Bagi Nalaea Ardiraatmadja, menjadi residen Ortopedi dan Traumatologi bukan hanya sekadar pekerjaan. Karir yang digelutinya dengan segenap hati ini merupakan obat terapi untuk jiwa Nala yang sedang rapuh.
Jadwal operasi yang padat dan pasien yang datang silih berganti sudah cukup menyita habis waktu Nala, hingga tak tersisa sedikit pun ruang baginya untuk memikirkan cinta lagi diluaran sana. Luka akibat perselingkuhan mantan kekasih Nala beberapa waktu yang lalu masih cukup menganga lebar, meninggalkan kehancuran sangat membekas hingga membuat Nala jadi menutup hati rapat-rapat untuk siapapun pria yang mencoba mendekati Nala.
Namun sejak dulu, Nala memang ahli dalam memalsukan kebahagiaannya sendiri. Di Rumah Sakit Memorial Washington, ia dikenal sebagai pusat keceriaan bagi siapapun yang berada didekat Nala, terlebih pasien-pasien terapi Nala sendiri.
Saat mereka melihat senyum manis serta keceriaan Nala ketika menangani cedera tulang para pasien, tak akan ada yang pernah menyangka bahwa di balik seragam biru gelapnya, hati Nala sedang hancur berkeping-keping.
Bagi Nala sekarang, menyembuhkan pasien ditangannya adalah cara terbaik untuk memulihkan luka di hati Nala sedikit demi sedikit.
Nala tidak pernah tahu bahwa pembawaannya yang santai dan riang ternyata menjadi satu-satunya alasan seseorang untuk tetap bertahan hidup.
Inilah yang Jack Patrick rasakan.
Dua tahun lalu, Jack Patrick dihadapkan pada kondisi fisik di titik nadir dalam hidupnya. Jack yang saat itu merupakan anggota militer Amerika baru saja pulang dari medan perang setelah bertugas di Afghanistan dengan cedera berat yang nyaris merenggut kedua kakinya.
Dan cedera pada kaki Jack yang akhirnya menamatkan karir Jack di dunia kemiliteran Amerik. Harapan Jack untuk tetap mengabdi pada negara tercintanya langsung pupus.
Dan akibat tragedi ini, sosok Jack jadi berubah. Jack jadi lebih cepat emosi sekaligus meledak-ledak. Dan kemarahan Jack pada dunia pun membuatnya menjadi pasien yang paling sulit ditangani hingga beberapa dokter spesialis sekaligus berbagai terapis langsung angkat tangan menghadapi sikap keras Jack Patrick.
Sampai akhirnya Jack bertemu Nala.
Dokter Ortopedi muda serta cantik yang usianya terpaut cukup jauh di bawah Jack mejadi satu-satunya orang di rumah sakit yang tidak gentar menghadapi amarah Jack. Seakan Nala punya caranya sendiri dalam menghadapi kegelapan hidup Jack.
"Jack, di dunia ini, mimpi tidak hanya bisa diukir pada satu tempat saja," ujar Nala suatu kali, saat Jack hampir menyerah pada salah satu sesi terapinya. "Hanya karena kamu tidak bisa lagi di lapangan sebagai militer, bukan berarti pengabdianmu selesai. Ada banyak cara untuk menjaga negara ini, Jack. Bukan hanya jadi tentara Amerika saja."
Awalnya, Jack tidak benar-benar peduli. Jack masih terlalu sibuk marah pada takdir hidupnya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, kata-kata Nala perlahan mulai meresap ke dalam hati Jack. Kehadiran gadis itu pun lambat laun meredam emosi Jack. Senyum Nala, kesabarannya, bahkan keheningan yang gadis itu tawarkan saat mereka hanya duduk berdampingan tanpa bicara, memberikan sesuatu yang tidak pernah Jack sadari ia butuhkan.
Selama dihabiskannya waktu penyembuhan diri melalui bantuan Nala, Jack akhirnya menuju pada satu kesimpulan yang membuatnya jadi terpacu untuk segera sembuh.
Jack jatuh cinta pada Nalaea.
Lalu suatu ketika, Jack memberanikan diri mengatakan apa yang ia rasakan untuk Nala begitu kondisi fisiknya jauh lebih baik.
Jack ingin mengajak kencan Nala.
Namun, niat Jack terhenti di udara, saat langkah kakinya yang baru saja memasuki lobi rumah sakit, terhenti ketika tanpa sengaja mata Jack mengunci satu hal di ujung lorong rumah sakit.
Seorang pria tengah mencium mesra Nala.
Dan saat itu Jack baru tahu, bahwa ia terlalu sibuk menyalahkan dunia atas cedera pada kakinya sampai Jack begitu pongah untuk tidak mau mencari tahu lebih dulu apakah Nala sudah punya kekasih atau belum.
Akhirnya Jack mundur. Dan sejak saat itu pun, Jack tidak lagi bertemu dengan Nala.
Dua tahun berlalu. Jack kini sudah beralih tugas menjadi Staf Senior Analis di CIA.
Dan ketika Jack mendapat tugas untuk meneliti wabah penyakit yang sedang menyebar di negara konflik timur tengah, Jack memutuskan untuk menemui seorang kepala rumah sakit guna menunjang penelitiannya di Rumah Sakit tempat Jack pernah terapi.
Jack meyakinkan dirinya sendiri bahkan ketika kakinya menginjak pedal gas pada mobilnya menuju Rumah Sakit Memorial Washington, tujuannya hanya untuk menemui Dokter Randlaf West saja, tidak ada yang lain.
Namun, ketika dirinya memasuki lobi rumah sakit, Jack tahu, hatinya tetap berlabuh ke satu titik, yang ia harap, keberadaannya masih ada di rumah sakit tersebut.
