Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti Desa Sukamaju, menciptakan suasana dingin yang merasuk hingga ke tulang. Udara pegunungan yang segar berpadu dengan aroma tanah basah seusai hujan semalam, menghadirkan ketenangan yang semu bagi siapa saja yang menghirupnya. Di sebuah teras rumah kayu berukuran sedang bergaya tradisional, Arya (25) duduk termenung di atas kursi rotan usang. Tangannya memegang sebuah cangkir seng berisi teh panas yang mengepulkan uap tipis, namun matanya menatap kosong ke arah jalan setapak berbatu yang membelah kebun kopi di depan rumahnya.
Arya adalah seorang pemuda pendiam yang hidup dalam pusaran dilema perasaan yang begitu rumit. Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan di lingkungan pedesaan yang menjunjung tinggi adat dan kekerabatan, hari-harinya semestinya berjalan sederhana dan tanpa beban. Namun, takdir rupany...