Disukai
1
Dilihat
2,033
PETAKA DI RUMAH KARDUS
Komedi

"Mak ... Bapak jalan ama cewek cantik, tuh!" Teriak Jono, putra sulung ku.

Aku menatap ujung telunjuk anak lelaki ku. Setelah ku perhatikan dengan seksama, benar saja suamiku tengah menggandeng wanita cantik dan bohai. Jika dilihat dari penampilannya sudah pasti wanita itu orang berduit dan suamiku terlihat rapi dan klimis, belahan rambutnya mengingatkan aku pada bos penampung barang rongsokan di ujung gang. Hatiku amat berdebar-debar dibuatnya.

"Ayo Mak, kita samperin yuk," pinta Jono kemudian

"Ah, buat apa, Jon ...," balasku acuh.

"Ayolah mak, kita samperin bapak," Jono kembali merengek sembari menarik narik daster lusuh ku.

"Udah jon, nanti daster emak sobek, bikin malu aja!" Segera aku menyeret jono meninggalkan kerumunan pasar malam.

"Kamu lo, mau bikin malu emak mu apa, Jon! kalau kata emak gak usah ya gak usah!" Aku mengoceh sepanjang jalan sembari menarik tangan Jono, anak itu tampak menangis tersedu-sedu. Aku membawa anak itu sejauh mungkin dari kerumunan orang-orang yang masih sibuk berlalu lalang. Beberapa pedagang mainan tampak sibuk menawarkan dagangannya terlebih saat melihat putraku yang masih terus menangis.

Ini bukan kali pertamanya suamiku kepergok menggandeng Wanita lain di depan kami, tapi malam ini Jono benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Meski sudah aku jelaskan berkali kali alasan mengapa bapaknya selalu pergi dengan wanita yang berbeda-beda tapi tetap saja anak sulungku itu tidak mau mengerti.

"Kenapa emak tidak melabrak wanita itu! Apa emak udah gak cinta sama bapak?" tanya jono setelah tiba di rumah kardus kami.

"Halaaah Jon, Jon! tau apa kamu tentang cinta, cinta itu rasanya pait kalau perut kita lapar!" Balasku santai. Aku menatap wajah kucel anak sulungku itu kemudian mendengus kesal. Mendengar kata cinta yang baru saja diucapkannya sontak membuat bulu kuduk ku meremang. Entah karena muak atau justru karena rumah kardus kami diam-diam telah menjadi sarang wewe. Entahlah persetan dengan semua itu.

Aku kembali menatap wajah putraku yang masih banjir air mata, lelehan ingus tampak keluar masuk lubang hidungnya seiring dengan tarikan nafasnya yang naik turun.

"Anak jaman sekarang, kecil-kecil ngomongin cinta, huh!"

Aku mengambil kain panjang yang tak kalah lusuhnya dengan dasterku kemudian menggelarnya diantara lantai yang hanya beralaskan kardus.

"Ayo tidur, nanti kalo bapak mu pulang, emak akan bangunkan kamu, dia pasti membawa makan malam untuk kita," ajakku pada Jono. Untuk kali ini, anak itu memilih diam dan menuruti kata-kataku. Aku sedikit lega melihatnya, jika sampai Jono mengamuk seperti dulu, sudah bisa dibayangkan rumah kardus kami akan porak-poranda. Terkadang saat marah, putraku itu akan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya. Aku menarik nafas, lega rasanya.

Setengah jam berlalu, Jono telah terlelap. Suara dengkurnya yang kasar terdengar menggetarkan dinding kardus di sisi kanannya.

Aku menatap anak itu perlahan, ku usap keningnya yang berkeringat.

" Jika bukan karena sangat mencintai emak, mungkin sudah lama Bapakmu meninggalkan kita," lirih ku dengan kedua sorot mata berkaca kaca.

"Cepat dewasa anakku, agar kamu bisa membantu ibu mendapatkan uang." Bisikku lagi.

Tidak lama berselang, suamiku muncul dan menyibak tirai lusuh penutup pintu.

Aku menyambutnya dengan semangat.

"Lumayan hasil usaha malam ini," ujarnya sembari mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan di hadapanku, aku segera meraih uang itu dan mengantonginya.

"Tak sia sia tampang keren mu, Pak! besok lusa kuras duit tante-tante yang lebih kaya!" ujarku sembari menepuk-nepuk bahunya. Suamiku tersenyum bangga seraya mengusap rambut klimis nya. Aku memandanginya lekat, sungguh beruntung aku memiliki suami rupawan seperti dia. Meski hidup melarat, terkadang wajah tampannya menjadi satu--satunya pemandangan indah di antara tumpukan barang rongsok dan rumah-rumah kardus di luar sana yang sudah pasti tak kalah reyot dari rumah yang kami tempati.

Himpitan ekonomi membuatku menghalalkan segala cara demi bertahan hidup. Terlebih saat ini, para pemulung barang bekas semakin hari semakin bertambah banyak. Ternyata persaingan ekonomi bukan hanya terjadi di kalangan para elit saja tapi juga terjadi diantara para pengais barang rongsokan yang hidup terbelakang di pinggir kota yang maha kaya ini. Miris!

Jono, putraku. Sudah lama putus sekolah. Saat ia menginjak kelas dua sekolah dasar, aku memutuskan untuk mengajaknya ikut memulung. Sedangkan suamiku, Sueb, sudah lama menganggur dan terkadang mengisi waktunya dengan mengamen dari lampu merah ke lampu merah demi membantu membeli sekilo atau dua kilo beras untuk bekal makan kami selama tiga hari.

Terbesit rasa khawatir tiba-tiba, aku takut suamiku tergoda para Wanita kesepian yang kerap ia temani makan di luar sana. Aku terkadang mulai sanksi dengan kesetiaan yang kerap kali ia janjikan. Namun, melihat hasil yang kerap kali ia bawa pulang membuatku harus pandai-pandai menepis perasaan yang demikian. Semenjak suamiku melakoni pekerjaan haram yang demikian, keadaan ekonomi kami cukup membaik. Tiga karung beras berisi 10 kiloan tampak menumpuk di pojokan, sembako dan berbagai keperluan sehari-hari masih menggantung pada paku berkarat yang ada di sudut ruangan. Sedikit bisa bernafas lega, mengingat tak ada sedikitpun hutang yang menumpuk di warung seperti sebelum-sebelumnya.

" Dek, ngelamunin apa, toh!"

Ternyata sejak tadi suamiku memperhatikan aku yang tengah duduk bersila diantara dua bungkus nasi padang yang baru saja di bawanya. Sedangkan Jono yang baru saja bangun, langsung menyantap hidangan itu dengan lahapnya.

"Gak apa apa, Mas," lirih ku.

"Bener?" selidik Mas Sueb kemudian. Aku mengangguk dan ikut menyantap nasi bungkus yang ada di hadapanku.

"Besok Mas akan menemani Mba Suwarni ke salon, mungkin pulangnya agak siang," ujar Mas Sueb di sela-sela makan malam kami.

"Mba Suwarni? Janda dengan tiga anak yang sering Mas ceritakan itu?"tanyaku penasaran. Mas Sueb mengangguk pasti. Aku menarik nafas dalam-dalam, Mba Suwarni salah satu wanita korban rayuan maut suamiku itu memang yang paling sering dan paling lama menjalin hubungan dengan suamiku.

" Kenapa? Cemburu ya?" ledek Mas Sueb terkekeh. Aku Mengerucut, kesal.

" Tenang saja, Mas Sueb tetap setia padamu, Ningsih...," gombal suamiku. Tentu saja kata-kata yang demikian kerap kali ia gunakan untuk memikat mangsa di luar sana. Aku semakin kesal saja di buatnya. Segera kulipat bungkusan nasi yang belum habis ku santap dan meletakkannya ke dalam karung sampah. Usai mencuci tangan dan membasuh muka, aku segera beranjak tidur di samping putraku. Aroma gulai ayam masih tercium segar dari bibir putraku yang lupa membasuh mulut seusai santap malam. Ku tatap lekat wajah polos itu, sepertinya kelak anak lelaki ku itu akan mewarisi wajah rupawan dari Bapaknya dan aku berharap semoga saja tidak beserta nasib melaratnya.

***

Sudah sejak jam 05:00 pagi aku berkutat dengan tumpukan sampah yang berada tak begitu jauh dari pemukiman kumuh kami. Berbagai sampah rumah tangga tampak menggunung seusai truk pengangkut sampah itu berlalu. Aku segera mendekat, mengais tumpukan sampah yang mulai menimbulkan bau kurang sedap menusuk indra penciuman ku. Dari arah belakang, tampak mobil truk bewarna kuning kunyit melaju perlahan diantara tumpukan sampah yang berserakan. Sebuah mobil pengangkut limbah dari pabrik plastik di pusat kota. Mobil itu berhenti sejenak, sang sopir berseragam biru muda lengkap dengan topi beserta masker hitam yang hanya memperlihatkan sepasang netra dengan sorot mata tajam, menatap lekat ke arahku.

"Dari subuh sudah mulung toh, Mba?" tanya sosok itu seraya mendekat ke arahku.

