Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
KA
Sebuah kisah tentang rumah yang belajar menjadi keluarga
Di sebuah kampung pesisir, berdiri rumah tua peninggalan keluarga Lim. Hidup di dalamnya seperti api yang hampir padam—jarang berasap, jarang berdoa, jarang tertawa.
Di rumah itu tinggal Lim Kim Long—Along. Tangannya piawai memegang besi, lasannya rapi seperti jahitan halus pada kain pengantin. Namun hidupnya tak serapi hasil kerjanya. Pemabuk, penjudi, pernikahannya karam. Istrinya, Siu Lan, pergi membawa dua anak: Ai Phing yang baru enam tahun, dan Ka Thiam yang masih dua tahun.
Delapan tahun berlalu.
Siu Lan meninggal. Keluarga istrinya tak sanggup menanggung kedua anak itu. Maka Ai Phing dan Ka Thiam dipulangkan—kembali ke rumah ayah mereka.
Kepada Along.
Bagi Along, itu bukan kabar gembira. Ia menerimanya seperti menerima hujan di musim yang sudah basah—tanpa syukur, tanpa keluh yang jujur. Hidupnya sudah cukup rusak. Rumah berantakan, dapur dingin, altar leluhur berdebu. Kini ia harus menanggung dua anak yang baginya adalah sisa kegagalan masa lalu.
Ai Phing kembali sebagai gadis remaja yang matanya menyimpan arus dalam. Ka Thiam, bocah sepuluh tahun yang masih mencari-cari wajah ibunya di antara asap hio. Mereka datang bukan untuk menghangatkan rumah, tapi untuk bertahan.
Di kampung yang sama, adik Along—Asuang—hidup di antara dua kesetiaan: darah dan pernikahan. Diam-diam ia membantu, meski mertuanya tak suka.
Kisah ini bergerak bukan dengan peristiwa besar, melainkan dengan perubahan kecil:
Ai Phing yang belajar memasak agar dapur berasap lagi.
Ka Thiam yang mulai membantu di bengkel las.
Asuang yang datang membawa makanan, menatap keponakannya dengan mata basah.
Dan Along—lelaki egois yang tak merasa bersalah—perlahan dihadapkan pada dua pasang mata yang tak pernah ia minta, namun tak pernah bisa ia usir.
Keluarga, di rumah ini, adalah sesuatu yang harus dipelajari. Dipahat. Dilas ulang seperti besi patah.
Harta bisa habis. Kesehatan bisa runtuh. Tapi keluarga—bahkan yang retak dan berdebu—kadang lebih keras dari baja.
Dan di antara altar leluhur yang mulai rutin dinyalakan hionya, serta laut yang tak pernah berhenti beriak, kisah ini bertanya pelan: Bisakah seorang ayah yang tak pernah peduli pada keluarga belajar arti keluarga—sebelum semuanya benar-benar hilang?
Sebuah kisah tentang rumah yang belajar menjadi keluarga
Di sebuah kampung pesisir, berdiri rumah tua peninggalan keluarga Lim. Hidup di dalamnya seperti api yang hampir padam—jarang berasap, jarang berdoa, jarang tertawa.
Di rumah itu tinggal Lim Kim Long—Along. Tangannya piawai memegang besi, lasannya rapi seperti jahitan halus pada kain pengantin. Namun hidupnya tak serapi hasil kerjanya. Pemabuk, penjudi, pernikahannya karam. Istrinya, Siu Lan, pergi membawa dua anak: Ai Phing yang baru enam tahun, dan Ka Thiam yang masih dua tahun.
Delapan tahun berlalu.
Siu Lan meninggal. Keluarga istrinya tak sanggup menanggung kedua anak itu. Maka Ai Phing dan Ka Thiam dipulangkan—kembali ke rumah ayah mereka.
Kepada Along.
Bagi Along, itu bukan kabar gembira. Ia menerimanya seperti menerima hujan di musim yang sudah basah—tanpa syukur, tanpa keluh yang jujur. Hidupnya sudah cukup rusak. Rumah berantakan, dapur dingin, altar leluhur berdebu. Kini ia harus menanggung dua anak yang baginya adalah sisa kegagalan masa lalu.
Ai Phing kembali sebagai gadis remaja yang matanya menyimpan arus dalam. Ka Thiam, bocah sepuluh tahun yang masih mencari-cari wajah ibunya di antara asap hio. Mereka datang bukan untuk menghangatkan rumah, tapi untuk bertahan.
Di kampung yang sama, adik Along—Asuang—hidup di antara dua kesetiaan: darah dan pernikahan. Diam-diam ia membantu, meski mertuanya tak suka.
Kisah ini bergerak bukan dengan peristiwa besar, melainkan dengan perubahan kecil:
Ai Phing yang belajar memasak agar dapur berasap lagi.
Ka Thiam yang mulai membantu di bengkel las.
Asuang yang datang membawa makanan, menatap keponakannya dengan mata basah.
Dan Along—lelaki egois yang tak merasa bersalah—perlahan dihadapkan pada dua pasang mata yang tak pernah ia minta, namun tak pernah bisa ia usir.
Keluarga, di rumah ini, adalah sesuatu yang harus dipelajari. Dipahat. Dilas ulang seperti besi patah.
Harta bisa habis. Kesehatan bisa runtuh. Tapi keluarga—bahkan yang retak dan berdebu—kadang lebih keras dari baja.
Dan di antara altar leluhur yang mulai rutin dinyalakan hionya, serta laut yang tak pernah berhenti beriak, kisah ini bertanya pelan: Bisakah seorang ayah yang tak pernah peduli pada keluarga belajar arti keluarga—sebelum semuanya benar-benar hilang?
Tokoh Utama
Lim Kim Long
Lim Ai Phing
Lim Ka Thiam
Asuang
Kang Ki Sun
#1
Lim Kim Long
#2
Ampas Kopi
#3
Rasa Tak Tega
#4
Simbol Keluarga
#5
Takut
#6
Pagi yang Tak Menunggu
#7
Darah yang Kental
#8
Waktu Tak Pernah Berhenti
#9
Rumah yang Belajar Menjadi Hangat
#10
Menahan Napas
#11
Pintu yang Terbuka
#12
Setelah Hujan
#13
Berubahlah, Along
#14
Rezeki Anak-anak
#15
Jarak yang Tak Terucap
#16
Matahari Baru
#17
Cara Lain
#18
Hadiah Dari Ako
#19
Irama Baru
#20
Hari Baru
#21
Terlihat
#22
Dunia Baru
#23
Kenangan Yang Bisu
#24
Pasang Surut - Part 1
#25
Pasang Surut - Part 2
#26
Pasang Surut - Part 3
#27
Pasang Surut - Part 4
#28
Itulah Ka - Part 1
#29
Itulah Ka - Part 2
#30
Awalnya
#31
Tanpa Firasat
#32
Tak Sedap
#33
Doa Untuk Lima Anak
#34
Siluet
#35
Jejak
#36
Pulang
#37
Kembali
#38
Di Balik Bayang
#39
Dunia Lain
#40
Lewat
#41
Sebelum Imlek
#42
Kenangan dan Harapan
#43
Tamu Tak Terduga
#44
Yang Tak Terucap
#45
Rindu
#46
Kabar Gembira
#47
Rumah Bernapas
#48
Sehari yang Biasa
#49
Hari-hari Bergulir
#50
Bakcang dan Beras
#51
Bi Le
#52
Berteduh
#53
Lamunan
#54
Musim Layangan
#55
Asap yang Tak Hilang
#56
Dua Wanita Dewasa
#57
Mengawasi
#58
Titik Balik
#59
Di Meja Makan
#60
Jarak
#61
Selamat Tinggal
#62
Penutup - Part 1
#63
Penutup - Part 2
#64
Penutup - Part 3
#65
Epilog
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
19
Dibaca
4.2k
Tentang Penulis
Rico Tsiau
saya adalah montir, yang memanfaatkan waku luang untuk menulis.
Bergabung sejak 2026-03-21
Telah diikuti oleh 40 pengguna
Sudah memublikasikan 6 karya
Menulis lebih dari 88,957 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
KA
Rico Tsiau
Flash
Tidak Ada Mawar Tumbuh di Makam Ayah
Kopa Iota
Novel
Resonansi Warna
Kaia Sari
Flash
Suatu Hari Pasti Terjadi
Rere Valencia
Novel
JAM MAHAL
Didiiswords
Novel
Terukir sebelum Terjadi
Shabrina Farha Nisa
Flash
Masa Remaja Ku
Diyanti Rita
Cerpen
Yang Berjuang dan Terbuang
tang rusata
Novel
Nyata-nya cinta tumbuh karna terbiasa.
Riki rinaldy
Cerpen
Apa Yang Kamu Berikan
Zoids
Novel
Kamuflase Di Dusun Kesilir
ersula
Skrip Film
SENI BERTAJUK CINTA
Safar Anggi
Flash
Binar
Seto Yuma
Cerpen
Senja Di Ujung Jalan
Tino Perdiyansya
Cerpen
Priceless Time
Pamella Paramitha
Rekomendasi