DI MANA PUN ITU, AKU INGIN BERSUJUD
Sore ini 30 Nopember 2001 yang seharusnya hari ulang tahunku. Baru saja aku menerima telepon dari Papa bahwa tahun ini aku belum bisa pulang ke Poso. Keluargaku sedang kekurangan uang sehingga belum bisa mengirimkan biaya mudik. Ditambah lagi kondisi Poso yang sedang kacau karena kerusuhan, barang-barang kebutuhan sulit untuk didapatkan dan kalaupun ada harganya tentu akan sangat mahal.
Udara sore di punggung Gunung Madu, Simo, Boyolali mulai terasa dingin, biasanya sebentar lagi akan turun kabut yang menghalangi pandangan. Aku harus kembali masuk, sore ini ada kelas beladiri dan mungkin ada sparring. Di saat seperti ini aku memang butuh berolahraga karena akan sangat membantu kesehatan tubuhku. Aku tak ingin jatuh sakit di saat sendiri dan tak punya uang.
Aku melangkah menyusuri teras kelas yang panjang dan ramai oleh para santri, suara-suara para sighar yang sedang menghafalkan surat Annaba terdengar dari kejauhan. Tak lama lagi teras ini akan sunyi, pikirku seraya terus berjalan menuju kamarku yang berantakan, menutup jendela-jendela lalu menyalakan lampu.
* * *
Aku menarik nafas lega, pertemuan dengan ustadz Qosdi tadi membuatku plong. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan urusanku. Meskipun begitu ini sekedar bersifat sementara karena aku hanya diberi penangguhan selama dua bulan oleh beliau. Setelah jatuh tempo maka aku harus segera melunasi hutang SPP-ku atau harus siap dipulangkan ke kampung halamanku. Tapi setidaknya aku masih memiliki sedikit kesempatan. Meskipun tak tahu bagaimana cara seeorang anak santri yang terkurung dalam tembok pesantren seperti aku ini bisa mendapatkan uang. Namun aku percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang tak pernah tidur dan selalu mengawasi makhluk-Nya, Dia pasti akan memberiku jalan keluar.
“Ri, ana pamit ya?! Ujar si Amir menghampiriku dan menyodorkan sebungkus jenang Brebes.
“Iya Mir, hati-hati di jalan, sampe ketemu habis lebaran, akh.” Kupeluk tubuh sahabatku dari Brebes ini, dia adalah santri terakhir di kelasku yang mudik hari ini. Tinggallah aku sendiri di pondok ini bersama asatidz dan para mudabbir penghuni asli pondok.
* * *
Ini adalah malam ke empat aku tidur di masjid, matras milik Titis telah diamanahkannya untuk kugunakan sebelum dia pulang ke Magetan, “kalo makan jangan di atas matras ya Ri?!” Pesannya ketika itu seraya menyerahkan sekaleng besar kerupuk padaku. Begitu pula kantong tidur milik Roy telah diserahkannya padaku sebelum dia ke Lampung, “jangan sampe kena iler ya Ri?!” Pesannya ketika itu sambil memberiku uang lima puluh ribu, sahabatku yang satu ini memang perhatian padaku.
Seperti biasa sehabis salat tarawih Ustadz Mustaqim berbincang-bincang lagi denganku, beliau menasehatiku agar bersabar hidup dalam kesendirian dan keterasingan karena orang-orang yang terasing itu akan mendapat kemuliaan tersendiri di sisi Allah.
“Kata Ibnul Qayyim Aljauziyyah, di surga itu ada sebuah pohon bernama thuuba yang dikhususkan menjadi naungan bagi orang-orang yang terasing selama hidupnya.” Ujarnya sambil meneguk air mineral lalu menyantap beberapa buah kurma di lantai masjid tempat kami duduk. Kata-kata itu terasa menenangkan dan menguatkan hatiku untuk tetap bertahan di sini.
