Disukai
0
Dilihat
15
17 Tahun Budak Cinta II
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

17 TAHUN BUCIN: VOLUME II

Di Antara Puing, Ego, dan Janji

─────────────────

Di ruang ICU rumah sakit swasta di pinggiran Jakarta, bau antiseptik dan keringat bercampur menjadi satu aroma yang menusuk hidung. Haji Murta Wijaya terbaring di atas ranjang putih, tubuhnya yang dulu kekar kini menyusut menjadi rangka yang terbungkus kulit. Alat-alat medis berkedip di sampingnya, mencatat detak jantung yang semakin lambat, seperti hitungan mundur yang tidak bisa dihentikan.

Ibu Nyiwah duduk di kursi plastik di samping ranjang, tangannya menggenggam tangan suaminya yang dingin. Di ujung jarinya, ia merasakan denyut nadi yang semakin lemah seperti ombak yang perlahan mundur dari pantai, tidak pernah kembali.

"Nyiwah..." suara Haji Murta hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari dunia lain. "Nanti... di depan rumah... kita bangun Ruko buat Novi jahit."

Ibu Nyiwah mendekatkan telinganya ke bibir suaminya. Ia menangis, tetapi tidak ada suara yang keluar. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang hancur sesuatu yang tidak bisa diperbaiki oleh siapa pun.

"Biarkan Inas, Tira, Nadin, Dodo... urus Yayasan dan Pabrik Limbah," lanjut Haji Murta, napasnya tersengal. "Novi... harus punya kerajaannya sendiri. Janji, Nyiwah... janji..."

Itu adalah kata-kata terakhirnya. Alat di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang yang menusuk telinga. Ibu Nyiwah tetap menggenggam tangan suaminya, bahkan setelah tangan itu menjadi dingin dan kaku. Ia tidak melepaskannya. Ia tidak bisa.

Tiga hari kemudian, rumah duka Haji Murta dipenuhi oleh orang-orang yang datang dan pergi seperti arus sungai. Ada yang menangis, ada yang diam, ada yang berbicara tentang "warisan" dan "pembagian aset" dengan nada yang terdengar seperti doa, tetapi terasa seperti pisau.

Novi duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Ia baru berusia dua puluh tiga tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Di sampingnya, Bara menggenggam tangannya erat-erat. Tangannya hangat, tetapi di dalam dadanya, ia merasakan dingin yang tidak bisa ia jelaskan.

"Vi, kau tidak apa-apa?" bisik Bara.

Novi tidak menjawab. Ia hanya menatap peti mati ayahnya yang dihiasi bunga-bunga putih. Di dalam kepalanya, suara ayahnya masih bergema: "Novi harus punya kerajaannya sendiri."

Di seberang ruangan, Inas dan Tira sedang berbicara dengan pengacara keluarga. Suara mereka terdengar seperti bisikan, tetapi isinya jelas: yayasan, aset, saham. Nadin dan Dodo duduk di dekat mereka, membawa kalkulator dan buku catatan. Mereka tidak menangis. Mereka menghitung.

Ibu Nyiwah duduk di kursi rotan tua di sudut ruangan kursi yang sama yang pernah diduduki Haji Murta saat ia masih sehat. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap anak-anaknya yang sibuk memperebutkan warisan. Di dalam kepalanya, ia mulai mencatat: semua yang ia lihat, semua yang ia dengar, semua yang tidak ia ucapkan.

Novi mendekati ibunya. "Mah, Ayah... Ayah sempat bilang sesuatu sebelum..."

Ibu Nyiwah menatap putrinya dengan mata yang sayu. "Dia berjanji, Vi. Dia berjanji akan membangun Ruko untukmu. Tapi sekarang..." Ia menggelengkan kepala. "Sekarang semuanya sudah diambil kakak-kakakmu."

Novi memegang tangan ibunya. Di ujung jarinya, ia merasakan dingin yang sama dengan dinginnya tangan ayahnya saat terakhir kali ia pegang. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa duduk di samping ibunya, dan berbagi keheningan yang berat.

Bara berdiri di sudut lain, melihat semuanya Inas dan Tira yang sibuk menghitung, Nadin dan Dodo yang mencoret-coret angka, Ibu Nyiwah yang terpinggirkan, dan Novi yang hancur. Di dalam hatinya, ia berjanji: Aku akan membangun tempat usaha itu untukmu, Vi. Aku akan memenuhi janji Ayahmu.

Tapi malam itu, saat ia pulang ke kontrakan kecilnya, ia duduk di ranjang dan menggenggam batu berukir akar di sakunya. Batu itu dingin. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku benar-benar bisa memenuhi janji itu?

Ia tidak tahu bahwa pertanyaan itu akan menghantuinya selama bertahun-tahun dan bahwa jawabannya akan menjadi kematian ilusi pertamanya.

Di ruang duka yang penuh bunga dan air mata palsu, Bara menyadari bahwa kematian tidak menyatukan orang. Kematian hanya membuka pintu yang selama ini dikunci rapat pintu yang di baliknya tersimpan keserakahan, dendam, dan luka yang tidak pernah sembuh. Ia mengira ia menikahi satu keluarga. Ternyata ia menikahi sebuah medan perang. Dan di medan perang itu, tidak ada yang akan menjadi sekutunya kecuali Novi, yang juga sedang terjebak di antara dua tembok yang saling mendekat.

Satu tahun kemudian, Bara dan Novi menikah.

Resepsi diadakan di ruang serbaguna sederhana di dekat rumah Novi. Tamu tidak terlalu banyak sebagian besar kerabat dekat Novi dan beberapa teman Bara dari kantor. Bara melihat ibunya, Sri, duduk di kursi paling depan, mengenakan kebaya yang sudah kusam tetapi dijahit ulang dengan penuh cinta oleh Novi sendiri. Ibunya tersenyum, tetapi ada sesuatu yang basah di sudut matanya sesuatu yang ia biarkan mengalir tanpa berusaha menghapusnya.

Novi berdiri di samping Bara, mengenakan gaun putih sederhana yang ia jahit sendiri. Di matanya, ada kebahagiaan, tetapi juga ada kelelahan kelelahan yang tidak seharusnya ada pada pengantin baru.

Mereka mengucapkan janji. Mereka berpegangan tangan. Mereka tersenyum untuk foto-foto yang akan dikenang.

Tapi di belakang senyum itu, ada beban yang tidak terlihat.

Malam pertama mereka sebagai suami-istri, Bara dan Novi duduk di kamar pengantin di rumah besar Novi. Lampu kamar redup. Di luar, suara jangkrik terdengar samar.

Bara memegang tangan Novi. "Kita punya cinta, Vi. Itu modal yang cukup. Aku akan membangun tempat usaha untukmu. Aku akan memenuhi janji Ayahmu."

Novi tersenyum, tetapi matanya kosong. "Aku percaya padamu, Ra."

Di dalam hatinya, ia ingin percaya. Tapi ada sesuatu di dadanya yang berkata: Cinta tidak cukup. Cinta tidak pernah cukup.

Keesokan paginya, Bara turun ke ruang tamu. Inas dan Tira sudah duduk di kursi-kursi mewah, membawa laporan keuangan Yayasan. Nadin dan Dodo sudah siap dengan kalkulator mereka.

"Bara," kata Inas dengan nada manis tetapi tajam, "kami sudah bicara. Tempat usaha itu harus segera dibangun. Itu wasiat Ayah. Kami akan memberikan kontribusi tapi kamu harus menyiapkan sisanya."

Bara menelan ludah. "Berapa, Kak Inas?"

Inas menyebutkan angka. Angka yang membuat Bara merasakan dingin di perutnya dingin yang sama dengan dinginnya batu di sakunya.

"Kami tidak mau Novi terbebani, Ra," tambah Tira. "Jadi kami berharap kamu bisa mengurus ini sendiri."

Bara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, dan di dalam hatinya, ia merasakan ilusi pertama mulai mati ilusi bahwa cintanya pada Novi cukup untuk membungkam suara-suara di meja makan. Cinta tidak punya suara di hadapan angka, warisan, dan status sosial.

Malam itu, Bara membisikkan janji di telinga Novi: "Cinta kita cukup." Tapi keesokan paginya, saat Inas meletakkan laporan keuangan Yayasan di meja makan dan bertanya "kapan tempat usaha itu dibangun?", Bara menyadari bahwa cinta tidak punya suara di ruangan yang dipenuhi angka. Cinta hanya bisa berbisik. Dan bisikan tidak pernah menang di meja rapat.

Novi duduk di dapur, mendengar suara-suara dari ruang tamu. Ia tidak keluar. Ia hanya menatap kompor yang mati, dan di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai retak retakan kecil yang tidak terlihat, tetapi yang akan terus melebar di tahun-tahun berikutnya.

Bara bekerja sebagai tenaga honorer di instansi pemerintah. Setiap pagi, ia memakai "topeng" birokrasi tersenyum pada atasan yang tidak kompeten, mengangguk pada prosedur yang tidak masuk akal. Di dalam kepalanya, ia terus merancang kerajaan dagangnya, tetapi setiap kali ia pulang ke rumah besar Novi, ia hanya menemukan tatapan merendahkan dari keluarga istrinya.

Suatu sore, Boss Mirza memanggil Bara ke ruangannya. Mirza adalah pria tua dengan rambut putih dan mata yang tajam seperti elang yang bisa melihat melalui topeng.

"Bara," katanya, duduk di kursi rotan di belakang meja, "aku lihat kamu kelihatan seperti orang yang sedang menahan napas. Ada apa?"

Bara terdiam. Ia menatap meja kayu di depannya, dan di dalam kepalanya, kata-kata berdesakan. Ia ingin berkata: "Saya tidak tahan lagi, Pak. Saya tidak tahan menjadi budak ekspektasi orang lain." Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Tidak ada, Pak. Saya hanya lelah."

Mirza menatapnya lama. "Bara, aku sudah bekerja di dunia ini selama tiga puluh tahun. Aku tahu kapan seseorang berbohong. Kamu tidak lelah. Kamu mati."

Bara terkejut. Ia menatap Mirza, dan untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang benar-benar melihatnya bukan topeng yang ia kenakan, tetapi orang di baliknya.

"Kamu pintar, Bara," lanjut Mirza. "Tapi kamu tidak bahagia. Dan orang yang tidak bahagia tidak akan pernah mencapai potensinya. Pikirkan itu."

Malam itu, Bara pulang ke rumah besar Novi dengan langkah yang berat. Di ruang tamu, Inas dan Tira sedang mengadakan rapat yayasan. Mereka berbicara tentang "anggaran" dan "proyeksi keuangan" dengan nada yang terdengar seperti doa, tetapi terasa seperti pisau.

Nadin dan Dodo duduk di dekat mereka, membawa kalkulator dan buku catatan. "Ra," kata Dodo, menatap Bara dengan mata yang tidak bisa dibaca, "kamu ini lulusan apa sih? Kok nggak ngerti hitungan ROI?"

Bara tersenyum pahit. "Ekonomi makro, Dodo. Tapi di sini, sepertinya ilmu itu tidak berguna."

Dodo mendengus. "Makro? Di pabrik limbah, kami belajar tentang mikro. Tentang hitungan per gram, per kilo, per ton. Itu yang nyata, Ra. Bukan teori."

Bara tidak menjawab. Ia berjalan ke kamar, menutup pintu, dan duduk di ranjang. Di dalam gelap, ia menggenggam batu di sakunya batu yang ia temukan di kaki Gunung Tangkuban Perahu, bertahun-tahun lalu. Batu itu dingin. Tidak ada kehangatan.

Novi masuk beberapa saat kemudian. Ia duduk di samping Bara dan menggenggam tangannya. "Kau tidak apa-apa, Ra?"

"Aku tidak tahu, Vi," jawab Bara, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertahan di sini."

Novi tidak menjawab. Ia hanya memeluk Bara erat-erat, dan di dalam keheningan kamar, mereka berdua merasakan beban yang sama beban yang tidak mereka minta, tetapi tidak bisa mereka hindari.

Malam-malam berikutnya, Bara mulai menulis. Di buku catatan yang ia beli bertahun-tahun lalu, ia menuliskan semua yang ia rasakan. Ia menulis tentang kantor yang berdebu, tentang keluarga Novi yang merendahkannya, tentang cintanya pada Novi yang terasa semakin berat.

"Aku mengira aku akan berubah," tulisnya. "Aku mengira aku akan menjadi pria yang layak untuk keluarga ini. Tapi setiap hari aku menyadari bahwa 'berubah' membutuhkan waktu, dan waktu adalah barang mewah yang tidak aku miliki. Aku tidak tahu apakah aku akan cukup tidak untuk Novi, tidak untuk keluarganya, tidak untuk diriku sendiri."

Dan di dalam tulisan itu, ilusi kedua mulai mati: ilusi bahwa ia akan menjadi layak.

Minggu-minggu berikutnya, tekanan semakin besar. Setiap pagi, Inas dan Tira bertanya tentang "kapan Bara naik pangkat." Setiap malam, Nadin dan Dodo menawarkan Bara kerja di pabrik limbah dengan gaji kecil tawaran yang terasa seperti penghinaan.

Dan setiap hari, Novi melihat suaminya perlahan-lahan hancur. Ia melihat Bara yang dulu penuh mimpi, kini menjadi sosok yang kosong seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya.

Suatu pagi, Bara masuk ke kantor Boss Mirza dan meletakkan kartu identitasnya di atas meja. "Pak, saya keluar. Saya tidak tahan lagi."

Mirza menatapnya lama. "Kamu yakin, Bara? Ini keputusan besar."

Bara menatap lantai. Di dalam dadanya, ada rasa takut yang besar, tetapi ada juga rasa lega lega karena akhirnya ia memilih untuk berhenti menjadi budak. "Saya yakin, Pak. Saya harus menemukan jalanku sendiri."

Mirza mengangguk pelan. "Aku tidak akan menghentikanmu. Tapi ingat, Bara: dunia ini keras. Dan di luar sana, tidak ada yang akan memberimu jaminan."

"Tidak apa-apa, Pak," jawab Bara. "Saya sudah terbiasa hidup tanpa jaminan."

Ia keluar dari kantor, dan di dalam hatinya, ia berjanji: Aku tidak akan kembali lagi. Aku akan menemukan kebebasanku. Aku akan membangun tempat usaha untuk Novi.

Tapi di parkiran, saat ia duduk di motor tua dan menatap gedung kantor yang menjulang, ia tahu kebenaran yang lebih gelap: ini bukan kebebasan. Ini adalah pengakuan bahwa ia kalah. Dan kekalahan yang dibungkus dengan kata "kebebasan" tetap terasa seperti kekalahan.

Bara meletakkan kartu identitasnya di atas meja. Ia mengira ini adalah momen kebebasannya. Tapi di parkiran, saat ia duduk di motor tua dan menatap gedung kantor yang menjulang, ia tahu kebenaran yang lebih gelap: ini bukan kebebasan. Ini adalah pengakuan bahwa ia kalah. Dan kekalahan yang dibungkus dengan kata "kebebasan" tetap terasa seperti kekalahan.

Setelah keluar dari pekerjaan, Bara tidak bisa lagi tinggal di rumah Novi. Keluarga Novi mulai merendahkannya secara terang-terangan. Inas dan Tira berbicara tentang "menantu yang tidak bertanggung jawab." Nadin dan Dodo menertawakan ide Bara tentang "bisnis konveksi."

"Mau jualan baju? Hah!" Dodo tertawa. "Kamu tidak bisa jualan baju, Ra. Kamu bahkan tidak bisa mengatur keuangan sendiri."

Bara menggenggam batu di sakunya dan tidak menjawab. Ia membawa Novi dan Nara yang baru berusia beberapa bulan ke rumah orang tuanya.

Di rumah orang tua Bara, Novi merasa tercekik. Rumah itu kecil, dengan dinding yang catnya mulai mengelupas dan satu jendela yang menghadap ke gang sempit. Orang tua Bara mengharapkan Novi menjadi "istri yang patuh" tidak banyak menuntut, tidak banyak bicara.

"Novi, kamu harus belajar masak," kata Mamah Bara suatu pagi. "Bara suka makanan rumahan. Jangan terlalu sering beli di luar."

Novi tersenyum pahit. "Mah, kami tidak punya uang untuk beli di luar. Kami bahkan susah untuk beli beras."

Mamah Bara menggelengkan kepala. "Kamu ini manja, Novi. Di desa kami, istri-istri guru honorer bisa bertahan dengan nasi dan garam. Kamu juga bisa."

Novi tidak menjawab. Ia pergi ke dapur dan mulai mencuci piring piring yang sudah bersih, yang tidak perlu dicuci. Ia mencuci piring itu berulang-ulang, sampai tangannya merah karena air panas. Di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki dengan mencuci piring.

Sementara itu, Bara mencoba membangun bisnis konveksi. Ia ingat masa pacaran, saat ia mengambil orderan jas almamater. Ia ingat janji Haji Murta tentang toko yang harus ia bangun. Ia mengumpulkan sisa uang dari orang tuanya, meminjam dari sana-sini, dan menyewa mesin jahit bekas.

Ia menyewa tempat kecil di pinggiran kota sebuah ruangan berdebu dengan satu lampu neon yang berkedip. Di sudut ruangan itu, Bara mencium bau aneh bau arang dan getah pohon, seperti bau tinta yang ia racik bertahun-tahun lalu. Ia tidak tahu mengapa bau itu muncul di sini, di tengah mesin jahit dan kain perca. Tapi bau itu menempel di pakaiannya, dan setiap kali ia menciumnya, ia teringat pada buku catatan yang belum ia tulis, pada janji yang belum ia tepati.

Ia memasang mesin jahit di sudut dan mulai menerima orderan.

Tapi Bara tidak mengerti kain. Ia tidak mengerti pasar. Ia hanya mengerti "cuan." Ia mengabaikan saran Novi, mengabaikan saran Ibu Nyiwah. Ia mengambil keputusan bisnis yang salah karena gengsi ia ingin menjadi "bos," bukan "suami yang membantu istri."

Bisnis itu bangkrut dalam enam bulan. Utang menumpuk. Mesin jahit yang ia beli dengan uang terakhirnya kini berdebu di sudut ruangan.

Malam itu, Ibu Nyiwah datang ke kontrakan kecil mereka kontrakan yang sudah mereka pindahi setelah gagal bisnis. Ia melihat mesin jahit yang berdebu di sudut ruangan.

Ia mengambil kain lap basah dari dapur dan berlutut di samping mesin jahit. Tangannya yang sudah keriput dan penuh urat bergerak perlahan di atas debu yang menempel. Ia menyeka setiap sudut, setiap celah, dengan sabar. Di ujung jarinya, ia merasakan tekstur besi yang dingin, dan di dalam dadanya, ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia teringat pada Haji Murta, pada janji yang tidak pernah ia ucapkan dengan suara, tetapi yang selalu ia genggam di dalam hati.

"Kamu seperti mesin ini, Bara," katanya pelan, tanpa menoleh. "Berdebu, terlupakan, tetapi masih bisa berfungsi. Kau hanya perlu ada yang membersihkanmu."

Novi menangis di sudut dapur. Di balik pintu kamar, Bara mendengar semuanya. Ia tidak bisa masuk. Ia hanya berdiri di sana, menggenggam batu di sakunya, dan menangis tanpa suara.

Di atas mesin jahit yang berdebu, masih tergantung sehelai kain perca sisa dari mukena pertama yang mereka buat, yang jahitannya miring karena Bara memaksakan kecepatan demi kuantitas. Novi menatap kain itu. Ia tidak marah. Ia hanya sedih. Karena kain yang miring itu bukan hanya kegagalan bisnis. Itu adalah bukti bahwa suaminya lebih peduli pada citra daripada kualitas. Dan citra, seperti kain murah, akan robek saat pertama kali dicuci.

Mesin jahit itu diam di sudut ruangan, tertutup debu. Di atasnya, masih tergantung sehelai kain perca sisa dari mukena pertama yang mereka buat, yang jahitannya miring karena Bara memaksakan kecepatan demi kuantitas. Novi menatap kain itu. Ia tidak marah. Ia hanya sedih. Karena kain yang miring itu bukan hanya kegagalan bisnis. Itu adalah bukti bahwa suaminya lebih peduli pada citra daripada kualitas. Dan citra, seperti kain murah, akan robek saat pertama kali dicuci.

Dua tahun berlalu. Bara menyerah pada realitas. Ia menghubungi Boss Mirza satu-satunya orang di dunia birokrasi yang pernah percaya padanya.

"Pak, saya butuh pekerjaan. Saya tidak peduli apa pun."

Mirza menatapnya lama. "Kamu kembali, Bara. Tapi apakah kamu kembali dengan hati yang sama?"

Bara tidak menjawab. Ia hanya menunduk, dan di dalam dadanya, ada rasa malu yang besar rasa malu karena ia kembali ke dunia yang ia benci.

Atas rekomendasi Mirza, Bara diterima di Kementerian Pusat. Orang tuanya bangga. Keluarga Novi hanya tersenyum tipis: "Syukurlah, setidaknya ada jaminan pensiun."

Kalimat itu menusuk Bara lebih dalam daripada hinaan.

Bara kembali memakai "Topeng Birokrasi." Ia masuk ke fase depresi fungsional ia bekerja, pulang, diam, dan tidak berbicara pada Novi. Di kantor, ia tersenyum. Di rumah, ia kosong.

Setiap pagi, ia memakai kemeja putih dan dasi yang rapi. Setiap malam, ia melepasnya dan duduk di dapur, menatap kompor yang mati. Lampu neon berkedip-kedip, membuat bayangannya di dinding terlihat seperti raksasa yang sekarat.

Novi melihat suaminya berubah. Bara tidak lagi marah. Ia tidak lagi berteriak. Ia hanya... diam.

Dan diam itu lebih menakutkan daripada amarah.

Suatu malam, Novi melihat Bara duduk di dapur, menatap kompor yang mati. Ia mendekat dan duduk di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memegang tangan Bara.

Dan Bara tidak melepaskannya.

"Vi," katanya akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar, "aku gagal. Aku gagal sebagai suami, gagal sebagai ayah, gagal sebagai pria."

Novi menggenggam tangannya lebih erat. "Kau tidak gagal, Ra. Kau hanya... lelah."

"Aku lelah, Vi. Aku lelah menjadi orang yang tidak pernah cukup."

Novi tidak menjawab. Ia hanya duduk di samping Bara, dan di dalam keheningan dapur, mereka berdua merasakan beban yang sama beban yang tidak mereka minta, tetapi tidak bisa mereka hindari.

Malam itu, Bara duduk di meja makan, menatap laporan dinas yang terbuka di hadapannya. Di tangannya, sebuah pulpen yang sama yang dulu ia gunakan untuk menulis puisi kini hanya menorehkan angka dan paraf. Di sakunya, batu berukir akar tergeletak, tidak disentuh, tidak diingat. Novi melihat jari-jari Bara yang menggenggam pulpen itu gemetar, seperti mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama hilang. Ia ingin berkata: "Di mana tulisanmu, Ra?" Tapi kata-kata itu tidak keluar. Hanya suara pulpen di kertas yang terus berderit, seperti jeritan yang tidak bersuara.

Tidur enggan datang. Novi berbaring di ranjang, tetapi setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan Bara di dinding yang bergerak pelan di bawah lampu neon. Lampu itu berkedip-kedip klik, desing, klik seperti jam yang tidak pernah berhenti. Di luar, suara klakson dari jalan raya masih terdengar, seperti peringatan yang tidak pernah padam. Novi menarik selimut sampai ke dagu, tetapi dingin tetap merambat dari lantai ke tulang belakangnya.

Ia menatap Bara yang sudah tertidur dengan wajah lelah. Di bawah lampu kamar yang redup, napas Bara terdengar berat seperti orang yang bahkan dalam tidurnya masih memikul beban. Novi meraih tangannya, tetapi tangannya dingin. Ia tidak melepaskan. Ia hanya berbaring di sampingnya, membiarkan dingin itu merambat dari ujung jari Bara ke tangannya sendiri, dan menunggu fajar yang tidak pernah datang.

Di dalam hatinya, Novi mengingat Bara yang dulu Bara yang berlutut di kaki gunung, yang berkata "maukah engkau menjadi istri dari anak-anakku kelak," yang penuh mimpi dan harapan.

Sekarang, yang tersisa hanya cangkangnya. Bara yang dulu bicara tentang kerajaan dagang kini tidak bisa bicara tentang apa pun. Bara yang dulu menulis puisi di buku catatan kini hanya menulis angka di laporan dinas. Bara yang dulu menggenggam batu berukir akar dengan penuh harapan kini membiarkannya jatuh ke dasar saku, tidak disentuh, tidak diingat.

Cahaya tidak selalu padam dengan sekali tiupan. Kadang, ia padam perlahan setiap hari sedikit demi sedikit sampai suatu pagi kau sadar bahwa yang tersisa hanya abu dan kenangan yang tidak bisa kau raba. Dan diamnya Bara adalah bukti bahwa cahaya itu sudah mati, meskipun tubuhnya masih berjalan.

Pandemi menghantam dunia seperti gelombang yang tidak terduga. Lockdown. Bara WFH, Novi di rumah. Tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Kontrakan mereka semakin sempit. Dinding-dindingnya terasa semakin mendekat setiap hari, seperti sedang meremas napas mereka perlahan-lahan. Utang menumpuk. Pinjaman online. Arisan yang macet. Tagihan listrik yang membengkak.

Suatu pagi, Novi menerima pesan dari nomor tidak dikenal di ponselnya. "Hubungi suami Anda. Utangnya sudah jatuh tempo. Kami tidak segan-segan mendatangi rumah Anda."

Novi menunjukkan pesan itu pada Bara. Bara membacanya, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, ia marah.

"Kenapa mereka mengirim pesan padamu? Kenapa tidak padaku?"

Novi menatapnya dengan mata yang lelah. "Karena mereka tahu kau tidak akan membayar, Ra. Mereka tahu kau tidak punya uang."

Bara membeku. Kata-kata itu menusuk dadanya seperti pisau. Ia ingin berteriak, ingin membanting sesuatu, tetapi ia tidak bisa. Ia hanya diam, dan di dalam diam itu, ada kebencian yang menggerogoti.

Malam itu, pertengkaran hebat terjadi di dapur. Bara membanting gelas. Novi berteriak. Nara yang sekarang berusia lima tahun terbangun dan mendengar semuanya.

Ia tidak menangis. Ia tidak memanggil orang tuanya. Ia hanya berbaring di ranjang, menutup telinganya dengan bantal, dan menunggu suara-suara itu berhenti.

Keesokan paginya, Nara bangun lebih pagi dari biasanya. Ia melihat sepatunya yang jebol solnya sudah terlepas di bagian depan. Biasanya, ia akan meminta dibelikan sepatu baru. Tapi kali ini, ia diam-diam mengambil selotip bening dari laci dan merekatkan sepatunya sendiri.

Di teras, di bawah sinar matahari pagi yang dingin, Nara duduk di lantai dengan sepatu jebol di pangkuannya. Ia mengambil selotip bening dari laci perlahan, agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membangunkan orang tuanya. Jari-jarinya gemetar. Ia merekatkan sol sepatu yang terlepas dengan sabar, menekan selotip dengan ibu jarinya, merasakan dinginnya selotip yang menempel di kulit. Di ujung jarinya, ada getaran kecil getaran dari tubuhnya yang berusaha tidak menangis. Ia menggigit bibirnya, dan di dalam mulutnya, ia merasakan rasa logam yang familiar. Tidak ada air mata. Hanya selotip yang menempel, dan di dalam dadanya, ada sesuatu yang mengeras, seperti batu yang mulai terbentuk.

Bara melihat dari jendela dapur. Ia tidak bangga. Ia hancur.

Sore harinya, Dika yang sekarang berusia tiga tahun bermain di gang sempit di depan kontrakan. Ia terjatuh dan lututnya berdarah. Biasanya, ia akan menangis dan dipeluk Novi. Tapi kali ini, Dika hanya duduk di tanah, menatap darahnya, lalu berdiri sendiri dan berjalan pulang tanpa suara.

Novi melihat dari jendela. Ia tidak bergerak. Ia hanya menatap anaknya yang masuk ke rumah dengan lutut berdarah dan tidak menangis.

"Kak, sakit?" tanya Nara.

"Nggak," jawab Dika.

Dan itu adalah kebohongan pertama yang ia pelajari.

Malam itu, Bara dan Novi duduk di meja makan. Mereka tidak saling memandang. Mereka hanya menatap Nara dan Dika yang sudah tidur di kamar sebelah.

"Kita sudah membunuh mereka," bisik Novi.

"Aku tahu," jawab Bara.

Di dalam keheningan itu, mereka mendengar suara dari kamar sebelah suara Nara yang berbisik pada Dika: "Kita harus diam, Dik. Kalau kita diam, Papa dan Mama tidak akan bertengkar lagi."

Dika tidak menjawab. Ia hanya memeluk kakaknya erat-erat, dan di dalam kegelapan kamar, mereka berdua belajar bahwa diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Bara menunduk. Di dalam dadanya, ada rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan rasa sakit karena menyadari bahwa selama ini ia berpikir ia "melindungi" anak-anaknya dengan bertahan. Tapi sebenarnya, ia hanya mengajarkan mereka bahwa cinta adalah penjara yang kamu sukai karena kamu takut pada dunia di luarnya.

Harapan tidak selalu mati dengan sekaligus. Kadang, ia mati dalam diam setiap hari sedikit demi sedikit sampai suatu pagi kau sadar bahwa yang tersisa hanya keheningan yang tidak bisa kau isi. Dan keheningan itu, bagi Nara dan Dika, adalah satu-satunya bahasa yang mereka mengerti.

Keesokan paginya, Bara dan Novi tidak berbicara. Mereka hanya duduk di ruang tamu, menatap dinding yang retak. Di atas meja, ada kertas-kertas perceraian sudah setengah diisi, sudah siap ditandatangani.

Tapi saat mereka menatap foto Nara dan Dika di kulkas foto-foto yang masih tersisa dari masa-masa bahagia, saat mereka masih tersenyum, saat mereka masih percaya pada mimpi mereka berhenti.

"Kita tidak bisa menghancurkan mereka karena ego kita," kata Novi, suaranya serak.

"Aku tidak tahu cara mencintai kamu lagi, Vi," kata Bara. "Tapi aku tahu cara menjadi ayah untuk mereka."

Mereka duduk dalam keheningan yang panjang. Di luar jendela, hujan mulai turun. Rintik hujan di atap seng terdengar seperti detak jam yang perlahan-lahan menghitung waktu.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Novi.

Bara menggenggam batu di sakunya. Batu itu dingin, tetapi di dalam dadanya, ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. "Kita bertahan," katanya. "Untuk mereka."

Mereka sepakat untuk tidak bercerai. Tapi bukan karena cinta. Karena pengorbanan.

Mereka membangun "dinding tak terlihat" di dalam rumah. Bara fokus bekerja dan menulis. Novi fokus merajut dan mengurus anak-anak. Mereka tidak bertengkar, tetapi mereka juga tidak berbicara. Mereka berbagi rumah, tetapi tidak berbagi hidup.

Di kejauhan, dari bengkel tetangga, terdengar suara palu memukul besi. TAK! Suara itu pelan, tetapi bergema di gang sempit. Bara mendengarnya. Novi mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya dalam setahun, mereka saling memandang bukan dengan cinta, tetapi dengan pengakuan bahwa mereka masih di sini, masih berdiri, meskipun retak.

Suatu malam, Bara mengambil buku catatan yang ia beli bertahun-tahun lalu buku yang masih kosong, yang selalu ia simpan di bawah kasur. Buku itu sudah lama ia simpan bersama batu berukir akar yang tidak pernah ia buang. Ia membuka halaman pertama dan mencium bau kertas tua yang sudah menguning. Dari sakunya, ia mengeluarkan sebotol kecil tinta arang yang ia racik sendiri bertahun-tahun lalu tinta yang masih berbau asap dan getah pohon. Ia mencelupkan pulpen ke dalam tinta itu, dan di ujung jarinya, ia merasakan getaran kecil seperti ada sesuatu yang bangkit dari tidur panjang. Ia menulis, dan di dalam goresan tinta yang masih basah, ia merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sejak lama.

"Komitmen dalam pernikahan... menjaga kesetiaan bukan hanya pada pasangan, tapi pada kebenaran diri sendiri. Ketika dunia materi runtuh, yang tersisa hanyalah apa yang kita catat dan kita yakini."

Ia menulis lagi, halaman demi halaman, tentang ketakutannya, tentang kegagalannya, tentang anak-anaknya. Ia menulis tentang Gunung Tangkuban Perahu, tentang kabut yang menutupi puncak, dan tentang keinginannya untuk berdiri di atas puncak itu meskipun hanya sekali.

Dan di tengah tulisan itu, ia menyadari sesuatu yang lebih dalam: mungkin "pengorbanan" yang mereka lakukan bukan ilusi. Mungkin ini memang satu-satunya bentuk cinta yang tersisa ketika cinta romantis sudah mati. Bukan cinta yang membara, tapi cinta yang berdarah bersama.

"Mungkin ini bukan ilusi terakhir. Mungkin ini kebenaran pertama. Bahwa cinta bukan selalu tentang memegang tangan di bawah matahari. Kadang, cinta adalah tentang duduk di ruangan yang sama, tidak saling memandang, tetapi memilih untuk tidak pergi. Bukan karena bahagia. Tapi karena di luar sana, tidak ada yang menunggu. Dan di dalam sini, setidaknya ada dua nyawa kecil yang masih percaya bahwa dunia ini aman."

Di kamar sebelah, Noir yang mulai sukses di dunia kripto mendengar suara Bara menulis. Ia mendengar suara Novi merajut. Ia tersenyum pahit.

"Kakak mencatat di kertas," bisik Noir. "Aku akan mencatat di cahaya."

Malam itu, hujan berhenti. Bara menutup buku catatannya. Tinta arang di halaman terakhir masih basah, mengkilap di bawah lampu neon yang mulai stabil.

Ia tidak tahu siapa yang akan membaca tulisannya kelak. Tapi untuk malam ini, ia hanya perlu menulis. Sampai tangannya berhenti gemetar.

Di kamar sebelah, Nara dan Dika tertidur berpelukan. Mereka tidak tahu bahwa orang tua mereka telah memutuskan untuk tetap bersama bukan karena cinta, tetapi karena mereka.

Dan di dalam tidur mereka, untuk pertama kalinya dalam setahun, Nara dan Dika bermimpi tentang kebun. Di dalam mimpi itu, ada lentera-lentera yang menyala di antara pepohonan lentera yang terbuat dari kaleng bekas dan daun talas kering. Di bawah lentera itu, ada akar-akar yang saling membelit, mencari tanah, dan menolak untuk mati. Nara mendengar suara dari kejauhan suara yang lembut, seperti bisikan: "Tanamlah di sini." Ia tidak tahu siapa yang berbicara. Tapi ia bangun dengan rasa di tangannya rasa seperti memegang tanah yang hangat.

Di kejauhan, dari bengkel tetangga, terdengar suara palu memukul besi. TAK! TAK! TAK!

Bara mendengarnya. Novi mendengarnya. Nara dan Dika mendengarnya dalam tidur mereka. Dan di suatu tempat di sisi lain kota, seorang anak kecil yang belum lahir yang bernama Rumi akan mendengar suara yang sama dalam mimpi.

Suara itu bergema, menandai bahwa meskipun retak dan rapuh, fondasi ini telah dicatat untuk generasi berikutnya.

Di dalam rumah yang kecil dan sunyi, Bara duduk di meja makan, memegang buku catatannya. Lampu neon berkedip pelan, membuat bayangannya di dinding terlihat seperti seorang pria yang sedang belajar untuk berdiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak merasa sendirian.

Akar tidak selalu tumbuh ke bawah mencari air. Kadang, ia tumbuh ke atas, mencari cahaya, dan menolak untuk mati. Dan di dalam buku catatan yang ditulis dengan tinta arang, di dalam kain perca yang dirajut dengan kesabaran, di dalam diam yang menjadi bahasa paling jujur mereka Bara dan Novi mencatat satu kebenaran: Cinta tidak selalu tentang bertahan bersama. Kadang, cinta adalah tentang memilih untuk tetap berdiri, meskipun di atas rakit yang mulai bocor, demi dua nyawa kecil yang masih percaya pada mimpi.


TAK!

(Suara palu di kejauhan menandai akhir Volume II, mencatat bahwa meskipun retak dan hancur, fondasi ini masih berdiri dan di dalam retakan itu, cahaya mulai masuk.).

─────────────────

CATATAN AKHIR DARI PENGARSIP

─────────────────

Jika Anda, pembaca, merasakan ada yang aneh dengan batu di saku Bara, atau mendengar suara ANYAM! yang semakin keras dari dapur, atau melihat Nara merekatkan sepatunya dengan selotip ketahuilah bahwa semuanya terhubung.

Di Akar Tumbuh, Nara dan Dika akan menemukan kebun itu dan bertanya tentang asal-usul trauma mereka. Di Airdrops Bingo, Noir akan mencatat di cahaya di blok-blok digital yang tidak bisa dihapus. Dan di Generasi Nozzel, Kirana akan menemukan buku catatan ini dan mencium bau arang yang sama bau yang akan mengirimnya ke suatu tempat di mana kabut Tangkuban Perahu masih belum mau pergi.

Semesta ini bernapas. Dan setiap benang memiliki tempatnya.

Volume III menanti. Pandemi berlalu, tetapi luka tetap ada. Dan di kebun yang sunyi, Nara mulai menanam bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan yang sudah lama mati.

─────────────────

Tourtaleslights

Di Antara Puing, Ego, dan Janji

Volume II Selesai & Disegel, 2026

 ═════════════════

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi