Cimol adalah kucing berusia dewasa. Sudah 7 tahun usianya. Untuk standar manusia mungkin dirinya sudah punya dua anak yang hampir beranjak dewasa.
Tapi Cimol kucing jalanan. Sebelumnya ia kucing rumahan. Ia ingat betul majikannya berjanji menjemput ia saat pindahan. Tapi sampai saat ia berdiri, di emperan toko yang ramai kini. Cimol sama sekali belum dijemput.
Alasannya bukan keegoisan manusia. Sang pemilik, Anggit, meninggal dunia, tepatnya tewas. Terperosok saat memperbaiki genteng. Anggit yang masih bujang, tentu tak mewariskan Cimol pada istri atau anaknya, karena memang tak punya. Dan keluarga lainnya pun bukan pecinta kucing.
Malam itu udara dingin menusuk, bus berseliweran. Cimol menatap jalanan. Ia berjalan dengan kakinya yang mungil. Kondisi tubuhnya yang memprihatinkan diperhatikan beberapa anak muda yang sedang nongkrong.
Ada yang berniat menjahili, tapi Erwin, bekas tetangga Anggit, bercerita bahwa Cimol dulu dipelihara tetangganya yang sudah meninggal. Semua yang ada di tongkrongan merasa trenyuh.
Bahkan ada yang memanggilnya, dengan niat memberi Cimol satu potong ayam goreng, tapi Cimol malah lari. Erwin menyatakan kecuali dengan Anggit, Cimol memang sensitif dengan manusia.
Gita, salah satu teman Erwin bertanya, kenapa tidak dipelihara Erwin saja. Erwin menjawab jika istrinya tidak suka kucing, dan putrinya punya asma. Memang tidak terbukti memperparah kondisi. Tapi Erwin dan istrinya berjaga, demi yang terbaik untuk putri mereka.
Erwin kemudian mengusulkan, ayam sepotong yang tadi supaya diletakkan di dekat emperan. Semoga saja Cimol yang memakannya, tapi jika kucing atau binatang lain yang menyantap, itu sudah jadi rezeki mereka. Semua pun mengangguk.
***
Satu jam sudah berlalu. Erwin, Gita, dan lainnya masih nongkrong di tempat yang sama. Mereka tidak sedang menanti Cimol. Hanya nongkrong naluriah saja. Karena mereka nongkrong di depan rumah sekaligus toko kelontong Gita, yang hidup sendiri.
Gita yang pertama kali melihat Cimol. Seperti biasa Cimol melangkah dengan ekspresi seperti sedang menanti. Ia juga menengok ke kanan dan ke kiri. Mungkin ia masih menanti Anggit.
Gita yang terus memperhatikan, sesuai panduan Erwin mencoba tidak memperhatikan. Tujuannya supaya Cimol mau berhenti, dan menikmati daging ayamnya.
Benar saja apa kata Erwin, Cimol berhenti, lalu menyantap paha ayam yang lumayan besar itu. Ia nampak menikmatinya. Gita pun turut memperhatikan.
Saat itu terlintas niat Gita untuk memelihara Cimol, tapi Gita tahu Cimol akan memberontak jika ditangkap. Kali ini Gita membiarkan Cimol untuk liar dulu sampai ia akrab dengan dirinya.
***
Esoknya, Gita datang ke Pet Shop. Berkonsultasi dan curhat soal Cimol. Gita bercerita yang ia tahu tentang Cimol. Dokter hewan pun mendengarkan dengan seksama.
Gita kemudian disarankan untuk melakukan pendekatan perlahan untuk tipe kucing seperti Cimol. Memang butuh waktu agak lama, dan perlu kekonsistenan. Tapi jika dilakukan dengan sabar dan telaten akan berhasil.
Gita pun menuruti saran dokter hewan. Hari pertama sampai kelima, ia meletakkan sepotong ayam, lalu mengintip dari dalam rumah, memang tidak selalu Cimol yang memakan. Kucing liar lain dan kucing tetangga pun menyantap. Disitu Gita menghitung Cimol dua kali menyantap makanan dari Gita. Sore hari ketiga dan malam hari kelima.
Setelah itu Gita nongkrong di depan rumahnya setiap kali ia memberi makan. Dalam lima hari tersebut Cimol hanya datang sekali, yaitu sore hari kedua. Gita pun mulai hapal, jika Cimol datang di hari ketika tidak terlalu panas atau tidak terlalu mendung.
Gita pun hanya memberi makanan setiap kali cuaca tidak terlalu panas, juga tidak mendung. Dan memang, di cuaca seperti itu, selalu Cimol yang datang.
Sesuai saran dokter awalnya Gita hanya memperhatikan, dan setiap ia memberi makan Cimol, Gita mendekat perlahan. Setelah berhasil didekati awalnya Cimol hanya dibelai. Dibelainya pun hanya sekali.
Lalu dari satu belaian tersebut makin perlahan naik ke dua, tiga, sampai berkali-kali belaian. Cimol pun makin terbiasa, sampai mau dibelai dagunya. Bahkan Cimol menunjukkan perutnya dan tak memberontak saat perutnya dielus.
Itu pertanda Cimol sudah menganggap Gita bagian darinya. Tapi mengingat saran dokter hewan, Gita menunggu dua sampai tiga kesempatan lagi. Dari saran yang Gita dengar, ia tidak boleh membuat Cimol kaget.
Kesempatan ketiga akhirnya terjadi, tapi tak disangka, bukan Gita yang mendekati Cimol untuk ia gendong. Cimol sendirilah yang mendekat. Ia mengeong manja, dan mengitari kaki Gita beberapa kali. Gita pun membelai seluruh tubuh Cimol.
Sesuai saran sang dokter hewan, Gita berakting masuk ke rumah. Meninggalkan Cimol sendiri. Saat itulah Cimol mengikuti Gita masuk.
Dalam sekejap Gita langsung memeluk kucing dewasa tersebut. Menyatakan penantian Cimol untuk menunggu Anggit, kini telah digantikan dengan kedatangan pemilik yang baru, yaitu dirinya.
Bukan penantian dengan akhir sempurna yang diharapkan, tapi setidaknya digantikan dengan manusia yang sama pedulinya.