Panas terik matahari siang itu cukup membuat kepalaku terbakar. Keringat bercucuran membasahi kaos oblong yang sudah aku pakai selama tiga hari tak diganti. Tanganku refleks mengguncangkan botol yang berisi pecahan uang koin. Bersungguh-sungguh menarik minat orang-orang yang menumpangi angkot untuk memberikanku sedikit uang.
Amel bernyanyi, sementara yang Yudi memetik senar ukulele nya. Satu per satu angkot telah kami tumpangi demi meraup beberapa receh rupiah. Jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk kami bertiga makan seharian.
Di pojok terminal, Yudi dan Amel sudah menungguku dengan senyum sumringah hasil pendapatan kami seharian ini. Wajah mereka sama kusamnya denganku, tapi melihat senyumannya seolah-olah membuatku terasa hidup kembali.
Kami sudah lama tidak pulang ke rumah. Lebih tepatnya, kami memilih jalanan sebagai rumah kedua kami. Kami tidur dari lantai sebuah bangunan yang beralaskan kardus bekas atau bahkan tidak sama sekali, namun itu bagi kami adalah sebuah ketenangan. Mereka tidak tahu, kalau jalanan yang keras ini cukup ramah buat kami yang tidak tahu arah pulang.
Semua ini berawal dari ego kedua orang tua kami.
"Mel, Yud. Gimana pendapatan kita hari ini?" Ucapku menoleh ke arah Amel dan Yudi dengan wajah lesu.
"Hari ini bagus bro, pendapatannya juga cukup banyak," jawab Yudi dengan riang gembira. Amel yang tak kalah ingin juga menjawab, "Cukup nih buat beli nasi padang ceban tiga biji hahaha". Kita semua gembira menertawakan hasil pendapatan ngamen hari ini.
"Kalo gitu, gass yo beli nasi padang. Aku dah laper nih," ucapku sambil memelas dengan memegang perut yang sedang keroncongan.
"Ayo bro!" jawab Yudi mengiyakan ajakanku.
Kami bertiga tumbuh disatu kampung yang sama. Dulunya, kami adalah anak-anak yang riang gembira, bahkan tak pernah terpikirkan akan menjadi anak jalanan seperti saat ini. Dulu, setiap sepulang sekolah kami selalu bermain bola di komplek, sementara sekarang hari-hari kami diisi dengan ngamen seharian di jalanan. Namun, ego orang dewasa membuat tawa riang gembira kami perlahan sirna.
Dirumahku, suara piring pecah terdengar setiap harinya. Bentakan Ayah dan Ibu menyisakan luka dan trauma. Mereka selalu meributkan banyak hal, semenjak Ayah meminjamkan uang kepada selingkuhannya. Setiap kali mereka berselisih-paham, aku hanya bisa meringkuk dikamar. Menutup kepalaku dengan bantal sekencang mungkin hingga tak terdengar suara mereka.
Nasib Yudi tak lebih beruntung. Dia dulunya berasal dari keluarga pengusaha yang kaya di kampung kami. Ayahnya mendadak bangkrut total karena usahanya diguna-guna oleh pesaingnya. Rumah besarnya dijual untuk bayar utang. Yudi sering mendapatkan perlakuan kasar dari Ayahnya karena frustasi. Badannya selalu dipenuhi memar dan bekas luka karena Ayahnya melampiaskan kemarahan padanya. Yudi, anak yang dulunya terkenal rapi kini berubah menjadi anak dengan baju lusuh dan penuh tatapan kosong.
Sementara Amel, dia adalah korban dari perceraian orang tuanya. Ayah dan Ibunya sudah lama pisah, mereka memperebutkan harta gono gini sampai lupa kalau mereka juga punya anak perempuan satu-satunya. Menurutku, Amel hanya butuh kehangatan, bukan kesunyian yang panjang. Dulu, setiap malam Amel sering mengetuk pintu rumahku karena merasa kesepian. Dia menangis sejadi-jadinya diteras rumah.
Malam itu, di bawah remang-remang lampu tiang gang, kami duduk melingkar.
"Aku nggak tahan lagi dirumah," bisik Amel, air matanya menetes diatas lututnya yang ditekuk.
"Sama. Rumahku hanya sebuah tempat pelampiasan amarah," Yudi menyahutnya dengan muka pasrah dan sorot matanya yang datar.
Aku melihat temanku bergiliran. Menatapnya dengan dalam dengan rasa amarah dan muak bergejolak di dadaku. Orang tua kami sibuk menghancurkan diri mereka sendiri, sementara mereka juga perlahan sedang menghancurkan kami.
"Kalau mereka nggak peduli sama kita, buat apa kita di sana?" kataku, memecah keheningan. "Kita pergi. Kita buktikan kalau kita bisa hidup tanpa aturan egois mereka."
Malam itu juga, dengan baju seadanya di dalam tas ransel, kami melangkah keluar dari gang kampung. Menantang malam, menuju jalanan yang sama sekali belum kami kenali.
