SEBUAH SENI UNTUK JATUH
Aku adalah Klaras, daun tua yang telah menguning. Pohon ini adalah rumahku dan pagi ini aku kembali merasa segar ketika sekumpulan embun beku mulai meleleh membasahi sekujur tubuhku. Matahari yang panas seakan tak terasa menyinari punggungku karena angin sepoi telah duluan membelaikan hawa sejuknya. Kini kudukku mulai terasa kaku kedinginan.
“Apa kabar, Klaras?” sebuah suara berbisik lembut di telingaku. Aku kenal betul suara ini. Dia adalah Bayu, angin dingin yang arogan, tak berwajah, hanya gerak dan suara namun kata-katanya sangat dingin, serasa hendak membekukan telingaku. Setiap hari dalam kenangan hidupku sebagai daun tak pernah lepas dari ocehan angkuhnya.
Kupalingkan wajahku menghindari hembusannya, yang kini mulai menggerayangi telingaku, membuatku geli. Tangkaiku mulai terasa lemas namun sapaannya barusan harus tetap kujawab, “Baik, Bayu, terimakasih sudah menyapaku.”
“Apa aku tak salah lihat, Klaras? Tubuhmu kini sangat kusam dan hijaumu mulai memudar, oh! Tidak! Kau mulai mengering?!” Suara ejekannya itu berpindah-pindah mengitari tubuhku. Mungkin ini adalah hinaannya yang paling parah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Aku baik-baik saja, Bayu, ini sudah takdirku dan aku bangga sebentar lagi tugasku selesai.”
“Oh, aku seperti mendengar keluhan daun kering yang sebentar lagi jatuh, apakah ini sebuah perpisahan?”.
“Kita belum akan berpisah,” Jawabku tegas membuat hembusannya tiba-tiba terasa diam.
Tak lama kemudian nada suaranya seperti sedang keheranan, “Maksudmu?”
“Aku berbeda denganmu yang hanya melaksanakan satu tugas dan hanya mengalami satu kali kehidupan. Ingatlah, Bayu, sejak dulu kau adalah angin dan sampai kapanpun kau tetap angin,”
“Hahaha! Memangnya setelah ini kau akan kemana dan akan jadi apa selain jatuh lalu membusuk?”
“Aku tidak jatuh dan tidak pergi begitu saja, sebentar lagi bumi akan mendekap dan menguraiku menjadi pupuk segar penyubur pepohonan, kehidupanku selanjutnya adalah menjadi humus. Dan kau, Bayu, semoga kau bersabar karena tetap saja akan menjadi angin”.
“Bah! Enyah kau, Klaras!”, Suara Bayu bergetar penuh amarah, hembusannya mulai terasa hangat dan tekanannya semakin kuat.
“Kau harus tahu bahwa daun-daun yang berguguran tidaklah pergi begitu saja namun meninggalkan banyak tunas-tunas baru, lihatlah!” kusibakkan helaiku yang mengering sehingga nampak puluhan tunas baru bermunculan di sekitarku. Aku tak lagi mendengar suara Bayu kecuali tiupannya yang terasa semakin lama semakin kencang. Dalam hatiku ingin sekali berterimakasih karena hembusannya selama ini telah menggetarkan ranting-ranting dan merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru.
Angin hangat yang bertiup keras ini adalah pertanda amarah Bayu semakin meluap. Kudengar suara patahan tangkaiku diikuti tubuh keringku yang berayun mengikuti hembusan.
Aku terhempas agak jauh dari pohonku tapi kemudian tubuhku membentur sebuah cabang pohon lain lalu mental. Kini aku kembali lagi ke pohon semula dan melayang turun perlahan.
Aku masih merasakan getar halus tubuh ringkihku membentur tanah, ada suara lembut terdengar, seperti bunyi benda rapuh yang terserak.
Aku adalah Klaras, satu di antara daun-daun kering yang berguguran siang ini. Aku telah terkapar namun sebentar lagi akan terurai dan membumi. Aku akan membangkitkan banyak kehidupan baru.
Poso, 15 Oktober 2024