Daftar isi
#1
IDEOLOGI TAILOR-MADE
#2
KONTRADIKSI GLOBAL & KEUNIKAN LOKAL
#3
DARI ALAT PEMERSATU MENJADI ALAT KEKUASAAN
#4
FORMALISME TANPA SUBSTANSI
#5
KETUHANAN YANG BERSEKAT & KEMANUSIAAN YANG TEBANG PILIH
#6
PERSATUAN YANG DIPAKSA & KERAKYATAN DALAM BAYANG OLIGARKI
#7
KEADILAN SOSIAL YANG TERTINGGAL DI KERTAS
#8
MEREBUT KEMBALI HAK TAFSIR
#9
PISAU ANALISIS DAN NALAR KRITIS PUBLIK
#10
MEMUTUS RANTAI BANALITAS: PENDIDIKAN TANPA INDOKTRINASI
#11
JALAN PULANG KE PASAL 33
#12
KOMPAS YANG MENOLAK USANG
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#12
KOMPAS YANG MENOLAK USANG
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
1. Soekarno. Lahirnja Pantjasila. Jakarta: Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1947. Dalam pidato 1 Juni 1945, Soekarno menggunakan istilah Leitstar (bintang penunjuk jalan) untuk menegaskan fungsi Pancasila sebagai panduan ideologis (Weltanschauung) yang bersifat dinamis dan progresif dalam memandu arah revolusi bangsa.
2. Hatta, Mohammad. Demokrasi Kita. Jakarta: Pustaka Antara, 1960. Dalam esai yang sangat historis ini, Hatta memberikan kritik tajam terhadap matinya demokrasi akibat pemusatan kekuasaan, namun ia menutup kritiknya dengan keyakinan filosofis bahwa demokrasi di Indonesia akan selalu bangkit kembali karena ia berakar kuat pada tradisi musyawarah masyarakat aslinya.
3. Putnam, Robert D. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster, 2000. Putnam menguraikan pentingnya Modal Sosial (Social Capital)—yaitu jaringan, norma, dan kepercayaan sosial yang memfasilitasi koordinasi dan kerja sama masyarakat—sebagai syarat mutlak bagi berjalannya demokrasi yang fungsional dan perlawanan terhadap korupsi sistemik.
4. Madjid, Nurcholish. Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi. Jakarta: Paramadina, 1999. Cak Nur secara konsisten mengelaborasi konsep Masyarakat Madani (Civil Society) yang bertumpu pada civic virtue (keutamaan etis warga negara), di mana partisipasi politik didorong oleh kesadaran moral untuk mewujudkan kebaikan publik (maslahat), bukan sekadar pertarungan kekuasaan.
2. Hatta, Mohammad. Demokrasi Kita. Jakarta: Pustaka Antara, 1960. Dalam esai yang sangat historis ini, Hatta memberikan kritik tajam terhadap matinya demokrasi akibat pemusatan kekuasaan, namun ia menutup kritiknya dengan keyakinan filosofis bahwa demokrasi di Indonesia akan selalu bangkit kembali karena ia berakar kuat pada tradisi musyawarah masyarakat aslinya.
3. Putnam, Robert D. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster, 2000. Putnam menguraikan pentingnya Modal Sosial (Social Capital)—yaitu jaringan, norma, dan kepercayaan sosial yang memfasilitasi koordinasi dan kerja sama masyarakat—sebagai syarat mutlak bagi berjalannya demokrasi yang fungsional dan perlawanan terhadap korupsi sistemik.
4. Madjid, Nurcholish. Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi. Jakarta: Paramadina, 1999. Cak Nur secara konsisten mengelaborasi konsep Masyarakat Madani (Civil Society) yang bertumpu pada civic virtue (keutamaan etis warga negara), di mana partisipasi politik didorong oleh kesadaran moral untuk mewujudkan kebaikan publik (maslahat), bukan sekadar pertarungan kekuasaan.
Chapter Sebelumnya
Chapter 11
JALAN PULANG KE PASAL 33
Chapter Selanjutnya
Tamat
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Cerpen
Harmoni Kehidupan
Novel
Because Its You
Novel
Konstelasi Rasa
Novel
AZALEA
Cerpen
Blaming The Victim
Cerpen
SURAT BUAT JEANY
Novel
Tak Kunjung Penantian
Flash
PERAHU KERTAS
Cerpen
Beras Operasi Pasar Berpasir
Cerpen
Henkjan & Hantu Pabrik Gula (1)
Cerpen
Jejak Yang Tak Terhapuskan
Flash
BEAUTY STANDARD
Cerpen
Saya Adalah
Flash
Anneliese
Novel
Peter Mint ~Miracle of Evolution~
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Novel
Fullove Palace
Flash
Penulis profesional
Cerpen
PEREMPUAN LUKISAN
Novel
Pengantin Sengkolo