Sono bergegas, ia menyusul kakaknya yang sudah bermain sejak tadi. Ia terlambat sebab dihukum tinggal di kelas lebih lama setelah pelajaran usai.
Kala itu suasana siang cukup hangat. Tapi bocah berusia sepuluh tahun tersebut tak memedulikan soal pekerjaan rumah yang menumpuk.
Kala itu tahun 90an. Sono yang bernama lengkap Sasono Rudianto, terkenal sebagai anak yang level malasnya dalam pelajaran sekolah sangat keterlaluan. Ia juga pemberontak di sekolahnya yang datang hanya sekedar titip absen.
Sono dan kakaknya, Arman, adalah yatim piatu yang dirawat nenek mereka. Puji, sang nenek, sudah berusia uzur. Hampir 80an. Sudah sepuh serta ringkih.
Ia punya satu impian, bukan mimpi besar. Puji amat mengharapkan Sono tidak lagi jadi anak pemalas dalam hal akademik, agar masa depannya lebih terjamin. Puji sendiri terbiasa menulis harapannya pada sebuah buku catatan usang, tapi Puji rawat dengan amat baik.
Puji telah jadi saksi hidup putrinya, mendiang Endang. Dimana meski sangat rajin dan penuh perjuangan, namun sampai akhir hayat tetap gagal. Puji pun menulis itu di buku catatan. Bukan sebagai pemicu rasa sakit. Hanya sekedar sebagai pengingat, agar tragedi tidak terulang kembali.
Endang meninggal karena tekanan darah tinggi menyebabkan komplikasi. Banyak yang bilang wanita yang meninggal saat masih sangat muda tersebut bisa memiliki hal buruk yang menyebabkan berbagai penyakit, karena ia banyak hutang.
Meski dirinya pegawai negeri sipil, dan lulusan terbaik pada masanya, ia tetap saja hidup susah. Jalan hidup janda yang dicerai suaminya bahkan sebelum melahirkan Sono tersebutlah yang membuat Puji pesimis dengan hidup Sono. Endang yang di awal dianggap memiliki prospek cerah saja gagal, apalagi Sono.
Sedang Sono melihat sang nenek terlelap, ia yang baru saja pulang dari bermain menyelimuti Puji, yang baru tiga tahun ditinggal meninggal oleh pasangan terkasih.
Tanpa sengaja Sono melihat buku catatan neneknya. Ia mengambil dan membacanya. Sono tersentuh oleh isi buku catatan tersebut, tapi namanya juga bocah. Meski saat itu ia bertekad untuk tidak menjadi anak malas dalam hal pelajaran lagi, seperti yang sudah lewat, ia selalu lupa. Dan kembali pada kemalasan pada hal akademik
Puji terbangun. Ia mendapati buku catatannya tak ada. Khawatir dibawa anjing atau kucing liar, nenek yang masih fit tersebut mencari ke luar rumah. Ia berjalan dari kediamannya menuju lapangan, dimana banyak kucing dan anjing tak bertuan berkeliaran.
Puji menebak salah satu pasti mengubur di tanah kosong yang ada di lapangan. Tapi belum sampai lapangan, Puji ambruk. Ya, meski sehat ia mendadak ambruk, kemudian meninggal setelah tiga hari dirawat di rumah sakit.
Sono yang beragama Buddha mempertanyakan, mengapa semesta mengambil neneknya secara mendadak seperti itu. Hal itu tidak terjawab hingga akhirnya ia mencapai sekolah menengah pertama. Dan... Ia masih saja menjadi seorang pemalas.
Sang kakak, Arman, yang memilih putus sekolah dan membuang mimpinya demi Sono, kadang putus asa melihat mental sang adik semakin terdegradasi. Padahal dulu ketika kecil Sono ceria, supel, dan mudah bergaul.
Tapi sifat malas yang dulu hanya ada pada hal akademik saja, sejak kematian nenek, seolah menular ke banyak hal lain. Bahkan hampir ke semua hal. Arman yang awal mulanya terus mendesak sang adik, kini hanya bisa pasrah. Mungkin memang semua sudah takdir.
Tapi seakan ada keajaiban, meski malas, Sono lebih bisa memahami pelajaran ketimbang dulu, sehingga ia terhindar dari berulang kali tinggal kelas. Pemuda yang pernah sekali tinggal kelas tersebut seolah selalu lolos dari jebakan, sejak terakhir kali gagal.
Hal itu sedikit meringankan beban Arman. Sono sebetulnya tahu, ia membuat kakaknya menderita, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Otak nya tak bisa mengalahkan rasa bersalah. Rasa bersalah pada sang nenek, sebab ialah yang membawa buku harian neneknya, bukan hewan liar atau hewan peliharaan malang yang dibuang bekas pemiliknya.
Karena lupa mengembalikan buku disebabkan terlalu aktif bermain, Puji pun akhirnya harus berjalan ke lapangan. Sono tak pernah tahu bahwa wafatnya Puji, lebih karena sudah waktunya. Tapi alam semesta seolah enggan mengungkapkan.
Sono pun mulai merasakan hal aneh di sekujur tubuh dua pekan setelah kematian Puji. Ia kala itu menceritakan kondisi tubuhnya pada Arman, tapi berbohong soal penyebab.
Penyebab rasa aneh di sekujur tubuh yang entah itu apa, tak pernah dirasakan Sono sebelumnya. Rasa yang lenij halus daripada nyeri dan ngilu, tapi lebih kejam, lebih menakutkan bila datang. Seperti saat hendak dieksekusi mati ketakutannya, seperti saat disuntik dengan racun super kuat, namun mengalir di dalam jiwa.
Ia tak menceritakan penyesalan yang terjadi hari itu kepada sang kakak. Padahal hal tersebut merupakan pemicu panic attack Sono. Bahkan sampai sekarang pun Sono tak pernah menceritakan pada psikiater.
Dan kini, seperti banyaknya bulan yang sudah terlewat begitu pahit, pekat, gelap, dan ingin dilepehkan, Sono memeriksakan diri. Seperti biasa Arman mengantar dan menemani Sono curhat.
Namun... Seperti biasa pemicunya tak pernah Sono ceritakan. Hal yang Sono tahu itu sangat pahit, tetap ia kubur. Ia pun tidak tahu mengapa dirinya selalu terblokir, ketika hendak membeberkan pemicu mengapa memiliki kecemasan akut.
Ia pikir semua memang karena langit sudah menakdirkan. Membuat Sono seolah lupa berjuang untuk terbebas dari terblokirnya pengungkapan. Karena kemalasan sudah menjalar ke berbagai hal, bahkan untuk melawan hilangnya minat pada pengungkapan Sono tak sanggup. Entah seperti ada rasa dibekap dan diikat tali kencang-kencang. Bukan tubuh fisik, namun jiwa.
Sono bagaikan orang lumpuh. Benar-benar tak berdaya. Tapi diam saja membuat ia ditindih tekanan berat yang bukan main. Andai saja dia dulu menuruti neneknya tuk menurut, tak mungkin ada buku harian. Sebab bagi Sono, Puji menulis buku harian itu karena ia malas.
Seandainya saja tak malas, seandainya saja tidak jadi siswa pembangkang, seandainya saja dirinya rajin belajar, seandainya saja jadi anak baik. Itulah yang memenuhi pikiran Sono kali ini sampai mencapai titik didih kecemasan terakut. Ia bagai korban pemerkosaan yang nol persen menikmati. Bukan mati rasa, tapi karena sakit terasa lebih ramah ketimbang rasa yang ia rasa.
Dan kali ini, sejak di rumah ia sudah berusaha agar akses pada kenangan penyebab kecemasannya tersampaikan. Sono sudah mengatur kalimat demi kalimat dari rumah, hingga sesi berakhir dimana Sono diresepkan obat seperti biasa.
Lalu mendadak Sono berbalik pada psikiater. Dengan ramah sang psikiater bertanya kenapa Sono kembali. Tapi Sono tidak kuat. Dengan senyum palsu, ia mengatakan tertarik dengan cokelat yang disediakan rumah sakit kemudian mengambil beberapa buah cokelat.
Sambil tersenyum ramah yang dibalas psikiater juga asistennya dengan keramahan yang sama, Sono pun pamit, undur diri dari ruang psikiater sampai bulan depan. Menyusul Arman yang sudah di luar untuk mengantre mengambil obat seperti biasa.