Alman Stewart, seorang jurnalis asal Swedia yang menetap di Amerika Serikat, mulai menerima surat-surat laporan tentang kasus pembunuhan dengan pola yang sama. Korbannya berbeda, tempatnya berbeda, tetapi ceritanya identik. Setiap pengirim selalu menegaskan satu hal, mereka takut pada polisi.
Alman heran mengapa tidak satu pun dari mereka melaporkan kejadian itu kepada polisi, jawaban yang ia terima pun nyaris sama, ada yang mengatakan polisi hanya akan memperburuk keadaan, ada pula yang menyiratkan bahwa polisi adalah bagian dari ketakutan itu sendiri. Pengulangan tersebut membuat Alman gelisah, semuanya terasa terprogram, seolah seseorang sengaja menanamkan kalimat yang sama ke banyak orang.
Seiring semakin banyak surat yang datang, Alman mulai yakin bahwa para saksi sedang diawasi, dikendalikan, bahkan mungkin dipaksa untuk menghubunginya, bukan menghubungi pihak berwajib. Ia menduga bahwa pelaku pembunuhan bukan hanya menghabisi korban, tetapi juga sengaja menggiring cerita agar sampai kepadanya.
Seminggu kemudian, hidup pribadinya runtuh, istrinya menghilang saat hendak menjemput anak mereka di sekolah, sang anak justru diantar pulang oleh Andrea, tetangga mereka, yang mengaku menemukan anak itu menangis sendirian di depan gerbang sekolah, namun Almonia, sepupu Alman, membantah cerita tersebut. Menurutnya, istri Alman dengan sadar menitipkan anaknya kepada Andrea sebelum pergi, tidak ada kepanikan, tidak ada tanda-tanda paksaan.
Dan surat-surat pun terus berdatangan, setiap surat menceritakan kematian baru, setiap surat mengulang ketakutan yang sama, setiap pengirim menolak melibatkan polisi. Tak lama kemudian, Andrea pun menghilang, para tetangga mengatakan ia tewas akibat perampokan, sebagian lain bersikeras bahwa Andrea tenggelam saat memancing di danau, ceritanya saling bertolak belakang, tetapi masing-masing disampaikan dengan rasa yakin yang seyakin-yakinnya.
Lalu Almonia menelepon Alman dengan suara panik, ia mengatakan seseorang telah mengancamnya. Beberapa jam kemudian, Almonia ditemukan tak bernyawa dengan pergelangan tangan terluka, tidak jauh dari lokasi itu, jasad istri Alman ditemukan dengan kondisi serupa, pihak berwenang menyimpulkan keduanya sebagai peristiwa bunuh diri, namun sebagian warga meyakini itu adalah pembunuhan.
Yang paling janggal, polisi tampak tidak menunjukkan reaksi berarti, laporan warga diabaikan, aparat bahkan menyatakan bahwa rumah yang sering disebut para saksi sebenarnya tidak pernah ada, hanya sebidang tanah kosong, mereka mengatakan bangunan itu sudah lama diratakan, namun banyak orang bersumpah bahwa rumah itu masih berdiri, hanya berjarak tiga kilometer dari lokasi yang disebutkan.
Kekacauan ini akhirnya membawa Alman pada satu kesadaran, semua korban memiliki nama yang diawali huruf yang sama, yaitu huruf A.
Dengan perasaan tak menentu, Alman membuka album foto keluarganya, berharap menemukan jawaban, namun isi album itu tidak masuk akal, tidak ada foto istrinya, tidak ada Almonia, yang ada justru gambar-gambar ganjil nan mengerikan, hingga satu foto membuat ingatannya terguncang. Itu adalah dirinya sendiri, atau lebih tepatnya, sosok yang selama ini ia lupakan, Lucifer.
Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun, Alman berlari ke arah cermin, pantulan yang ia lihat menguatkan kebenaran itu, ingatannya pun kembali sepenuhnya, pemberontakan, pertempuran melawan bala tentara Tuhan, kekalahannya dari Michael, kejatuhannya dari langit, dan tantangan terakhirnya kepada Sang Pencipta.
Ia pernah meminta sebuah ujian, bukan hukuman fisik, bukan siksaan api, melainkan sebuah kehidupan, sebuah ujian yang setara dengan rapuhnya manusia, dengan congkak, ia yakin ujian sederhana seperti itu tidak akan pernah mampu menaklukkannya.
Kini ia mengerti, nama-nama, pola, ketakutan, semua itu bukan kebetulan, huruf A adalah simbol, sebuah ukuran, sebuah ejekan, pengingat betapa kapasitas intelektualnya tak seagung yang ia kira.
Alman alias Lucifer berteriak, bukan hanya karena marah, tetapi karena terhina. Ia gagal dalam ujian yang dianggap remeh, bukan karena penderitaan fisik, melainkan karena perlahan kehilangan martabat, karena kebingungan, karena keraguan, karena makna hidup yang menciut sedikit demi sedikit.
Ia tidak terbakar oleh api, ia terperangkap dalam neraka paling kejam, neraka batin, yang menghancurkan harga diri, melucuti identitas, dan merendahkannya hingga titik paling dasar.