Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Sebuah jam dinding tua berbunyi ketika waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Seorang wanita berusia empat puluh dua tahun berjalan perlahan memasuki ruang perpustakaan di sebuah perguruan tinggi.
Ia mengenakan pakaian bernuansa krem yang elegan, berupa blazer bertekstur dengan atasan sederhana di dalamnya. Sebuah kalung kecil dengan liontin mutiara menghiasi lehernya, dilengkapi sepasang anting mungil yang memberikan kesan sederhana, tetapi tetap berkelas. Sebuah kacamata juga bertengger di wajahnya, membantu penglihatannya yang mulai terganggu seiring bertambahnya usia. Secara keseluruhan, penampilannya memberikan kesan seorang wanita dewasa yang tenang, rapi, elegan, dan sederhana tanpa terlihat berlebihan.
Begitu memasuki perpustakaan, matanya langsung tertuju pada sebuah jam dinding tua yang berada di salah satu sudut ruangan.
Lima sore.
Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman. Matanya kemudian beralih menuju sebuah rak khusus buku sastra. Ia berjalan mendekatinya. Tangannya menyentuh beberapa buku yang tersusun rapi sebelum akhirnya berhenti pada salah satu buku. Ia menariknya perlahan, sampul buku itu sudah terlihat sedikit usang. Elara membuka halaman demi halaman, melewatinya begitu saja tanpa benar-benar membaca isi buku tersebut.
Sampai akhirnya ia berhenti pada halaman terakhir, senyuman kembali muncul di bibirnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap halaman itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menutup buku dan mengembalikannya ke tempat semula.
Elara kemudian mendongakkan kepala, memandangi buku-buku lain yang tersusun di rak yang sama. Ada begitu banyak hal yang telah berubah selama dua puluh tahun terakhir, Namun tempat ini masih terasa sama. Tenang, Hening dan entah mengapa, selalu mampu membawa seseorang kembali kepada masa yang telah lama ditinggalkan.
Elara menarik napas perlahan. "Masih dengan vibes yang sama." Ia tersenyum kecil. "Vibes yang akan selalu aku rindukan."
Tangannya kembali menyentuh punggung salah satu buku di hadapannya. "Tempat ini, waktu ini, akan selalu menjadi bagian favorit di hidupku sampai kapan pun."
Elara terdiam, tatapannya masih tertuju pada rak buku tersebut. Ada sesuatu yang sedang ia ingat, sesuatu yang terjadi begitu lama.
Dua puluh tahun yang lalu, tentang seorang gadis yang sering datang ke perpustakaan, tentang seorang pemuda yang selalu memilih datang ketika tempat itu mulai sepi.
Tentang sebuah buku dan tentang sebuah tulisan yang mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Elara tersenyum, lalu perlahan menatap jam dinding tua di sudut ruangan. Jarumnya masih menunjukkan pukul lima sore. Namun kali ini, ia tidak datang untuk mencari sesuatu, ia hanya ingin mengingat, Karena ada masa ketika pukul lima bukan sekadar waktu.
Pukul lima adalah awal dari sebuah cerita. Sebuah cerita yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan dan semuanya bermula dari sini
Ia mengenakan pakaian bernuansa krem yang elegan, berupa blazer bertekstur dengan atasan sederhana di dalamnya. Sebuah kalung kecil dengan liontin mutiara menghiasi lehernya, dilengkapi sepasang anting mungil yang memberikan kesan sederhana, tetapi tetap berkelas. Sebuah kacamata juga bertengger di wajahnya, membantu penglihatannya yang mulai terganggu seiring bertambahnya usia. Secara keseluruhan, penampilannya memberikan kesan seorang wanita dewasa yang tenang, rapi, elegan, dan sederhana tanpa terlihat berlebihan.
Begitu memasuki perpustakaan, matanya langsung tertuju pada sebuah jam dinding tua yang berada di salah satu sudut ruangan.
Lima sore.
Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman. Matanya kemudian beralih menuju sebuah rak khusus buku sastra. Ia berjalan mendekatinya. Tangannya menyentuh beberapa buku yang tersusun rapi sebelum akhirnya berhenti pada salah satu buku. Ia menariknya perlahan, sampul buku itu sudah terlihat sedikit usang. Elara membuka halaman demi halaman, melewatinya begitu saja tanpa benar-benar membaca isi buku tersebut.
Sampai akhirnya ia berhenti pada halaman terakhir, senyuman kembali muncul di bibirnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap halaman itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menutup buku dan mengembalikannya ke tempat semula.
Elara kemudian mendongakkan kepala, memandangi buku-buku lain yang tersusun di rak yang sama. Ada begitu banyak hal yang telah berubah selama dua puluh tahun terakhir, Namun tempat ini masih terasa sama. Tenang, Hening dan entah mengapa, selalu mampu membawa seseorang kembali kepada masa yang telah lama ditinggalkan.
Elara menarik napas perlahan. "Masih dengan vibes yang sama." Ia tersenyum kecil. "Vibes yang akan selalu aku rindukan."
Tangannya kembali menyentuh punggung salah satu buku di hadapannya. "Tempat ini, waktu ini, akan selalu menjadi bagian favorit di hidupku sampai kapan pun."
Elara terdiam, tatapannya masih tertuju pada rak buku tersebut. Ada sesuatu yang sedang ia ingat, sesuatu yang terjadi begitu lama.
Dua puluh tahun yang lalu, tentang seorang gadis yang sering datang ke perpustakaan, tentang seorang pemuda yang selalu memilih datang ketika tempat itu mulai sepi.
Tentang sebuah buku dan tentang sebuah tulisan yang mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Elara tersenyum, lalu perlahan menatap jam dinding tua di sudut ruangan. Jarumnya masih menunjukkan pukul lima sore. Namun kali ini, ia tidak datang untuk mencari sesuatu, ia hanya ingin mengingat, Karena ada masa ketika pukul lima bukan sekadar waktu.
Pukul lima adalah awal dari sebuah cerita. Sebuah cerita yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan dan semuanya bermula dari sini
Tokoh Utama
Elara Anindya Arunika
Ren Arvian Wicaksana
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
0
Tentang Penulis
KAMISRIATI LEVI GAYATRI
-
Bergabung sejak 2026-10-03
Telah diikuti oleh 4 pengguna
Sudah memublikasikan 2 karya
Menulis lebih dari 9,590 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
Perpustakaan Pukul Lima
KAMISRIATI LEVI GAYATRI
Komik
In Silence
Adelina Pakpahan
Novel
FULAN
Avisena Sirr Zafran
Novel
Satu Rumah Dua Luka
Vebrian D. Langkai
Skrip Film
3G : How To Be Perfect
Peetarii
Novel
KARMA SAMSARA
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Flash
Kebahagiaan
Afri Meldam
Novel
Balada Kacung: The Frontline Warrior
Gie Salindri
Novel
The Bad Couple
Relia Rahmadhanti
Novel
Menyatukan Kepingan Diri
Rani Septiani
Novel
Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia
HaoYuen
Novel
JIGAR & RISMA
Ellit Wijaya
Novel
Kabut di Rumah Sutra
Setiyarini
Novel
CANON
Afina Iskandar
Rekomendasi