* * *
Ini malam terakhir iktikaf, seharusnya besok aku sudah balik ke kamarku. Namun aku memilih tetap tinggal di masjid hingga selesai lebaran. Percuma juga ke kamar jika tak ada seorangpun yang bersamaku di sana. Sejak awal aku telah mengangkut semua pakaian dan perlengkapanku sehari-hari ke masjid jadi tak perlu lagi balik ke kamar hingga para santri kembali.
Angin Gunung Madu yang lembut dan dingin berhembus memasuki pintu masjid lalu menyusuri sela-sela gamisku, membuatku sedikit merinding. Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan rumah. Biasanya di saat-saat seperti ini Nenek sudah memasak burasa dan Mama sudah memasak kaldu dan rendang untuk lebaran. Papa dan adikku pasti sudah sibuk membersihkan halaman, memotong beberapa ekor ayam serta membakar nasibulu. Biasanya Pamanku akan mulai membagi-bagikan hagala menjelang lebaran, masing-masing kami ponakannya akan mendapat ratusan ribu sebagai hadiah untuk membeli baju baru katanya.
Aku teringat di saat-saat seperti ini aku akan berjalan melewati lorong panjang RT.07 yang telah dihiasi oleh lampu-lampu tombolotohe yang menerangi malam hingga fajar tiba. Kami biasanya berjalan kaki beramai-ramai menuju pasar malam, berbelanja berbagai macam keperluan mulai dari pakaian, makanan hingga parfum dan aksesoris. Di perjalanan biasanya kami akan melewati para anggota remaja masjid yang sibuk membuat kubah untuk malam takbiran, mereka akan menguji mikrofon dan sound sistem dengan mengumandangkan suara khas, “tes, tes, tes maik, satu, dua...diicooba!”
* * *
Malam ini, ustadz Mustaqim tidak sholat tarawih bersama kami, tak ada lagi percakapan dan nasehat dari beliau seperti kemarin. Padahal di saat-saat seperti ini aku sangat butuh pada nasehat-nasehat itu. Tapi bukankah sudah cukup nasehat-nasehat kemarin untuk kujadikan pijakan? Alangkah cerobohnya diriku jika terus terhanyut dalam kesedihan. Tapi entahlah, apa ini suatu bentuk ketangguhan diri ataukah hanya kepura-puraan dalam ketegaran. Sementara jauh di dalam sana seakan ada suara yang memanggil, sebuah suara kesedihan, aku tak ingin lagi berbohong dan tak ingin lagi merasa hebat. Aku memang sedang rindu, aku sedih. Bolehkah aku menangis? Ataukah air mata itu salah bagi laki-laki?
Aku terbaring, tak ingat lagi dan tak peduli, hanya peci basah ini yang kujadikan lap wajahku. Kupikir ini bukan air mata, ini hanya kotoran kerinduan.
* * *
Dari kejauhan terdengar suara-suara ledakan petasan, sepertinya berasal dari desa di atas lokasi pesantren kami. Dari situ juga terdengar suara kumandang takbir tahmid dan tahlil, mungkin saja mereka sedang melaksanakan malam takbiran meskipun tidak seramai di tempatku karena aku tahu desa di atas kami itu adalah sebuah desa kecil. Aku baru selesai makan malam, piring-piring telah aku cuci, lantai masjid telah aku sapu dan pel seperlunya. Asatidz dan para mudabbir telah kembali ke rumah mereka, mungkin kini sedang bercengkrama, menikmati kebahagiaan malam lebaran.
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa malam ini bukan untukku, hanya untuk orang lain. Aku merasa suara-suara di desa atas itu seakan mengejekku, aku merasa kumandang takbir, tahmid dan tahlil itu hanya sebuah jebakan agar terharu. Telingaku seakan memperingatkan diri ini agar berhati-hati jangan sampai hatiku merasa bahagia, mengapa? Karena kebahagiaan itu bukan untukku. Karena kebahagiaan itu telah habis masanya bagiku dan kini adalah masa-masa penebusan dengan kesengsaraan. Mungkin dahulu aku terlalu bahagia sebagai seorang anak dari keluarga pas-pasan. Mungkin dahulu aku terlalu bahagia sebagai pemuda yang tidak kaya, mungkin..., ah, astaghfirullah! Ampuni aku yang telah berprasangka buruk pada-Mu ya Allah.
Tak terasa kedua tangan ini tiba-tiba menuju ke bawah dagu, menyentuh beberapa helai jenggotku yang baru tumbuh, menengadah. Ada beberapa doa-doa dan harapan terucap di bibir yang menghembus bersama nafas lalu mengabut bersama udara dingin malam. Doa-doa itu berhamburan ketika tak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali meminta dan meminta meskipun di hari-hari sebelumnya aku telah banyak meminta. Akan tetapi aku masih merasa tak bersalah jika harus meminta berulang kali. Lagipula apa yang bisa kulakukan saat ini selain meminta?
Aku masih terduduk lesu di tangga masjid ketika terdengar suara Mas Anggono, salah satu koki kami memanggilku, “mas Hawari, ada telepon dari Maluku.” Dalam heran bercampur kaget aku bergegas pergi menerimanya. Tanpa alas kaki aku berjalan cepat-cepat menuju rumah Ustadz Mustaqim. Setelah mengucapkan salam dan pamit, kuangkat gagang telepon yang sejak tadi telah tergeletak di meja.
“Halo?”
“Assalamualaikum akhy, bagaimana kabar?” Sebuah suara dari telepon, sepertinya aku mengenal suara ini.
“Afwan, ini siapa?”
“Astaghfirullah, antum sudah lupa kah?” Suara itu seperti bernada tersentak dan rasa penasarankupun kian menggebu.
“Iya ana lupa, ini siapa?”
“Dayat ini, Hidayat, wey! Sodara!” Serunya mengingatkan aku tentang gaya bicara seorang kawan akrab yang dulu sempat sekamar denganku di semester awal.
“Dayat Ternate?”
“Iya, sodara, huh so panglupa lagi.”
“Masya Allah, alhamdulillah baik sodara, bagaimana kabar antum?”
“Baik di sini sodara, alhamdulillah”. Suara Hidayat mengenangkan kebersamaan kami dahulu kala menghafalkan Alquran di pagi hari semester satu.
“Afwan ini sodara, tumben antum tiba-tiba telepon ana, ada apa sodara?”
“Weh antum sudah lupa kah? Ana mau ganti uang antum”.
“Uang? Uang apa Dayat?” Aku heran bercampur kaget.
“Weh antum so panglupa memang, kan ana dulu pernah pinjam uang antum?’
“Iya kah? Kapan itu sodara?” Aku semakin heran.
“Di semester awal sodara, adoh antum ini memang panglupa.” Aku mulai mengingat akhir kebersamaan kami ketika suatu hari dia harus kembali ke Ternate karena ibunya sakit keras, saat itulah mungkin dia meminjam uangku untuk pulang kampung.
“Berapa kah?”
“Satu juta setengah, sekarang ana sudah kirim di wesel pos, besok antum ambil saja di kantor Pos, jangan lupa e? Terimakasih banyak ini, sodara, maaf juga karena baru sempat ana ganti sekarang.” Suara yang mengingatkan aku tentang seorang sahabat dari pulau Ternate akhirnya menghilang bersama ditutupnya gagang telepon di sana. Sementara di sini aku sudah lupa apakah telah menutup telepon atau belum. Bukan itu yang aku pikirkan. Saat ini aku hanya ingin sujud, sujud.
Di manapun itu aku hanya ingin sujud pada-Mu ya Allah…, alhamdulillahi bin`matihi tatimmus shalihati. Kubumikan jidatku di lantai rumah yang berdebu. Debu-debu yang kini basah oleh air mataku.
* * *
Akh : Saudara laki-laki
Mudabbir : Pengurus pesantren.
Asatidz : Jamak ustadz, para ustadz, di pondok lain biasa disebut asatidzah.
Sighar : Anak kecil, santri yang masih kecil.
Thuuba : Kebahagiaan
Tombolotohe : Lampu templok, lampu minyak sumbu kain (Gorontalo).
Nasibulu : Nasi ketan yang dibakar dalam batang bambu (Poso).
Hagala : Uang hadiah lebaran, Angpao (Poso).