Disukai
1
Dilihat
26
After Two Years
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kalau saja hari ini Ben tidak membulatkan tekad untuk menginjakkan kaki di pesta pernikahan salah satu sahabat karibnya saat ia masih mengajar di Harvard dulu, mungkin ia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan yang selama ini ia cari dalam doa-doanya yang tak terucap, untuk akhirnya bisa menemukan sosok gadis itu lagi di tengah lautan manusia yang menyesaki ruangan.

Ben melangkah dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Ia sengaja mengabaikan beberapa pasang mata yang mencoba mengajaknya berbincang di titik-titik kumpul para tamu. Di tengah keriuhan resepsi pernikahan Jonathan Ashton—sahabatnya yang sama-sama merangkai sukses dari Wellington, Inggris—pikiran Ben sedang tidak berada di sana. Fokusnya terbelah, matanya bergerak gelisah menyapu setiap sudut aula.

Kedua kaki Ben menyeruak di tengah keramaian, membelah kerumunan orang yang sedang asyik bersenda gurau. Ia hanya ingin memastikan, untuk kesekian kalinya, bahwa penglihatannya tidak lagi sedang menipunya.

Bahwa sosok yang Ben dapati berdiri anggun sebagai bridesmaid mempelai perempuan memang benar-benar gadis yang selama dua tahun ini tidak sedetik pun berhenti memenuhi setiap sel dalam pikiran Ben Thompson.

Dua tahun lalu, Ben merutuki dirinya sendiri. Seharusnya saat itu ia tidak menuruti permintaan gadis itu untuk berhenti menemuinya.

Ben tahu benar siapa gadis itu. Dia adalah mantan muridnya yang pernah dengan tegas menyatakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan apa pun. Padahal saat itu, Ben sudah bersumpah di hadapannya bahwa Ben akan dengan sabar menunggu sampai gadis itu siap, asalkan gadis itu jangan pernah memintanya untuk pergi menjauh.

Ben sadar, gadis itu membawa beban trauma yang berat pada masa lalunya. Entah trauma berbentuk apa yang sedang menghimpit jiwa pujaan hatinya saat itu, yang jelas setiap kali Ben mencoba mengambil satu langkah lebih dekat, gadis itu secara otomatis akan mengambil seribu langkah mundur dari Ben. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Ben tahu—sangat tahu—bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama untuknya. Hanya saja, trauma sialan itu telah merenggut seluruh kepercayaan yang ia miliki terhadap sebuah komitmen.

“Aku belum bisa membiarkanmu berharap lebih padaku, sementara aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak dulu punya ikatan hubungan dengan siapa pun sampai pendidikan spesialisku selesai,” begitu ucapan yang keluar dari bibir gadis itu, saat akhirnya mereka berdua berdiri di titik paling jujur dan terbuka mengenai perasaan masing-masing.

Ben berdiri di sana dengan secercah harapan untuk diterima, sementara gadis itu berdiri dengan harapan agar Ben mau menjauh demi kebaikannya sendiri.

But I can feel it that you have same feeling like I do to you,” ujar Ben saat itu dengan nada penuh keyakinan yang nyaris terdengar keras kepala. Dan keyakinan "sok tahu" Ben itu ternyata hanya dijawab dengan sebuah anggukan lemah yang menyakitkan untuk dilihat.

“Kalau kamu punya trauma tentang sebuah hubungan, aku bisa menunggu kamu sampai kamu siap,” sambung Ben lagi, suaranya kini melunak, penuh dengan nada permohonan yang tulus.

Gadis itu tidak langsung memberi jawaban. Tatapannya melemah, seolah ada badai di balik matanya yang ingin mengutarakan sesuatu yang terasa di luar kendali lidahnya.

“Jangan aku ya, Ben. Menungguku sampai siap itu akan sia-sia saja. Dan kalau ternyata setelah menungguku, aku tidak sesuai dengan harapanmu, aku tidak akan pernah siap harus menghadapi kenyataan bahwa kamu akhirnya sadar kalau kamu sudah salah membuat keputusan dengan memilih aku. Aku tidak mau kamu pergi begitu saja sebelum perasaanku ke kamu juga selesai.”

Ben menggeleng kuat, menolak setiap kemungkinan buruk itu. “Tidak. Tidak akan. Kamu tahu, semenjak kamu melangkah masuk ke kelasku untuk pertama kalinya, aku sudah jatuh cinta padamu. Apapun sifat dan sikap kamu nantinya, memiliki kamu saja sudah lebih dari cukup buat aku.”

Perdebatan panjang itu terus berlanjut seperti lingkaran tanpa ujung, sampai akhirnya Ben menyerah dengan sebuah janji. Sebuah perjanjian yang sebenarnya Ben sadari sepenuhnya bahwa gadis itu tidak pernah benar-benar mengiyakannya. Ben tetap ingin menunggu.

Dua tahun. Sampai gadis itu menuntaskan pendidikan kedokteran spesialisnya.

Dan kini, dua tahun itu telah berlalu.

Langkah Ben mendadak terhenti. Kedua matanya seolah terkunci pada satu sosok di sudut ruangan yang kini hadir dengan nyata memenuhi retinanya.

Gadis itu terlihat sangat cantik, bahkan kata "cantik" saja sepertinya tidak cukup untuk menggambarkan apa yang Ben lihat sekarang.

Gadis itu mengenakan gaun berbahan sutra berwarna lilac yang memeluk tubuhnya yang ramping dan berlekuk dengan sangat pas. Kulitnya yang cerah namun tidak terlihat pucat menambah kesan anggun dan bersinar, seolah-olah ia adalah pusat gravitasi yang mengalahkan pesona setiap wanita lain di ruangan itu.

Ben merasakan sudut bibirnya perlahan mengembang. Sebuah senyum lahir dari rasa kegembiraan sekaligus kelegaan yang luar biasa.

Akhirnya, ia kembali melihat sosok indah yang selama dua tahun terakhir ini hanya bisa Ben proyeksikan dalam angan-angan dan fantasi liarnya saja.

Ben sudah mengambil dua langkah penuh percaya diri untuk menghampiri, ketika tiba-tiba seluruh sendi tubuhnya mendadak kaku di tempat. Matanya menangkap sosok laki-laki lain yang berdiri dengan jarak sangat intim di samping gadis itu, bahkan merangkul bahunya dengan akrab.

Gadis itu menoleh ke samping, memamerkan senyumnya yang memabukkan—senyum yang dulu selalu Ben dambakan—untuk pria yang tingginya nyaris menyamai Ben, namun terlihat berusia jauh lebih matang.

Darah Ben seketika membeku. Sinar harapan yang tadi berpendar di kedua matanya seakan lenyap ditelan kegelapan.

Ben harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua orang itu saling bersentuhan, bahkan ia melihat dengan jelas pria di sampingnya itu mendaratkan kecupan mesra di kening gadis pujaan hatinya.

Ben melangkah mundur dengan kaki terasa gontai. Untuk dirinya yang telah menjaga kesetiaan dan menunggu dengan sabar selama dua tahun, ia lupa pada satu kenyataan pahit.

Bahwa apa pun bisa terjadi dalam kurun waktu dua puluh empat bulan.

Salah satunya adalah mengubah trauma gadis itu menjadi keberanian untuk kembali percaya pada cinta.

Namun sayangnya, bukan pada Ben Thompson.

Dengan tangan sedikit bergetar, Ben menyambar segelas sampanye yang ditawarkan oleh seorang pramusaji dan meneguknya habis dalam sekali tenggakan. Ia kemudian membiarkan gelas bening itu tergeletak begitu saja di meja tamu lain yang ia lewati, tanpa memedulikan tatapan kebingungan dari orang-orang yang tengah duduk di meja itu.

BUKKK!

Ben nyaris tersungkur saat seseorang dari arah berlawanan tidak sengaja menabrak bahunya dengan keras.

Man, are you alright?” Jonathan menahan bahu Ben, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

Ben berusaha sekuat tenaga menyunggingkan senyum, meski ia tahu senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku tidak apa-apa, Man. Maaf, aku tidak melihat kau sedang berjalan di depanku.”

Jonathan bukan orang baru di hidup Ben. Jadi ia sama sekali tidak mudah dikelabui dengan jawaban gamang Ben.

“Sepuluh tahun aku berteman denganmu, Ben. Kamu tidak bisa membodohiku dengan bilang kamu baik-baik saja. Wajahmu berkata sebaliknya. So tell me, apa yang sebenarnya terjadi?”

Jonathan adalah satu-satunya sahabat yang paling memahami betapa dalam perasaan Ben pada gadis itu. Dan Jonathan juga yang menjadi saksi bisu bagaimana Ben menghabiskan dua tahun terakhir hanya untuk menunggu dan berharap.

Ben berdecak kesal, seolah-olah seluruh alam semesta sedang bekerja sama untuk menelanjangi luka hatinya. “Kenapa kamu memaksaku untuk datang ke pesta resepsimu dengan iming-iming soal gadis itu kalau pada akhirnya aku harus melihatnya sudah jadi kekasih orang lain!”

Kening Jonathan berkerut dalam, tampak bingung. “Maksudmu apa, sih? Kekasih yang mana?”

Ben membalikkan badan, menunjuk tepat ke arah gadis itu dari kejauhan untuk menegaskan kekesalannya.

Jonathan ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang dimaksud Ben. Sedetik kemudian, kerutan di dahi sang mempelai pria menghilang, digantikan oleh ledakan tawa yang tidak sanggup ia tahan lagi.

Kini giliran Ben yang dibuat bingung dengan reaksi tak terduga sahabatnya itu. “Joe, this is so not funny!

“Ini lucu sekali, Ben. Sungguh lucu,” Jonathan menutup mulutnya dengan tangan terkepal didepan bibir, mencoba mengendalikan tawanya yang masih meledak-ledak agar cepat mereda. Namun melihat wajah Ben yang sarat akan frustrasi malah membuat perut Jonathan semakin terasa dikocok.

“Joe, come on,” Ben mendengus kesal.

Jonathan menepuk bahu sahabatnya dengan sisa tawa yang akhirnya bisa ia kendalikan. Tangannya meremas bahu Ben dengan erat seolah ingin menyalurkan kekuatan.

Mereka berdua kini kembali menatap ke arah gadis yang sejak tadi menjadi topik hangat kedua pria British itu.

“Kamu masih ingat tidak, dulu waktu kita mengadakan double date, gadismu itu pernah bilang kalau tipe laki-laki yang ingin dikencaninya kalau bisa pria yang usianya jauh lebih tua darinya?”

Mendengar Jonathan berkata demikian dengan nada setenang air sungai, sama sekali tidak membuat hati Ben mendingin. Ia justru semakin terbakar rasa getir.

Not helping, brother dear. Not helping at all.” decak Ben sinis.

Jonathan mengembuskan napas panjang. “Kamu sama dia beda berapa tahun?”

Ben terdiam sejenak sebelum menjawab lirih, "Sekitar delapan tahun. Tapi laki-laki yang merangkulnya dengan mesra itu pasti usianya jauh lebih tua dariku. Aku sudah pasti kalah telak.”

Kali ini Jonathan yang berdecak.

“Kamu tidak kalah sama sekali, teman. Kalau memang selera Fraya dalam soal laki-laki harus yang lebih tua, aku masih sangat yakin bukan setua pria itu yang akan dipilihnya untuk jadi kekasih. Karena kalau kamu mau tahu, pria di sebelahnya itu bukan kekasih Fraya Alexandrea.”

Ben seketika mematung. Kepalanya secepat kilat menoleh ke arah Jonathan.

“Lalu... dia siapa?”

Jonathan kembali mengembuskan napas dengan acuh, matanya masih menatap sosok Fraya dari kejauhan.

“Itu ayahnya, Ben. Ayahnya.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi