Disukai
2
Dilihat
14,595
17 Tahun Budak Cinta
Romantis

═════════════════

17 TAHUN BUDAK CINTA

Di Bawah Kabut Tangkuban Perahu

─────────────────


Kabut di kaki Gunung Tangkuban Perahu tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang pemuda bernama Bara Cakrawala. Usianya baru sembilan belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tak terlihat. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau ujian sekolah. Itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran dini bahwa ia dilahirkan di sisi jalan yang salah, di sebuah gubuk di pinggiran kota yang atapnya bocor setiap kali hujan, dan ibunya harus bekerja tiga shift sebagai pencuci pakaian tetangga hanya untuk membeli beras.

Bara berdiri di tepi jalan setapak yang berlumpur, sepatu kets bututnya satu-satunya sepatu yang ia miliki sejak SMA nyaris tenggelam dalam genangan air hujan semalam. Di hadapannya, sepuluh meter lebih jauh, berdiri Novi Lestari. Novi tidak menggigil. Meski angin pagi menusuk tulang, ia berdiri tegak, rambut panjangnya tergerai lembut, menangkap sisa-sisa cahaya matahari yang berusaha menembus kabut. Ia tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan teman-temannya, dan bagi Bara, suara tawa itu adalah lonceng yang menggema di lembah sunyi. Jauh, indah, dan nyaris mustahil untuk dimiliki.

Ia menatap jaket tebal Novi merk yang ia kenali dari majalah di toko buku dan membandingkannya dengan jaket tipisnya yang sudah kusam, pemberian pamannya yang sudah meninggal. Di dalam kepalanya, sebuah suara kecil yang sinis berbisik: Kau tidak pantas. Kau hanya anak pencuci baju. Lihatlah dia. Ia adalah bunga yang tumbuh di rumah kaca, sementara kau adalah gulma di pinggir jalan.

Bara menunduk, menatap tanah di depan kakinya. Ia ingin berbalik dan pulang. Kembali ke kamarnya yang remang, di mana satu-satunya hal yang menemaninya adalah cermin kecil yang memantulkan wajah lelah dengan mata penuh kecemasan. Mengapa aku mencintai gadis yang begitu jauh dari jangkauanku? batinnya. Ini hanya ilusi. Mimpi seorang pemuda miskin yang ingin meraih bintang.

Namun, saat ia berbalik untuk pergi, kakinya tersandung sesuatu yang keras di antara akar-akar pohon beringin tua. Bara berjongkok. Ia menyapu lumpur dengan ibu jarinya. Itu adalah sebuah batu pipih, seukuran telapak tangan, dengan ukiran yang samar namun sengaja dibuat: pola akar yang saling membelit, menjalar ke atas seolah ingin meraih sesuatu yang lebih tinggi. Permukaannya dingin dingin yang berbeda dari dinginnya kabut gunung. Dinginnya batu yang sudah lama terkubur, yang tidak pernah melihat matahari. Tetapi di tengah dingin itu, satu titik di telapak tangannya mendadak hangat, seperti ada sesuatu di dalam batu itu yang mengingat bahwa ia pernah disentuh oleh tangan lain. Ia menyelipkannya ke dalam saku jaketnya. Sebuah jimat. Sebuah janji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, ia akan memiliki akar yang cukup kuat untuk menjangkau puncak itu.

Batu itu tetap diam di sakunya selama berhari-hari setelahnya, dingin menempel di kain, tetapi dingin yang berbeda dari dinginnya kabut gunung. Dinginnya ruang kelas, dinginnya uang receh di dompetnya yang hampir kosong, dinginnya tatapan teman sekelas yang tahu persis siapa dirinya. Batu itu menjadi satu-satunya hal di sakunya yang terasa nyata, sementara yang lain kuitansi utang, kertas ujian, catatan harian yang belum ia mulai terasa seperti benda-benda yang akan lenyap jika ia mengucek mata terlalu keras.


Dari pertemuan di kaki gunung itu, waktu merambat seperti kabut yang perlahan bergulung turun ke lembah. Bara dan Novi bertemu lagi di kantin sekolah, di perpustakaan, di koridor yang sepi. Setiap pertemuan adalah benang tipis yang mengikat hati Bara lebih erat, namun setiap benang itu juga mengingatkannya pada jurang yang menganga di antara mereka. Jurang itu tidak terlihat, tetapi ia merasakannya setiap kali Novi membeli nasi goreng untuknya, setiap kali Novi tersenyum dengan mata yang kosong, setiap kali ia meraba batu di sakunya dan bertanya-tanya apakah benda itu adalah jimat atau hanya batu biasa.

Kantin sekolah adalah tempat di mana jurang sosial paling terasa. Bara duduk di sudut, mengaduk es teh tawar yang es batunya sudah mencair menjadi air keruh. Di meja sebelah, Novi duduk dikelilingi teman-temannya, membahas rencana liburan ke Bandung. Bara hanya bisa mendengarkan, jari-jarinya secara refleks meraba batu berukir akar di dalam saku celananya. Ia sering bertanya-tanya mengapa Novi, yang bisa memilih siapa pun di sekolah ini, pernah menatapnya lebih dari satu detik saat upacara bendera. Mungkin itu hanya rasa kasihan. Mungkin Novi melihatnya sebagai proyek amal anak miskin yang rajin yang perlu disemangati agar tidak putus sekolah. Tapi Bara, sebagai seorang pemimpi sejak lahir, selalu percaya pada takdir. Ia meyakini bahwa tatapan itu adalah benih yang akan tumbuh menjadi hutan.

Suatu siang, saat kantin mulai sepi dan pedagang mulai melipat kursi plastik mereka, Novi menghampirinya. Ia membawa dua bungkus nasi goreng. "Aku lihat kamu selalu makan sendiri, Ra," katanya, duduk di hadapannya tanpa basa-basi. "Ini buat kamu. Ibu aku yang masak, kebetulan kebanyakan."

Bara tertegun. Nasi goreng itu masih hangat, dan baunya bawang putih, kecap, dan sedikit cabai menguar ke seluruh indranya. Ini bukan sekadar makanan. Ini adalah jamuan dari dunia yang tidak pernah ia jamah. "Terima kasih, Vi. Tapi... apa impianmu, sebenarnya?" Kata-kata itu meluncur sebelum ia bisa menahannya. Ia ingin tahu apakah gadis di depannya ini juga memiliki kegelapan di balik senyum cerianya.

Novi menatapnya dalam-dalam. Ada kekosongan di matanya langit malam tanpa bintang yang bertolak belakang dengan senyum cerianya di depan orang lain. "Impian? Aku ingin bebas. Tapi bebas dari apa, aku sendiri belum tahu. Kalau kamu, Ra?"

Bara menelan ludah. Ia ingin berkata: Aku ingin menjadi Presiden Dunia lewat dagang. Aku ingin punya kerajaan yang mengubah nasib ribuan orang. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Aku hanya ingin membuat ibuku bahagia." Itu bukan bohong. Itu hanya setengah kebenaran. Ibunya, Sri Lestari, adalah perempuan yang wajahnya sudah keriput di usia empat puluh, dengan tangan yang kasar karena sabun cuci dan air sadah. Bara melihat ibunya setiap malam pulang dengan punggung bungkuk, dan itu membunuhnya perlahan-lahan. Tapi di sisi lain, ia juga ingin menjadi besar. Begitu besar sehingga dunia tidak bisa mengabaikannya lagi.

Novi tersenyum lembut. "Itu impian yang indah." Tapi Bara tahu, Novi melihat lebih dari itu. Ia melihat ketakutan yang Bara sembunyikan di balik topeng kesopanan. Ia melihat seorang pemuda yang tidak percaya diri dengan masa depannya, yang bersembunyi di balik kata-kata mulia.


Ujian sesungguhnya datang tiga bulan kemudian. Bara diundang ke rumah Novi untuk pertama kalinya. Rumah itu bukan sekadar bangunan. Itu adalah pernyataan. Dindingnya dipenuhi kaligrafi Arab yang dilukis dengan tinta emas, memantulkan cahaya lampu kristal di langit-langit yang tinggi. Udara di dalamnya beraroma dupa gaharu yang menenangkan, namun bagi Bara, aroma itu adalah tembok tak terlihat yang memisahkannya dari dunia Novi. Sepatu bututnya terasa begitu asing di atas lantai marmer yang dingin dan berkilau. Setiap langkahnya mengeluarkan suara gesekan yang memalukan, seperti peringatan bahwa ia adalah tamu tak diundang di istana.

Di ruang tamu yang luas, Haji Murta Wijaya duduk di kursi rotan tua. Pria itu tidak tua, tetapi matanya memiliki kedalaman waktu gemuruh petir di kejauhan. Di belakang Murta, tergantung sebuah lukisan besar pemandangan gunung yang diselimuti kabut, seperti Tangkuban Perahu, yang tampaknya sengaja dipajang untuk mengingatkan semua orang akan kebesaran alam yang tak tersentuh.

"Silakan duduk, Bara," suara Murta Wijaya berat dan tenang. "Novi sering bercerita tentang kamu. Katanya kamu anak yang rajin dan sopan."

Bara duduk di tepi sofa, punggungnya tegang. Ia meletakkan tangannya di pangkuan dan memperhatikan bagaimana jari-jarinya saling mengunci terlalu erat, seperti sedang menahan sesuatu. Kemudian ia menyadari bahwa ia sedang menghitung jumlah ubin di lantai satu, dua, tiga, empat dan tidak bisa berhenti. Angka itu tidak berarti apa-apa, tetapi ia terus menghitung sampai Haji Murta bertanya tentang mimpinya. "Terima kasih, Pak Haji. Rumah ini... indah sekali. Saya belum pernah melihat yang seperti ini."

Murta Wijaya tersenyum tipis, matanya meneliti Bara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan ketelitian seorang penguji yang sedang menimbang nilai jual barang dagangan di pasar yang kejam. "Alhamdulillah, semuanya dari rezeki yang Allah berikan. Tapi, Bara, apa kamu tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya titipan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tajam dan menguji. Bara merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia tahu ini adalah ujian. Ujian apakah ia akan terpesona oleh kemewahan, atau tetap berpijak pada kesederhanaan. "Ya, Pak Haji," jawab Bara, suaranya berusaha stabil meski tenggorokannya terasa kering. "Saya mengerti."

"Bagus." Murta Wijaya mengangguk pelan. "Karena titipan bisa diambil kembali kapan saja. Yang tersisa hanyalah apa yang kita tanam di dalam diri. Dan di dalam diri, Bara, apa yang kau tanam?"

Bara membisu. Di benaknya, ia melihat ladang kosong. Ia belum menanam apa pun selain mimpi yang terlalu besar untuk ukuran tanah miliknya. Ia membayangkan ibunya yang mencuci baju, tangannya yang merah. Ia membayangkan dirinya di kantin, makan nasi goreng pemberian Novi. Apa yang ia tanam? Rasa malu? Tekad yang dingin dan keras, seperti batu yang sudah lama menunggunya di bawah lumpur? "Saya... saya masih belajar menanam, Pak Haji," jawab Bara akhirnya, dengan jujur. "Tapi saya berjanji, saya akan menanam sesuatu yang berguna."

Murta Wijaya menatapnya lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengangguk dan mengalihkan pandangan ke kaligrafi di dinding, seolah memutuskan bahwa percakapan ini sudah selesai. Sementara itu, di kamar Novi yang hangat, gadis itu duduk di lantai, dikelilingi oleh sisa-sisa kain perca dan benang wol dari proyek jahitnya di SMK. Dengan gerakan tangan yang ritmis dan sabar, ia mulai merajut. ANYAM! Suara gedeg kecil terdengar saat ia menekan benang dengan kuat. Ia tidak merajut untuk dijual. Ia merajut untuk menenangkan pikirannya, mengubah sisa-sisa yang tidak berguna menjadi sesuatu yang hangat dan berguna. Sebuah kebiasaan kecil yang kelak akan menjadi tanda ketahanannya di masa depan.

Novi berpikir tentang Bara. Ia melihat ketulusan di balik kegugupan pemuda itu. Tapi ia juga melihat jurang yang tidak bisa ia abaikan. Ayahnya tidak akan pernah benar-benar menerima Bara. Tidak dengan kondisi ekonominya yang seperti itu. Tapi Novi, yang sejak kecil diajarkan untuk mengubah abu menjadi emas untuk mencari nilai di mana orang lain hanya melihat sampah berpikir bahwa mungkin, dengan kerja keras, jurang itu bisa dijembatani. Mungkin.


Malam itu, Bara pulang dengan langkah gontai. Kaligrafi emas di dinding rumah Novi seolah mengejeknya, mengingatkan pada jurang yang tak terlihat antara dunianya yang penuh utang dan dunia Novi yang serba cukup. Di kamar kosnya, ia mengeluarkan batu berukir akar dari sakunya. Di bawah lampu meja yang redup, ia menatap ukiran itu. Akar itu menjalar, saling membelit, mencari tanah. Aku tidak cukup, bisik suara kecil di kepalanya. Aku tidak akan pernah cukup. Tapi ia menggenggam batu itu erat-erat. Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, ia tidak membuangnya.

Di atas kasur tipis yang sama, berbulan-bulan kemudian, Bara terbangun di tengah malam dan merasakan batu itu di bawah bantalnya. Ia tidak ingat kapan ia mulai meletakkannya di sana. Mungkin setelah suatu malam ia bermimpi tentang akar-akar yang menjalar ke langit. Ia memegangnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di kamar yang sunyi itu.


Tahun-tahun berganti seperti daun-daun yang jatuh dari pohon beringin tua di halaman sekolah. Bara menyadari waktu tidak pernah menunggu. Ketika dia menginjak usia 23 tahun, dunianya berubah dari ruang kelas yang berdebu menjadi ruang arsip yang lebih berdebu. Tahun 2011 membawanya ke dalam dunia yang ia benci namun ia butuhkan: birokrasi. Ia diterima sebagai tenaga honorer di sebuah instansi pemerintah di tingkat kabupaten. Gajinya tidak masuk akal hanya cukup untuk makan dua kali sehari dan ongkos angkutan tugasnya tidak jelas, dan egonya sebagai seorang pemimpi besar terhempas ke dinding kenyataan yang keras.

Kantor itu adalah tempat yang penuh dengan debu. Laci-laci berisi arsip yang tidak pernah dibuka, aturan-aturan yang tidak pernah diterapkan, dan senyuman-senyuman palsu yang bertukar setiap pagi. Bara ditugaskan di bagian administrasi, di mana ia harus mengetik ulang surat-surat yang sudah diketik seratus kali, dengan format yang sama, untuk atasan yang sama. Setiap pagi, Bara memakai "topeng"nya. Ia tersenyum pada atasan yang tidak kompeten seorang pria bernama Pak Budi yang naik jabatan karena hubungan keluarga, bukan karena kemampuan mengangguk pada prosedur yang tidak masuk akal, dan menahan diri untuk tidak berteriak bahwa idenya tentang inovasi pelayanan publik jauh lebih baik daripada sistem kuno yang mereka jalankan.

Di dalam kepalanya, Bara terus merancang kerajaan dagangnya. Ia membayangkan toko pertama, lalu cabang kedua, lalu rantai distribusi yang menjangkau seluruh pulau. Tapi setiap kali ia pulang ke kontrakan kecilnya, ia hanya menemukan bon utang dan tagihan yang menumpuk. Di meja makan, di samping piring kotor, selalu ada selembar kertas putih yang ia gunakan untuk mencoret-coret angka. Angka-angka itu tidak pernah bertambah. Mereka seperti deret tak berujung yang selalu berakhir di angka nol.

Seorang rekan kerja, Anton, mendekatinya di jam istirahat. Anton adalah tipe pria yang selalu tahu "cara cepat" untuk menghasilkan uang. "Bara, lo mau ikut bisnis saya? Jualan sembako keliling. Modal kecil, untung besar. Gue butuh orang yang bisa ngatur administrasi," katanya sambil mengisap rokok di belakang gedung.

Bara ragu. Tapi ia mendengar suara Haji Murta di kepalanya: Titipan. Dan ia membayangkan wajah Novi yang lelah karena ia belum bisa memberinya apa-apa. Ia mengangguk. "Aku ikut, Ton." Itu adalah pintu pertama menuju jurang. Bisnis sembako Anton ternyata adalah skema piramida kecil-kecilan yang berkedok koperasi. Bara, yang buta akan dunia dagang nyata, terjebak. Ia meminjam uang dari tetangga, dari rekan kantor, bahkan dari rentenir yang beroperasi di pasar malam. Ia berbohong pada Novi bahwa uang itu adalah "tabungan dari kerja sampingan yang sah."


Pada suatu malam di tahun 2013, Bara dan Novi berjalan di taman kota. Lampu jalan berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di aspal basah. Genangan air memantulkan cahaya lampu neon dari pertokoan, menciptakan langit malam yang terbalik di bawah kaki mereka. "Kamu sering pulang terlambat akhir-akhir ini, Bara," kata Novi, suaranya lembut namun ada nada kekhawatiran yang tajam di dalamnya. "Apa pekerjaanmu semakin banyak? Atau... ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan?"

Bara menatap jauh ke depan, menghindari tatapan Novi yang seolah bisa menembus tembok pertahanannya. Ia ingin berteriak: Aku sedang mencoba membangun masa depan kita! Aku sedang berjuang agar ayahmu tidak menganggapku sampah! Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Ya, banyak yang harus dikerjakan. Kita butuh tambahan uang, kan?" jawabnya datar. Ia menyalahkan pekerjaan, mengalihkan perhatian dari bisnis sampingannya yang mulai goyah.

Novi menghela napas. Ia tidak mendesak. Sebagai seorang praktisi kehidupan yang pragmatis, Novi tahu bahwa menekan bara yang sedang membara hanya akan membuatnya meledak. Ia memilih untuk diam, namun diamnya bukan berarti buta. Ia melihat keringat di dahi Bara meskipun udara dingin. Ia melihat cara Bara menggigit bibirnya saat ia berbohong.

Beberapa minggu kemudian, retakan pertama muncul. Novi menerima pesan anonim di ponselnya, dari nomor yang tidak dikenal. "Suamimu berutang pada banyak orang. Dia tidak jujur padamu. Ada yang disembunyikan."

Novi menunjukkan pesan itu pada Bara di dapur kecil mereka, di bawah lampu neon yang berkerlip. "Ada apa dengan pesan-pesan ini, Bara?" Suaranya gemetar, bukan karena marah, tapi karena takut akan jawaban yang mungkin ia dengar. Bara terdiam. Ekspresinya berubah, topengnya retak sejenak, memperlihatkan kepanikan di bawahnya. Tangannya gemetar saat ia mengambil ponsel itu. "Itu... itu hanya seseorang yang mencoba memecah belah kita, Vi. Jangan percaya mereka. Itu fitnah dari rekan bisnis yang iri." Novi menatapnya. Ada sesuatu dalam nada suara Bara, sesuatu dalam cara matanya berkedut, yang membuatnya meragukan kata-kata itu. Seperti ada rahasia besar yang bersembunyi di balik senyum tipis suaminya. Tapi Novi memilih untuk percaya. Untuk saat itu. Karena cinta, kadang-kadang, adalah pilihan untuk mempercayai kebohongan yang dibungkus dengan niat baik.

Malam itu, setelah Novi tidur, Bara duduk di dapur sendirian. Bau minyak tanah menempel di bajunya. Di dapur yang hanya diterangi lampu neon yang berkedip, Bara menatap kompor tua. Api kompor sudah padam, tapi baunya tidak mau pergi. Ia mengutuk dirinya sendiri. Bodoh. Ia bodoh. Ia telah menggadaikan ketenangan rumah tangganya untuk mimpi yang ternyata hanya ilusi. Ia mengeluarkan batu berukir akar dari sakunya. Di bawah lampu neon yang berkedip, ukiran akar itu tampak seperti urat nadi yang berdenyut. Bara berbisik, "Aku harus keluar dari ini. Aku harus menemukan jalan keluar yang sesungguhnya. Bukan jalan pintas." Tapi jalan keluar yang sesungguhnya membutuhkan waktu, dan waktu adalah barang mewah yang tidak ia miliki.

Batu itu terasa lebih berat di tangannya malam itu. Ia meletakkannya di atas meja, di antara bon utang dan tagihan listrik. Untuk pertama kalinya, ia merasa batu itu bukan jimat, tetapi beban. Di antara beban dan saksi, ada satu malam di mana ia hampir membuangnya ke sungai. Tapi ia tidak melakukannya. Ia hanya memegangnya lebih erat, dan batu itu terasa lebih ringan dari sebelumnya. Namun malam itu, ia menatapnya lama, sampai matanya perih, dan ia bertanya pada dirinya sendiri apakah semua perjuangannya selama ini mimpi, utang, kebohongan hanya untuk membuktikan bahwa ia layak memegang batu yang tidak pernah memintanya untuk dipegang.


Tahun 2014 adalah tahun di mana Bara merasa terpojok. Bisnis sampingannya yang ternyata adalah skema bodong gagal total. Anton kabur dengan sisa uang, dan Bara ditinggalkan dengan tumpukan utang yang membayangi. Ia merasa gagal sebagai pria, gagal sebagai calon kepala keluarga, dan yang paling menyakitkan, gagal di hadapan Haji Murta Wijaya. Ibunya, Sri, jatuh sakit. Bukan sakit yang parah, tetapi demam yang terus-menerus, yang oleh dokter di puskesmas disebut sebagai "kelelahan kronis". Bara tahu itu adalah efek dari bertahun-tahun mencuci baju orang lain di air dingin. Ia mengunjungi ibunya di gubuk kecil di pinggiran kota. Sri terbaring di kasur tipis, matanya sayu.

"Nak," bisik ibunya, "kapan kau menikahi gadis itu? Aku ingin melihat cucuku sebelum aku benar-benar pergi." Bara menggenggam tangan ibunya yang keriput. Tangannya terasa seperti kulit yang menempel pada tulang. "Ibu, aku akan segera melamarnya. Aku hanya perlu waktu." "Jangan terlalu lama, Nak. Waktu tidak menunggu siapa pun." Kalimat itu menghantam Bara. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri atau untuk Novi; ia berjuang untuk ibunya, untuk membuat wanita yang telah mengorbankan segalanya itu tersenyum sebelum ajal menjemputnya.

Dari gubuk ibunya, Bara pulang dengan langkah yang berbeda. Ada ketergesaan di kakinya yang tidak ada sebelumnya. Ia membayangkan ibunya yang terbaring di kasur, dan ia membayangkan Novi yang menunggunya di kontrakan. Dua wanita yang ia cintai, dua dunia yang ia gagal jembatani. Ia menggenggam batu di sakunya batu itu sudah menjadi kebiasaan, seperti kunci rumah yang selalu ia cari sebelum tidur dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melamar Novi. Bukan untuk membuktikan sesuatu pada dunia, tetapi untuk memberikan ibunya kebahagiaan sebelum semuanya terlambat.

Keesokan harinya, Bara pergi ke rumah Novi. Bukan untuk meminjam uang, tetapi untuk meminta izin. Ia ingin melamar Novi. Bukan dengan cara biasa. Ia ingin membuat pernyataan yang akan diingat semua orang. Ia berbicara dengan Haji Murta di ruang tamu yang sama. Kali ini, Bara tidak duduk di tepi sofa. Ia duduk tegak, menatap mata mertua yang potensial itu. "Pak Haji, saya datang untuk meminta izin," kata Bara, suaranya berusaha tegas. "Saya ingin menikahi Novi. Saya tahu saya tidak punya apa-apa sekarang. Tapi saya punya tekad, dan saya punya visi. Saya akan membangun kerajaan dagang yang akan membuat Novi bangga."

Haji Murta menatapnya dengan mata yang tidak bisa dibaca. "Kerajaan dagang? Dengan apa, Bara? Dengan utang?" Bara terdiam. Kata-kata itu tepat sasaran. Tapi ia tidak mundur. "Dengan kerja keras, Pak Haji. Dan dengan restu Anda." Murta Wijaya menghela napas panjang. "Bara, saya tidak menentang kemiskinan. Saya menentang kebodohan. Apakah kau yakin kau bisa memberi kebahagiaan pada putriku, atau kau hanya akan memberinya beban?" Itu adalah pertanyaan yang jujur. Dan Bara, untuk pertama kalinya, menjawab dengan jujur, meskipun suaranya bergetar. "Saya tidak yakin, Pak. Tapi saya berjanji akan mencoba. Saya akan berjuang. Dan jika gagal, saya akan menerimanya. Tapi saya tidak akan berhenti mencoba."

Ada keheningan yang lama. Kemudian Haji Murta mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi ingat, Bara: kau menikahi Novi bukan untuk membuktikan sesuatu pada dunia. Kau menikahinya untuk menjaganya. Itu titipan yang paling berat."

Malam itu, Bara membawa Novi ke taman yang sama di mana mereka dulu mengobrol tentang impian. Di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjalar di permukaan tanah, hujan gerimis mulai turun, menciptakan kabut tipis yang mengingatkan Bara pada Tangkuban Perahu.

Bara berlutut di atas tanah yang basah. Ia mengeluarkan sebuah cincin sederhana cincin perak yang ia beli dengan uang terakhirnya, yang tidak ia katakan pada Novi bahwa itu adalah hasil menjual jam tangan ayahnya yang sudah meninggal. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena beban harapan yang ia pikul sendiri. "Novi," suara Bara serak, berjuang melawan suara rintik hujan. "Aku tahu aku bukan pria yang sempurna. Aku tahu aku belum punya apa-apa yang bisa menyaingi harapan ayahmu. Tapi... aku punya visi. Bukan visi yang menyala lebih seperti kabut yang perlahan-lahan menebal sampai akhirnya kau tahu di mana tepiannya. Aku punya mimpi." Ia menatap mata Novi, mencari secercah penerimaan. "Maukah engkau... maukah engkau menjadi istri dari anak-anakku kelak?"

Kalimat itu menggantung di udara. Itu bukan lamaran biasa. Itu adalah janji lintas generasi, sebuah visi yang melompat jauh ke masa depan, mengabaikan realitas masa kini yang berantakan. Bara berharap kalimat puitis ini akan menyihir Novi, membuatnya melihat potensi besar di balik kegagalannya saat ini. Novi menatap Bara yang berlutut di tanah basah. Ia tidak melihat pahlawan romantis. Ia melihat pria yang kelelahan, dengan sepatu yang mulai jebol dan mata yang penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan menjadi harapan. Tapi ia juga melihat ketulusan. Bara bukan penipu; ia adalah pemimpi yang tersesat.

Novi menghela napas panjang. Uap napasnya terlihat di udara dingin. Pragmatismenya mengambil alih. Ia tidak butuh janji masa depan yang megah; ia butuh kepastian hari ini. "Jalanin dulu aja, Bara," katanya pelan, hampir tertelan suara hujan. "Siapa tahu cocok." Kalimat itu menghantam Bara lebih keras daripada petir. Jalanin dulu aja. Bukan "Ya", bukan "Tidak". Tapi sebuah eksperimen. Sebuah pengakuan bahwa visi besarnya tidak cukup untuk meyakinkan wanita yang dicintainya. Bara tersenyum pahit. Ia berdiri dan memasukkan cincin itu ke jari Novi. Tangannya gemetar saat melakukannya. "Aku akan membuktikannya, Novi. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa." Novi hanya tersenyum kecil. "Aku tidak butuh bukti, Bara. Aku butuh kau ada di sini. Saat ini." Mereka berpelukan di bawah hujan. Tapi Bara masih memikirkan masa depan. Dan Novi masih memikirkan hari esok. Dua benang yang berbeda, dipaksa dianyam oleh takdir.

Cincin itu terasa asing di jari Novi. Sepanjang perjalanan pulang, ia memutar-mutarnya, merasakan berat logam yang tidak pernah ia minta. Ia tidak menyesal, tetapi ia juga tidak yakin. Ia hanya tahu bahwa malam itu, saat Bara tertidur di sampingnya dengan napas yang tidak teratur, ia meraih batu di saku celana Bara yang tergantung di kursi. Ia memegangnya sebentar, merasakan ukiran akar di ujung jarinya, lalu meletakkannya kembali. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Mungkin karena batu itu adalah satu-satunya hal di rumah ini yang tidak berbohong.


Pernikahan mereka di tahun 2015 bukanlah pesta yang megah. Itu adalah kompromi. Bara tidak mampu memberi mahar yang layak, dan Haji Murta, dengan kebesaran hatinya yang menyakitkan, hanya meminta "ketulusan dan kesungguhan untuk menjaga titipan-Nya". Kalimat itu terus bergema di kepala Bara seperti kutukan yang manis. Resepsi diadakan di ruang serbaguna sederhana di dekat rumah Novi. Tamu undangan tidak terlalu banyak, sebagian besar adalah kerabat dekat Novi dan beberapa teman Bara dari kantor. Bara melihat ibunya, Sri, duduk di kursi paling depan, mengenakan kebaya yang sudah kusam namun dijahit ulang dengan penuh cinta oleh Novi sendiri. Ibunya tersenyum, tetapi ada sesuatu yang basah di sudut matanya sesuatu yang ia biarkan mengalir tanpa berusaha menghapusnya, seolah menangis adalah satu-satunya cara ia bisa tetap duduk tegak di kursi itu. Bara tersenyum balik, tetapi di dalam hatinya, ia berjanji: Ibu, aku akan membuatmu bangga. Aku akan membawamu keluar dari gubuk itu.

Namun, setelah pesta usai, setelah tamu pulang, mereka pindah ke sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota. Perubahan itu terasa seperti menyentuh dua dunia yang berbeda. Dari rumah berkaligrafi emas dan aroma dupa, mereka pindah ke ruangan dengan dinding yang catnya mulai mengelupas, dan satu jendela kecil yang menghadap ke gang sempit yang selalu basah. Di dinding ruang tamu, Novi menggantungkan sebuah kaligrafi kecil pemberian ayahnya: "Inna ma'al usri yusra" (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Itu adalah satu-satunya hiasan yang mereka miliki. Setiap malam, Bara duduk di kursi kecil di dapur, di bawah lampu neon tua yang berkerlip dengan ritme yang mengganggu. Klik... desing... klik... desing. Cahaya pucat itu membuat bayangannya di dinding terlihat seperti raksasa yang sekarat. Bau minyak tanah dari kompor tua yang mereka gunakan untuk memasak nasi menjadi aroma tetap dalam hidupnya, pengingat konstan akan kesulitan yang ia gagal hindari. Lampu itu tidak berubah hanya cara ia melihatnya yang berubah. Dulu, kedipannya adalah ejekan. Sekarang, kedipannya adalah detak. Seperti jantung yang masih hidup.

Novi, di sisi lain, beradaptasi dengan caranya sendiri. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, ia mulai mengubah ruangan sempit itu. Ia mengambil kain-kain perca sisa peninggalan masa lalunya yang lebih baik dan mulai merajutnya menjadi taplak meja, sarung bantal, dan gorden tipis. ANYAM! Suara gedeg kecil itu terdengar setiap malam. Bagi Novi, itu adalah mantra. Setiap tarikan benang adalah cara ia mengikat kembali kepingan-kepingan harapannya yang mulai retak. Ia adalah penenun abu, mengubah sisa-sisa yang tak berguna menjadi kain pelindung. Suatu malam, Bara melihatnya merajut dengan tekun. "Kamu tidak lelah, Vi?" tanyanya.

Novi mengangkat bahu. "Merajut membuatku tenang. Saat benang-benang ini saling mengunci, aku merasa dunia ini masih bisa diatur. Masih ada pola. Masih ada harapan." Bara tidak mengerti. Baginya, kain perca adalah simbol kemiskinan simbol bahwa mereka tidak mampu membeli yang baru. Tapi ia tidak mengatakan itu. Ia hanya mengangguk. Malam itu, sebelum tidur, ia meletakkan batu di bawah bantalnya. Batu itu sudah menjadi kebiasaan, seperti doa yang ia lupa cara mengucapkannya.

Suatu malam, tekanan itu akhirnya meledak. Novi baru saja menghitung pengeluaran bulanan. Gaji honorer Bara tidak cukup untuk menutupi semuanya. Ia meletakkan kertas catatan di atas meja. "Kenapa kamu tidak coba cari pekerjaan lain, Bara?" tanya Novi, matanya berkabut dengan kelelahan. Ia berdiri di dekat jendela, menatap keluar ke gang yang gelap. "Gaji honorer itu tidak cukup. Kita butuh lebih dari itu." Bara, yang duduk di sudut dapur, tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai kayu yang retak di bawah kakinya. Egonya terluka. Tawaran Novi terasa seperti penghinaan pengingat bahwa ia gagal memenuhi peran tradisionalnya.

"Aku sudah mencoba," akhirnya ia berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung lampu neon. "Kamu pikir aku tidak tahu posisiku? Tapi tidak ada yang mau menerima orang dengan latar belakang honorer tanpa pengalaman 'nyata'." "Baik saja tidak cukup, Bara," balas Novi, suaranya tegang. Di balik kata-katanya, jelas ada ketidakpuasan yang mengendap. Ia butuh lebih dari sekadar janji kosong. Ia butuh rencana yang nyata. "Kita butuh rencana yang nyata, bukan cuma mimpi. Aku bisa buka usaha kecil dari rumah. Aku bisa jualan rajutan, aku bisa masak untuk catering. Tapi aku butuh kamu mendukung, bukan cuma bermimpi tentang kerajaan yang tak kunjung datang."

Bara berdiri tiba-tiba, kursinya berdecit keras. "Aku sedang berusaha, Vi! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Aku tahu apa yang aku lakukan!" "Kamu tahu?" Novi menoleh, matanya tajam. "Kamu tahu kalau kita hampir tidak punya beras untuk minggu depan? Kamu tahu kalau aku harus meminjam uang dari tetanggaku untuk beli sabun cuci? Itu yang aku tahu, Bara. Realita." Bara terdiam. Ia menatap lantai kayu yang retak di bawah kakinya ada bekas minyak tanah yang mengering di antara celah-celahnya, seperti urat nadi yang mengeras. Ia menghitungnya: satu, dua, tiga, empat sampai tangannya berhenti gemetar. Lalu ia berbalik dan menutup pintu dengan sangat pelan, terlalu pelan, seperti sedang menutup peti mati.

Di dalam kamar, kegelapan bukanlah musuh. Ia adalah selimut. Bara duduk di sudut, punggung menempel ke dinding yang dingin, dan untuk pertama kalinya, ia tidak berpikir tentang besok. Ia hanya mendengar detak jam dinding di ruang tamu, dan suara Novi merajut ANYAM! seperti suara yang menahan dunia agar tidak benar-benar runtuh. Dari balik pintu, ia mendengar suara Novi merajut. Lebih keras dari biasanya. Lebih cepat. Seolah setiap tarikan benang adalah tarikan napas yang ia tahan. Bara menutup matanya, dan untuk pertama kalinya, ia membenci batu di sakunya. Ia membenci jimat itu karena tidak bisa menyelamatkannya. Ia membenci dirinya sendiri karena membutuhkan batu untuk merasa berani. Malam itu, ia tidak tidur. Ia hanya berbaring di lantai, mendengar suara jam dinding yang terus berdetak, dan bertanya-tanya kapan semuanya mulai salah.


Puncak ketegangan terjadi pada suatu malam di pertengahan tahun 2015. Hujan mengguyur atap seng kontrakan mereka, suaranya memekakkan telinga, seperti ribuan jari yang mengetuk-ngetuk, menuntut jawaban. Novi baru saja menerima tagihan listrik yang membengkak dan yang lebih buruk sebuah surat dari rentenir yang dulu dipinjam Bara. Rentenir itu mengancam akan mendatangi rumah dan menyita barang-barang jika utang tidak segera dilunasi. Novi meletakkan kertas-kertas itu di atas meja makan kayu yang reyot. Tangannya gemetar begitu gemetar sampai kertas-kertas itu hampir jatuh. Lalu, tanpa alasan yang jelas, ia mengambil selembar kain perca dari tumpukan di sudut dan mulai melipatnya lipatan rapi, sudut-sudut yang presisi, seperti sedang membuat bantal untuk bayi yang belum lahir. Bara menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa.

"Bara, kita harus bicara," kata Novi. Suaranya tidak lagi lembut. Itu adalah suara seorang wanita yang telah kehabisan kesabaran. "Utang ini dari mana? Dan jangan bilang ini dari 'rekan bisnis' lagi. Aku sudah tahu. Aku tahu tentang Anton. Aku tahu tentang skema bodong itu." Bara membeku. Topengnya akhirnya pecah. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Ia menatap Novi, melihat kekecewaan yang mendalam di mata wanita yang ia cintai. Bukan kebencian, tetapi rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.

"Aku... aku ingin membuktikan sesuatu," kata Bara, suaranya pecah. "Aku ingin membuktikan pada ayahmu, pada diriku sendiri, bahwa aku bisa. Bahwa aku bukan cuma honorer miskin yang menumpang di dunia ini. Aku ingin memberi kita kehidupan yang layak sebelum kita punya anak, seperti yang aku janjikan!" "Dan hasilnya apa, Bara?" Novi menatapnya, air mata mulai menggenang di matanya. "Kita malah semakin terpuruk. Kamu mengorbankan ketenangan kita demi ego yang tidak realistis. Aku tidak butuh istana, Bara. Aku butuh suami yang jujur dan hadir. Aku butuh kamu di sini, bukan di masa depan yang tidak pernah datang!"

Bara tidak bisa membantah. Kebenaran itu terlalu menyakitkan. Ia melihat Novi menangis, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa cintanya saja tidak cukup. Cinta tidak membayar tagihan. Cinta tidak menghentikan ancaman rentenir. Ia berbalik dan berjalan keluar rumah, menembus hujan deras, tanpa payung.

Ia berjalan tanpa tujuan, melewati gang-gang sempit yang becek, melewati warung-warung yang sudah tutup, sampai kakinya membawanya ke sebuah masjid kecil di ujung jalan. Pintu kayu utamanya sudah tertutup rapat untuk malam itu. Bara duduk di teras yang basah. Hujan merembes melalui bajunya yang tipis pertama, hanya lapisan luar yang basah; lalu, perlahan, dinginnya merambat ke kulit, ke otot, sampai ia merasakan setiap tulangnya seperti balok-balok es yang saling menekan. Ia menggigil, tetapi ia tidak pindah. Seolah hujan adalah satu-satunya hal yang masih nyata, satu-satunya yang tidak berbohong. Dalam keputusannya, ia mencari jawaban. "Ya Allah," bisiknya, suaranya hampir hilang ditelan suara hujan. "Apakah ini ujian yang harus kuterima, ataukah ini cara-Mu menunjukkan bahwa aku memang tidak dirancang untuk hal besar? Aku hanya pemuda miskin yang bermimpi terlalu tinggi. Apa aku harus menyerah?"

Kehampaan mendalam mengisi hatinya. Namun, di dalam kekosongan itu, ia merasakan dorongan aneh. Sebuah dorongan untuk mencatat. Untuk merapikan kekacauan di kepalanya sebelum ia benar-benar hancur. Ia teringat pada buku catatan kosong yang ia beli beberapa bulan lalu, dengan maksud untuk menulis "rencana bisnis" yang tidak pernah ia selesaikan. Mungkin inilah saatnya. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk membuat dunianya masuk akal lagi dengan menuliskannya, mengikatnya, memberinya bentuk.


Keesokan harinya, Bara tidak pergi ke kantor. Ia tidak peduli dengan Pak Budi dan surat-surat usangnya. Ia pergi ke pasar tradisional. Ia berjalan di antara kios-kios yang menjual sayuran dan daging, hingga ia menemukan seorang penjual nasi goreng yang sedang membersihkan tungku arangnya. "Pak, arang bekasnya boleh saya ambil?" tanya Bara. Penjual nasi itu menatap heran, tetapi mengangguk. Bara mengumpulkan sisa-sisa arang yang masih hitam pekat, memasukkannya ke dalam kantong plastik. Lalu ia mencari tukang yang sedang memangkas pohon di pinggir jalan. Ia meminta sedikit getah pohon cairan kental berwarna kekuningan yang keluar dari batang yang dilukai.

Di kamarnya, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Bara mulai meracik tinta. Ia menumbuk arang hingga halus di atas batu pipih. Anehnya, batu itu terasa pas di tangannya seperti sudah lama menunggu untuk menjadi landasan, bukan sekadar jimat. Setiap kali alu batu itu menghantam permukaan, ada getaran yang merambat dari pergelangan tangan ke bahu, getaran kecil yang membuat ia sadar: ini adalah pertama kalinya ia membuat sesuatu yang nyata dengan tangannya sendiri. Ia mencampur serbuk arang dengan getah pohon dan sedikit air hangat. Aroma asap dan hutan bercampur menjadi bau yang aneh, namun primitif. Ia mengaduknya dengan sebatang lidi hingga menjadi pasta kental berwarna hitam pekat. Hasilnya tidak sehalus tinta pabrik. Warnanya hitam pekat, kasar, dan berbau asap. Tapi ia bertahan di kertas murahan yang ia gunakan, dan tidak bisa dihapus dengan mudah. Ada kegigihan dalam warna hitam itu sebuah perlawanan diam-diam terhadap dunia yang terus mendesaknya untuk menyerah.

Bara membuka sebuah buku catatan baru buku dengan sampul kertas cokelat yang ia beli di toko alat tulis murah. Di halaman pertama, dengan tinta arang yang masih basah dan mengkilap, ia menulis:

"Komitmen dalam pernikahan... menjaga kesetiaan bukan hanya pada pasangan, tapi pada kebenaran diri sendiri. Ketika dunia materi runtuh, yang tersisa hanyalah apa yang kita catat dan kita yakini."

Ia meneteskan tinta itu. Tetes & kering. Ia membiarkannya mengering, menjadi sejarah yang tidak bisa dihapus. Ia menulis lagi, halaman demi halaman, tentang ketakutannya, tentang mimpinya, tentang ibunya, tentang Novi. Ia menulis tentang Gunung Tangkuban Perahu, tentang kabut yang menutupi puncak, dan tentang keinginannya untuk berdiri di atas puncak itu meskipun hanya sekali. Ia menulis tentang batu di sakunya, tentang bagaimana batu itu telah menjadi satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatinya. Ia menulis tentang rasa bersalahnya pada Novi, tentang ketakutannya bahwa ia tidak cukup, tentang harapannya yang rapuh. Bau arang yang melekat di kertas ini kelak akan menjadi aroma khas yang dikenali oleh seorang arsiparis tua di garis waktu lain, yang akan membisikkan namanya dalam keheningan perpustakaan. Tapi untuk saat ini, Bara hanya menulis. Ia menulis sampai tangannya kram, sampai tinta di dalam mangkuk kecil itu habis, sampai matanya perih karena kurang tidur. Ia menulis untuk bertahan. Bau itu tidak pernah hilang. Tetapi suatu hari, Bara menyadari bahwa ia tidak lagi membencinya. Ia menarik napas dalam-dalam di dapur itu, dan untuk pertama kalinya, bau minyak tanah terasa seperti rumah.

Hujan di atap seng mulai berubah dari deru menjadi rintik. Rintik yang perlahan-lahan berubah menjadi hening seperti akhir dari sesuatu yang tidak pernah ia sadari ia tunggu. Di ruang tamu yang hanya diterangi satu lampu di pojok, mereka duduk tidak saling memandang. Jarak di antara mereka lebih lebar dari ruangan itu. Di atas meja, buku catatan baru itu tergeletak di samping tumpukan bon utang. Sampulnya masih bersih, tapi halaman-halaman di dalamnya sudah penuh dengan tulisan miring Bara tinta arang yang masih sedikit berbau asap.

"Apa itu?" tanya Novi, menunjuk buku catatan di tangan Bara.

Bara menatap buku itu. "Catatan. Aku menulis... perasaanku. Semua ini. Tentang kita. Tentang utang. Tentang ketakutanku."

Novi terdiam. Lalu ia meraih buku itu. Ia membuka halaman pertama dan membaca. Matanya bergerak pelan, menelusuri setiap kata. Bau arang samar tercium primitif, aneh, tapi entah mengapa menenangkan. Air mata jatuh dari dagunya ia tidak tahu apakah itu hujan atau tangisnya. Keduanya terasa sama, sama basahnya, sama dinginnya. Ia tidak berusaha membedakannya. "Tulisanmu jelek, Ra," katanya tiba-tiba. Suaranya serak, setengah tertawa. "Tinta ini belepotan semua."

Bara terkejut. Lalu ia menyadari Novi sedang menangis sambil tersenyum. Itu adalah glitch manusia yang paling nyata yang pernah ia lihat. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia memilih untuk diam, membiarkan Novi menggenggam buku itu erat-erat.

"Tapi aku suka," lanjut Novi, suaranya nyaris berbisik. "Aku suka karena ini tulisanmu. Kotor dan asal-asalan. Seperti kamu." Ia menutup buku itu, menggenggamnya erat di dadanya. "Bau arang ini... aneh. Tapi menenangkan. Seperti bau dapur nenekku dulu." Ia tidak tahu bahwa bau itu akan menjadi memori yang akan terus ia cari di tahun-tahun mendatang sebuah aroma yang akan membawanya kembali ke malam ini, ke ruang tamu yang gelap, ke tangan Bara yang gemetar.

Mereka duduk dalam keheningan. Di luar, gerimis mulai reda.

"Apakah kita masih punya harapan, Novi?" tanya Bara akhirnya.

Novi tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Bara, menggenggamnya erat. Lalu ia berkata, "Aku tidak tahu. Tapi untuk malam ini, kita ada di sini. Itu cukup."

Bara menatap ke luar jendela. Langit mendung, seolah menunggu hujan berikutnya. Namun, di balik awan itu, ia tahu matahari masih ada. Ia meraba saku celananya. Batu berukir akar itu masih di sana, dingin dan keras. Batu itu telah menyaksikan semuanya: pertemuan pertama di kaki gunung, kegagalan bisnis, pertengkaran di dapur, dan malam ini. Batu itu adalah saksi bisu yang tidak akan pernah mengkhianatinya.

Di luar, hujan berhenti. Bara menutup buku catatannya. Tinta arang di halaman terakhir masih basah, mengkilap di bawah lampu neon yang mulai stabil. Ia tidak tahu siapa yang akan membaca tulisannya kelak. Tapi untuk malam ini, ia hanya perlu menulis sampai tangannya berhenti gemetar, sampai kata-kata yang ia tulis menjadi satu-satunya kebenaran yang tidak bisa diambil oleh dunia darinya.

Di kejauhan, dari bengkel tetangga yang masih terjaga, terdengar suara palu memukul besi. TAK! TAK! TAK! Suara itu bergema di gang sempit, merambat masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Bara mendengarnya. Novi mendengarnya. Mereka tidak saling menatap, tetapi mereka berdua mendengar suara itu, menandai bahwa meskipun retak dan rapuh, fondasi ini telah dicatat untuk generasi berikutnya sebuah jejak yang akan bertahan meskipun semuanya runtuh.

Bara tidak tahu bahwa di sebuah rumah di sisi lain kota, seorang anak kecil terbangun dari tidurnya karena suara yang sama. Anak itu tidak tahu siapa Bara, tetapi ia akan mendengar nama itu lagi, dua puluh tahun kemudian, di sebuah taman yang tidak pernah ia kunjungi.

TAK!

(Suara palu di kejauhan menandai akhir Volume I, mencatat bahwa meskipun retak, fondasi ini telah dibangun untuk generasi berikutnya).

─────────────────

CATATAN AKHIR DARI PENGARSIP

─────────────────

Jika Anda, pembaca, merasa ada yang aneh dengan batu di saku Bara, atau mencium bau arang yang samar di antara halaman-halaman ini, ketahuilah bahwa semuanya terhubung. Di Akar Tumbuh, anak-anak mereka akan menemukan batu itu dan bertanya tentang asal-usulnya. Dan di Generasi Nozzel, seorang arsiparis tua akan membaca buku catatan ini dan mencium bau arang yang sama bau yang akan mengirimnya ke suatu tempat di mana kabut Tangkuban Perahu masih belum mau pergi, menunggu orang yang tepat untuk menebus janji yang pernah dibuat. Semesta ini bernapas, dan setiap benang memiliki tempatnya.

Series Berikutnya menanti. Pandemi, kegagalan total, dan keputusan pahit untuk berpisah pada tahun 2024 masih mengintai di cakrawala bersembunyi di balik kabut yang sama seperti di Tangkuban Perahu belasan tahun lalu.

─────────────────

Tourtaleslights

Di Bawah Kabut Tangkuban Perahu

Volume I — Selesai & Disegel, 2026

 ═════════════════

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi