Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
26
SETRUK
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

SETRUK

Tong sampah, 27 Oktober 2021, pukul 09.12

Aku adalah secarik kertas setruk belanjaan. Ukuranku hanya delapan puluh milimeter. Di permukaanku tertulis huruf-huruf dan angka-angka kode serta angka nominal rupiah. Di bawahnya tercetak garis-garis dan titik-titik barcode. Tulisan-tulisan itu berwarna hitam, tercetak menggunakan tinta sublim yang dipanaskan. Bagiku, tulisan-tulisan itu seakan menodai putihnya tubuhku sebelumnya ketika masih di dalam roller.

Kupikir tak satu pun yang akan peduli jika aku merasa bahwa sampai saat ini aku belum melayani siapa pun kecuali mesin pencetak kasir. 

Andai aku bisa memilih tentu aku takkan mau menjadi kertas kecil seperti ini. Kertas yang hanya dibutuhkan sesaat ketika manusia selesai berbelanja. 

Mereka hanya mengambilku ketika diserahkan oleh kasir bersama uang kembalian, tanpa menoleh sedikit pun. Dengan entengnya mereka meremasku, lalu memasukkanku ke tempat sampah. Di saat seperti itu, aku pun berpikir. Apa sebenarnya manfaatku? Jika hanya keluar dari mesin lalu dibuang lagi ke tempat sampah, bukankah tisu cebok di toilet lebih berguna dariku? Sekotor-kotornya tisu toilet, dia tetap saja berguna dan penting bagi kebersihan manusia. 

Belakangan ini aku mulai berharap. Andai saja kehadiranku di dunia bukan sebagai kertas setruk melainkan sebagai lembaran-lembaran kertas kitab suci, tentu akan sangat nyaman kurasakan. Pada tubuhku tertoreh firman-firman Tuhan ataupun sabda-sabda para Nabi dan Rasul. Setiap hari tubuhku disentuh oleh tangan-tangan orang saleh. Setiap hari aku dipandangi, dibaca, dan difahami oleh para ulama. Bahkan, lembaran demi lembaranku terkadang akan basah oleh tetesan air mata kesalehan ataupun air mata pertobatan. Pokoknya, alangkah indahnya hidupku jika demikian.

Kenyataannya kini aku tak punya pilihan selain mengkerut dan tertekuk berlipat ganda. Lipatanku ini tak beraturan, acak, dan abstrak. Belum lagi tempatku saat ini adalah dalam sebuah tong bersama sampah basah dan debu-debu yang aku sendiri pun tak tahu lagi membedakan mana yang busuk dan mana yang tidak. Semuanya kini adalah sampah, aku pun sampah. Sebentar lagi kita akan berakhir, semoga di kehidupan selanjutnya aku bisa menjadi kertas kitab suci.

"Sudah dapat, Komandan. Saya di kamar tersangka sekarang," bisik seorang pria kekar berambut cepak yang mengenakan kacamata hitam. Dia kini menggenggamku, mengangkat, dan mengeluarkan aku dari tong sampah, meniup debu-debu yang menempel di tubuhku, lalu memelototi tulisan-tulisan yang tertera di tubuhku. 

“Catatannya benar, Komandan. Pisau Swiss Army, merk Victorinox, sama persis dengan barang bukti.” Pria itu kembali berbicara menggunakan telepon selulernya seraya mengibas-ngibaskanku di udara kosong membuat lembaranku bergoyang. Meskipun hampir mustahil bagiku untuk menghilangkan bekas-bekas lipatan di tubuh, tapi setidaknya kekakuanku sedikit berkurang. Aku pun senang karena akhirnya bisa menyaksikan lagi dunia di balik tong. 

Aku melihat sebuah kamar yang berantakan dan seluruh dindingnya telah ditempeli pita plastik bertuliskan ‘Garis Polisi’ dan ‘Police Line’. Ada apa sebenarnya dengan kamar ini? Padahal, tiga hari yang lalu aku sempat melihat ruangan ini rapi dan bersih, bukan seperti ini. Mungkin aku terlalu lama dalam tempat sampah hingga melewatkan banyak kejadian penting di luar sini.

"Siap! Saya segera merapat ke ruang forensik, Komandan!" seru pria tadi dengan berbisik pada telepon selulernya seraya memasukkanku ke dalam plastik klip.

* * *

Ruang Sidang Kejari, 11 Maret 2022, pukul 18.34

"Mengadili, menyatakan, Terdakwa Arya Badrut telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana hukuman mati." Suara hakim itu datar namun lantang seakan memecah suasana. 

Dari atas meja barang bukti, aku melihat pria yang pernah meremasku dan memasukkanku ke tong sampah lima bulan yang lalu. Dia tampak tenang dan tegar namun matanya tak bisa berdusta. Ada ketakutan yang mendalam di bola mata hitam legam itu. Tadi aku sempat melirik sepasang mata itu yang ternyata menatap tajam kepadaku atau pada Jaksa Penuntut Umum yang memegangku.

Atas perintah Jaksa Penuntut Umum, aku diangkat oleh Petugas Barang Bukti ke dalam Arsip Pembuktian. Ada kebanggaan tersendiri dengan statusku saat ini. Pada satu sisi aku telah berjasa pada negara namun di sisi lain aku akan abadi sebagai setruk dalam Ruang Arsip Kejari. Aku gagal lagi menjadi kertas kitab suci, meskipun, setidaknya telah terbebas dari tong sampah.

* * *

Gedung Barang Bukti, Kejari 12 Maret 2022

Aku hanya berbaring dan berbaring. Memang tak ada yang bisa kulakukan selain berbaring. Kurasa ini adalah keterberbaringan yang sejak kapan dan entah sampai kapan. Masih di dalam plastik klip bersama pisau kecil Swiss Army merek Victorinox yang namanya tertulis di tubuhku seharga empat ratus ribu rupiah.

"Hai! Siapa di situ?" Sebuah suara begitu dekat terdengar tetapi entah siapa. Aku masih menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari dari manakah asal suara yang barusan terdengar.

"Aku di sebelahmu, di plastik klip besar, ini nih, baca tulisannya, kelihatan kan?" Aku mencari suara itu dan menemukan sebongkah plastik klip besar bertuliskan BB/12/IV/2022/Densus 88 AT, sebuah benda seperti buku kecil dengan sampul kulit berwarna hitam bertuliskan huruf arab. Dalam kaget yang belum sepenuhnya sirna, aku makin heran. Aku baru sadar, ternyata selama ini aku tak sendirian. Hatiku pun berangsur tenang. Akhirnya memiliki seorang teman.

"Kamu siapa?"

"Aku kitab suci."

"Ah? Ki.... Kitab, suci?" Dadaku seakan dihantam palu godam. Tenggorokanku mendadak kering. Baru saja beberapa hari yang lalu aku memikirkan benda ini. Ternyata, dia berada tak jauh dariku.

"Iya, Aku bosan, tak ada lagi orang yang membacaku di sini. Kalau tahu bakal seperti ini, lebih baik dahulu aku menjadi kertas setruk belanjaan agar setelah terlahir aku bisa langsung mati dan berproses kembali. Oh, ya. Kamu siapa?"

TAMAT

Poso, 2 Juni 2026

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi