Rindu di Balik Jendela

Cahaya menerobos kisi-kisi jendela, menyampaikan pesan senja di kala Asar. Hanya suara azan lamat-lamat menandakan bahwa masih ada dengung kehidupan di masjid-masjid yang kini diam meratapi sepi.

 

Jalanan yang dulu tumpah ruah akan kendaraan dan polusi, kini lengang. Ada yang hilang, tetapi juga sungguh lapang. Itu adalah hiruk pikuk manusia yang kini bersembunyi di rumah-rumah mereka untuk berjuang. Berjuang dalam masa tak pasti akan esok hari.

 

“Ya Allah, kapan ini akan berakhir?” Seseorang sedang mengeluh. Bahkan, alam turut tenang tertidur merambah sunyi. Seisi bumi seakan berhibernasi. Jika masih ada yang mampu menghibur, maka itu adalah tatap rindu sepasang mata di balik jendela yang tak pernah putus berharap ke arah langit.

 

Ah, semoga hari esok lebih baik. 

4 disukai 828 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction