Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
9
Lanang
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Teras rumah nampak lenggang pagi ini, semua warga desa pergi ke ladang membantu pak Makmur membersihkan ladang mereka, sedangkan anak seusia lanang sibuk dengan kegiatan mereka di sekolah. Hari ini lanang, tidak turun ke sekolah karena, bajunya tidak layak pakai, sudah kumal dan sedikit robek. Ibu hendak membelikan baju seragam untuk lanang di pasar. Ia menunggu uang dari Pak Raden; suaminya. 

"Semoga harap saja, ada buah yang bisa di petik untuk kita makan dan membeli baju untuk lanang." Ucap lirih pak Raden. 

"Lanang, habiskan makan mu, nasi itu berharga!" 

"Sisa sesuap lagi, kenapa Abah berlebihan?" Tanya lanang, sembari merekatkan kertas minyak pada bilah bambu yang sudah ia kaitkan dengan benang, nampaknya anak berusia 7 tahun itu tengah merakit layangan. 

Ia menghentikan tangannya menyuap nasi terakhir di piringnya karena, lem di layangannya hampir kering. 

"Nak, kelak kamu tau bahwa sesuap nasi juga mengenyangkan" Jelas pak Raden, mengusap kumisnya dengan pelan.

Pak Raden mengulurkan tangannya untuk mengambil kopi yang ada di meja, di temani pisang goreng yang sudah berada di atas mejad setengah jam lalu. "Pisang goreng, buatan ibu yang terbaik, apalagi saat pagi begini, di tambah kopi." 

"Walah, Abah bisa aja!" Ujar wanita itu tersipu malu, keluar dari pintu, wanita itu mencincing roknya dengan tangan kiri dan tangan kanannya menenteng rantang 3 baris; bekal untuk sang suami di ladang, meskipun kepala 3, paras ayu nya tidak terlihat menua. 

"Abah, tidak bercanda ibu, ya sudah, Abah mau ke ladang dahulu," ujar pak Raden, ia mengulurkan tangan kanannya, ibu mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. 

"Hati-hati di jalan, mas" Ujar Bu imah, pak Raden tersenyum tipis dan mencium puncak kepala istrinya pelan.

"Nggih dek ayu" Ujar Abah mengoda pujaan hatinya itu, hingga bersemu merah. 

Pak Raden menenteng cangkul rantangnya menuju ke ladang, hari ini pak makmur; kepala desa, hendak bertani. Dengan hati riang semoga Lanang bisa membeli baju sekolah hari ini. 

Sudah seminggu, Lanang mengunakan baju dengan kancing yang terbuka dua memperlihatkan perut buncit miliknya, semoga saja uang makan seminggu dan tambahan dari pak makmur bisa membeli baju seragam lanang.

Tanpa pak Raden sadari, istrinya menutupi wajahnya yang kemerahan itu dengan selendang merah miliknya. Warna merah sangat kontras, ibu nampak bersinar hari ini seperti sinar mentari. 

Pelataran rumah semi permanen itu nampak rindang dengan pohon mangga di sampingnya, ubin semen yang dingin biasanya di gunakan anak-anak desa untuk beristirahat atau, tempat rumpi ibu-ibu yang mampir untuk duduk bercerita di sore hari sembari mencari uban, menunggu kedatangan suami mereka dari ladang.

Ibu menatap teduh lanang; anak laki-laki semata wayangnya. Anak itu tengah duduk merakit layang-layang sembari bersenandung. 

"Nak, ibu dengar tadi kamu di tegur, makanan kamu sudah habis belum."

Lanang tersenyum memamerkan giginya yang habis karena kebanyakan memakan permen manis. "Belum bu." 

"Lanang, kamu tau nak! Nasi itu sangat penting. Selain kebutuhan pokok, dia buat kita bertenaga. Di luar sana, masih banyak nak, yang mencari makan. Kepanasan, kehujanan demi sesuap nasi." Tutur ibu. 

"lihat, Abah di pagi hari tetap ke ladang demi kita bisa makan besok. jadi, habiskan makanan kamu hari ini, supaya rezeki kita di tambah lebih banyak sama gusti Allah." Ujar ibu menepuk puncak kepala Lanang.

Lanang buru-buru menyuapkan suapan terakhir dari piringnya. "Sudah habis bu! Ya Allah lancarkan rezeki Abah, semoga Abah bawa banyak uang. Bu, hari ini lanang jadi beli baju kan bu?" Tanya anak itu penuh harap.

"Insyaallah nak, pasti ada jalan nak." 

                   ***

Suara gedoran pintu dari luar mengejutkan bu Imah yang berada di dapur, ia memaksa sayur ubi rambat labu dengan tempe orek kesukaan sang suami, pasti akan nikmat di makan bersama saat pulang dari ladang

Lanang tengah main di ujung sawah bersama anak-anak yang lain, katanya mau cari siput atau belut untuk sarapan besok. 

Suara gedoran pintu yang amat nyaring dari luar membuat bu imah segera berlari keluar, mungkin suaminya pulang cepat, harap-harap jika pulang cepat, ia bisa bermadu kasih mumpung Lanang sedang mencari belut dan siput di sawah.

"Sebentar" Teriak Bu Imah dari dapur, dan memperbaiki riasannya sebentar untuk menyambut Sang suami.

Ia terkejut saat mengintip di jendela, bukan suaminya lantas siapa?

"Bu imah, pak Raden bu!" Teriak seorang pemuda desa dengan napas tersenggal-senggal tubuhnya yang tanggung dengan kulit sawo matang, basah kuyup oleh keringat. 

"Bu! Bu imah! Pak Raden bu!" Teriaknya tidak sabar. Bu imah segera membukakan pintu, firasatnya merasa hal yang lain. Sesuatu hal yang buruk tengah terjadi.

"Sabar, toh le." Tenang bu Imah, belum sempat ia bertanya pemuda itu langsung memutuskan ujarannya.

"Pak Raden bu, di bacok pak kumis." Jelasnya dengan mengebu-gebu, napas pemuda itu masih senin-kamis.

"Ya allah gusti, dimana suamiku!" Pekik bu Imah jantungnya berdebar kencang. 

"Di rumah sakit bu, ada baiknya jangan kasih tau lanang bu." Jelas Anto.

Bu Imah segera mengenakan selendang merah yang ia gunakan sebagai kerudung dan menutup pintu rumahnya, bu Imah hampir saja berlari dengan kaki telanjang menuju rumah sakit jika tidak di ingatkan Anto. 

 Tubuh bu Imah seperti kehilangan nyawanya, melihat kondisi pak Raden yang babak belur dan luka sayatan yang panjang di tangan ke dadanya.

 "Kenapa bisa begini bah! Ya Gusti. Suami ku" Ujar Bu Imah, wajahnya pias.

Anto berani menceritakan kornologinya, saat itu pak Raden tengah di ladang, ternyata ada Anto dan anak pak Kumis bernama Sarah. Gadis dengan paras Ayu itu mengantarkan bekal ke untuk ayahnya, dan pulang.

Tanpa pak Raden dan Anto sadari ternyata Sarah di tarik oleh kedua preman jalanan yang ada di perbatasan desa suka maju dan hampir di perkosa di ladang kosong tidak jauh dari sawah milik pak Makmur, Pak Raden dan Anto mendengar jeritan dari semak-semak sehingga setengah berlari menuju sumber suara, mereka dengan jelas melihat dua preman tengah asik menjamah tubuh Sarah dari atas hingga bawah. 

Bu imah tersungkur ke lantai, bagaimana jika lanang tau hal ini. Ayahnya tidak sengaja di bacok oleh guru ngajinya sendiri. Berbekal uang seadanya, bu imah membayar separuh uang administrasi rumah sakit. Semoga lanang, mengerti.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi