SETELAH GERIMIS REDA
Karya : Fakhrurrazi M. Qasim
Akhirnya aku kembali lagi ke sini, Stasiun Balapan, tempat pertama kali dia mengajakku untuk mendengarkan pernyataan cintanya, dua tahun yang lalu. Tempat ini belum banyak berubah. Koridor beton bergaris markah kuning sepanjang lokomotif, orang-orang yang lalu-lalang, mereka yang duduk menunggu kereta api tiba, serta pedagang di ruko-ruko sepanjang koridor. Semuanya menjadi semakin lengkap dengan nyala lampu-lampu yang berjajar melekat pada atap koridor. Di tempat inilah dulu hingga kini kami selalu bertemu. Di tempat ini pula, aku sering menunggunya yang kadang terlambat ketika kami janjian.
Namanya Damar. Ia datang pertama kali ke Losmen Mami Popy yang remang ketika demonstrasi besar-besaran dua tahun silam. Waktu itu polisi mengejar para demonstran dan dia salah satu dari mereka. Entah mengapa dia masuk begitu saja ke kamarku lalu memohon agar aku menyembunyikannya. Kumasukkan dia ke bawah kolong ranjang kecilku, membuatnya harus berbaring di sana selama dua jam hingga polisi benar-benar pergi. Sejak itulah dia mengenalku lalu sering datang sebagai tamu di losmen.
Menurutku, dia tampan dengan kulit sawo matangnya, mata elangnya, kumis tipis, dan gaya rambut potongan mangkoknya. Penampilannya pun santai. Hanya kaos katun dibalut kameja kotak lengan panjang. Kadang juga dengan jaket dan celana jin serta sepatu kets.
Kata orang, cinta itu tumbuh dari kebersamaan. Entah apakah itu berlaku juga pada hubungan kami.
Awalnya, aku berprinsip hubungan ini seharusnya tak pantas diiringi sebuah rasa yang bernama cinta. Meskipun pada kenyataannya, aku harus merelakan perasaanku terbawa olehnya.
Aku juga harus mengakui, kedatangannya berbeda dari sekadar seorang tamu langganan. Ia tak hanya sekadar memberi sentuhan, tak sekadar meminta kepuasan, dan tidak pula sekadar menindihku lalu tertidur pulas seperti tamu yang lain.
Dia memperlakukanku layaknya manusia. Dia berbicara, bercanda, memujiku, dan memberiku nasihat. Sampai pada tahap dia mengingat ulang tahunku dan merayakannya bersama. Sejak itulah dia mulai sering mengajakku berduaan di tempat ini, Stasiun Balapan, Solo. Dia mengingat dengan baik hobi dan makanan kesukaanku. Ia tahu betul aroma parfum favoritku, sebagaimana aku yang sangat menghafal aroma Polo Sport kesayangannya yang bercampur bau keringat tubuhnya.
Mulai saat itu pula, duduk berdua bersamanya, memandang jauh orang-orang dan kendaraan, bercerita lalu tertawa, bagiku terasa lebih hangat dan nyaman dibandingkan setiap pelukan dan desah napas kami yang memburu di ranjang.
Gerimis lembut yang memercik saat ini sama persis dengan gerimis yang membelai wajahnya kala itu dan aku menyekanya dengan tisu. Genggaman jemarinya yang kaku pun sama persis dengan yang kurasakan kala itu. Namun, kedatangannya kali ini jauh berbeda dari biasanya.
"Aku datang untuk minta maaf..., aku belum mampu memenuhi janjiku," bisiknya pelan. Suaranya berat seperti beban yang mulai kurasakan. Beban itu adalah sebuah pertanyaan tentang janji. Kata-katanya barusan membuatku merasa akan kehilangannya.
Entah mengapa aku begitu percaya dan teramat berharap ketika dia mengucapkan janjinya dahulu. Padahal, aku tahu hampir mustahil membebaskanku dari jejaring Mami Popy. Hanya saja, aku begitu bahagia saat mendengar janji itu. Janji untuk melepaskanku dari pekerjaan kotor ini. Janji untuk hidup bersama hingga ajal tiba. Janji yang kini dilepaskannya begitu saja.
"Aku juga ingin pamitan..., orang tuaku di Sulawesi ingin aku segera pulang."
"Kapan kau kembali?" Aku membalas erat genggamannya. Gerimis yang tadi sempat mengenai kami ternyata menyisakan basah pada telapak tangan. Dia menggeleng pelan sambil menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. Aku mulai merasa ada yang dia sembunyikan dariku.
"Kenapa baru bilang sekarang?" Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan di antara jutaan kalimat tentang perasaan dan keinginanku bersamanya. Aku bisa saja keberatan, tapi apakah itu layak bagi orang sepertiku? Di mata dunia, berjuta cintaku padanya mungkin tak sepadan dengan sebuah martabat. Karena martabatlah sehingga ada batas yang jelas antara orang baik-baik dan bukan orang baik-baik dan aku telah lama kehilangan itu.
"Kurasa ini terjadi begitu saja. Mungkin sudah takdir," desahnya berat meskipun tak seberat tanda tanya yang dilemparkannya padaku. Jujur, dulunya aku benci membenturkan segala kelemahan kepada takdir. Bagiku takdir adalah sesuatu yang bisa ditimpa, diganti, dan dan diubah dengan takdir yang baru. Tapi, setelah melihat takdirku sebagai pelacur, sepertinya sulit bagiku kini untuk mengubahnya.
"Semua tentang kita adalah takdir, Damar. Kembalilah nanti dan buat takdir baru bersamaku." Aku mencoba mengingatkannya agar tidak menyerah. Aku pun tak ingin begitu saja mengalah pada jarak. Aku benar-benar berharap dia akan kembali, meskipun bukan untuk menepati janjinya mengubah takdirku.
"Kita harus mengakhiri semua ini, Doris," tukasnya tajam, membuatku tercekat kaget. Napasku terasa berat, seakan ada sesuatu yang menghalangi aliran udara.
"Maksudmu Damar?!"
"Aku akan segera dinikahkan dengan sepupuku." Bisikannya terdengar seperti halilintar yang menyambar, menghanguskan seluruh mimpi dan harapan. Aku merasa pikiranku kosong. Seluruh persendianku pun terasa lemas.
"Kamu menerimanya?" Aku sengaja menanyakan itu karena Damar yang kukenal selama ini adalah pria yang siap menolak apapun demi kata hatinya. Bukankah ketika memilih mencintaiku dahulu, dia telah menolak predikat sebagai pria baik-baik?
"Ibuku menderita leukemia. Sudah kemoterapi, tapi semakin parah. Ia ingin sekali melihatku menikahi sepupuku sebelum ajalnya tiba," ungkapnya getir. Nampak bayangan kecemasan yang banyak di wajahnya, meskipun tak sebanyak rasa cemas di dadaku.
Bagiku, diam adalah pilihan terbaik saat ini meskipun sebenarnya aku ingin pergi, berlari dari semuanya. Perlahan kulepaskan genggamanku dari tangannya. Padahal jauh di dalam sana, hasrat kerinduanku masih meronta-ronta. Rindu pada sosok yang selama ini kukagumi, sosok yang kuanggap berbeda dari laki-laki lainnya. Sosok yang ternyata membuatku jatuh hari ini.
Selama dua tahun terakhir, aku terlanjur merasa menjadi manusia karenanya. Kini aku merasa kembali menjadi sampah yang diabaikan.
Sejujurnya aku telah dikhianati, tapi kupikir perasaan dikhianati hanyalah milik mereka, para orang baik-baik, sementara aku hanya pelacur, tak beda dengan pelacur-pelacur lainnya. Orang sepertiku akan wajar jika diambil kapan saja lalu dicampakkan sesukanya.
Gerimis telah reda, berganti matahari dan angin yang meniup menggeser mendung dari langit. Sementara, mendung di hatiku tetap tak bergeming, bahkan semakin kelam. Saat dia mengucapkan kata maaf, berbalik dan pergi begitu saja, duniaku terasa runtuh. Tak ada genggaman tangan, tak ada pelukan, apalagi ciuman seperti yang selama ini kurasakan.
Sejenak aku berdiri mematung. Menunggu, berharap agar dia berbalik dan memelukku. Namun sebaliknya, bayangan terakhirnya pun tak sudi berhenti apalagi berbalik. Aku tak lagi melihatnya seakan angin dan kesedihanku telah melahapnya hingga sirna.
Tinggallah aku yang masih mempertanyakan tentang pantas atau tidaknya seorang pelacur sepertiku merasa kehilangan kekasih.
Tak ada kereta api yang tiba atau pergi di stasiun ini. Jadwal keberangkatan dan kedatangan masih jauh. Hanya telepon selulerku yang berdering. Di layarnya tertulis 'Mami Popy memanggil', pertanda sebentar lagi ada tamu yang harus kulayani.
TAMAT