" Iya, Pak. Biar gak keduluan pemulung yang lain," balas ku ramah.

Pria itu tampak manggut-manggut seraya menyuruh temannya untuk segera membuang sampah yang tampak menggunung di bak belakang mobil.

" Kenapa mulung toh, Mba? Masih muda kok mau jadi pemulung?"

Pertanyaan sosok itu sontak menghentikan gerakan tanganku yang tengah fokus mengais sampah. Aku menatap lekat ke arah Pria tersebut kemudian kembali mengais tumpukan sampah guna mencari barang-barang bekas yang kiranya bisa ditukar dengan uang.

"Padahal perempuan paling mudah lo cari uang. Ya ..., contohnya sambil terlentang dapat uang, tengkurap juga dapat uang dan nungging juga bisa menghasilkan uang," tambah sosok itu lagi. Aku tak menggubrisnya, aku jelas-jelas tahu kemana ujung pembicaraan ini. Aku segera berlalu dan enggan meladeni.

"Jadi pemulung aja sombongnya bukan main!"

Aku masih bisa mendengar beberapa kalimat umpatan Pria tersebut meski kini langkahku telah menapaki jarak hingga beberapa meter. Bagiku, cukuplah suamiku yang melakoni pekerjaan haram yang demikian tapi tidak untukku. Jika bukan karena himpitan ekonomi, aku tidak akan mengizinkan suamiku melakukan pekerjaan itu. Entah hanya sekedar menemani makan Wanita-wanita kaya di luar sana atau lebih dari itu justru aku semakin tidak mau tahu. Yang ku tahu saat ini, Mas Sueb masih pulang ke rumah setiap harinya meski larut malam sekalipun.

Matahari perlahan merangkak naik, meninggalkan peraduannya untuk melaksanakan rutinitas harian yang di tugaskan langsung oleh Sang Maha Agung, Tuhan pemilik sekalian alam.

Dari kejauhan tampak putraku berlari-lari kecil ke arahku. Segera ku lambaikan tangan ke arahnya guna memberi isyarat keberadaan ku agar ia tak kesulitan menemukanku di antara para pemulung yang mulai berdatangan.

"Bapakmu sudah berangkat?" tanyaku pada Jono yang tengah sibuk mengunyah permen karet.

"Iya, Mak. Bapak berangkat naik mobil bagus," sahut putraku polos. Aku terdiam seribu bahasa kemudian melanjutkan pekerjaan ku mengais tumpukan sampah meski hati rasanya teriris. Percayalah tak ada Istri yang benar-benar sanggup membiarkan suaminya berbagi kasih dengan Wanita lain.

Usai seharian berkutat diantara tumpukan sampah, aku dan putraku lekas pulang mendahului para pemulung yang masih betah bergumul dengan tumpukan sampah yang semakin mengeluarkan bau menyengat.

Tak membutuhkan waktu lama, aku dan putraku tiba di rumah kardus kami, sebuah rumah beratapkan terpal pada sebagian sisinya dengan berdindingkan bilahan bambu yang di lapisi dengan kardus bekas pada keseluruhan sisinya. Terlihat reyot dan mengkhawatirkan namun masih cukup layak untuk para pemulung seperti kami kalau hanya untuk sekedar melepas lelah.

Aku melirik ke arah jam kecil yang menggantung di sudut ruangan, sudah pukul 15:00 lebih namun suamiku belum juga pulang seperti yang ia janjikan semalam. Aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu pada kamar mandi umum yang dibuat oleh para pemulung beberapa bulan yang lalu.

Sampai pada azan maghrib berkumandang, suamiku tak jua pulang. Telur dadar dan nasi hangat yang telah aku siapkan untuk makan malam kami perlahan-lahan mulai dingin.

" Kok Bapakmu belum pulang ya, Jon?" tanya ku pada Jono yang tengah sibuk mengotak atik mainan bekas yang ia temukan dari tumpukan sampah tadi siang.

" Mungkin nanti malam, Mak. Seperti biasanya ...," sahut Jono pendek.

Aku meremas jemariku, tak biasnya aku sekhawatir ini saat menunggu suamiku pulang. Ada apakah gerangan pikir ku seraya bolak-balik menyibak tirai guna memastikan apakah suamiku sudah pulang atau belum.

***

Suara kokok ayam jantan membangunkan ku yang hanya mampu terlelap beberapa jam saja malam tadi. Aku mengidarkan pandangan ke samping Jono yang masih terlelap, kosong. Bantal dan selimut masih dalam keadaan terlipat rapi seperti sebelumnya. Itu menandakan bahwa suamiku benar-benar tidak pulang semalaman dan untuk pertama kalinya Mas Sueb melanggar janjinya kepadaku.

"Mau bagaimana lagi ...," lirih ku kemudian.

Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam selimut dan melanjutkan tidur meski sinar sang surya mulai menerobos memasuki rumah kardus kami dari celah-celah terpal yang bolong. Hati terasa porak-poranda dan gundah gulana. Mau dikata apa, suamiku tak pulang juga bukan kesalahannya seorang. Bagaimanapun aku dan Jono juga menikmati hasil usaha yang ia kerjakan selama ini dan aku tidak munafik bahwa semua yang dikerjakan suami ku itu juga atas izin dan kerelaan ku.

Baru saja terlelap beberapa menit, tirai lusuh penutup pintu tersibak hingga membuat kilauan cahaya mentari menerobos dan menyilaukan pandangan mata. Aku terbangun dengan kedua netra menyipit, menghindari kilauan sinar matahari namun tetap memastikan siapa yang berada tepat di ambang pintu. Wangi aroma parfum begitu menguar memenuhi setiap sudut ruangan yang sempit. Lambat-laun aku bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Seorang Wanita bertubuh indah bak gitar Spanyol terbungkus dalam balutan kaos merah ketat dan celana jeans bewarna hitam pekat. Aku melirik sepatu high heels yang ia kenakan, perkiraan ku tingginya hampir 8 cm dengan warna yang senada dengan kaos yang tengah Wanita itu kenakan.

"Siapa ya?" Aku memulai obrolan guna memecah sunyi diantara kami. Ku persilahkan ia duduk meski ia terlihat kurang nyaman dengan rumah kardus kami.

"Akan ku buatkan teh terlebih dahulu ...,"

"Tidak perlu!" cegah Wanita itu yang seketika menghentikan langkahku. Aku memilih duduk berhadapan dengannya.

"Apa kau tengah menunggu suamimu yang belum pulang sampai detik ini?" tanya Wanita itu yang seketika membuat keningku berkerut.

"Benar ..., Apa kamu Suwarni? selidik ku ragu. Wanita itu tampak tersenyum. Warna lipstik nya yang merah bata begitu terlihat mencolok namun sangat menggoda di pandang mata.

"Benar, aku Suwarni. Pacar suamimu," jawabnya tanpa ragu.

Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menguasai gejolak amarah di dalam dadaku.

"Mas Sueb tidak pulang kepadamu karena semalam tidur di rumahku. Suami mu itu laki-laki yang begitu pengertian, begitu sabar dan begitu perhatian kepadaku dan juga anak-anak," tambah Suwarni lagi. Aku terdiam, aku meremas keras lantai kardus di sisi kiriku. Untuk pertama kalinya aku merasa harga diriku sebagai seorang Istri dan juga seorang Ibu begitu terinjak-injak.

"Aku kemari ingin menawarkan kesepakatan ..., izinkan Mas Sueb menikah denganku dan akan kuberikan sebuah tempat hidup yang layak, jauh dari tumpukan sampah dan barang-barang rongsok yang begitu menjijikkan seperti ini!" ujar Suwarni seraya mengibaskan rambut panjangnya yang hitam tergerai.

" Apa kamu tidak malu datang bertamu ke Rumah orang dan mengatakan hal yang demikian?"sahutku dengan bibir bergetar. Wanita itu malah terkekeh dan berusaha menutupi tawa dengan jemarinya yang lentik. Aku benar-benar iri dibuatnya. Uang memang bisa memoles apapun menjadi begitu indah termasuk fisik seseorang.

"Ningsih .... Ningsih! jangan munafik bahwa selama ini kau dan anak mu juga menikmati setiap rupiah yang kuberikan. Terima saja tawaran ku dan pergi dari kehidupan Mas Sueb sejauh mungkin. Dengar, uang yang kuberikan akan membuat hidupmu lebih layak," tambahnya lagi.

"Tidak! Mas Sueb adalah suami yang setia, aku percaya itu!" tegas ku padanya.

"Justru karena itu aku harus bersusah payah meminta izin padamu. Suami mu itu hanya akan menikah denganku apabila kau yang memberi izin!" ujarnya dengan telunjuk tepat di depan mataku.

Dadaku seketika bergemuruh, seketika ku tepis tangannya dan ku jambak rambut hitam lurusnya yang sejak tadi ia pamer-pamerkan. Melihat perlakuanku yang demikian, Suwarni tak mau kalah, ia balas menarik daster lusuhku yang sudah bertambal di kanan-kirinya hingga kembali robek dan memperlihatkan pakaian dalamku yang sudah nyaris setahun tidak pernah di ganti dengan yang baru.

Adegan baku hantam tidak bisa dihindari lagi, kami bergumul bagai sepasang pengantin baru yang tengah kebelet bikin anak. Rumah kardus yang sudah reyot itu tampak berguncang laksana terkena gempa maha dahsyat. Beberapa tetangga berdatangan dan mengintip dari celah-celah dinding kardus yang sobek. Aku sungguh tak peduli. Terlebih saat Jono terlonjak dari tidurnya dan justru malah menonton adegan baku hantam kami.

"Hentikan! Hentikan!"

Seorang Pria berseragam dinas bewarna coklat menerobos masuk dan segera memisahkan kami berdua.

"Dia yang mulai, Pak RT!" Tuding Suwarni seraya merapikan rambutnya yang terlihat acak-acakan.

"Dia yang mulai! dasar pelakor!" balas ku tak kalah sengit. Segera ku sambar handuk yang menggantung pada paku untuk menutupi dasterku yang robek pada bagian dadanya. Pak RT tampak melirik tajam, sudah pasti ia melihat pakaian dalam ku, sial!

Atas perbuatan yang memalukan itu, akhirnya kami digelandang menuju rumah Pak RT untuk di damaikan. Tak lama setelah para saksi berkumpul, Mas Sueb juga tiba di sana dan ikut di sidang oleh Aparat Desa.

"Jadi benar bahwa kamu ternyata berselingkuh dengan Suwarni, Sueb?" Pak RT tampak melotot. Kumisnya yang tebal dan hitam tampak naik turun seirama dengan gerakan bibirnya saat berbicara.

"Tidak, Pak RT! aku dan Suwarni hanya sekedar asisten dan boss saja, hubungan kami tidak lebih dari itu!" kilah Mas Sueb. Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Lantas kenapa kamu menginap di Rumahnya?" tanya Pak RT lagi.

"Menginap di Rumah Mba Suwarni? Aku tidak menginap! Aku justru menginap di salonnya untuk berjaga-jaga karena dua hari yang lalu salon Mba Suwarni di bobol orang!" Suamiku tampak bingung dengan penuturan Pak RT sedang Suwarni terlihat celingak-celinguk merasa malu dan tidak enakan.

"Lantas? Jadi kau berbohong Suwarni?" Pak RT tampak melotot tapi kemudian mengedipkan mata ke arah Wanita seksi yang ada di sampingnya.

"Apa Mas Sueb selama ini tidak mencintai ku setelah kita menghabiskan banyak waktu bersama-sama?" tanya Suwarni seraya menatap wajah suamiku dengan tatapan sayu. Aku menatap ke arah Mas Sueb dengan tatapan tajam.

"Tidak, Mba Suwarni. Aku menemani Mba kemana-mana karena Mba begitu baik padaku dan sering kali memberiku uang, jadi apa salahnya aku membalas perlakuan baik Mba dengan hal yang baik pula," terang Mas Sueb di hadapan banyak orang. Sebagian tetangga mulai berbisik-bisik dan menertawakan Suwarni yang salah mengartikan kebaikan Mas Sueb selama ini. Tak kusangka bahwa suamiku selama ini benar-benar setia dalam menjaga ikatan suci pernikahan kami meski dalam keterbatasan ekonomi sekalipun. Aku begitu malu karena telah berprasangka buruk terhadapnya.

"Tapi Mengapa Mas Sueb begitu perhatian kepada ku dan anak-anak?" lirih Suwarni dengan raut wajah kecewa.

"Kalau perhatian sih, Pak RT juga perhatian kepada semua orang ...," sahut Pak RT seraya memelintir kumisnya.

"Mas Sueb juga sabar meladeni apapun yang aku mau," ujar Suwarni tanpa tahu malu.

"Pak RT juga sabaaar sekali meladeni keinginan warga," sahut Pak RT lagi. Suwarni tersenyum kecut.

"Terus Mas Sueb juga sangat sayang padaku dan anak-anak," tambah Suwarni kemudian.

"Sebenarnya Pak RT juga sayang padamu dan anak-anak," sahut Pak RT kebablasan.

" MAS .... AWAS YA!" teriak Bu RT dari dapur yang seketika membuat para tetangga langsung bubar.

Sejak kejadian itu hubungan suamiku dan Suwarni sedikit berjarak meski Mas Sueb masih kerap kali menemani wanita itu kemana-mana. Justru belum lama ini beredar gosip bahwa Suwarni kerap kali kepergok makan berdua bersama Pak RT. Apakah Suwarni kali ini akan menjadi korban rayuan maut Pak RT? Entahlah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar