Pagi yang Damai

Setiap pagi udara segar pastilah datang tidak ada seorang pun yang tidak mengakuinya bahkan untuk orang di perkotaan padat. Tidak semua orang menikmati ini memang atau hanya abai karena setiap harinya pasti ada. Ini adalah kedamaian sesungguhnya bagi sebagian orang. Duduk santai menikmati secangkir minuman apapun itu sambil menyibukkan diri dengan hal-hal yang sepele seperti baca koran, mendengar radio, atau apapun itu. 

“Ah, aku lupa. Hari ini, jaman sekarang tidak ada yang nongkrong depan rumah pagi-pagi. Anak-anak sekarang lebih suka pantengin layar sambil rebahan.”

Mungkin, perkataannya benar. Hanya orang tua yang menikmati masa pensiunnya yang hidup seperti itu. Atau untuk orang yang jam pekerjaannya memang lebih siang atau bisa masuk kapan saja.

“Kek, jangan lupa Rendi juga masuk anak jaman sekarang.”

Kakek tua terlalu santai sampai tidak banyak mengingat. “Oh, iya.” diresapnya secangkir teh lalu menunjuk ke depan menganti pembicaraan. “Lihat, yang seperti itu jangan sampai ditiru.” Itu adalah tetangganya yang sama-sama nongkrong depan rumah dengan sebatang rokok ditangannya. “Kebodohan macam apa itu. Orang menikmati udara pagi agar paru sehat tapi … ya, sudahlah.”

2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction