Disukai
0
Dilihat
20
Fardun dan Puteri Anggur
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB 01: GEMERSIK SENJA DI LEMBAH LEMBAYUNG

Ketika bayang-bayang bukit memanjang dan parit batu berbisik tentang dahaga purba

─── ⋆⋅🍇⋅⋆ ───

Matahari senja menggantung laksana bola tembaga pijar di atas igir-igir Pegunungan Wilis Kuno, menumpahkan lelehan jingga tua yang perlahan merambat menjadi warna merah lembayung di langit barat. Di bawah hamparan cakrawala yang terbakar pelan itu, kebun anggur seluas ratusan hektar milik Fardun Ar Rimbai membentang bagaikan gelombang samudra zamrud yang tak bertepi. Ribuan tiang penyangga kayu jati tua yang telah menghitam oleh tempaan cuaca berdiri kokoh, memikul juntaian rambatan sulur anggur yang lebat, sarat dengan dompolan buah merah kehitaman yang gemuk berair. Daun-daun lebar berlekuk lima itu bergesekan pelan diterpa angin pegunungan yang mulai mendingin, memperdengarkan simfoni bisikan dedaunan yang selalu menenangkan jiwanya sehabis seharian penuh bekerja.

Fardun melangkah pelan di atas jalan setapak tanah liat padat yang diapit oleh deretan lorong tanaman anggur yang menjulang tinggi melampaui kepalanya. Tingginya mencapai lebih dari dua setengah meter, membentuk terowongan hijau yang teduh dan misterius. Pria muda berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan kemeja katun kasar warna nila berlengan panjang yang tergulung hingga ke siku, memamerkan lengan bawahnya yang kecokelatan dan berurat kuat—tanda nyata dari kerja keras di bawah terik matahari, bukan sekadar pemilik modal yang hanya duduk berpangku tangan di balik meja kayu mahoni pendopo rumahnya. Di pinggangnya terikat sehelai selendang lurik cokelat tua yang menahan sarung celana kerja praktis, sementara di tangan kanannya tergenggam sebatang kunci pas kuningan kuno berkepala ganda dan sebuah buku catatan kecil berbungkus kulit sapi kusam.

Hari itu adalah penghujung musim kemarau basah, masa paling kritis bagi ratusan hektar tanaman anggur varietas purba yang diwariskan mendiang kakeknya, Ki Danuarsa. Pada minggu-minggu menjelang panen raya seperti ini, takaran air di setiap jengkal perakaran tidak boleh salah barang setetes pun. Kelebihan air barang sedikit saja akan membuat kulit buah anggur yang tipis merekah pecah dan membusuk sebelum sempat dipetik; kekurangan air walau sekejap akan menyebabkan bulir-bulir manis itu mengerut layu, kehilangan sari anggur terbaik yang menjadi kebanggaan seluruh lembah.

Karena alasan itulah, ketika para pekerja kebun telah pulang menuju desa sebelum adzan magrib berkumandang, Fardun selalu memilih untuk tinggal sendirian di perkebunan. Ia ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi