"Baby, you're here?"
Suara berat namun terdengar riang itu membelah sunyi, muncul dari arah ruang depan apartemen Faira.
Faira hanya sanggup menengadahkan wajahnya yang—kalau boleh jujur—sudah begitu berantakan dan kusam.
Ia melepas kacamata, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal akibat berjam-jam terperangkap dalam kepungan diktat tesis dan jurnal penelitian tak berujung itu.
Satu bulan terakhir, tumpukan kertas itu rasanya sudah mengikis habis energinya, menyisakan sisa-sisa lelah yang menyesakkan dada.
Suara kesibukan di luar akhirnya memaksa Faira beranjak. Ia keluar dari ruangan kecil yang Hero sisihkan khusus untuknya di apartemen mereka—sebuah sudut tenang tempat Faira biasanya bertarung dengan angka dan teori yang sering kali berakhir dengan migrain hebat.
Di ruang tengah, Hero sedang berlutut di lantai, sibuk mengeluarkan lilitan kabel dari sebuah kardus berukuran sedang.
Mata biru pria itu terangkat, menangkap sosok Faira yang berjalan menghampirinya dengan langkah gontai dan tatapan kosong.
"Sayang, ini kabel apa lagi?" Faira terkekeh tipis, menatap tumpukan pernak-pernik elektronik yang tampak asing bagi Faira.
Hero tersenyum lebar, jenis senyum kekanakan yang selalu berhasil membuat pertahanan Faira luruh seketika.
"Aku pikir kamu masih di perpustakaan. Tadinya mau kasih kejutan, jadi pas kamu pulang nanti, semuanya sudah beres tanpa kamu harus melihat prosesnya yang serumit ini."
Sebelum Faira sempat melayangkan protes atau pertanyaan lebih lanjut, Hero sudah menarik tengkuknya pelan, mendaratkan satu kecupan singkat namun hangat di bibir Faira. Sebuah gestur penenang yang selalu sukses membuat jantung Faira berdesir hebat.
Hero kemudian mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna gelap, mirip bola kristal yang sering digunakan peramal.
"Kamu mau memberitahuku kalau sekarang kamu sudah banting setir jadi peramal?" goda Faira, tawa kecil akhirnya lolos dari bibirnya.
Hero langsung memasang ekspresi terluka yang dibuat-buat, tangannya menekan dada secara dramatis.
"Bloody Hell, My Love. Kamu baru saja menghancurkan hati kekasihmu ini berkeping-keping. Ini kejutan, Faira. Dan ini..." Hero merogoh saku, mengeluarkan amplop putih kecil berisi lembaran film negatif. Ia menunjukkannya dengan binar kemenangan di matanya.
"Kamu pasti bakal makin cinta sama aku kalau aku sudah pasang ini di kamar kita."
Tanpa menunggu persetujuan, Hero menarik tangan Faira menuju kamar.
Ia meletakkan proyektor bulat itu di atas nakas sudut ruangan dengan senyum yang terus mengembang. Dengan penuh ketelitian, ia memasukkan slide film negatif tadi ke dalam slotnya.
"Could you turn the lights off and close the curtain, baby?" pinta Hero dengan lembut.
Faira menurut, meski kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya itu.
Begitu kamar mereka tenggelam dalam kegelapan total, Hero menekan tombol daya hidup.
Detik itu juga, napas Faira tertahan di tenggorokan.
Ia menengadah. Langit-langit kamar mereka yang tadinya dipenuhi potongan gambar-gambar galaksi temuan Teleskop Hubble yang Faira cetak sendiri dan ia pasang di dinding kamar mereka sekarang bertransformasi menjadi kanvas raksasa yang menampilkan pendaran galaksi.
Gambar tangkapan Hubble itu terpancar begitu nyata, berputar perlahan, menciptakan ilusi seolah mereka sedang melayang di tengah ribuan gugusan bintang yang tak berujung.
"Hero..." Faira berbisik lirih, jemarinya menutupi mulut karena tidak percaya. Keindahan yang ada di hadapannya membuat segala kelelahannya menguap begitu saja.
Hero menghampirinya dari belakang, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Faira. Ia menyandarkan dagunya di bahu gadis itu, ikut menikmati simfoni cahaya yang ia siapkan dengan susah payah. Ia mengecup pipi Faira yang kini berseri-seri tertimpa cahaya nebula keunguan.
"Do you like it?"
Faira menoleh, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Do i like it? Hero, i love it! I love it so much!"
Hero tersenyum puas, mengecup sisi kepala Faira lama. "Sebut aku jenius, karena aku berhasil membujuk rekan labmu, Jeremiah, untuk mengirimkan berkas gambar Hubble milikmu. Lalu aku ubah menjadi film negatif seperti ini supaya saat diproyeksikan, gambarnya tidak pecah sedikit pun."
Faira menatap pria di belakang tubuhnya dengan kekaguman yang meluap.
"Hero Maxwell Campbell, you really are a wonderful boyfriend."
"Well, look who i'm dating!" balas Hero penuh percaya diri, membuat mereka berdua terkekeh pelan sebelum akhirnya Hero membungkam tawa itu dengan sebuah ciuman yang dalam.
Saat tautan mereka terlepas, Hero menatap dalam ke manik mata Faira.
"Faira, I'm doing everything in my power to make you the happiest girlfriend in this world. Aku akan pastikan kamu mendapatkan semua yang kamu mau, selama kamu tetap di sisiku."
Faira menyandarkan kepalanya di dada bidang Hero, mendengarkan detak jantung yang kini menjadi irama paling menenangkan baginya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena selalu membuat segalanya terasa lebih mudah di saat hidupku sendiri sedang berantakan."
Hero mengusap ujung hidungnya di hidung Faira dengan gemas. "Your mess is my mess, Faira. Please keep that in your mind forever. Apapun yang terjadi, hatiku dan hati kamu tetap sama, tetap satu. Seperti yang pernah kamu bilang, kita ini seperti dua benda langit yang terikat di orbit yang sama."
Di tengah pendaran bintang-bintang buatan itu, Faira menyadari satu hal.
Bertemu Hero adalah kejutan takdir yang paling indah dalam hidup Faira.
Pria ini tidak hanya mengubah cara pandangnya tentang cinta, tapi juga membuktikan bahwa tidak semua laki-laki terlahir untuk menyakiti.
Hero mengubah dunianya dengan cara menjadikan setiap napas Faira sebagai denyut nadinya juga.
"Aku cinta kamu, Faira Adrianna." bisik Hero dalam bahasa Indonesia yang masih terdengar agak kaku di lidahnya namun begitu tulus.
Faira tersenyum, menyatukan kening mereka.
Banyak laki-laki hanya sekadar memberi bunga untuk menyatakan sebuah cinta.
Namun Hero berbeda.
Ia memboyong turun seluruh angkasa dan melukiskan semesta di dinding kamar mereka, hanya untuk membuktikan bahwa seluas itulah dunia yang ia siapkan untuk Faira huni bersama Hero selamanya.
"I love you, Hero Campbell."