Disukai
0
Dilihat
10
Matcha & You
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Part 1

"Yo, what's up girl," itu Chandra yang bicara. Pria berkacamata dengan hidung mancung yang bepredikat sebagai sahabat sehidup sepenanggungan dengan kakak gue satu-satunya, Aga.

Melepaskan genggaman kopernya, Chandra sudah mengangkat tangan untuk mengusak rambutku sebelum Aga menarik tangannya.

"Jangan pegang-pegang adik gue," ucap Aga. Mereka tertawa.

Hari ini adalah hari kepulangan kedua laki-laki penting dalam hidup gue, Ava, selain bokap gue tentunya.

Selama hampir empat tahun Chandra dan Aga bolak -balik Jakarta-Australia karena mereka bersekolah di sana dan, yup sekarang mereka sudah lulus, menyelesaikan semua urusan di Australia, dan benar-benar kembali ke Jakarta untuk selamanya, mungkin.

Ini gue, Aluna Parvati Widarkusuma, mahasiswi tingkat akhir DKV di salah satu universitas negeri populer di Depok. Orang-orang terdekat gue biasa manggil gue "Ava" karena menurut mereka, muka gue lebih mirip karakter anime dibanding manusia. Mungkin gue perlu bersyukur karena gue numpang lahir di Australia, jadi ada efek bule? Entah.

"Sini gue aja yang nyetir," ucap Chandra. Tangan Chandra sedikit menyentuh tangan gue saat berusaha menyingkirkan tangan gue.

Gue? Biasa aja, karena memang udah biasa dan anggap dia kayak abang.

Tapi satu yang gue enggak tahu, sentuhan sedikit seperti itu mampu buat Chandra memanas. Dan orang yang menyadari itu adalah abang gue.

"Lo abis ini langsung kerja di perusahaan bokap lo atau mau break dulu Chan?" tanya Aga yang kini duduk di samping Chandra. Gue yang duduk di belakang cuma jadi pendengar mereka.

"Minggu depan gue mulai kerja, lo sendiri?" tanya Chandra.

"Besok juga udah mulai kerja gue. Tahu sendiri, gue kerja di perusahaan kompetitor bokap gue, enggak bisa seenaknya," jawab Aga santai.

"Bokap lo tahu kalau lo kerja di sana?" tanya Chandra dengan nada serius setengah khawatir.

"Of course no. Bisa menggila dia, satu-satunya penerus dia malah kerja di perusahaan musuh bebuyutannya," ujar Aga sambil melirik gue.

Aga tahu pasti bahwa gue sama sekali enggak berniat meneruskan perusahaan bokap yang bergerak di bidang properti.

"Gue mau puas-puasin main dulu di perusahaan lawan, sekaligus belajar cara mereka kelola," ujar Aga dengan mata berapi-api.

"Tiati lo, kalau sampai mereka tahu identitas lo," ucap Chandra memperingatkan.

"Never. Lo tahu gue paling jarang muncul di publik, bahkan enggak cantumin nama keluarga di ijazah mana pun. Enggak kayak ini adik gue, yang jadi sweetheart di mata publik," kata Aga.

"Ada untungnya dulu gue paling enggak suka muncul jadi sorotan publik, biarin orang tahu kalau anak sulung keluarga Widarkusuma masih di Ausie, seorang yang cuma suka party dan suka main-main cewek," kata Aga antusias.

"Va, liat abang lo ni. Gila juga kan rencana dia," ujar Chandra sambil ngelirik gue dari rearview mirror.

"Biarin aja, untung aja ceweknya macam kak Angia, kalau enggak, udah jadi jomblo abadi tuh dia. Kelakuannya bener-bener....," kata gue menimpali.

Tangan Aga langsung memberi isyarat buat gue diam, dan umur panjang karena kak Angia menghubungi Aga.

"Yes baby, ini udah sampai Jakarta, lagi di jalan mau balik rumah dulu. Besok baru ke apartment. Kamu di mana sekarang?" tanya Aga dengan lembut, sungguh berbeda pencitraan dia dari publik dan saat mengenal kepribadiannya.

Sebenarnya Aga benar-benar tipe pria bucin dan setia hanya pada satu wanita. Tapi sikap ramahnya pada semua orang, termasuk lawan jenis, sering membuat Aga kesulitan mengharapi berbagai rumor dan sering membuat lawan jenis salah mengartikan kebaikannya.

Entah berapa kali Aga dirumorkan dekat dengan wanita, mulai dari selebgram, artis, karena hobi party dan termasuk social butterfly.

"Nanti malem aku jemput ya baby, kita dinner," kata Aga kemudian.

"I love you baby, miss you so much," ucapnya sebelum menutup telepon.

Tanpa gue sadari, sepanjang perjalanan, Chandra mencuri-curi pandang lewat rearview mirror.

-----

"Lo belum balik bang?" tanya gue ke Chandra yang masih duduk santai di dekat kolam renang.

Melihat ke arah gue dan langsung meletakkan ponselnya, gue lihat game di ponselnya tetap menyala.

"Kirain udah balik, bang Aga kan pacaran," ucap gue.

"Entar deh, males juga di rumah sepi. Mending di sini," ujarnya sambil terus memperhatikan langkah gue yang mengambil duduk di sampingnya. Hanya ada meja kecil memisahkan kursi santai di pinggir kolam.

"Mau berenang aja enggak?" tanya Chandra tiba-tiba.

"Ayok deh, gerah juga. Entar gue ganti," ucap gue singkat dan langsung berdiri.

"Eh..." ujar gue dan berhenti berjalan.

"Emang lo bawa ganti baju renang?" tanya gue. "Koper lo kan udah dikirim ke rumah lo," kata gue lagi.

"Gampang lah, kan baju Aga baju gue juga," jawab Chandra.

"Oh iya, lupa gue, kalian kan apa-apa berbagi, kecuali pacar," ucap gue sambil menjulurkan lidah, karena gue tahu Chandra bertahun-tahun jomblo.

"Nih bocah ya, bandel banget," kata Chandra gemas sambil berniat melempar sandal rumahannya ke arah gue, tapi gue langsung lari.

Waktu melangkah ke arah kolam, gue belum lihat Chandra di sana. Cuaca secerah ini, sayang banget emang kalau enggak dimanfaatin buat renang, apalagi beberapa hari ini ujan.

Gue narik unicorn karet berniat menaikinya, tapi tidak semudah itu. Dan sebenarnya ini yang paling gue benci dari unicorn ini semenjak beli, rasanya enggak ada perkembangan buat gue bisa naik tanpa harus terjatuh.

Melihat gue yang kesulitan naik sendiri ke atas unicorn, Chandra tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam kolam, spontan memegang bagian belakang unicorn sehingga gue lebih mudah menaiki unicorn itu. 

"Thanks," ucap gue singkat. Entah kenapa tiba-tiba muka gue terasa panas waktu gue sadar Chandra bertelanjang dada. Enggak sia-sia rasanya dia rajin ke gym bareng Aga, dan hobinya surfing buat kulitnya eksotis.

"Lihat apa?" tanya Chandra yang langsung membuyarkan imajinasi liar gue sesaat.

"Enggak lihat apa-apa," ucap gue sambil mengalihkan pandangan.

Gue enggak sadar, Chandra tersenyum kecil melihat tingkah gue.

"Dasar, gengsi," kata Chandra lirih, benar-benar lebih mirip bisikan ke diri sendiri.

Lampu di halaman belakang menyala dan buat gue sadar ternyata udah mulai sore. Sementara Chandra tak ada terlihat niat untuk berhenti berenang, dan gue yang memilih buat naik ke atas dan mengeringkan tubuh dengan handuk, hanya menikmati pemandangan punggung Chandra yang seluas papan selancar, tapi memiliki pinggang yang pasti jadi idaman banyak wanita.

Gue duduk dan minum jus yang tadi dibuatkan mbak di rumah.

Melirik ke arah smartwatch gue, gue sadar detak jantung gue tiba-tiba tambah cepat. "Tapi kenapa?" ucap gue lirih.

"Kalian jam segini masih berenang?" tanya Aga yang muncul tiba-tiba sambil menggandeng kak Angia.

Wanita bertubuh tinggi, rambut pendek dan tubuh ramping sebagai hasil pilates rutin itu berjalan menghampiri gue.

"Adek, kangen gue sama lo," ujar Angia sambil meluk gue.

Ya memang, sejak abang gue kuliah, gue masih cukup sering ketemu Angia, tapi tidak beberapa bulan ini karena Angia yang seorang dokter cukup sibuk, terlebih aktivitas volunteernya belakangan di daerah bencana, buat gue jarang ketemu Angia.

Gue tersenyum menyambut pelukan Angia.

Chandra yang menyadari kedatangan Aga, langsung berhenti berenang. Saat ngelihat ke arah Chandra yang mengibaskan rambut basahnya, entah kenapa jantung gue tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Sejak kapan dia jadi cakep banget gini sih, bikin susah hati aja

"Dinner yuk berempat," ajak Aga.

"Lah, gila aja lo, lo pacaran sama Angia, gue ngapain?" tanya Chandra sambil membungkus tubuhnya dengan handuk.

"Halah, alesan. Angia enggak mau nih kalau cuma berdua, takut khilaf katanya," seloroh Aga yang membuat Angia melirik tajam ke arah Aga.

"Becanda, becanda princess," ucap Aga menatap gemas kekasihnya itu.

"Kan berempat, ada adik gue, apa yang jadi nyamuk sih, enggak bakalan. Lo kan bisa maen ma adik gue," kata Aga sambil melirik ke arah Angia.

Gue yang melihat tingkah kakak gue dan pacarnya itu, langsung mengerutkan dahi.

"Curiga nih gue. Punya rencana apa kalian?" tanya gue.

"Enggak ada, curiga apa sih dek," ujar Angia sambil mencubit hidung gue gemas.

"Udah cepet siap-siap, abang udah pesen tempat di restoran favorit lo tuh," kata Angia.

"Hah, serius? Mau ke Alongitude?" tanya gue antusias.

"Makin curiga gue, mau apa lo?" tanya gue lagi ke Aga.

"Punya adik kok hawanya curiga mulu dah," jawab Aga.

"Mau enggak? Kalau enggak gue batalin nih," ucap Aga sambil merogoh kantong untuk mengambil ponsel.

"Mau, mau," ucap gue buru-buru.

"Ngambekan ih, males," ucap gue lagi sambil berjalan melewati abang gue dan Chandra.

-------

Adek, udah belum siap-siapnya? Ini tinggal nunggu lo turun.

Gua lihat pesan Aga tanpa buka ruang chat.

"Hi Bixby, call my silly bro" ucapku yang masih sibuk meluruskan rambut dengan alat catok.

Setelah terhubung, gue langsung bilang buat tunggu 10 menit lagi. Tak lama panggilan telepon gue tutup, pintu kamar gue diketuk.

"Bentar ih, kagak sabaran banget," ucap gue sambil meletakkan kembali alat catok di tempatnya dengan terburu-buru, berlari ke ruang wardrobe dan mengambil tas kecil yang bahkan hanya akan muat untuk menyimpan ponsel lipatku tanpa ada tambahan lain.

Memasukkan liptint, wet tissue mini dan berdiri mematung sambil berpikir apa yang harus dibawa, mataku menatap arah pintu setelah seseorang menekan handle dan mendorongnya.

"Ah, kakak, maaf y kak aku lama," ucap gue saat melihat ternyata Angia yang tadi mengetuk pintu kamar.            

"Enggak apa-apa, dek. Kakak kamu aja yang hobi godain kamu," ujarnya lembut.

"Mama papa ke luar negeri lagi dek?" tanyanya kemudian sambil duduk di sofa yang ada di samping jendela, sambil menatap gue yang masih berusaha memasukkan beberapa barang ke dalam tas mungil.

"Iya kak, biasa lah, papa kan kalau kemana- mana sepaket sama mama," kata gue.

"Yuk kak," kata gue lagi setelah memastikan semua beres dan rapi.

Menggaet lengan Angia, gue turun dan tanpa gue sadari, Chandra lama ngeliatin gue.

"Cantik,"ucapChandra lirih yang mungkin hanya bisa didengar dirinya sendiri

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi