Debaran kencang itu cukup menyiksa dadaku, sesak tak tertahan yang kian mengguncang juga seluruh tubuhku. Pikiran ini rasanya kalang kabut disaat pertama kali aku menatap wajahnya, wajah yang selama ini aku dambakan.
Fira sosok yang benar-benar membuatku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Detik ini, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Entahlah bagaimana nanti jawabannya, aku memang berlari untuk mengejar dirinya sejak satu tahun yang lalu.
"Fir, gue mau ngomong serius". Pernyataan itu sontak keluar dari mulutku yang sebelumnya tak kupercayai.
Perempuan itu tetap tenang dengan sorot matanya yang teduh, menatapku dalam-dalam. Lagi-lagi aku kalah ketika tatapan itu tertuju menatapku, bibirku mendadak kaku.
"Iya apa?" Jawab Fira dengan suara lembutnya yang khas.
"A..a..aku." Mulutku gelagapan ketika ingin menyampaikan perasaanku. Aku memang tidak takut akan penolakan tapi apa mungkin aku bisa menjadi miliknya?
"Aku pengen jajan bakso sama kamu, nanti siang ya setelah jam kuliah." Ya benar, lagi-lagi ungkapan omong kosong itu terlontar.
"Ayo, serius banget ngajak makan bakso juga hahaha," ucapnya pelan sambil tertawa kecil mengarahkan matanya teduhnya padaku.
Aku memang payah menyatakan perasaan, lagi-lagi aku kalah. Mungkin, lebih baik memendam daripada menyatakan. Namun, kenyataannya memendam lebih sesak, dan aku hanya tak bisa mengutarakannya.
Maka ku milih memendam saja daripada hubungan kita jadi canggung, lebih baik bersahabat saja. Dari aku yang tak punya keberanian.