BAB 4
KAKEK TUA
“Vel, kamu pernah dengar soal kisah miring soal gunung ini gak?” Tanya Leon kembali memecah keheningan suara. “Katanya, dulu ada empat pendaki yang meninggal disini dan hanya satu berhasil keluar.” Aku terkejut mendengar penuturan Leon, seperti nuklir yang dilucutkan dengan cepat. Rasa gelisah merayapiku, aku tak ingat sudah berapa kali, merasakan hal serupa.
Perasaan tak nyaman merayap dengan cepat mengikuti tanpa suara, serasa ada ribuan pasang mata yang siap menerkamku dan Leon saat ini. Aku segera menepis perasaan gelisahku dan mendengar penuturan Leon seksama. “karena itulah, aku dan Jani penasaran dengan hal itu, maka kami memutuskan mendaki berdua.”
“Kalau kamu, alasan apa sebenarnya kamu kemari, Marvel?” Tanya Leon, membuatku ingin bungkam seribu bahasa namun, rasanya itu tidak akan pernah mungkin bisa aku lakukan, “Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan bapak,” Jawabku kemudian, lalu melanjutkan lagi sembari menatap lurus kedepan. “Semenjak bapak dan temannya mendaki gunung ini, keluargaku tidak pernah bertemu dengan mereka…” Ujarku lirih, aku merasakan ada sesuatu yang mengelitik sanubariku. Aku melemparkan senyum tipis kepada Leon, “Karena, bapakku kayak orang linglung, badannya kurus kering, semenjak balik dari Hardariyam.” Tegasku kemudian, ada perasaan lega dan tertekan yang dilepaskan secara bersamaan.
Aku melirik Leon yang tersenyum getir, “Bearti, kabar miring itu adalah bapakmu.” Penekanan dari Leon membuatku membuang napas sesaat, “Bisa jadi, aku pun tidak tahu.”
“Apa kamu percaya dengan orang pintar.” Aku melirik Leon sekilas lalu membuang wajah kearah yang lain. “Tidak, persetanan dengan dukun gila seperti itu! Mereka hanya membodohi orang dan mengeruk jeri payah orang miskin dengan modal garam doa dan air yang belum tentu berkhasiat.” Jelasku, terselip emosi didalamnya, Itu hanyalah hal konyol belaka. Leon tertawa sumbang lalu kami meneruskan arah kami kearah anak sungai. Mata kami dimanjakan oleh udara sejuk nan asri, air jernih yang seperti airmata bidadari dan hening mengunci aku dan Leon. Kami ingin berlama-lama disini.
Aku mengambil wadah minumku dan memasukannya kedalam sungai, “Kita udah besar, berani kotor itu baik.” Aku bercanda menghilangkan rasa penat yang menghujam tubu...