Daftar isi
#1
IDEOLOGI TAILOR-MADE
#2
KONTRADIKSI GLOBAL & KEUNIKAN LOKAL
#3
DARI ALAT PEMERSATU MENJADI ALAT KEKUASAAN
#4
FORMALISME TANPA SUBSTANSI
#5
KETUHANAN YANG BERSEKAT & KEMANUSIAAN YANG TEBANG PILIH
#6
PERSATUAN YANG DIPAKSA & KERAKYATAN DALAM BAYANG OLIGARKI
#7
KEADILAN SOSIAL YANG TERTINGGAL DI KERTAS
#8
MEREBUT KEMBALI HAK TAFSIR
#9
PISAU ANALISIS DAN NALAR KRITIS PUBLIK
#10
MEMUTUS RANTAI BANALITAS: PENDIDIKAN TANPA INDOKTRINASI
#11
JALAN PULANG KE PASAL 33
#12
KOMPAS YANG MENOLAK USANG
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#9
PISAU ANALISIS DAN NALAR KRITIS PUBLIK
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
1. Epistemologi: Cabang dari ilmu filsafat yang mempelajari asal mula, struktur, metode, dan validitas dari sebuah pengetahuan atau cara kita berpikir dalam memahami realitas.
2. Latif, Yudi. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. Dalam karya ini, Latif menguraikan secara mendalam bagaimana Pancasila dirancang sebagai ideologi yang bisa dioperasikan (working ideology) untuk mengarahkan kebijakan publik, bukan sekadar ornamen negara.
3. Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society. Translated by Thomas McCarthy. Boston: Beacon Press, 1984. Konsep tindakan komunikatif Habermas sangat relevan untuk menjelaskan bagaimana dialog publik yang bebas dominasi adalah prasyarat demokrasi yang sehat.
4. Arendt, Hannah. The Life of the Mind. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978. Arendt menekankan bahwa aktivitas "berpikir" (thinking) dan berdialog dengan diri sendiri adalah benteng pertahanan moral terakhir manusia dalam mencegah normalisasi kejahatan dan ketidakadilan struktural.
2. Latif, Yudi. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. Dalam karya ini, Latif menguraikan secara mendalam bagaimana Pancasila dirancang sebagai ideologi yang bisa dioperasikan (working ideology) untuk mengarahkan kebijakan publik, bukan sekadar ornamen negara.
3. Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society. Translated by Thomas McCarthy. Boston: Beacon Press, 1984. Konsep tindakan komunikatif Habermas sangat relevan untuk menjelaskan bagaimana dialog publik yang bebas dominasi adalah prasyarat demokrasi yang sehat.
4. Arendt, Hannah. The Life of the Mind. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978. Arendt menekankan bahwa aktivitas "berpikir" (thinking) dan berdialog dengan diri sendiri adalah benteng pertahanan moral terakhir manusia dalam mencegah normalisasi kejahatan dan ketidakadilan struktural.
Chapter Sebelumnya
Chapter 8
MEREBUT KEMBALI HAK TAFSIR
Chapter Selanjutnya
Chapter 10
MEMUTUS RANTAI BANALITAS: PENDIDIKAN TANPA INDOKTRINASI
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
Cinta Segitiga: Aku, Kamu dan Cicilan KPR
Cerpen
When I Was Your Man
Novel
Labirin Hati
Flash
Rindu di Balik Jendela
Novel
I LO(lea)VE YOU!
Cerpen
Manusia Dan Mesin
Novel
ISYARAT
Novel
Rumah Bertuah
Flash
Debu cinta di barang antik ,strategi hati yang terencana
Flash
Abi Hoyong Magnum, Pak!
Novel
Warisan Elfhaven: Petualangan Terlarang
Flash
Banjir yang Tidak Jadi Datang
Cerpen
Gadai Emas Bonus Cerita
Novel
Miss Travel Beauty
Novel
Larasuka
Novel
BACKPACKER GELIS
Flash
Masita
Novel
GARIS MERAH
Flash
Ulat
Flash
Sisa Diriku di Cermin