Hari ini, gerimis mulai membasahi bumi. Udara dingin menusuk tulang. Aroma petrichor yang bertebaran di udara memenuhi rongga dadaku, aku menghebuskan nafasku secara perlahan. Aku merasa tenang.
Tidak lama kemudian, tetes-demi tetes gerimis menjelma menjadi hujan. Turun dengan cepat tanpa celah. Aku menggila, aku bergegas berlari mencari tempat teduh.
Air hujan yang menembus sela-sela dedaunan di hutan, mengenai tubuhku. Kini kurasakan air hujan itu mengenai pori-pori di permukaan kulitku, tubuhku rasanya ingin membeku.
Akhirnya aku menemukan tempat berteduh. Gubuk tua yang terbuat dari bambu dengan atap nipah. Aku berdiri di gubuk itu, gigi bergemeletuk satu sama lain tanpa aku sadari aku basah kuyup.
Sepertinya hujan ini akan memakan waktu lama untuk berhenti. Aku mencari pematik api dalam paper bag ku, disini aku melihat banyak kayu bakar di dekat tungku.
Mungkin gubuk ini ada pemiliknya. Ada banyak kayu yang tersedia disamping tungku, tapi menurutku gubuk ini seperti rumah singgah aku tidak melihat adanya amben disini. Hujan sudah mulai mereda. Hah! Sia-sia saja usahaku, resahku.
Karena hujan telah reda. Aku bergegas pergi meninggalkan gubuk itu, aku takut telat, Risauku. Hari ini adalah hari pertamaku sebagai salah satu murid pertukaran di sekolah terpencil untuk program lingkungan hidup.
Aku kesal, pasalnya di gubuk yang tadi ku singgahi banyak lipan dan kecoa. Ih! Bulu kudukku merinding. Kecoa dan lipan itu mengerikan dan mereda mendekatiku, Aku bergegas pergi dari gubuk itu. Ini hari tersial, pikirku.
Aku menelusuri jalan yang becek. Berjalan dengan hati-hati sambil menikmati udara di sekitarku. Ternyata memang benar, udara yang habis terkena hujan itu sejuk dan segar. Sejauh mataku memandang hanya ada pepohonan rindang nan teduh yang basah, ada tujuh warna yang menghiasi langit di ufuk barat, indahnya karunia Tuhan. Mataku terasa segar, sungguh terbayar semua usahaku ini.
Karena pelangi muncul sepanjang mata memandang, setiap hari di kota Jakarta aku hanya melihat kendaraan roda empat yang menyesakkan mata. Belum lagi karbonmonoksida yang selalu memenuhi rongga dada. Pantas saja asmaku selalu kambuh, pikirku.
Semakin masuk kedalam hutan aku mendengar hembusan angin di hutan, bersamaan dengan gemercik air, sepertinya ada curug di dalam hutan ini. Dan aku merasakan semilir angin yang sedang bermanja ria dengan dedaunan yang basah.
Semakin indah saja rasanya, aku tidak tau lagi mau mengucapkan apa kepada yang maha kuasa atas karunia-Nya ini, pikirku.
Senyumku mengembang, tinggal sedikit lagi aku sampai di sekolah yang ingin diteliti. Aku melihat bangunan tua beratapkan nipah.
Walau dipenuhi dengan lumut yang basah, cat kayu yang terkelupas bak buah kehilangan kulitnya. Ditambah lagi gigitan rayap nakal memakan serat kayu di bangunan itu. disaat seperti ini, sungguh sekolah ini adalah sebuah saksi bisu dari banyak para pejuang yang ingin menuntut ilmu.
Ternyata perjuangan ku tidak sia-sia. Dengan sepatu yang penuh lumpur milikku dan baju masih setengah basah, angin di hutan membantu mengeringkannya.
Mungkin sebentar lagi aku akan masuk angin gara-gara memakai baju basah, pikirku.
Sambil menggelengkan kepalaku. Sekarang aku harus berpikir ini adalah hari tersial atau terindah dalam hidupku, aku tidak tau.
Aku melangkah mantap menuju gerbang sekolah. Setidaknya aku sedikit melupakan kerisauan tanpa sebab dalam hatiku. Yang muncul secara tak terduga. Yah! Semoga saja kedatanganku diterima baik di sini, dan aku bisa mengikuti kehidupan baruku karena ini berbeda 180 derajat dengan kehidupan ku di kota kelahiranku.
***
Sekolah SMA Bakti Jaya. Sempat tersirat di pikiranku, aku tidak akan diterima dengan baik oleh sekolah ini, dugaan ku ternyata salah. Ibarat kata, seperti menatap kilau berlian yang ternoda oleh setetes lumpur. Jangan terlalu banyak menduga hal yang belum terjadi, mungkin itu yang tepat untukku katakan, jika memikirkan hal yang tidak pasti aku menjamin rambutku akan memutih, Pikirku.
Aku berlalu melewati pagar begitu saja, sekolah ini tidak memiliki satpam. Jadi aku dengan bebas masuk ke sekolah ini. Apalagi saat ini masih jam pelajaraan jadi tidak ada seorang pun yang berada di pekarangan sekolah.
Aku melewati lorong rak sepatu, seorang berlari kearahku rambut keriting gantungnya berayun bebas saat ia berlari. Rok abu-abu selutut miliknya, terlihat serasi di kedua kaki jejangnya. Dia seperti boneka yang melarikan diri dari kotaknya, aku sungguh takjub melihatnya.
Dengan wajah semangat dan peluh membanjiri keningnya. Gadis itu menghampiriku dan mengengam tanganku ”Sampean sekaline sampun ten miriki, sepurane nunggu1”Ujarnya. Bibir mungil merah marunnya menarik senyum simpul. Mata coklatnya berbinar-binar laksana anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
“Sampean jenenge sopo2?”Tanya gadis itu dan ia menyodorkan tanganya kearahku sambil tersenyum manis. Sinar di wajahku dan senyuman manis yang kuberikan luntur seketika ”Asmane kulo Cemara, mugi-mugi saget dados konco sae3”Ujarnya lagi.
Aku hanya terperangah mendengar ocehannya, aku hanya bisa berdiam diri tanpa membalas satu pun ucapannya. Apa yang sedang gadis ini bicarakan, hatiku menjadi bimbang. Apakah sesuatu yang penting? Antara perasaan bingung bercampur geli menjadi satu. Gadis ini telah menyita perhatianku, Rutuk ku dalam hati.
Cemara berbicara dengan logat jawa yang kental, Cemara meraih tanganku dan mengandeng tanganku menuju keruang guru. Untung saja ruang guru hanya berjarak 20 meter. Syukurlah! Jam pelajaran sedang berlangsung. Kalau tidak bisa malu aku dibuatnya. Genggaman tangan yang hangat membuat hatiku resah, ada perasaan hangat yang mengalir dari tangannya ke hatiku, aku semakin gusar. Hatiku berdegup kencang perasaan apa ini, Rutuk ku dalam hati.
Cemara terus saja melontarkan pertanyaan dengan semangat. Aku hanya diam saja, bingung ingin menanggapi apa."Sampeyan saking pundhi?”Tanyanya lagi,
kali ini bibir merah muda itu mengerucut dan maju beberapa senti, pipinya mengembung seperti menyimpan balon dalam mulutnya, wajahnya ovalnya kusut. Apa dia marah padaku. Wajahnya tidak enak untuk dipandang, pikirku.
Aku mengelus kepalanya pelan, gadis ini membuatku nyaman seketika. Aku tidak paham tiba-tiba ada perasaan hangat merayapi hatiku gara-gara berada di samping gadis ini
“Maaf gadis manis, saya Gema Cakrawala. Saya tidak Mengerti kamu apa yang kamu ucapkan. Jadi jangan marah yah, nanti wajah milikmu tidak manis lagi?”Bujukku dengan sedikit rayuan, aku sering melakukannya untuk memikat lawan jenis di sekolahku tentunya.
Itu sangat mudah bagiku, mereka akan tersipu malu dengan sekali rayuan maut dan bumbu gombal miliku, tentunya hal itu sudahku coba sebelum aku pindahkan kesini untuk melaksanakan program lingkungan hidup yang diadakan di sekolahku untuk menilai apakah sekolah di pedesaan dan di kota sama baiknya atau berbeda.
bahkan aku sempat mengajukan proposal untuk dana bosda di sekolah ini ditambahkan setelah melihat infrasturuktur yang kurang memadai dari sekolah ini. Namun gadis ini, Dia mengingatkan ku pada seseorang dari masa lalu yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, namun ada hal yang menyebapkan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi untuk beberapa waktu atau mungkin juga untuk selamanya.
Huh! Gadis bernama cemara ini mengingatkan aku kepada Rania, resahku.
Kulihat Cemara menghembuskan nafas dengan kasar, menatapku sebentar dan tersenyum geli saat menatapku, entah apa yang Cemara pikirkan saat ini.
Cemara menarik nafas panjang “maafkan aku, aku tidak tau jika kamu tidak mengerti bahasa jawa”sesalnya.
Cemara mengunakan bahasa indonesia, walau terdengar kaku dan logat jawanya masih kental. Hal ini membuatku tertawa geli, dan aku mengangguk paham.
Aku mengerti bagaimana perasaannya, dia berfikir bahwa aku mengerti bahasa jawa.
Tidak aneh sih, aku memang terlahir dari suku jawa dan tinggal di jakarta karena terlalu lama menetap disana, aku jadi tidak memahami sama sekali bahasa jawa, apalagi saat orangtuaku berbicara bahasa jawa padaku.
Huh! Menyebalkan, pikirku.
Namun dari sudut pandangku aku yakin, cemara tidak berpikir aku adalah orang jawa, untuk saat itu dugaanku adalah mungkin pertukaran pelajar di sekolah ini tahun lalu mahir berbahasa jawa, itu adalah dugaanku sementara.
Cemara menatapku dengan teduh, tatapan mata itu sangat hangat. Bagaimana jantungku bisa berdegub dengan kencang, padahal aku baru bertemu dengannya sekali tapi cemara dia sangat manis sekali, pikirku.
***
Sudah 3 bulan aku menjadi siswa pertukaran pelajar, dari awal perkenalanku 3 bulan yang lalu mereka menyambutku layaknya keluarga.
Sejak pertemuan pertamaku dengan teman sekelasku selama program pertukaran pelajar, aku menyukai kelas ini. Mereka begitu bertata krama, dan sopan.
Aku bersyukur kepada Tuhan, mereka tidak mengunakan bahasa jawa padaku melainkan bahasa indonesia dengan logat jawa yang kental.
Ketika mereka mengajakku berbicara walaupun terlihat agak kaku, tidak ku duga sebelumnya mereka sangat memiliki nilai yang luhur dan aku kagum pada mereka. Aku sangat salut pada mereka.
Sekarang Aku berada didalam lab komputer, dan sibuk mengerjakan proposalku tentang lingkungan hidup untuk penunjang proyek pertukaran pelajar yang diminta pihak sekolah, aku sangat ingin meningkatkan mutu sekolah ini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, aku akan mulai menciptakan ide keratif dan semoga diterima dengan baik, harapku.
Aku mengingat ketika aku berjalan pulang sendirian karena aku tersesat 3 bulan yang lalu. Aku mengenal seorang gadis anak kepala desa yang bernama Tania Wijatjaya Kumala Sari. Dia menunjukanku jalan kembali pulang ke rumah yang ku tumpangi yang ternyata dekat dengan sekolah.
Aku heran buat apa aku memutari setengah dari dusun ini. Aku sangat bersyukur, karena jika dia tidak menemukanku diantara semak-semak belukar di daerah persawahan. Aku sempat merasa putus harapan, dan sesal begitu saja menumpuk di dada.
Setelah kejadian itu aku mengenalnya dengan sangat baik, dia selalu menghiburku disaat ku sedih, seperti sekarang.
Aku kesal karena laptopku tertinggal saat di apartemen milikku, jadi aku harus bersusah payah mengetik dikomputer usang milik sekolah ini. Jika saja aku tidak lupa membawa laptopku dan tidak tertinggal di apartemen miliku aku pasti sudah menyiapkan presentasi dan yang paling aku sesali adalah di laptop itu ada banyak data penting untuk menunjang proposal ini.
Ada seorang yang datang dan menuju kearahku, aku bisa mendengar derap langkah kaki berjalan. Rupanya Tania, dia datang sambil membawa nampan berisi kopi panas dan meletakkan nampanya disampingku. Dia menatapku teduh, Aku bisa melihat dan mengetahui dia akan datang dan menghampiriku dari layar komputerku, ada siluet yang terpeta dengan jelasnya di kaca komputer miliku
“Gema, kamu tidak lapar, nih aki bawain kopi semoga proposalmu selesai yah”Ujar Tania, mata indahnya menatapku dengan teduh, Ia seperti putri jawa.
Dia kalem dan lemah lembut, mungkin ini akibat jiwa kepimipinan yang mengalir didalam tubuhnya.
Dia memikat diriku dengan senyuman miliknya. Aku hanya menatap sekilas, Tania sedang tersenyum padaku. Lalu mengalihkan pandanganku pada komputer lagi, mesin tua ini berbunyi sangat nyaring sehingga aku pusing mendengarnya.
Memang proyek pembangunan sekolah ini harus tetap terlaksana, aku saja tidak tahan dengan sekolah ini apalagi pelajar yang lain. Jika fasilitasnya merepotkan seperti ini, rutuk ku dalam hati .
Aku masih sibuk dengan komputer usang milik sekolah ini, rasanya mataku sangat lelah ditambah lagi dengan perutku yang mulai berbunyi minta di isi, sabar-sabar kuatkan aku tuhan memang semua perjuangan itu butuh proses "Sekedap selesai” Timpalku, aku tidak begitu memperhatikan Tania.
Bagiku dia hanya seorang teman yang baik namun, aku merasakan perasaaan aneh saat tania menatap mataku.
Tania seperti menyimpan rasa terhadapku, mungkin hanya dugaanku saja. Proposalku yang telah ku ketik akhirnya selesai juga. Aku beranjak dari tempat duduk ku, aku berniat mengambil flashdisk di lemari lab komputer yang penuh oleh gigitan rayap, Lemari ini sangat berbahaya jika tidak segera di ganti.
Sekilas Aku melihat Cemara berlari dilorong luar kelas saat aku ingin kembali menuju meja yang berbaris dua puluh unit komputer, nampaknya cemara sedang sibuk. Tapi ini aneh, setahuku Cemara menjadi salah satu murid teladan. Mungkin dia disuruh oleh guru untuk membantu pekerjaan kantor.
Buktinya Cemara baru saja menyelesaikan cerpen untuk perlombaan tulis menulis yang diajukan oleh penerbit terkenal di Jakarta, aku menyimpulkan bahwa apa pun rintangan yang dihadapi oleh semua orang apapun rintanganya pasti akan bisa dan berhasil, pikirku.
Tania masih setia berdiri menungguiku, aku tersenyum kecil. Aku kembali duduk di meja komputer, dan mengerjakan proposalku.
Tania dengan sabar menungguku, apa yang Tania pikirkan hingga dia rela tidak beristirahat di kantin dan menungguku hingga selesai. Mengapa aku berpikir jika Tania menyukaiku yah, mungkin perasaan ku saja.
Biar tidak canggung aku membuka topik pembicaraan“Oh iya Tan, aku teringat sesuatu. Mengapa aku melihat Cemara tadi berlari dilorong lab komputer, apakah dia memiliki jabatan yang penting disekolah” Tanyaku padanya.
Kulihat Tania tersenyum, lalu menjawab pertanyaan ku dengan tenang “Cemara itu ketua Osis SMA ini”Ujarnya sambil tersenyum kecil, namun raut wajah tak suka datang mengampirinya.
Terbukti, Tania langsung saja pergi tanpa mengatakan apapun yang lain. Sudahlah biarkan saja, aku tidak peduli.
***
Aku lelah, perutku lapar. Tapi aku menahan diri walau perutku mengadakan konser, aku ada debat hari ini.
Jadi aku mengurungkan niatku untuk makan siang. Aku bertemu dengan Pak Rudi, guru Bahasa Indonesia. Dia tersenyum padaku sambil membawa nampan yang berisi soto.
Aroma yang menguar dari soto itu membuat cacing perutku semakin konser minta di isi“Sampeyan sampun dahar dereng?”Tanya beliau dengan nada yang hangat dan ramah seperti biasa “Dereng pak, Bapak dahar rumien. Mangke kulo wonten debat pak?”Jawab ku sambil menggulum senyum geli. Aku sempat tak percaya aku bisa berbicara bahasa jawa dalam 3 bulan.
Cemara mengajariku berbicara berbahasa jawa, aku belajar dan les privat di rumahnya 4 jam sehari, dan alhamdulliah aku bisa mengeti bahasa jawa dengan lancar dan fasih“Yowes le, bapak tak dahar rumien?”Ucap pak Rudi kepadaku, aku tersenyum dan pak Rudi berlalu begitu saja sambil membawa nampan berisi sotonya ke kantor. Sial! Aku semakin lapar, jeritku dalam hati.
Aku masuk kedalam kelasku tanpa semangat, seperti biasa teman-teman sekelasku sangat berisik.
Cemara pun menepuk bahuku, aku menoleh dan tersenyum padanya, Cemara memberikan senyum terbaiknya. Hatiku sedikit tenang“Gema, sampean mboten nopo-nopo, sampean sampun dahar nanging kok waja e pucet?”Tanya Cemara kepadaku terdengar nada cemas dan bergetar dari suaranya, aku merasa senang diperhatikan oleh Cemara.
Cemara menatap ku cukup lama, aku tidak tau apa yang di pikirkannya.
Pipiku bersemu merah, aku tidak tau lagi harus tersenyum atau bagaimana lagi, tiba-tiba hatiku berdesir dan aku rasanya ingin melompat dengan bahagia sekarang. Perasaan aneh apa ini, aku tidak tahu setan apa yang merasuk pada diriku.
Secara spontan aku pun mengelus puncak kepalanya. Sepertinya Cemara merasakan hal yang sama, Cemara hanya merunduk. Ah! Cemara sepertinya aku mulai menyukaimu. Pikirku dalam hati.
Cemara hanya berlalu begitu saja, apa mungkin ia malu”Kulo mboten nopo-nopo, ampun khawatir”Teriakku kemudian, karena aku melihat Cemara berlalu begitu saja, tanpa sepatah kata pun
Bel masukan sudah berbunyi suara riuh nan bising sekarang telah menghilang. Kini berunah menjadi senyap entah kemana tadi riuh nan bising itu.
Murid-murid menyambut seorang guru laki-laki dengan perawakan tegap dan senyum jenaka. Guru itu memiliki tatapan yang bersahabat, yang selalu di perlihatkanya setiap kali ia bertemu dengan siapapun yang ia jumpai. Pak Rudi namanya, guru yang tadi menawarkan ku soto di kantin.
Pak Rudi, Seorang guru bahasa indonesia yang sangat mencintai EYD dan menghapal banyak bahasa berat dalam sastra, teman sekelasku menjulukinya dengan sebutan kamus berjalan.
Lagi pula selain menjadi guru bahasa indonesia, dia juga adalah guru BK di sekolah ini. Jadi tak jarang beliau sering terlihat disekitar ruangan introgasi bimbingan siswa atau para siswa dan siswi di sekolah ini sering menyebutnya dengan sebutan introbingnis.
Aku mendengarnya dari para teman-teman ku katanya ruangan itu adalah ruangan terkutuk. Barang siapa yang memasukinya sampai tiga kali akan mendapat ancaman hukuman yang tidak main-main, terkadang penuturan dari mereka sedikit membuatku tergelitik
“Asalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu”Tutur pak rudi dengan logat jawa yang kental, serta senyuman yang biasa ia berikan sebelum masuk, beliau sangat tegas kepada muridnya saat beliau mengajar. Itu sebabnya aku menjadikannya panutan dalam bersikap dan berperilaku.
“Walaikumsallam Warahmatullahi Wabarrakatu!”Ucap semua murid, kecuali aku. sepertinya aku terlalu asik memikirkan ruangan introbingsis dan segala macam hukumannya, jika rahardian tidak menyikut bahuku, mungkin lamunan tadi merambah kemana-mana.
Bahkan mungkin saja aku tidak mendengarkan pak Rudi memberikan salam “Baiklah anak-anak kita akan memulai sesi debat kita tentang alam, sebelum itu bapak akan memberikan mosi yang akan kalian perlukan dalam debat”Tutur pak Rudi dengan nada tenangnya sambil sesekali melirik jenaka kepada teman sekelasku, biasalah tabiat pak rudi yang susah hilang, pasti dia akan menjahili si Neneng, murid paling pemalu di kelas ku.
Aku cukup menyukai tata cara mengajar Pak Rudi. Pak rudi juga bisa menjadi teman curhat bagi para siswa-siswi di sekolah ini sehingga tak sedikit pak rudi akan dikerumuni oleh para siswi, untuk bercerita soal dari yang biasa hingga pribadi. Karena pak rudi orang yang asik dan juga bisa dipercaya. pak Rudi keliling dari bangku ke bangku dan membagikan mosi juga kelompok debat di kelas kami.
***
Aku berada di rumah Cemara, rumput hijau menghampar sejauh mata memandang. Bunga melati menghiasi sekitar pagar tumbuh dengan bebas dengan liarnya, namun tetap indah. Cemara memiliki brung nuri yang diberi nama murni. Kicau murni bersama rintik hujan terdengar sangat syahdu seperti nyanyian sore hari. Cemara menghampiriku yang duduk di alas tikar dan ia membawa timbikar dari tanah liat sambil membawa nampan berisi teh dan biskuit beraroma kelapa, aku sering ku rumahnya selain Aku satu kelompok debat dengannya aku juga sering belajar bahasa jawa denganya.
Cemara menatapku dengan tatapan hangat yang tersimpan keteduhan disana. Aku hanya tersenyum kecil”Nggeh mpun sa niki padhos materi debat”Tanyaku pada Cemara.
Cemara hanya tersenyum kecil“Sampean sampun saget bohoso jowo, mboten rugi kulo ngajari sampean”Godanya padaku, aku tersedak
Aku malu dan pipiku bersemu merah, mengapa Cemara selalu mengodaku, dan cemara mengatakannya pada saat aku sedang meminum teh.
Cemara menepuk punggungku, tatapan mata ku beradu dengannya. Ah, sial! Mengapa jantung ku berdegub kencang seperti ini saat ia menatapku. Degup jantung ku menjadi, aku semakin malu saja.
Cemara hanya tersenyum tipis dan menatapku dengan lembut, aku melihatnya tubuhnya semakin kurus. Bahkan bola matanya yang indah selalu bersinar dan penuh harapan mengapa meredup, apakah ini hanya perasaan ku saja.
Mengapa aku begitu mengkhawatirkannya hingga perasaan ku tak terkendali aku akan coba bertanya padanya, mungkin dengan begitu keresahan dihatiku akan sirna”cemara sampean kethinggal bhedho kulo kwatir”tanyaku penuh harap, namun cemara hanya merespon dengan senyuman saja.
”kulo badhae pindah ten bekasi”ucap cemara, bibirnya bergetar dan senyum yang biasa terbit dari wajahnya menghilang. Seperti dipukul seribu palu hati ku remuk seketika.
Tuhan aku tidak ingin kehilangan dia, Seperti aku kehilangan Rania. Kini aku sangat mencintai Cemara. aku tidak tahu kapan persisnya perasaan ini muncul, yang jelas perkataan itu seakan mengerogoti hatiku secara perlahan. Mengingat Rania dalam elegi membuat nafas ku sesak. Seperti ada lubang hitam yang menyedot semua oksigen di sekitar ku, aku pun tidak tahu apa lagi yang akan terjadi. Semuanya mengelap, berlalu bersama kenangan yang ada dalam hidupku
Seorang gadis duduk di atas kursi rodanya, matanya terfokus memandangi hamparan rumput. Gadis itu tersenyum mendengar celotehan anak-anak kecil yang berlari dengan riangnya. gadis itu adalah Rania Kumala Sari, dia adalah tunanganku.
Sudah 1 bulan ini aku mulai menerima kenyataan bahwa Rania adalah calon istriku di masa depan. Aku menghela nafas besar, ini semua salahku. Jika aku tidak mengajaknya mendaki di gunung Bromo, mungkin Rania tidak akan berada di rumah sakit. Mengingat kejadian itu rasa bersalah ku semakin menjadi-jadi, untuk menutupi kerisauaanku yang semakin memuncak.
Aku mendorong kursi roda itu secara perlahan, Langit sore ini menimbulkan guratan jingga di angkasa, matahari bergerak secara perlahan dan ingin kembali keperaduanya “Dek, apa kamu tidak lelah, tidak ingin istirahat?”Tanyaku penuh perhatian dan tenang. Aku mengelus pucuk kepalanya perlahan, takut semakin menyakitinya aroma alkohol dan obat-obatan yang lainnya menguar dari tubuhnya, aroma yang menyengat khas rumah sakit itu tercium oleh hidungku, membuat hidungku sakit sehingga sesekali aku menahan nafas.
Rania hanya menatap ku dengan lekat seolah hari ini adalah hari terakhirnya melihat ku, sepertinya rania menyembunyikan sesuatu dariku ”Aku tidak lelah mas Caka, aku hanya ingin menatap langit ini cukup lama saja?”Ujarnya dengan penuh ketenangan, kamu gadis yang kuat Rania, pujiku dalam hati. Aku beranjak pergi dari kursi roda Rania, Rania hanya menatapku penuh tanda tanya.
Aku mendekati pot bunga matahari dan mengambil setangkai bunga matahari tak jauh dari tempat Rania duduk di kursi rodanya. Aku berdiri di hadapanya dan menyerahkannya kepada Rania. Rania hanya tersenyum dan airmata mengalir dari pipinya. Aku mengusapnya dengan lembut dan perlahan takut melukai tubuhnya yang terlihat rapuh ini
”Ini untuk Rania, orang sangat ku cintai dalam hidupku”Ujarku menatapnya lekat. Mata coklat muda itu menghanyutkanku, serasa tengelam dan menenangkan. Jika aku mengatakan bagaimana awalku bertemu dengan rania mungkin akan terlihat seperti drama terkemuka di indonesia. Aku tidak tau mengapa perasaan ini tumbuh begitu saja, secara tak terduga akibat perjodohan orang tua kami
Semua bermula ketika pengambilan raport semester satu di kelas empat Sekolah Dasar, Rania sedang menunggu ibunya depan pagar sekolah.
Semua murid di sekolah dari kelas satu hingga kelas enam sudah banyak yang pulang, namun masih ada yang tersisa ibu Rania tak kunjung datang mengambil raportnya padahal rania mendapatkan juara pertama. Segerombolan anak-anak di kelasku mendekati Rania.
Memang aku sekelas dengannya, namun aku tidak begitu akrab denganya. Karena Rania anak yang pendiam dan pemalu, tiba-tiba saja Rania di geret dan di dorong oleh salah satu teman kelas ku.
Saat aku mendekati mereka, ternyata mereka membully Rania. Rania menangis gara-gara di dorong masuk kedalam drenase. Aku segera menolongnya berdiam diri tidak ada gunanya, kulihat teman-teman ku ssudah menjauh.
Aku pun segera ikut menceburkan diri dan membantu drenase naik keatas. Rania menangis, aku mengelap sisa-sisa airmata di wajahnya yang berlumpur dan aroma khas drenase menguar dari tubuhnya.
Sejak saat itu aku berteman dengan Rania dan mennjadi akrab denganya. Kaki jejang dan tangan hangat yang selalu mengengamku. Rania sering mengajak ku berlarian kecil di taman dekat perbukitan kompleks rumahnya, namun semua itu hanya hayalan belaka sekarang.
Rania terpeleset sampah kaleng didekat jurang yang curam saat kami mendaki ke gunung Bromo. Itu semua salahku, mengapa aku mengusulkan jika saat liburan sekolah menengah pertama mengadakan agenda liburan mendaki di kaki gunung Browo.
Saat peristiwa itu terjadi, akses jalan menuju ke gunung Bromo sangat licin dan penuh lumpur akibat hujan yang menguyur selama satu minggu lamanya, dan itu menghambat jalan kami karena sepatu kami di penuhi oleh lumpur. Sampah minuman kaleng yang berserakan di sekitar jalan semakin menyulitkan kami dan sampah kaleng itu membuat Rania terpeleset dan jatuh kejurang akibat sampah yang berserakan dimana- mana.
Aku takut untuk turun ke dasar jurang. Jadi aku berani turun ke dasar jurang. Aku melihat Rania tergeletak dan merintih kesakitan. Darah mengucur dengan derasnya, aku melihat kulit tubuhnya terkelupas dan lebam di sekitar kakinya, aku segara mengampirinya rania jatuh tepat berada di jalan raya aku segera menghampiri dan membantunya berdiri dan memberinya sebuah tongkat kayu yang ku dapat dari dasar juran. Alangkah mirisnya sebuah mobil pick up melaju dengan kencang, dan Rania menyadarinya. Rania segera mendorongku ke sisi jalan. Dugh! Tabrakan tak terelakakan.
Aku terperangah cukup lama, aku mengumpulkan kesadaraan ku, kepala ku pusing kerena tubuhku terhantam aspal yang licin. Aku melihat detik-detik terakhir Rania. Pick up itu menabrak kaki Rania. Tubuh Rania lemas seperti tak bertenaga. Aku membawanya yang setengah sadar dan mencari tumpangan darah terus saja menetes bersamaan dengan air hujan yang turun. Saat itu yang ada di benakku, Tuhan selamatkan Rania dia adalah gadisku.
***
“Gema sampean mboten nopo-nopo?”Tanya cemara, aku heran mengapa aku bisa berbaring di amben. Tubuh ku berkeringat dan membasahi pelipisku, mimpi itu adalah kejadian 3 tahun silam.
Aku melihat cemara tergopoh-gopoh membawa seseorang yang memakai kebaya putih dan rok jarik. Wajahnya tua namun guratan cantik dari wajah wanita tua itu masih nampak terpeta dengan jelas”Mas sampean semaput?”Ucap ibu tua itu, apa wanita ini ibunya Cemara. Namun ibunya cemara kok memakai banyak cincin akik dan lipstik merah muda juga dandanan menor sih.
Ah! Mungkin dugaan ku salah, ibu Cemara pasti lebih kalem dari ibu tua didepanku ini. Tuhan jika memang seperti itu maka kumohon biarlah dugaan ku ini salah.
Cemara menepuk bahuku, ia menyadarkan lamunanku yang panjang“Gema iki lo mbok jum tiange saget waras no awak sampean tapi mantri, sak iki sampean mboten usah kwatir”Ujar Cemara di iringi dengan tawa yang berderai.
Aku bernafas lega. Syukurlah! Kenapa aku berpikir itu ibunya Cemara”ngeh-ngeh kulo semerap”aku menjawab sekenanya saja sambil menepuk kepalanya pelan.
Betul saja dugaan ku itu bukan ibunya Cemara, aku hampir mati berdiri karenanya. Masa sih calon ibu mertuaku seperti ini, nggak logis aja seorang Gema Cakrawala yang tampan ini menikahi Cemara yang memiliki ibu yang berbeda peringai dengan anaknya. Loh! Kok pikiran ku gini sih, sudahlah siapa yang peduli juga, Resahku.
Mengapa di saat seperti ini aku teringat dengan Rania. Tuhan ku mohon hilangkan dia dari dalam hidupku. Aku tidak ingin mengingat Rania lagi, sudah cukup aku tidak bertemu dengannya karena dia sedang terapi di bangkok dan membatalkan pernikahannya dengan ku.
Sudah cukup aku menoreh luka untuknya jangan engkau ingatkan dia. Tuhan kumohon kuatkanlah aku menghadapi semua cobaan yang engkau berikan ini.
”Mboten nopo-nopo”Ucapku dengan paksaan senyuman, aku terlalu merepotkan banyak orang, dan bagiku ini sangat menyusahkan ku dan juga menyuahkan orang lain tentunya.
Semuanya mungkin akan ku pasrahkan pada tuhan yang Maha kuasa karena dialah pememgang takdir.
***
Waktu hari debat pun dimulai, aku sangat sibuk menghapalkan materi yang akan aku sampaikan didepan muka umum. Aku sedikit gugup ”Cemara kamu hapal materinya? ”Tanya Tania menghampiriku. Aku mengangguk samar walaupun tak pasti, bagaimana pun aku tetap sudah menghapal mati semua materi yang diberikan oleh cemara sehabis magrib, karena aku pulang dari rumahnya sebelum shalat isya.
Aku tidak sempat bertemu dengan ibunya, namun aku bertemu dengan adiknya Kirana Larasati. Dia adik yang sopan, aku iri andai saja aku memiliki adik. Aku hanya anak tunggal, jadi wajarlah aku terlihat sangat dingin dan cuek.
Sebenarnya setiap hari aku merasa kesepian, tanpa ada yang meghiburku Jadi biar aku tidak kesepian, maka aku pun menjadikan belajar dan menulis cerpen menjadi teman ku. Selama masih hal yang positif pasti tidak masalahkan, pikirku.
Jam pertama pun dimulai, aku pun melaksanakan sesi debat dengan baik tinggal sedikit lagi untuk menunjukan bahwa aku bisa debat dengan baik. Aku baru ingat bahwa, aku akan kembali 1 bulan lagi.
Aku akan menghabiskan waktu degan sangat baik dan semaksimal mungkin. Tinggal kesimpulan yang akan membuat kami berdebar siapa pemenang sesi debat pertama ini.
”Iya saatnya kami membacakan kesimpulan debat dari pihak kontra. Pihak kontra tidak setuju apabila hutan tidak mengalami reboisasi, memang menurut data sangat akurat bahwa itu adalah merupakan hasil dari hak ekologis dan ekonomis hutan. Tapi apakah memungkinkan itu terjadi.
Sedangkan mutu hutan sedang tidak baik. Kami dari pihak pro ingin kalian mencari solusi tanpa harus menghentikan sistem ekologis dan ekonomis yang seharusnya menjadi hak bagi para penerimanya maksud disini adalah rakyatnya.
Kita harus waspada akan bencana yang kemungkinan terjadi jadi kami mohon dipertimbangkan lagi” tutur cemara, wajah nya semangat. Sudah di pastikan kelompok debat kami mlenang.
”Baik anak-anak begitulah kesimpulan dari debat kita hari ini, untuk pihak yang menang adalah pihak pro kelompok Gema” Aku senang bisa memenangkan debat ini, namun debat yang sebenarnya baru dimulai.
Besok adalah pengajuaan prposalku tentang plestariaan lingkungan sekolah ini mudah saja aku bisa”Baiklah untuk selanjutnya kita akan panggilkan kelompok kontra dan pro untuk sesi kedua, kelompoknya Tania”Ucap pak Rudi dengan semangat, dia sebagai moderator dan ia sangat mempermudahkan proses debat kami.
Aku melihat Tania dan Rahardian berdebat tentang masalah mutu pendiidikan di indonesia. Mereka sangat serasi dan sangat seru sekali dalam berdebat. Bukannya aku cemburu, tapi aku tidak ingin melukai perasaan Tania lebih lama lagi. Karena aku juga merasakan hal yang sama saat Rania pergi ke bangkok untuk berobat dan setahun lalu keluarganya memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami, yang akan diadakan setelah tujuh tahun yang akan datang, masih lama sih. Namun aku membenci rania dia tidak membalas satu pucuk suratku hingga aku muak dan melupakannya dalam hidupku.
Dia hilang ditelan bumi atau apapun aku tidak peduli, aku benar-benar muak dengan rania yang manja dan egois. Jika dia benar-benar ditelan bumi, aku harap dia akan tenang itu saja, jangan mengusik hidupku lagi. Pikirku dan kesal menumpuk menjadi satu, aku benar-benar lelah.
***
Hari yang dinantikan telah tiba, aku deg-degan dan takut. Bagaimana tidak aku berpikir seperti itu aku akan presentasi di depan para dewan menteri saja, tapi aku presentasi didepan seluruh kabinet pendidikan dan juga lingkungan hidup. Aku takut lebih tepatnya untuk menjelaskan semuanya.
Aku menaiki lantai atas dengan lift, aku melihat seorang gadis dan sepertinya dia sangat terburu-buru. Aku tidak sengaja menabraknya, dan gadis itu pun terjatuh. Ia segera berdiri dan menyimpun kertas yang berhamburan.
Aku membantunya, pada saat kertas terakhir. Aku dan dia mengambilnya, lalu tatapan mata kami bertemu. Aku mengenalnya, gadis bermata coklat muda nan teduh itu“Rania”ucapku dengan terkejut, aku terperangah.
Pasalnya mengapa aku bertemu dengan seseorang yang ingin aku lupakan “Mas Caka, kok bisa ada disini?” tanya Rania, kemungkinan dia sama terkejutnya sepertiku.
Tapi aku tidak peduli. Lagipula di hatiku sudah ada Cemara. Aku menyatakan aku menyukainya saat aku pulang dari saat azan Isya berkumandang, aku takut jika semuanya terlambat. Aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi.
Kami berdua memasuki lift “Presentasi, kamu juga kok ada disini?”Aku menjawab pertanyaanya dengan singkat dan aku balik bertanya dengan nada ketus.
Bukannya apa, aku hanya kesal mengapa rania membatalkan acara pernikahan kami. Apa dia pikir semua itu tidak pakai uang. Itu semua pembiayaan yang ku keluarkan hasil menang dari OSN matematika tingkat nasional. Bukannya pamrih, ini semua tentang harga diri.
“Oh, aku menjadi sekertaris utama dalam presentasi yang akan kamu ikuti itu, aku senang kita bisa bertemu lagi”Ucapnya dengan gembira tetapi tidak denganku. Aku hanya memutar mataku dengan malas. Selebihnya aku tidak menganggpnya ada. Aku muak dengan orang sepertinya. Jadi aku agak menjauh darinya.
Kami memasuki ruang presentasi ku lihat semua orang pada duduk di bangku mereka masing-masing, ada dari kalangan pejabat hingga kulihat guru ku juga berada disana.
Pak Nyoto dia adalah guru pembimbingku di Jakarta, ia menyemangatiku dan aku merasa tenang walau perasaan deg-degan menghantuiku.
Aku menghampiri podium, aku menarik nafas panjang Lalu mulai berbicara dengan tenang semoga ini akan berhasil.
”Asslamualaikum warrahmatullahi wabbarakatu”Aku memberikan salam dan para audio menjawabnya, aku yakin aku pasti bisa.
"Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, para hadirin sekalian. Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara hari ini” ucapku.
aku mulai gemetaran tapi aku mengingat kata cemara terhadapku kami berjanji ke dufan sebagai hadiah kencan jika aku menang. Aku jadi semangat dan melanjutkan presentasiku.
“Apa yang membuat anda berpikiran jika, sekolah ini harus di pertahankan dan di naik lagi ketingkat nasional. Lihat saja seperti menurut data anda sekolah ini tidak nyaman untuk dihuni. Misalkan saja banyak sampah, apa mereka melakukan pelestarian lingkungan” tanya salah satu peserta kepadaku.
Aku sedikit tersulut emosi, di mengatakan menolak dengan keras sekolah ini diberi infrastruktur yang layak semestinya.
“Apakah sekolah besar menerapkan 3R dalam lingkungan sekoalah mereka, mereka cenderung tidak peduli dengan lingkungan dan sibuk dengan handphone masing-masing. Lihat saja sering terjadi banjir di Jakarta. Saya bukan menyalahkan pemerintah yang kalian katakan tidak baik dalam mengelola negara, tapi saya ingin meluruskan dan menyadarkan kurangnya kesadaraan diri masing-masing dalam membuang sampah”bantah ku pada penanya terakhir.
Aku haus dan lelah. Sedikit lagi presentasiku selesai. Tinggal meluruskan lagi pernyataan mereka.
“ jadi, kita harus menerapkan 3R dalam lingkungan sekolah maksud anda begitu, apakah ada cara yang lebih efektif lagi? Untuk menjaga bumi kita ini, sementara bumi ini semakin rusak sering perkembangan zaman”tambahnya lagi
“tidak bukan seperti itu, baiklah akan saya luruskan, kami akan menerapkan banyak inovasi disana kami membuat biogas dari tanaman jarak, penerapan 3R di setiap rumah warga dan kami menerapkan yang namanya sistem hidroponik. Selain itu kami juga akan menimalisir sampah. Kami tidak mengunakan membuang banyak kertas. Kertas yang tidak terpakai kami olah menjadi benda jadi dan kami melakukan yang namanya. Resolution safety the world. Dimana kami menciptakan energi dari hasil bahan kimiawi yang kami tidak terpakai dan kami seimbangkan dengan unsur alam dengan membusukkannya dengan jamur dan kami buat sebagai pupuk apabila itu organik. Kami menciptakannya untuk masyarakat luas. Cara kerjanya menghancur sampah plastik atau kertas dan akan kami daur ulang menjadi barang yang bermanfaat. Saya juga mengajukan sekolah ini untuk infrasturuktur nya diperbaiki karena sudah tidak kokoh dan membahayakan para siswi lainnya. mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan terimaksih”Jelas ku dengan tenang. Aku segera kembali duduk di samping pak Nyoto.
“Baiklah apakah pihak kementerian setuju semua usulan dari ananda gema?”Ucap Mc dengan seksama menunggu sebuah keputusan.
Dan dia angguki setuju oleh para pihak lainnya. terimakasih Tuhan, aku setelah ini aku akan mengajak Cemara ke dufan. Tanpa pulang ke rumah aku langsung ke rumah cemara, dengan semangat mengebu didada, 2 bulan kami tak bertemu rasanya menyakitkan.
***
“Cemara lihat aku menang, ayo kita ke dufan!” aku mengetok rumah cemara sambil membawa sertifikat lomba namun tidak ada sautan dari dalam. Aku melihat rumahnya terkunci, ada mbok supini. Dari arah yang berlawanan dari arah rumah cemara” mbok cemara dimana?” tanyaku dengan penuh harapan.
“Neng Cemara nya pergi ke bekasi pas den Gema berangkat, keluarga juga nggak ada yang bilang kapan baliknya?” ucap mbok supini pembantu cemara. Argh, Sial ! aku kalah cepat. Aku frustasi aku segera berlari tanpa arah, tanpa pamit kepada mbok supini. Benci merasuki hatiku. Aku tidak tau lagi harus apa. Aku mendatangi taman kecil depan sekolah, karena pengajuan ku berhasil sekolah ini di renovasi sehingga mobil dan motor pun dapat ,elweatinya tidak sia-sia usahaku.
Ada sebuah mobil sedan putih mendekati ku dan berhenti tepat di depanku. Aku melihat sosok yang keluar disana, ia berlari memelukku. Aku masih belum sepenuhnya sadar dan aku menetralkan pandangan ku apa benar yang ada di pelukanku ini cemara, aku membalas memelukmya dan kami berbincang sedikit.
Aku tersenyum kecil” Cermara semoga kita bertemu lagi yah, ingat hatiku selalu untukmu”Ucapku lantang berteriak saat mobil itu menjauh, aku tidak peduli cemara terimakasih telah hadir dalam hidupku. Aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi. Aku sangat yakin itu, tapi ntahlah kapan, yang jelas Tuhan pasti akan mempertemukan kita suatu saat nanti, aku percaya itu akan terjadi. Cemara tunggu aku yah.