Keesokan harinya, kami seperti biasa menelusuri jalanan. Menyanyikan lagu satu per satu dalam angkot berharap seraup rupiah. Kami bersandar kembali di pojokan terminal, membeli tiga bungkus mie instan dan tiga botol air mineral untuk menu makan hari ini. Amel sibuk mengipasi dirinya dengan robekan kardus, sementara Yudi tengah sibuk memandang bus yang lewat dengan tatapan kosong.
"Zaki..."
Suara lirih yang terasa begitu familiar bagiku, cukup membuat jantung ini berdetak begitu kencang.
"Itu bukan suara calo angkot," ucapku dalam hati.
Aku mendongak. Di depan kami, berdiri dua orang yang beberapa hari ini coba kuhapus dari ingatanku. Ibu dan Ayah.
Penampilan mereka jauh dari kata rapi seperti biasanya. Wajah Ibu sembab, matanya merah dan berkantung tebal, seolah tidak tidur berhari-hari. Di tangan Ayah, ada selembar kertas fotokopi berwajahku dengan tulisan "ANAK HILANG". Di belakang mereka, tampak dua orang polisi yang berjaga dekat mobil patroli.
"Zaki, ya ampun, Nak..." Ibu langsung menghambur, berlutut di atas trotoar yang kotor dan panas, mencoba memelukku.
Refleks, aku mundur selangkah, membuat pelukan Ibu kosong di udara. Yudi dan Amel langsung berdiri di sampingku, memasang posisi defensif. Kami bertiga merapatkan barisan, menjadi pagar pelindung bagi satu sama lain.
"Jangan mendekat!" teriakku penuh amarah dengan mata memerah menahan tangis. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, begitu berjarak.
"Maafkan kami Nak, ayo pulang ke rumah anakku," ucap Ayah sambil menahan air matanya jatuh.
"Rumah apa? Semuanya berantakan. Tiada hari tanpa bentakan, aku muak," ucapku dengan senyum sinis.
"Ayah sudah berbaikan dengan Ibu, kami janji akan menciptakan rumah yang nyaman untukmu Nak," ucap Ayah dengan mata berkaca-kaca.
Ibu menangis menutupi wajahnya dengan kertas pengumuman anak hilang yang kini mulai remuk. "Ibu minta maaf, Zaki. Ibu salah. Kami salah. Rumah sepi banget semenjak kamu nggak ada. Ayah dan Ibu janji nggak akan berantem lagi. Kita perbaiki semuanya di rumah, Nak."
Aku menatap Ibu, lalu beralih menatap Ayah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Ayah meneteskan air mata. Ego besar yang biasanya menguasai rumah kami, runtuh seketika di atas aspal terminal ini.
Aku menoleh ke arah Amel dan Yudi, mereka menganggukan kepalanya seolah-olah pertanda menyuruhku untuk kembali ke pangkuan mereka. Amel menggenggam kaos belakangku, dia ikut menangis, mungkin merindukan ibunya sendiri yang entah ada di mana sekarang.
Namun, yang membuatku dilema adalah bagaimana nasib kedua sahabatku ini, setelah kejadian ini berlalu.
"Bagaimana dengan Yudi dan Amel?" tanyaku pada Ayah. "Orang tua Yudi bangkrut dan cuma bisa marah-marah. Orang tua Amel sibuk cerai. Kami bertahan hidup di sini bareng-bareng. Kalau aku pulang, mereka gimana?"
Ayah menatap kedua sahabatku dengan pandangan iba. "Ayah sudah hubungi orang tua Yudi dan Amel juga, Nak. Polisi lagi coba cari keberadaan mereka untuk mediasi. Tapi sekarang, ikut Ayah dulu. Teman-temanmu boleh ikut ke rumah kita. Kita selesaikan ini sama-sama. Ayah janji, nggak akan ada bentakan lagi."
Matahari siang itu masih terasa membakar, tapi rasa dingin yang membeku di hatiku perlahan mulai mencair. Genggaman tangan Amel di kaosku melonggar. Kami bertiga saling berpandangan. Jalanan telah memberi kami pelajaran berharga tentang arti kesetiaan, tapi kami juga tahu, kami tidak bisa selamanya bersembunyi di sini. Kami butuh masa depan.
Kami memang kembali ke rumah hari itu. Perjalanan ke depan pasti tidak akan langsung mudah. Luka akibat perselisihan orang tua kami tidak akan sembuh dalam semalam. Namun, saat aku melirik Yudi dan Amel yang duduk di dalam mobil bersama kami, aku tahu satu hal yakni pemberontakan kami di jalanan tidak sia-sia.
Kami telah memaksa orang-orang dewasa itu untuk berhenti sejenak, menurunkan ego mereka, dan akhirnya melihat keberadaan kami.
Dan yang paling penting, jalanan telah mengikat persahabatan kami bertiga dengan tali yang tidak akan pernah bisa diputuskan oleh masalah apa pun di dunia ini.
Tamat.