Wasiat
Karya: Fakhrurrazi M. Qasim
Hari masih sangat pagi ketika Berlian membuka pintu depan rumah, membuat hawa dingin masuk seakan menguliti tubuhnya. Sebentar lagi anak-anak akan bangun, pikirnya sambil membuka jendela dan menarik kain gorden agar udara pagi leluasa masuk. Ini sudah hari keenam Stone, suaminya, belum kembali. Seingatnya, ini sudah yang kedua kalinya Stone menghilang tiba-tiba tanpa memberi kabar. Tiga bulan yang lalu, Stone pernah pergi selama dua belas hari, dan ketika kembali ia telah membawa sebuah sepeda motor baru yang kini digunakan untuk mengantar anak-anak ke sekolah serta membawa belanjaan dari pasar menuju rumah.
Awalnya Berlian kesal dan selalu mengomel di hadapan Stone tentang kesulitan mereka yang tidak punya kendaraan. Bahkan, omelannya semakin hari semakin sering dan semakin ganas, hingga tiba-tiba Stone menghilang lalu kembali membawa sepeda motor baru namun dengan wajah pucat. Ketika hendak berangkat mandi, tanpa sengaja ia melihat bekas luka dan jahitan di bawah rusuk kanan suaminya. Entah bekas luka apa itu, ia enggan menanyakannya, sebagaimana ia enggan menanyakan dari mana asal sepeda motor baru tersebut karena ia tahu betul bahwa suaminya hanyalah seorang tukang parkir.
Hingga sepuluh hari yang lalu, Berlian mengomel lagi saat Stone sedang duduk menikmati kopinya di pagi hari.
"Aku capek gendut begini, Mas! Coba kalau punya alat fitness sendiri di rumah, kan enggak perlu olahraga di luar?! Mas, kamu bisa apa jadi suami?!"
Omelan Berlian tiba-tiba terhenti oleh teriakan putra mereka, Robi, yang lagi asyik bermain game di dalam kamarnya.
"RTO lagi, RTO lagi, aah! Nih, kalau pakai Nvidia RTX 4090 sama RAM 32 GB DDR5, pasti enggak gini," desah Robi dari kejauhan.
"Ayaah!" Tiba-tiba Safira menghampirinya dengan wajah cemberut, lalu duduk dan memeluknya.
"Fira malas ke sekolah, teman-teman di kelas semuanya pada pakai iPhone, Fira aja yang masih Android... Beliin dong, Ayah!" bujuk Safira manja.
Dari jauh, sekonyong-konyong si gadis bungsu, Emerald, datang menghampiri sambil menangis.
"Ayah, kaki Emer sakit gara-gara jalan kaki sendiri pulang ngaji. Teman-teman naik sepeda listrik, Emer jalan kaki, huuu!" Tangis Emerald makin menjadi-jadi ketika naik ke pangkuan ayahnya lalu memeluknya.
Stone tak bergeming sedikit pun. Lama ia terdiam, lalu melepaskan pelukan Safira dan Emerald dan pergi meninggalkan Berlian yang masih sempat berkata, "Kalau pulang, beliin bakso, jangan lupa ya!" sambil menatap Stone yang hanya berjalan kaki menghilang di kejauhan.
Hingga pagi ini, ketika Robi, Safira, dan Emerald sedang sarapan, terdengar sebuah suara dari pintu depan yang memecah kesunyian pagi itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," keempatnya membalas salam.
Kemudian, Berlian beranjak melangkah dan membukakan pintu.
"Apa benar ini kediaman Ibu Berlian Batumulya?" Seorang pria berjaket kulit hitam berdiri sambil menenteng sebuah koper besar, sementara tangannya yang lain memegang secarik amplop surat.
"Iya, benar, dengan saya sendiri," sahut Berlian keheranan, apalagi ketika orang itu menyodorkan sebuah buku nota untuk ditandatangani, membuat Berlian semakin heran. Namun, di sisi lain, ia menerimanya dan langsung menandatanganinya.
Orang itu pamit pergi, meninggalkan sebuah tas besar dan secarik amplop berisi surat. Berlian membaca tulisan di amplop dan ia langsung mengenali tulisan tangan suaminya: Stone Batumulya.
Anak-anak belum juga berangkat ke sekolah. Karena penasaran, mereka membuka tas hitam besar itu dan wajah mereka seketika pucat karena kaget setengah mati.
"Ibu... uang..." teriak mereka sambil memberi isyarat kepada ibunya, yang segera meraih tas hitam seukuran dispenser itu. Tak sadar, ia menjatuhkan surat yang belum sempat dibacanya.
Si bungsu, Emerald, lah yang memungut surat itu lalu menyerahkannya kepada Safira hingga ia membuka dan membacanya:
"Buat keluargaku tercinta,
Ayah minta maaf tidak memberi kabar selama seminggu Ayah pergi. Tapi tenang saja, Ayah pergi bekerja untuk kehidupan kalian.
Berlian, istriku, tolong jaga baik-baik anak-anak, rumah, dan motorku karena hanya itulah milikku. Orang yang membawa surat ini juga membawa tas yang isinya uang; tolong pakai baik-baik uang itu untuk keperluan hidup dan anak-anak. Jangan lupa beli alat fitness untuk dipakai di rumah supaya tidak perlu keluar, dan maafkan aku yang tidak sempat membelikanmu bakso.
Untuk Robi, putraku, tolong jaga Ibu dan adik-adik, sekolah yang baik, kurangi bermain game, dan banyak belajar untuk masa depan. Minta uang kepada Ibu untuk membeli Nvidia RTX 4090 sekalian RAM 32 GB DDR5 seperti yang sering kamu bilang. Jangan ngamuk-ngamuk lagi minta beli kuota, kasihan Ibu sudah tua. Mending kamu belajar cari Bitcoin, Google AdSense, atau bikin vlog seperti anak-anak kuliahan di kosan sebelah. Tolong beri makan ayam bangkok Ayah, si Jagu. Kalau kamu lelah mengurusnya, jual saja.
Untuk Safira, putriku, tolong sekolah yang serius, jangan keseringan main HP, perbanyak belajar untuk masa depan. Minta uang kepada Ibu untuk membeli iPhone 14 Pro Max sekalian biar bisa dipakai belajar fotografi, jangan sibuk TikTok-an. Jangan suka ngambek kalau habis kuota, kasihan Ibu. Jangan lupa siram bonsai Ayah yang dua pohon. Kalau kamu lelah mengurusnya, ya jual saja.
Untuk Emerald, putri bungsuku, Ayah sayang banget sama Emer, jadi Emer jangan cengeng terus, dengar-dengaran sama Ibu, Kak Fira, dan Kak Robi. Minta uang kepada Ibu untuk membeli sepeda listrik biar Emer tidak capek berangkat ngaji. Jangan lupa beri makan kucing Ayah, si Oyen. Kalau Emer lelah mengurus Oyen, titip saja sama Pak Ustadz.
Maafkan Ayah yang tidak bisa lagi bersama-sama kalian. Selama ini Ayah pergi berjualan bola mata Ayah, sumsum Ayah, sisa ginjal Ayah, dan juga jantung Ayah. Jadi, pas kalian baca surat ini, Ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Selamat tinggal, Ayah sayang kalian semua, Ayah bangga pernah hidup bersama kalian."
Ayah,
Stone Batumulya
* * *
Poso, 1 Februari 2024