Daftar isi
#1
IDEOLOGI TAILOR-MADE
#2
KONTRADIKSI GLOBAL & KEUNIKAN LOKAL
#3
DARI ALAT PEMERSATU MENJADI ALAT KEKUASAAN
#4
FORMALISME TANPA SUBSTANSI
#5
KETUHANAN YANG BERSEKAT & KEMANUSIAAN YANG TEBANG PILIH
#6
PERSATUAN YANG DIPAKSA & KERAKYATAN DALAM BAYANG OLIGARKI
#7
KEADILAN SOSIAL YANG TERTINGGAL DI KERTAS
#8
MEREBUT KEMBALI HAK TAFSIR
#9
PISAU ANALISIS DAN NALAR KRITIS PUBLIK
#10
MEMUTUS RANTAI BANALITAS: PENDIDIKAN TANPA INDOKTRINASI
#11
JALAN PULANG KE PASAL 33
#12
KOMPAS YANG MENOLAK USANG
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#8
MEREBUT KEMBALI HAK TAFSIR
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
1. Penjara Semantik: Sebuah kondisi di mana pemikiran dan kesadaran masyarakat dikendalikan dengan cara memonopoli, menyempitkan, atau membelokkan definisi atas kata-kata dan istilah-istilah penting (seperti 'persatuan', 'pembangunan', 'nasionalisme') sehingga pihak oposisi tidak memiliki bahasa untuk melawan.
2. Hegemoni Budaya: Konsep dari pemikir Marxis Italia, Antonio Gramsci. Merujuk pada cara kelas penguasa mempertahankan kekuasaannya bukan melalui paksaan fisik/militer, melainkan dengan memanipulasi kebudayaan, nilai, dan ideologi masyarakat sehingga pandangan kelas penguasa dianggap sebagai "kebenaran absolut" (akal sehat/common sense) oleh masyarakat yang dikuasai.
3. Demistifikasi: Upaya untuk membongkar, menghilangkan aura magis, atau menjelaskan hal-hal yang sebelumnya dianggap sakral, mitos, atau tak tersentuh, agar dapat dipahami secara rasional, logis, dan kritis.
4. Ruang Publik (Public Sphere): Konsep yang dipopulerkan oleh filsuf Jürgen Habermas, bermakna sebuah area dalam kehidupan sosial di mana warga negara dapat berkumpul secara bebas (tanpa tekanan negara maupun kepentingan pasar) untuk berdiskusi, mengidentifikasi masalah-masalah sosial, dan membentuk opini publik yang pada akhirnya berfungsi untuk mengawasi kekuasaan negara.
2. Hegemoni Budaya: Konsep dari pemikir Marxis Italia, Antonio Gramsci. Merujuk pada cara kelas penguasa mempertahankan kekuasaannya bukan melalui paksaan fisik/militer, melainkan dengan memanipulasi kebudayaan, nilai, dan ideologi masyarakat sehingga pandangan kelas penguasa dianggap sebagai "kebenaran absolut" (akal sehat/common sense) oleh masyarakat yang dikuasai.
3. Demistifikasi: Upaya untuk membongkar, menghilangkan aura magis, atau menjelaskan hal-hal yang sebelumnya dianggap sakral, mitos, atau tak tersentuh, agar dapat dipahami secara rasional, logis, dan kritis.
4. Ruang Publik (Public Sphere): Konsep yang dipopulerkan oleh filsuf Jürgen Habermas, bermakna sebuah area dalam kehidupan sosial di mana warga negara dapat berkumpul secara bebas (tanpa tekanan negara maupun kepentingan pasar) untuk berdiskusi, mengidentifikasi masalah-masalah sosial, dan membentuk opini publik yang pada akhirnya berfungsi untuk mengawasi kekuasaan negara.
Chapter Sebelumnya
Chapter 7
KEADILAN SOSIAL YANG TERTINGGAL DI KERTAS
Chapter Selanjutnya
Chapter 9
PISAU ANALISIS DAN NALAR KRITIS PUBLIK
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
Cinta Segitiga: Aku, Kamu dan Cicilan KPR
Cerpen
When I Was Your Man
Novel
Labirin Hati
Flash
Rindu di Balik Jendela
Novel
I LO(lea)VE YOU!
Cerpen
Manusia Dan Mesin
Novel
ISYARAT
Novel
Rumah Bertuah
Flash
Debu cinta di barang antik ,strategi hati yang terencana
Flash
Abi Hoyong Magnum, Pak!
Novel
Warisan Elfhaven: Petualangan Terlarang
Flash
Banjir yang Tidak Jadi Datang
Cerpen
Gadai Emas Bonus Cerita
Novel
Miss Travel Beauty
Novel
Larasuka
Novel
BACKPACKER GELIS
Flash
Masita
Novel
GARIS MERAH
Flash
Ulat
Flash
Sisa Diriku di Cermin