Disukai
0
Dilihat
7
Hati yang Berlabuh pada Ghoniyah
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hati yang Berlabuh pada Ghoniyah

Sebuah Kisah tentang Penolakan, Takdir Dua Kakek, dan Kehangatan Cinta yang Mengakar Abadi

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

=== Bab 1: Titah Sang Kakek & Penolakan Keras ===

Ketika Kebebasan Jiwa Berbenturan dengan Sumpah Masa Silam

Deru knalpot mobil sedan hitam milik Fardhan Al Zhazi memecah kesunyian pelataran rumah joglo kuno bertiang jati di pinggiran kota. Malam itu, aroma tanah basah sehabis hujan lebat menguar pekat, bercampur dengan wangi bunga sedap malam yang mekar di sudut taman. Langkah kaki Fardhan terayun cepat dan tegap melintasi undakan teras marmer kelabu. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu baru saja menyelesaikan presentasi tender gedung pencakar langit di pusat ibu kota, namun sebuah panggilan telepon darurat dari paviliun sang kakek memaksanya menembus kemacetan berjam-jam.

Begitu membuka pintu kayu ukir Jepara yang berat, aroma minyak kayu putih dan tembakau pipa langsung menyergap indera penciumannya. Di ruang tengah yang hangat diterangi temaram lampu gantung tembaga, duduk dua pria sepuh berambut perak di kursi goyang rotan. Kakeknya, Kakek Mansyur Al Zhazi, tampak bersandar lemah dengan selimut wol menutupi lututnya. Tepat di sampingnya, duduk sahabat karib kakeknya sejak puluhan tahun silam, Kakek Harun Az Zahra, yang menggenggam cangkir teh melati.

Namun yang membuat langkah Fardhan tertahan di ambang pintu bukanlah kehadiran dua orang tua yang sangat dihormatinya itu. Melainkan sesosok gadis bergamis anggun berwarna hijau lumut muda dengan jilbab senada yang duduk bersimpuh di atas karpet Persia, dengan jemari lentik yang tengah menuangkan air hangat ke cawan porselen. Gadis itu menunduk khidmat, menyembunyikan sebagian besar wajahnya di balik keteduhan kain kerudung.

"Duduklah, Fardhan," suara Kakek Mansyur terdengar berat dan serak, disertai batuk kecil yang tertahan di tenggorokan. Sorot matanya yang mulai kabur menatap cucu laki-laki tunggal kebanggaannya. "Kakek sengaja memanggilmu pulang malam ini bukan untuk membicarakan cetak biru gedungmu atau urusan bisnismu yang tak pernah ada habisnya."

Fardhan menarik napas panjang, melonggarkan ikatan dasi abu-abunya, lalu duduk di sofa seberang dengan tatapan waspada. Firasatnya sejak sore sudah tidak enak. "Ada apa, Kek? Kalau kondisi kesehatan Kakek menurun, biarkan Fardhan telepon dokter spesialis keluarga sekarang juga."

"Kesehatan Kakek tidak ada hubungannya dengan dokter, Fardhan," potong Kakek Mansyur seraya melirik Kakek Harun yang tersenyum tenang. "Lima puluh tahun lalu, di masa-masa sulit saat kami berdua merantau dan nyaris kehilangan nyawa di tanah seberang, Kakek dan Harun mengikat sebuah janji suci. Jika suatu hari Tuhan menganugerahkan keturunan dan rezeki, kami berikrar menyatukan darah keluarga kami dalam ikatan pernikahan yang sah."

Udara di ruangan seketika membeku. Fardhan mengerutkan keningnya tajam, rahangnya mengetat seketika. "Maksud Kakek apa?"

Kakek Harun meletakkan cangkirnya perlahan ke atas tatakan porselen, lalu menatap cucu perempuannya dengan pandangan sarat kasih. "Perkenalkan, Nak Fardhan. Ini cucuku, Ghoniyah Az Zahra. Sejak kecil ia diasuh dalam kebaikan, dan malam ini kami berdua sepakat menagih janji itu. Kami ingin kalian berdua menikah secepatnya."

Bagaikan disambar petir di malam tanpa badai, Fardhan terpaku di tempat duduknya. Tatapannya beralih menatap gadis bernama Ghoniyah itu. Saat namanya disebut, Ghoniyah perlahan mengangkat pandan...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi