Disukai
0
Dilihat
29
Desir Angin di Sela Padi
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jejak Kaki di Pematang Basah

Ketika kepenatan kota lebur dalam pelukan dingin tanah leluhur

∘₊✧──────✧₊∘

Gemuruh mesin bus antarkota perlahan mengecil, menyisakan kepulan asap kelabu yang lekas tersapu halimun pagi di pertigaan tugu batu Desa Kalisoka. Viqaran Ghazanfar berdiri terpaku di bibir jalan aspal yang telah retak-retak oleh akar pohon randu hutan. Di punggungnya bertengger sebuah tas ransel kanvas lusuh—satu-satunya saksi bisu perjalanan tujuh tahun yang melelahkan di jantung megapolitan. Napasnya terengah halus, bukan semata karena berat beban bawaan, melainkan rongga dadanya yang selama berbulan-bulan terasa sesak oleh kepulan polusi, dengung klakson tanpa henti, dan tuntutan target korporat yang tak pernah mengenal rasa puas.

Tujuh tahun bukanlah masa yang singkat bagi seorang pemuda yang dulu meninggalkan kampung halamannya dengan kepala tegak penuh ambisi. Di Jakarta, ia menjejakkan asa pada lantai-lantai marmer gedung pencakar langit, memforsir detak jantung hingga dini hari, menukar waktu tidur dengan secangkir kopi hitam instan, dan membiarkan nuraninya digerus kesunyian di balik bilik apartemen sempit berselimut dinding kedap suara. Kota besar menjanjikannya kejayaan, namun menagih bayaran termahal: kedamaian batinnya sendiri. Beberapa pekan belakangan, insomnia parah dan kecemasan yang mendera membuatnya menyadari bahwa jika ia terus bertahan sehari lebih lama di sana, jiwanya akan remuk menjadi serpihan tak bernama.

Maka pada hari Kamis malam yang pekat, tanpa pamit berbelit pada rekan kerja yang dingin, Viqaran mengemasi beberapa helai pakaian dan melangkah menuju terminal. Ia hanya ingin satu hal: pulang.

Kini, di hadapannya terbentang lembah Kalisoka yang masih terselimut tirai kabut tipis. Sisa hujan deras subuh tadi masih meninggalkan jejak genangan air jernih di ceruk-ceruk jalan setapak. Viqaran menghela napas panjang untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menahan napas kehidupan. Ia melepas sepatu bot kulitnya yang berdebu tebal, melipat celana kainnya hingga sebatas lutut, lalu melangkah turun dari jalan aspal menuju pematang sawah pertama.

Begitu telapak kakinya yang telanjang menyentuh lumpur pematang yang lembap, sebuah sengatan dingin yang menenteramkan menjalar dari ujung jari kakinya hingga ke ubun-ubun. Lumpur sawah itu gembur, lembut, dan sejuk seperti pelukan seorang ibu yang telah lama menunggu anaknya kembali dari medan perang. Dan seketika itu pula, aroma itu menguar.

Petrichor. Ya... Petrichor, angu atau ampo (bahasa Indonesia: petrikor) adalah bau alami yang tercipta saat hujan turun di la...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi