apa, aku ahli dalam memanah. Target apa saja bisa kupanah.” Tarub melemparkan kepingan emas.

Dalam adu panah itu ternyata para kepala desa curang. Hewan yang menjadi sasaran untuk kepala desa merupakan hewan sakit dan jinak, sedangkan untuk Tarub dan yang lain hewan liar nan sehat. Alhasil, Tarub kalah hingga uang terkuras habis.

Lelaki kalau sudah terhasut judi akan sulit berhenti. Aku harus cari cara untuk membalas mereka yang curang.

Perlombaan akan kembali dilakukan. Hewan yang menjadi mangsa sudah dipersiapkan. Di saat itulah Vida berdiri di tengah lapangan menghalau pandangan para pemanah.

“Cantik, kita bukan bertaruh untuk berburu manusia,” kata salah satu kepala desa.

“Aku di sini mau memberikan usul pada kalian semua. Bagaimana kalau kita berburu makhluk liar. Aku pertaruhkan ini.” Vida melepaskan perhiasan yang dimiliki yang tersembunyi di balik pakaian.

“Berlian, sungguh mantap.”

Mata para warga tertuju pada perhiasan terbesar yang berkilau indah.

“Kami setuju.” Para kepala desa berdiri.

Area perjudian pindah ke tengah hutan. Di sana jarang hewan jinak atau hewan sakit. Hanya ada hewan liar nan ganas dan siap untuk menyerang dari segala arah.

Tentiu saja Vida bukan tanpa persiapan. Wanita itu memasang umpan di tengah jebakan. Saat ada hewan masuk ke dalam area yang ditentukan, tugas Tarublah yang menembakkan anak panah beracun. Dalam waktu singkat mereka bisa membunuh hewan terganas di sana.

Waktu sudah semakin sore. Para kepala desa merasa ketakutan luar biasa, terlebih lagi banyak korban akibat perburuan itu. Rencana memiskinkan Tarub dan Vida berakhir dengan luka dan kepedihan.

***

Akibat kegiatan semalam yang sangat melelahkan, Vida bangun terlambat. Hal yang pertama dijumpai sebuah bau terbakar. Wanita itu bergegas mencari sumber aroma tersebut. Ternyata berada di dapur. Ia terkejut ketika melihat peralatan masak yang selama ini dipakai hangus di tangan sang suami.

“Aduh Mas, kamu sedang apa? Lupa janji kita?” Vida sangat frustasi dan kecewa sampai memegang kepala.

“Dik, sudahkah aku izin padamu semalam untuk membantumu masak?” alasan Tarub.

“Tapi bukan begini caranya?”

Kerusakan alat sangat parah sehingga tak bisa digunakan lagi. Vida memasak secara manual sehingga butuh waktu lama dan tak bisa ikut membantu Tarub bekerja. Percobaan puluhan kali yang gagal menguras padi mereka jauh lebih banyak daripada konsumsi sehari-hari. Hasil panen pun berkurang drastis sehingga kehidupan mereka menurun.

Saat Vida sudah terbiasa dalam kehidupan itu, ia menemukan alat komunikasi yang di simpan dalam kamar. Semula wanita itu menyalakan sebagai sebuah kenangan dari dunia modern yang ia tinggalkan. Sebuah keajaiban terjadi, sinyal tertangkap pada alat tersebut. Ia langsung mengirimkan pesan kepada siapa saja yang bisa menerima.

[Tolong kirimkan bantuan ke sini]

[Aku Vida, aku masih selamat dan aku sedang hamil]

[Aku punya sampel yang mungkin bisa menyelamatkan planet kita]

Wanita itu memeriksa stok makanan di dapur. Sayuran dan daging yang tersedia tinggal sedikit. Ia mengambil beberapa keping emas dan tas belanjaan.

Baru saja pintu dibuka, beberapa panah telah menyambutnya. Para warga sudah mengepung dan siap membidik Vida. Wanita itu berbalik arah, ternyata aparat desa sudah masuk dari jalur belakang.

“AKu tak berbuat salah apa-apa, apa mau kalian?” tanya Vida.

Sang kepala desa memainkan parang besar nan tajam dan mengarahkan ke leher Vida. “Kau tidak salah, tapi suamimu yang salah.Seharusnya kamu ikut aku dan hasilkan uang yang banyak,” katanya.

Dalam keadaan hamil, Vida diikat pada tiang rumah, ke dalam kediaman sang kepala desa. Sudah berhari-hari ia tak membersihkan diri sehingga tampak kotor dan lusuh. Beruntung, mereka masih memberikan makanan dan minuman meskipun kurang. Selain itu, ia mendapatkan penjagaan siang dan malam dengan senjata tajam yang siap merobek tubuhnya.

Hari itu sesuai yang dijanjikan sang kepala desa. Pintu rumah dibuka lebar. Beberapa tamu undangan datang menyanyikan Vida yang terikat dan tertodong.

Tak lama kemudian, Tarub datang sendirian dengan membawa sebuah bungkusan. Tiada senjata yang dipersiapkan, sesuai dengan permintaan sang kepala desa. Lelaki itu berjalan agak gugup di bawah tekanan puluhan anak panah.

“Akhirnya kau datang juga. Silahkan kau pilih siapa yang mati, kau atau istrimu!” Sang kepala desa menawarkan pilihan yang sulit.

“Lepaskan istriku secara baik atau terpaksa kubunuh kalian semua,” ancam balik Tarub.

“Hahaha,” para warga tertawa meremahkan Tarub.

“Kau mau membunuh kami? Coba saja kalau bisa,” kata kepala desa dengan begitu angkuhnya.

Belum juga Tarub memberikan aba-aba, sebuah helikopter perang tiba-tiba muncul dengan suara senyap. Sang penembak langsung saja menekan tombol tembakan yang diarahkan selain Vida dan Tarub.

Peluru terbang dengan kecepatan tinggi mengarah ke penduduk pribumi planet tersebut. Serangan terlalu mendadak sehingga mereka terkejut dan tak sempat menghindar. Pembantaian pun terjadi dalam waktu singkat.

Keadaan sudah aman dan peluru berhenti. Tarub berlari dan langsung melapsakan ikatan Vida. Keadaan sang istri yang lemas membuatnya harus menopang agar sang anak selamat.

“Istriku, kau tidak apa-apa?” tanya Tarub dengan cemas.

“Apa itu, Mas?” tanya balik Vida.

Kendaraan yang senyap itu turun yang terbuka. Keluarlah beberapa orang dengan pakaian berbeda. Vida masih ingat jika itu hasil produk dari tempatnya berasal. Merekalah teman yang selama ini berada di wanaha antar bintang.

Jabatan sang kapten kini dipegang Sadek. Lelaki itu membawakan perlengkapan keselamatan. Sedangkan yang lain membawa tandu.

Vida langsung dimasukkan ke dalam pesawat guna mendapatkan perawatan seperlunya. Nutrisi yang kurang dipenuhi lewat jalur infus, luka yang terbuka ditutup. Ia berbaring di sebuah ranjang sambil ditemani beberapa kru.

“Kami tak menemukan sampel yang kamu janjikan. Kamu simpan dimana sampel itu?” tanya Sadek sang kapten.

“Sampelnya ada di dalam tubuhku. Bukan bayi maksudku, tetapi aku. Lebih tepatnya air susuku. Tolong penuhi permintaanku, rahasiakan kehamilanku,” pinta Vida.

“Tapi.…”

Secara tak sengaja, Tarub menndengarkan pembicaraan itu. Hatinya begitu pilu akan tkejadian mendatang. Ia menampakkan diri sebelum berpaling dari mereka.

Di bawah sebuah pohon, Tarub duduk. Untuk pertama kali ia meneteskan air mata demi seorang wanita. Lelaki itu menghapus air mata dan berbalik arah. Di sana Vida berdiri dibantu beberapa orang dari planet lain.

“Mas, kamu harus mengerti. Ini jalan satu-satunya agar anak kita selamat dan kehidupan duniaku juga kembali normal,” kata Vida.

“Tidakkah kau tinggal di sini saja. Aku janji akan bekerja keras dan tidak melanggar apa laranganmu.” Tarub memegang kedua lengan Vida.

“Tidak bisa, Mas. Kaumku butuh dna makhluk adaptatif sepertiku dan anak kita. Daripada anak kita dibunuh, lebih baik air susuku disedot habis. Tenang saja Mas, aku masih hidup,” kata Vida.

“Tapi….”

Sang kapten menodongkan senapan ke kepala Tarub. “Kau jangan pikirkan hidupmu saja. Di sana ada dua belas milyar orang yang butuh pertolongan istrimu. Tolong menegertilah,” ucapnya.

“Baiklah, tapi beri kami waktu bersama sampai anakku lahir. Setelah itu aku serahkan istriku. Tolong rahasiakan ini dan lindungi istriku.” Tarub menundukkan kepala.

Setelah beberapa bulan, Vida melahirkan seorang anak perempuan nan cantik. Di tengah pesawat antariksa itu, Tarub menyaksikan anak hibrida yang sehat. Ia langsung mendatangi keluarga kecil tersebut. Bukan sebuah kebahagiaan yang hadir, tetapi air mata kesedihan.

“Mas, aku tahu ini berat bagimu. Tolong ikhlaskan ini semua.” Vida duduk di atas sebuah ranjang menghapus air mata sang suami.

“Terima kasih sudah memberikan cintamu kepadaku selama ini. Aku berjanji akan menjaga anak kita kita. Vida, jika kamu rindu kami, kamu bisa datang ke sini.” Tarub juga menghapus air mata sang istri.

Kedua pasangan itu saling berpelukan untuk terakhir kali. Kenangan kebersamaan yang terjalin selama ini terus diingat.

“Terima kasih, Mas, telah mencintaiku.”

Setelah Vida pulih dan memberikan minuman pada sang anak, Tarub keluar dari pesawat dengan membawa si buah hati yang terbungkus kain. Lelaki itu berdiri di jarak yang aman. Mesin dinyalakan, Tarub memandangi pesawat itu sambil melambaikan tangan. Hembasan energi dorong mesin dirasakan begitu kuat, tetapi ia tak bergeming. Tarub terus memandangi wahana antariksa hingga menghilang di langit nan cerah.

“Selamat tinggal Vida, bidadariku tercantik.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)