Di sisi lorong lain, Nala sendiri sejak tadi sudah sibuk menyembunyikan diri. Sejak statusnya kembali melajang beberapa bulan lalu, ia terus dikejar oleh beberapa pria yang berusaha mengajak Nala berkencan.
Dan dari sekian banyak tawaran dari para pria yang sudah Nala coba tolak, ada Darren, rekan sesama residen yang luar biasa keras kepala dan tak gentar mendekati Nala. Sudah dua minggu ini Nala bersikeras menghindar dari Darren, karena dia sudah kehabisan alasan untuk menolak ajakan kencan Darren yang terbilang variatif.
Di kejauhan, Nala membeku ketika matanya menangkap sosok Darren dengan balutan seragam rumah sakit berwarna merah gelap, membuat Nala berputar cepat untuk menghindari ke sekian kalinya tanpa kentara.
Namun saking sibuknya melakukan penghindaran, Nala sampai harus menabrak seorang pria dengan tubuh menjulang sangat tinggi di depannya hingga membuat Nala nyaris terperosok ke lantai.
"Aduh..."
Satu tangan yang sangat kokoh dan hangat dengan cepat menangkap punggung Nala, menahannya agar tidak terjatuh.
Nala mendongak, bersiap meminta maaf atas tingkahnya yang luar biasa sembrono. Namun ucapannya seakan menggantung di ujung lidah saat matanya membelalak menatap pria tampan yang baru saja ia tabrak.
"Jack?"
"Nala?"
Baik Jack maupun Nala sama-sama terkejut hingga membuat keberadaan Darren yang semakin mendekat tidak di antisipasi Nala.
"Ada yang lihat Dokter Ardiraatmadja?"
Suara Darren terdengar mendekat, membuat pandangan Nala dari mata cokelat Jack beralih ke belakang punggungnya mendadak kaku.
Ketakutan di kedua mata Nala seakan terbaca jelas oleh Jack.
"Kamu sedang dikejar siapa?" tanya Jack heran. Kalimat pertama yang terdengar cukup aneh untuk Jack utarakan sebagai pembuka atas pertemuannya kembali dengan gadis cantik didepannya ini.
"Aku harus bersembunyi, Jack," bisik Nala panik alih-alih menjawab pertanyaan Jack. Matanya melirik gelisah ke belakang lalu kembali berkata, "Kalau tidak, sia-sia saja usahaku seharian ini menghindari orang itu!"
Jack mengernyit, mencoba mencerna ucapan Nala yang sama sekali tidak menjawab secuilpun rasa penasaran Jack.
“Memangnya apa yang di lakukan orang itu sampai membuatmu jadi ketakutan seperti ini, Nala? Katakan padaku, aku akan melindungimu dari siapapun yang sedang mencoba mengganggumu disini.”
Nada ucapan Jack terdengar bersungguh-sungguh, membuat Nala meringis. Nala sudah yakin, ucapan Jack memang tidak main-main. Tapi jika Nala menceritakan alasannya menghindari Darren, Nala sudah yakin ketakutan Nala ini hanya akan berakhir ditertawakan Jack.
Namun dasarnya Nala, dengan kejujuran yang sejak dulu paling tidak bisa ia sembunyikan dari Jack, Nala akhirnya menjelaskan juga alasan sikap anehnya didepan Jack hari ini.
Jack mendengarkan penuh dengan saksama, dan sepanjang Nala menjelaskan alasan ketakutannya, Nala sama sekali tidak sadar perubahan di kedua mata Jack yang mulai berpendar kegirangan saat ia menangkap satu fakta penting dari seluruh penjelasan singkat Nala.
Nala sudah tidak bersama kekasihnya yang dulu.
Nala sudah melajang.
Jack tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mengetahui satu fakta itu.
"Kalau begitu, mau kubantu supaya si Darren itu berhenti mengejarmu?"
Kini giliran alis Nala yang kerinting karena bingung.
"Memangnya kamu mau bantu bagaimana?" tanya Nala bingung.
Tepat saat itu, Darren muncul di sudut koridor dan berteriak memanggil nama Nala dengan riang.
Jack dan Nala sama-sama menoleh sekilas ke arah Darren.
Tiba-tiba saja, sebuah ide gila terlintas dalam benak Jack. Ide yang Jack yakini, sangat ampuh untuk membuat Darren langsung mundur seribu langkah dari Nala, sekaligus membuat Jack bisa jadi akan langsung dapat tamparan keras dari Nalaea.
"Trust me, will you?"
Masih dengan kebingungan yang juga tak terjawab, Nala akhirnya hanya bisa mengangguk lemah, pasrah akan keputusan pria didepannya ini.
Tanpa aba-aba, Jack menarik tubuh Nala masuk ke dalam dekapannya.
Dalam satu helaan napas, Jack menundukkan kepala dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Nala.
Jack menciumnya.
Mencium Nala.
Dengan segenap raganya. Seolah yang Jack lakukan pada Nala bukan suatu sandiwara.
Dan anehnya, Nala pun merasakan demikian.
Ciuman Jack, terasa nyata.
Menyentuh hati Nala.
Membuat tubuhnya yang seharusnya menegang, malah jadi nyaris lunglai.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nala yang diam-diam juga tidak pernah berhenti mempertanyakan dunia perihal kemana perginya Jack Patrick sejak terapinya dua tahun yang lalu, hari ini, Nala merasakan desir aneh yang membakar relung hatinya atas apa yang sedang Jack lakukan pada Nala.
Pada ciuman sandiwara mereka ini, Nala justru merasa begitu aman dan tenggelam dalam pelukan hangat pria yang dulu pernah ia sembuhkan.